
Setelah makan malam dan mengobrol sebentar, Rosa berpamitan untuk pulang . Dan Rifan dengan senang hati mengantarkan Rosa kerumah kedua orangtuanya .
"Bee..besok aku jemput ya.. ?" kata Rifan lembut. Saat mereka dalam perjalanan ke rumah tuan Rendra.
"Nggak usah kak....biar aku meminta Mang Dulah datang kemari. Sebab aku belum tahu pulangnya kapan..." jawab Rosa . karena memang sejujurna Rosa tidak tahu dia mau pulang besok atau lusa . sebab dia sudah lama tidak pulang kerumah kedua orang tuanya.
"Atau kau bisa menelfonku saat kau pulang..." ucap Rifan tak mau kalah.
"Kakak....aku tak ingin merepotkan kak Rifan , aku tahu kesibukan mu kak..." kata Rosa dengan lembut .
"Bee...sesibuk apapun aku, aku ingin selalu ada buatmu Bee...aku tahu kau gadis kuat dan mandiri . tapi tolong beri kesempatan aku untuk menjadi sandaranmu walaupun itu hanya sebentar..." kata Rifan dengan sabar .
Mendengar ucapan Rifan, Rosa merasakan ada perasaan hangat di dalam hatinya . dia menatap Rifan sebentar, lalu dia berucap.
"Baiklah....kalau aku akan pulang besok, aku akan menelfon kakak.." kata Rosa lembut. Mendengar perkataan Rosa , terlihat ada senyum kegembiraan di wajah Rifan .dengan lembut dia berucap pada gadis yang dia sayangi itu.
"Trimakasih Bee... Jam berapapun kau telfon aku , aku akan datang..." kata Rifan dengan wajah bahagia . Tak berapa lama mereka telah sampai di rumah tuan Rendra. Ketika mereka masuk kedalam rumah , betapa bahagianya kedua orang tua Rosa. Dan kebetulan kakak pertama Rosa datang kerumah itu bersama istri dan anak- anak mereka. Dan sang kakak keduapun tidak sedang keluar rumah. Saat itu tuan Rendra dan Nyonya Safitri sedang bercengkrama di ruang keluarga.
Saat pembantu Rumah mereka mengatakan kalau ada Rosa di ruang tamu, tuan Rendra dan nyonya Safitri sangat bahagia. Mereka segera keluar menemui Rosa. tentu saja kebahagiaan kedua orang tuanya membuat kedua putra mereka heran. Mereka segera mengikuti papa dan mama mereka berjalan ke ruang tamu.
"Rosa...kau datang sayang....!" seru sang mama bahagia.
"Selamat malam Ma...."sapa Rosa sambil mencium tangan sang Mama , dan nyonya Safitri langsung memeluk putri yang telah kembali itu.
"Kenapa nggak menelfon Mama kalau mau kemari..." kata sang Mama sambil menatap gadis yang berada di depannya.
"Membuat surprise untuk Mama dan Papa..." jawab Rosa manja.
"Dasar anak nakal..." ucap sang Mama sambil membelai kepala Rosa .
"Malam Pa..." kata Rosa menyapa sang Papa yang terlihat bahagia.
"Malam sayang..." ucap tuan Rendra sambil menerima ciuman tangan sang putri. Dia segera memeluk tubuh Rosa dan mencium lembut kening nya.
"Kenapa datang malam sayang....?" kata tuan Rendra penuh perhatian .
"Tadi dari rumah kak Rifan mengantar Nina Pa..." jawab Rosa lembut .
"Kenapa tidak kau bawa adik kecilmu kemari Nak...." kata sang Papa kembali.
"Benar Ros...Mama juga kangen pada Nina, dia gadis kecil yang lucu..." tambah sang Mama .
"Kapan- kapan Pa...sebab hari ini jatah Nina bersama sang Nenek..." ucap Rosa sambil tertawa .
"Pa, Ma....boleh kami tahu siapa dia Ma..." terdengar suara Dika menyadarkan Papa dan Mamanya kalau kedua anaknya juga berada di rumah.
"Aah...Papa hampir lupa...kenalkan ini Rosa putri angkat kami..." kata tuan Rendra pada sang putra .
