
Menilik jam dinding sudah menunjukkan waktu jam satu dini hari, Tiara masih tak dapat memejamkan kedua matanya.
Dirinya merasa egois ketika mengingat perlakukan nya tadi terhadap sang suami, hanya perkara es campur saja dan dia sudah berani memperlakukannya seperti itu.
"Aduh!"
Mendadak dia mendesis menahan sakit di perutnya.
"Aw, sakit!"
Dengan kuat Tiara meremas seprai hingga kumal.
"Bibi?" seru Tiara memanggil namun percuma, bibi Rita juga tak akan dengar karena sudah terlelap di dalam tidurnya.
Tiara mencoba untuk berdiri di atas kedua kakinya yang mulai gemetar, berdiri dengan tak seimbang. Dan, mencoba untuk melangkah menuju pintu.
Keringat dingin menumbuhi kening dan pelipisnya, Tiara mengusap keduanya dengan bibir yang memucat.
Setelah bersusah payah akhirnya sampai juga dia di depan pintu, memutar handle dan segera keluar.
"Sayang?"
Rendra yang baru saja mau memejamkan kedua matanya pun terbangun saat mendengar suara sang istri.
"Mimi?" dia duduk seketika wajahnya berubah panik, "Sayang? Apa yang terjadi padamu, kenapa kau terlihat begitu pucat?"
__ADS_1
Rendra beranjak dari duduknya untuk menghampiri Tiara, memapahnya dan mendudukkannya dengan perlahan di atas sofa.
"Sayang perutku sakit sekali -"
"Astaga!" seru Rendra cukup nyaring saat rambutnya di Jambak oleh Tiara, "Sakit, sakit, sakit!"
"Engh! Sakit!" Tiara memejamkan erat kedua matanya.
Tiara kesakitan akibat kontraksi yang ia rasakan, lalu si tuan muda itu kesakitan akibat dari sebab akibatnya saja.
"Mama..."
Akhirnya, Rendra mendengar sang istri menyebut mama.
"Sayang bertahan lah, aku akan membawa mu ke rumah sakit."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rendra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di rumah sakit, tak peduli meskipun lampu merah telah menyala.
Dia yang panik bukan main melihat istrinya kesakitan seperti itu, membuatnya mengenyampingkan keselamatan lalu lintas.
Begitu mobil melewati lampu merah, masih melaju di jalanan raya yang mulus dan bertemu dengan perempatan jalan.
Rendra mengemudikannya menuju jalan ke arah kanan. Karena rumah sakit yang di tuju sudah hampir dekat.
__ADS_1
Begitu mobil di belokkan ke arah kanan, sebuah truck melaju tanpa membunyikan klakson.
Tiara yang juga sempat menoleh kearah lampu yang begitu terang menembus kaca jendela, seketika terkejut.
Dia meremas tangan Rendra dengan begitu kuatnya, "Sayang, awas!"
Brak!
Tak sempat menghindar membuat truck tersebut menabrak bagian samping mobil mereka, truck yang melaju itu menabrak dengan kecepatan tinggi, dan membuat mobil yang di naiki sepasang suami istri itu pun terseret hingga beberapa meter sebelum akhirnya kembali menabrak tiang besi yang besar dan kokoh hingga penyok.
"Tiara!"
Rendra memeluk istrinya agar tidak terkena serpihan kaca, serpihan itu menancap di punggung tangan Rendra.
Tabrakan itu membuat Tiara tak sadarkan diri, dengan luka memar dan benturan yang kuat.
"Aaaaaaarrggghhh!!!"
Rendra meringis menahan sakit, "Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Rendra dengan gemetar, panik, dan seribu satu kekhawatiran yang mengurungnya.
Tak ada jawaban apapun dari Tiara, "Sayang?" seru Rendra mengguncang bahu istrinya.
Kebetulan ada seorang pejalan kaki yang melintasi daerah itu, melihat lakalantas pun mereka segera berlari untuk menolong.
"Tuan, anda tidak apa-apa?"pria itu berambut gondrong, dan ada luka gores di pipi kirinya. Dan, jalannya juga pincang.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, cepat telefon kan ambulance!"
"Ba - baik, Tuan."