
"Emh! Emh! Emh!" El duduk di kursi dengan tangan yang terikat dan mulutnya yang tersumpal.
Sebuah pistol menempel di atas kepalanya, El begitu ketakutan bahkan sampai kencing di celana.
"Lepaskan adikku, aku sudah melakukan apa An inginkan!" pekiknya hampir melangkah, namun terhenti saat pria itu menarik pelatuknya.
"Ku mohon jangan sakiti adikku, jika kalian ingin, aku bersedia menjadi penggantinya."
"Diam! Kau gagal menjalankan perintah itu, kau menggantinya dengan obat bius! Kau kira kami bodoh, hah?!"
Manda terdiam, dia berpikir keras dari mana pria jangkung berkulit kuning Langsat itu bisa mengetahuinya?
Saat Manda mau membuka suara, pria itu menembakkan pistolnya ke udara, membuat jantungnya hampir lepas.
"Aku bisa mendengar semua yang percakapan mu," dia menunjuk mono headset di telinganya. Memberitahukan Manda akan sesuatu.
Lama mencerna, dan akhirnya Manda pun tersadar, dia ingat saat di mana An mendekat dan menyentuhnya.
Manda segera meraba pakaiannya dan menemukan alat perekam suara, sangat kecil. Siapa pun pasti tak akan menyadarinya.
"An!" pekik Manda seraya menggenggam kuat alat perekam suara tersebut, "Apa yang kau inginkan? Jika kau memang berani, lepaskan adikku dan bertarung lah melawanku."
"Hemp! Dasar bodoh, kau bisa saja mati dalam satu tembakan."
Manda mendekat, dia tak peduli lagi dengan semua itu.
__ADS_1
"Kau tidak dengar?" Dia mencengkeram kuat pundak El, membuatnya berteriak kesakitan.
"Aaaaa! Kakak tolong aku, El takut."
Air matanya berjatuhan membuat hati Manda semakin pilu.
"Mundur, atau aku akan benar-benar menembak kepalanya!"
Namun Manda sudah tak peduli lagi, sekali lagi pria itu memperingatinya. Jaraknya semakin dekat dan berhasil membuat celah Manda pun menendang kaki pria itu.
Membuatnya berlutut satu kaki, "Aaaakkkhh! Sialan kau."
Bugh!
Meskipun berhasil membalik keadaan tetapi tetap saja, jantungnya hampir copot dan melompat keluar dari dalam mulutnya.
Segera dia membebaskan adiknya, memeluknya dengan erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga hari kemudian ...
Di ruang rawat VVIP dokter Haikal sedang melepaskan selang infus dari tangan Embun, "Setelah ini nona sudah boleh pulang. Perbanyak istirahat dan makan makanan yang bergizi."
"Baik dok, terimakasih... emmm setelah ini sebelum keluar dari rumah sakit bolehkah aku melakukan USG terlebih dahulu?"
__ADS_1
Haikal mengangguk, "Tentu saja boleh nona, saya akan mengaturnya."
Tiga menit kemudian Rendra datang setelah selesai mengurus segala sesuatunya untuk kepulangan Embun.
"Sayang? Aku ingin USG," seru Embun memberitahukannya, yang kemudian di balas anggukan pelan dari Rendra.
"Bawakan kursi roda kemari."
"Baik, tuan muda," Alister pun segera keluar dan meminta suster untuk membawakannya kursi roda.
Setelah mendapatkannya, Alister pun membawanya masuk ke dalam ruangan rawat Embun.
"Permisi tuan, ini kursi rodanya."
Rendra mengangguk dan mendekat ke sisi bed. "Ayo, aku akan menemani mu USG," lalu dia menggendong Embun dan mendudukkannya dengan perlahan di atas kursi roda.
"Terimakasih sayang, beruntung sekali aku memiliki suami yang sangat antusias seperti mu."
"Nanti malam kau harus membayarnya," bisik Rendra di telinga Embun dengan senyum tipis jenakanya.
"Ih, curang... kau selalu saja menghitungnya sebagai sebuah kerugian yang harus ku bayar."
"Coba saja kau memperdebatkannya denganku, aku pasti akan melahapmu di ruangan ini."
Wajah Embun merona merah, aaaaa dasar tuan muda tak tahu tempat. Dia bisa mengatakan hal itu di tempat yang tidak hanya ada mereka berdua saja, (´⊙ω⊙`)!
__ADS_1