
Maya yang terbangun saat telepon rumahnya berdering cepat-cepat dia mengangkatnya, "halo?"
seseorang di ujung telefon itu mengatakan sesuatu yang membuatnya tercengang, gagang telepon itu pun terlepas dari tangannya.
lalu Maya segera berlari menaiki anak tangga, begitu sampai di depan pintu kamar Nyonya besar, dia menggedor nya dengan kuat. "Nyonya, nyonya buka pintunya, nyonya!" tak mendapatkan jawaban Maya pun dengan lancang membuka pintu kamar.
dia tahu itu salah tetapi hal ini harus segera ia sampaikan kepada Nyonya besarnya. saat Maya masuk mama Renata tengah terlelap dalam tidurnya, rasanya tidak tega untuk membangunkannya tetapi Maya harus melakukan hal tersebut.
"Nyonya besar bangunlah," perlahan Maya mengguncang bahu Mama Renata, "Nyonya bangunlah, Nona muda mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit -"
saat Maya hendak melanjutkan kalimatnya, begitu mendapat kabar jika putrinya mengalami kecelakaan Mama Renata segera duduk dengan mengumpulkan kesadarannya secara utuh, "Tiara?"
Maya pun mengangguk, "Iya Nyonya, itu benar... seseorang baru saja menelpon."
Mama Renata sedikit linglung akibat kabar yang seolah mengguncangkan alam bawah sadarnya, Dia turun dari ranjang yang tanpa memakai alas kaki, segera keluar dari kamar dan menuruni anak tangga bersama dengan Maya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pintu ruangan terbuka, Rendra dan pria itu pun beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri Ku, dok?"
"Nona muda mengalami benturan yang sangat keras, sehingga menyebabkan trauma yang mendalam terhadap kecelakaan itu -"
Dengan kasar Rendra menarik kerah jas kedokterannya, "Bicara yang jelas, jangan bertele-tele!"
"Anak muda, tenanglah... biarkan dokter ini menyelesaikan penjelasannya," tutur pria yang berdiri di sampingnya sembari menurunkan tangan Rendra, "Silakan dokter, maaf atas perlakuannya tadi. Dia hanya panik."
"Insiden itu membuatnya koma -"
Plak!
Dengan tak sabaran Rendra pun mendorong dokter ke samping dengan dorongan tangannya di bahu kirinya, "Minggir! Jangan menghalangi jalanku!"
Rendra melangkah tergesa-gesa dan sampailah dirinya di tepi bed, di mana infus telah terpasang di punggung tangan Tiara.
"Tuan, kenapa anda masuk? Apakah dokter Naina sudah mengizinkannya -" perawat itu pun langsung menundukkan pandangannya menatap lantai, saat Rendra melemparkannya tatapan mematikan seolah telah siap untuk menerkamnya hidup-hidup.
"Sayang cepat bangun, kenapa kau hanya diam membisu? Kau ingin membawa anakku pergi bersama mu?" Rendra mengguncang kedua bahu istrinya, dengan kuat dia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangisnya.
__ADS_1
"Bangun kataku, bangun brengsek!" Emosi, Rendra melampiaskannya dengan meninju tembok beton, membuat tulang
jemarinya patah.
Dia memekik kesakitan, "Aaaaarrrgggghhh!! tetapi bukan karena rasa sakit yang ada di tangannya.
Dia merasakan sakit yang sesakit-sakitnya karena merasa jika dirinya telah gagal, menjadi seorang suami yang tak bisa melindungi istrinya.
Dia menggebrak nakas dengan kedua tangannya, Rendra mengamuk atas kondisi itu
Seribut apapun, orang koma tidak akan terbangun.
"Tuan muda hentikan apa yang anda lakukan? Tolong jangan bersikap seperti ini. Kami juga sangat menyayangkan insiden ini!"
Seru dr.naina yang mencoba untuk menenangkannya dan di bantu pria tadi.
"Anak muda tolong tenangkan diri mu, Tuhan pasti punya rencana yang baik di balik insiden ini -"
"Aku tidak percaya Tuhan!" sarkas! Rendra membentak seperti orang yang telah kehilangan akal, "Di mana Tuhan yang kau katakan itu pak tua? Di mana!"
__ADS_1
"Cepat suruh Dia menyembuhkan istriku!" lanjut Rendra sembari menarik sisi bagian atas jaket kulit pria itu.