
Rendra meremas rambutnya dengan kuat, menarik-nariknya hingga wajahnya memerah.
Kegaduhan itu mau tak mau membuat pria yang di panggil pak tua oleh Rendra itu pun, memukul tengkuknya.
Bruk!
"Aaaaaarrrrrgghh!!" pekik Rendra yang kemudian penglihatannya mulai memudar dan menggelap. Dia pingsan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perputaran waktu terjadi begitu cepat, di mana saat ini Alister, Manda, Rio, dan El sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Dan sayangnya Alister belum bisa memenuhi janjinya kepada sang tuan muda, dirinya begitu geram.
Berkali-kali Manda memperhatikan Alister yang sejak tadi menghela napas kasar.
"Tenanglah, jangan sampai orang itu mengganggu konsentrasi mu."
"Bagaimana tidak? Seseorang mencoba mengganggu kehidupan tuan dan nona, mana bisa aku hidup dengan tenang.'
"Tenanglah, ayo hidup napas dalam-dalam... aku yakin orang-orang mu pasti bisa menemukannya, jaringan kalian tersebar luas," bahkan bisa menemukan ku yang berada di kota Z. Cara terbaik hanya dengan tidak terlibat masalah dengan mereka, tetapi semua sudah terlanjur terjadi...
__ADS_1
Manda mengelus perutnya yang mulai terlihat itu, "lalu apa rencana mu setelah ini?"
Alister masih diam mungkin dia sedang memikirkan semua rencana, mobil yang dikemudikan alister pun akhirnya sampai juga di garasi rumah sakit.
Mereka semua keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, Alister melangkah masuk kedalam rumah sakit meninggalkan Amanda dan 2 orang lainnya. Karena ia yakin bahwa Rio bisa melindungi Amanda dan adiknya.
Di meja resepsionis lobi terlihat beberapa orang yang mengantri, Alister sebagai tangan kanan dari seorang penguasa di rumah sakit ini tak perlu mengantri. Ia pun menerobos antrian tersebut.
"Di mana Tuan mudah?" suaranya mendadak mengejutkan resepsionis tersebut.
"Sebentar saya cek terlebih dahulu Tuan," beberapa menit kemudian setelah mengecek barulah resepsionis itu memberitahukannya, "Tuan ada di ruangan VVIP nomor 101 tuan."
Alister pun mengangguk, "Baiklah lanjutkan kembali pekerjaanmu!"
Tak lama setelah Alister masuk dalam lift, Amanda, Rio, dan El, pun, menyusul dengan terburu-buru mereka menyeret langkah kakinya.
Amanda sempat menatap angka lantai lift yang dituju oleh Alister, "Rio tuanmu menuju lantai 20."
Rio pun mengangguk, "Baik Nona, kita akan segera menyusulnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
di depan ruangan Nomor 101 ada seorang resepsionis khusus yang menunggu di balik meja itu, resepsionis wanita yang bernama Intan itu pun segera berdiri dan memberikannya Bow, "Selamat pagi Tuan Alister."
Alister pun hanya menjawabnya dengan anggukan kepala lalu dengan cepat dia membuka pintu ruangan tersebut, setelah berhasil masuk dia pun perlahan mulai mengatur nafasnya nya agar seirama dengan detak jantungnya.
ditatapnya tua muda Rendra yang tengah terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri, Intan pun segera masuk ke dalam ruangan menyusul alister.
"Tuan, kami mendapat kabar jika kondisi nona muda dalam keadaan koma, karena itu rumah sakit menempatkannya di ruangan yang Terpisah."
tanpa menoleh Alister hanya menjawab,"di mana nona muda?"
"Nona muda ada di Bangsal khusus VVIP."
lalu Alister membalikan tubuhnya agar bisa bersihadap dengan Intan, "Siapa yang menjaga ruangan itu?"
Intan menggeleng, "Tidak ada, Tuan."
sontak saja hal itu membuat Alister meradang, Alister yang terkenal dengan julukan tangan besi itu pun tak bisa lagi menguasai dirinya, dia menarik dengan keras kerah kemeja Intan kemudian menghempaskannya ke tembok beton. suara erangan Intan yang kesakitan pun tidak alister pedulikan.
"Dasar bodoh! selama ini kalian dipekerjakan dengan bayaran yang tinggi untuk yang seperti inikah? Dasar kalian manusia tidak punya otak!" imbuh Alister penuh penekanan pada kalimat tidak punya otak!
"Jika ada orang jahat yang ingin mencelakai nona muda, apakah kalian sanggup membendung amarah tuan muda?" lanjut Alister dengan nada membentak.
__ADS_1
Tak Seberapa lama kemudian Amanda membuka pintu, sontak dia pun terkejut saat melihat Intan terduduk di lantai dengan ketakutan dan gemetar.