PERNIKAHAN HANGAT S2

PERNIKAHAN HANGAT S2
Lahir Lebih Dulu


__ADS_3

Pesawat itu pun akhirnya sampai juga di bandara besar kota Z, "Manda, aku datang untuk menjemput mu dan anak kita," imbuhnya dengan suara lirih.


"Tuan Al, kita sudah sampai. Dan, sudah ada mobil yang datang untuk menjemput kita."


"Ya, aku tahu... cepat tunjukan jalan menuju alamat rumahnya."


"Baik, Tuan." Ada apa sih dengan orang-orang ini? Kalau sudah mengenal cinta mengapa selalu bucin seperti ini? Haish...


Rio menggeleng pelan dan ternyata tingkahnya itu di perhatikan oleh Alister, pluk!


"Aw, tuan-" Rio mengusap-ngusap kepalanya yang baru saja di toel.


"Apa? Aku menyuruhmu untuk menunjukkan jalan, bukan menggeleng. Aku lahir lebih dulu darimu, jadi kau tak akan mengerti apa itu virus cinta!"


Cih! Toh usia kita hanya terpaut tiga tahun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alister sedang memperjuangan separuh hatinya yang berada di kota Z, sementara Rendra malah asyik ngebucin sejadi-jadinya.


Urusan kantor? Lupakan saja, dia masih punya kaki tangan kepercayaannya yang lain. Jadi, dia bisa santai menikmati bulan madunya di rumah, ლ(^o^ლ)


"Sayang, kenapa kau tidak bekerja? Kau seharusnya memberikan contoh yang baik untuk para karyawan mu, kan? Bukannya bolos bekerja."


"Sembarangan saja kau ini, aku hanya sedang cuti saja."


"Cuti kok malah hampir sebulanan?"

__ADS_1


"Kau ini cerewet sekali, sih. Atau kau ingin ku cium agar bisa berhenti bicara?"


Embun mencubit hidung suaminya, gemas, "Tidak mau."


Rendra menghela napas, "Sombong! Dulu, kau sangat suka jika ku cium," mimik wajahnya berubah kesal, Rendra sudah menurunkan satu kakinya dari atas ranjang.


"Sayang, mau kemana?"


"Apa lagi?"


"Kan aku hanya bertanya," mengedipkan mata berkali-kali.


"Kenapa matamu begitu?" Rendra mempraktikannya, "Cacingan?"


Seketika Embun menjadi kesal, di raihnya bantal lalu melemparkannya ke tubuh suaminya itu.


"Hei mau kemana kau?"


"Tidur di kamar tamu!"


"Kau sedang hamil, lihat perutmu yang besar itu... kau tidak boleh naik tangga."


"Ya kalau begitu aku akan merangkak, pokoknya malam ini aku tidak mau tidur denganmu!"


Duh, gawat kalau itu terjadi. Jika hal itu terjadi maka sudah bisa di pastikan jika malam ini dirinya tidak akan mendapatkan jatah.


"Aaaaa.... aduh, aduh, aduh... sakit, perutku sakit sayang," eluh Rendra berbaring meniarapkan tubuhnya.

__ADS_1


Kepura-puraan itu membuat langkah Embun terhenti, sebenarnya sih kesal tapi dia paling tidak tega jika melihat suaminya sepeti ini.


"Aku tidur di sini," Rendra kembali duduk, dia menelentangkan kedua tangannya, "Apa?"


"Peluk."


Embun memutar bola matanya dengan jengah, "Tidak, peluk saja guling itu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kota Z, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya Alister dan Rio sampai juga di depan ruko kecil yang di penuhi bunga hias.


Kling, kling...


Bunyi lonceng yang tertiup angin, Alister mengedarkan pandangannya yang menembus dinding kaca.


Di sudut ruangan itu ia melihat sosok Amanda yang sedang melayani pembeli pria.


"Nona, aku ingin bunga yang indah dan cantik..." diam sejenak, kemudian memandang Manda dengan tatapan nakal, tangannya bergerak menyentuh dagu Manda.


"Tuan, tolong yang sopan. Saya wanita yang sudah bersuami," dengan keras dia menepis tangan pria itu.


"Cih! Memangnya orang seperti apa suami mu itu, hah? Lagi pula mana ada suami yang meninggalkan istrinya hidup berdua dengan adik lelaki di kota asing ini."


Semenjak hamil, gerakan Manda sudah tak secekatan dan selincah dulu. Mungkin itu semua juga pengaruh hormon.


Kehamilan yang bahkan tak ia ketahui.

__ADS_1


__ADS_2