"Putri angkat...?" ucap Dika, Rendra serta istri Dika hampir bersamaan.
"Maaf kami lupa memberitahukan pada Kalian tentang Papa dan Mama yang telah mengangkat Rosa menjadi adik angkat kalian , Kami ingin memberitahukan ini pada kalian, kami belum mendapatkan saat yang baik, tapi kami malah lupa...apalagi dia lupa mengunjungi Papa dan Mamanya . " ucap tuan Rendra . dia mengacak rambut Rosa dengan sayang. Walau penuh tanda tanya, Dika dan Resa menyalami Rosa . begitupun dengan Istri Dika. Dan saat mereka melihat Rifan, mereka kaget.
"Rifan....!" seru Dika san Resa hampir bersamaan. Tentu saja mereka mengenal Rifan si CEO dari perusahaan nomer satu di negara ini . sekaligus teman satu angkatan dan sahabat Resa.
Dika juga sangat mengenal pria dingin ini, karena sang adik.
"Malam Dika, Resa..." kata Rifan ramah.
"Kau di sini bersama dia...?" tanya Resa heran. Sebagai seorang sahabat dia tahu penyakit Rifan terhadap wanita.
"Dia kekasihku..." jawab Rifan dengan tenang .
"Apaa...kau mempunyai kekasih...?" seru Resa kaget dan heran.
"Ck...kenapa reaksimu sekaget itu sich.." ucap Rifan dengan kesal.
"Iya Sa...kenapa reaksimu seperti itu.... wajarlah Rifan punya kekasih..." ucap Dika pada sang adik.
"Ayo..ayo duduk dulu...." kata sang Mama menyela oercakapan mereka dan mempersilahkan mereka duduk.
Merekapun segera duduk bersama di ruang tamu.
"Bukan...bukan begitu kak...maaf Fan boleh aku berkata pada kak Dika...?" tanya Resa pada Rifan.
"Silahkan..." jawab Rifan dengan tenang.
Dia memperbolehkan Resa berkata jujur soal penyakitnya karena sebentar lagi mereka akan menjadi saudara .
"Kak...Rifan ini memiliki penyakit Alergi pada wanita. Karna itu sejak sekolah sampai kuliah dia tidak pernah tertarik pada seorang wanita. Jika dia dekat atau sampai bersentuhan dengan wanita, dia akan mengalami sesak nafas dan akan keluar ruam di sekujur tubuhnya. Karna itu kami empat sahabatnya yaitu , Dikra , Fikri dan aku serta Roy selalu menjaga dia jauh dari wanita. Sampai - sampai kami di sebut empat bidyguard dia kak..." jawab Resa menjelaskan kekagetannya tadi.
"Ya ampuun...kok ada penyakit seperti itu Fan... Tapi kenapa aku baru tahu sekarang..." kata Dika dengan wajah heran.
__ADS_1
"Kami memang menyembunyikan itu dari semua orang. Hanya sahabat dan kedua orang tuanya yang tahu kak... Fan...apa sekarang penyakitmu sudah sembuh...?" tanya Resa lagi.
"Tidak...penyakit itu masih tetap ada dalam tubuhku..." jawab Rifan.
"Lalu...kenapa kau tenang di dekat dia..?" tanya Resa heran.
"Entah kenapa aku biasa saja di dekat dia...dan aku akan tenang jika bersamanya...." jawab Rifan lagi.
"Itu namanya sudah Jodoh Sa..." ucap kakak iparnya, istri Dika .
"Benar apa kata kakak iparmu , Kalau sudah jodoh pasti Tuhan memberikan jalan..." kata tuan Rendra bijak .
Merekapun berbincang dengan akrap. Setelah beberapa waktu di rumah tuan Rendra . Rifan pamit pulang .
"Kok terburu- buru nak Rifan...ini masih jam berapa...?" kata nyonya Safitri ramah.
"Maaf Tan...masih ada sesuatu yang harus Rifan hendel...." jawab Rifan.
"Oo gitu...tapi Rosa tetap di sini kan...?" tanya nyonya Safitri dengan wajah khawatir.
