
Barron membuka topeng penutup wajahnya, dia pria yang tampan dan bertubuh tinggi, juga punya dua tindik di telinga kanan dan kirinya serta satu tindik di bagian bibir bawahnya.
"Aku Barron, kau cemburu? Tidak ada alasan bagimu untuk cemburu... dia adik sepupuku."
Alister langsung menarik Manda ke dalam pelukannya saat Barron hendak menyentuh tangan Manda.
"Menjauh darinya, aku tidak suka melihat wanitaku diganggu oleh nyamuk."
sontak saja barron langsung membelalakkan mata saat mendengar calon adik iparnya mengatakan hal demikian. "Hei! kurang ajar sekali mulutmu itu ya? kau mau aku menjejali mulutmu dengan pistol ku ini, hah?"
"cih! " desis Alister sembari membuang pandangannya ke sembarang arah, lalu dia mengibaskan tangannya, "Pergilah! kehadiranmu disini hanya mengganggu keharmonisan kami berdua."
__ADS_1
"Woi!! " Barron mendengus kesal, "enak saja... kalian belum menikah, memangnya kau punya apa sampai begitu percaya diri mengatakan hal seperti itu padaku?"
lalu dengan sombong Alister menatap calon kakak iparnya itu seraya berkata, "aku hanya memiliki janin yang tumbuh di dalam rahim nya."
wah Alister, kau sungguh punya nyali yang begitu besar. Berani mengakui kehamilan Amanda di depan calon kakak ipar mu sendiri.
"apa? Amanda apa-apaan dia, mengapa dia begitu lancang mengatakan hal tersebut!"
Alister pun meringis menahan sakit namun masih dengan wajah datarnya agar tidak diketahui oleh Barron. Barron pun segera melangkah menuju jendela yang sudah Iya dobrak tadi, satu kakinya sudah berada ada di luar jendela.
"Awas saja jika kalian berani macam-macam! kalian tidak akan bisa menikah sebelum mendapatkan restu dari ku, terutama kau," Barron mengangkat dua jari lalu menunjuk kedua matanya sendiri dan melakukan hal yang sama kepada alister,"ingat itu baik-baik dasar bocah ingusan!"
__ADS_1
"enak saja- " suaranya tercekat saat Amanda menutup mulutnya lalu wanita itu menginjak kaki alister dengan kuat.
Amanda pun mencoba untuk tersenyum ramah kepada sang kakak, "kakak berhati-hatilah di jalan, jangan sampai ada orang lain yang mengira mu sebagai maling di rumah adiknya sendiri, hehehe..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
malam menuju puncaknya, masih melanjutkan kisah sedih Rendra yang harus tidur di luar kamar. dirinya membawa bantal menuju ruang keluarga dia membaringkan tubuhnya di atas sofa.
beberapa detik kemudian dia meregangkan tubuhnya. seluruh otot-ototnya meregang dengan sempurna membuatnya merasa lebih nyaman dari sebelumnya.
"Ah! Akhirnya bisalah rebahan juga, tubuhku rasanya lelah sekali," Rendra langsung menghela napas pelan, ia mengusap wajahnya dengan begitu memandangi pintu kamar yang tertutup rapat dengan begitu gelisah, "dasar! hanya gara-gara es campur saja dia sampai begitu tega mengusirku dan menyuruh untuk tidur di luar kamar," dan Rendra pun mencoba untuk memejamkan kedua matanya meskipun sebenarnya Dirinya belum mengantuk.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar sebenarnya, Tiara atau yang dia kenal dengan sebutan Embun masih belum tidur. Tiara beranjak dari tidurnya lalu duduk di tepi ranjang, dia mengusap wajah dengan kedua tangannya lalu naik ke kepala.