"Iya Ma...Rosa ingin menginap di rumah Mama..." jawab Rosa membuat sang Mama bahagia.
"Syukurlah...Mama kira kau akan ikut pulang juga..." kata sang Mama bahagia . Rifanpun segera berpamitan pulang.
"Bee...ingat telfon aku kalau mau pulang.." kata Rifan saat sudah berada di dalam mobilnya.
"Iya...crewet amat kak...ya sudah hati- hati di jalan, kalau ada apa- apa telfon aku..." kata Rosa lembut .
"Baik sayang....aku akan hati- hati, aku pulang..selamat malam .." ucap Rifan sambil tersenyum lembut dan melambaikan tanganmu . Rosa hanya menjawab dengan senyuman dan lambaian tangan . walaupun ada kehangatan di dalam hatinya saat Rifan memanggilnya sayang .
Setelah mengantar Rifan pulang, Rosa masuk kedalam rumah. Terlihat di dalam ruang tamu kedua kakak dan kedua orang tuanya sudah menunggu kedatangannya. Sedang kakak iparnya terlihat sudah tidak ada. Mungkin mengantar sang putri tidur.
"Pa...boleh kita bicara di ruang kerja Papa...ada sesuatu yang ingin Rosa katakan pada Papa dan Mama, dan kita juga harus mengatakan kebenaran ini pada kedua kakak Rosa kan...lihat wajah mereka berdua seperti harimau yang ingin memangsa Rosa..." ucap Rosa sambil menggoda kedua kakaknya. Melihat tingkah Rosa membuat Dika dan Resa teringat pada adik manja mereka.
"Baik...ayo kita keruang kerja Papa..." jawab sang Papa .
Merekapun segera berjalan keruang kerja sang Papa walau dalam hati kedua putra tuan Rendra penuh tanda tanya.
Apalagi melihat keakrapan kedua orang tuanya dengan gadis yang kini sedang berjalan bersama sang Mama dengan manja.
Mereka melihat tingkah gadis itu seperti Kanaya sang adik yang sudah lama meninggal.
Setelah sampai di dalam ruang kerja sang Papa, Rosa segera menutup dan mengunci pintu ruangan itu. Ruang kerja sang Papa yang memang kedap suara itu. Akan menyembunyikan apapun percakapan mereka.
"Baik...Papa yang akan mengatakan pada kalian berdua siapa sebenarnya Rosa....( tuan Rendra berhenti sejenak) Dika, Resa akan Papa katakan pada kalian berdua, sebenarnya gadis yang berada di depan kalian itu , adalah adik kalian sendiri ,Kanaya...." ucap sang Papa yang membuat mereka berdua terkejut bukan main.
"Apaaa....Kanaya...!" teriak mereka bersamaan.
" Benar...dia adik kalian Kanaya... Kanaya yang telah kita Anggap meninggal...." kata sang Papa melanjutkan .
"Mana mungkin Pa... lalu siapa yang kita kebumikan dulu...?" kata Resa dengan bingung.
"Nak...coba kau ceritakan semuanya pada kedua kakakmu..." ucap tuan Rendra pada Rosa. Rosa terdiam sambil menatap kedua kakaknya. tak lama dia berucap.
"Kak...aku akan menceritakan semuanya pada kakak, tapi tolong jangan kau sela ceritaku dengan pertanyaan kalian sampai ceritaku habis.." kata Rosa sambil tetap menatap kedua kakaknya.
"Baik...kami tak akan menyela ceritamu , sekarang ceritakanlah..." kata Dika sambil menatap Rosa dengan pandangan serius .
"Kalian masih ingat saat ulang tahun Mama satu tahun yang lalu...?" ucap Rosa pada kedua kakaknya . Mereka terlihat mengingat kejadian saat itu .
"Kalian lupa...?saat itu kita sedang bersama para tamu di dalam pesta perayaan ulang tahun Mama, namun tiba- tiba Kanaya keluar dari rumah dengan terburu- buru setelah menerima telfon, hingga tanpa sengaja dia menabrak kak Linda yang sedang mengggendong si kecil Bima hingga kak Linda jatuh dan Bima menangis keras... apakah kalian lupa itu...?dan kau kak...bukanya kau marah sampai hampir memukulku..?" kata Rosa pada Dika.
Mendengar ucapan Rosa Dika terlihat Wajahnya memerah karena teringat di mana setelah kejadian itu, dia menyesali saat dia memarahi Adiknya dan hampir memukulnya . andai tidak ada Papa yang menahan tanganya mungkin dia susah menampar sang adik yang sangat mereka sayangi . dan keesokan harinya di melihat sang adik meninggal dan jasadnya hitam karena terbakar. dan pada saat itulah dia merasakan Penyesalan yang teramat sangat, hingga sampai sekarang penyesalan itu mendera hidupnya. .
"Saat itu aku mendapat kabar kalau sahabatku Nindi telah di culik seseorang dan nyawanya menjadi taruhannya. Dan kakak tahu kan kalau Nindi adalah segalanya buat Kanaya...?Karena itulah aku pergii dengan tergesa- gesa..." ucap Rosa . Nindi adalah sahabat Kanaya sejak kecil. Di mana ada Kanaya, pasti di sana ada Nindi. dan Saat Kanaya hilang pun Nindi sangat sedih hingga dia sakit beberapa bulan. Dan akhirnya Kanaya menceritakan semua yang terjadi pada Kanaya sampai dia masuk keraga Rosa gadis yang kini berada di depan mereka. Rosa juga menceritakan kesedihan Rosa saat menjadi istri kontrak Danar kekasih Mirna. "Maaf kak Resa...akulah yang memberikan bukti perselingkuhan Mirna pada kakak..sebab Kanaya tidak mau kak Resa memiliki istri yang sudah menjadi barang bekas orang lain, dan dia masih melakukan itu saat kakak begitu mencintai kak Mirna..." ucap Rosa sambil menatap Resa. dan tanpa di komando Resa dan Dika berlari memeluk Rosa. mereka menangis sambil memeluk gadis yang ternyata adik mereka. walaupun tubuh ini bukan milik Kanaya.
"Maafkan kakak sayang...maafkan kakak yang hampir memukulmu..." ucap Dika di sela tangisnya.
"Tidak masalah kak...saat itu memang Kanaya yang salah..." ucap Rosa lembut .
"Trimakasih dek...trimakasih kau sudah menyelamatkan kehidupan kakak, trimakasih kau telah membuat kakak lepas dari wanita munafik itu..." kata Resa .
"Itu sudah kewajiban Kanaya untuk melindungi orang yang Kanaya sayangi. karena itulah kak...sejak pertama kali Kanaya bertemu Mirna, Kanaya sudah tidak menyukai dia...." kata Kanaya atau Rosa .
"Tidak sayang...kau tidak salah, kau memang kebanggaan keluarga Rendra..." kata Resa sambil melepas pelukannya. begitu juga dengan Dika.
"Lalu kenapa kau tidak pulang kemari, apakah kau masih tinggal bersama bajingan Danar itu...?" tanya Resa marah.
"Yeee...amit- amit kak...Rosa ini telah bercerai dari dia. orang tua dia sendiri yang memberi perceraian itu untuk Rosa. aku telah membongkar ketidak adilan yang di dapat Rosa saat hidup bersama Danar. Saat itu dia mendapat hukuman dari orang tuanya di keluarkan dari perusahaan sang Papa. kalau sekarang entah... aku sudah tidak ingin mendengar kehidupan pria gila itu..." jawab Rosa .
"Tapi saat itu aku melihat Vidio yang memperlihatkan gadis berkacamata yang di sebut istri danar , apa itu kamu dek...?" tanya Resa.
__ADS_1
"Iya kak...itu memang tampilan Rosa saat hidup dengan Danar...dia tidak tahu tampilan Rosa yang seperti ini...entah mengapa Rosa menyembunyikan wajah cantiknya..." kata Kanaya atau Rosa sambil tertawa .
"Mungkin karena melihat sifat Danar yang seperti itu dek..." kata Resa.
"Mungkin juga kak...tapi untung juga buat Kanaya kak..." kata Kanaya sambil tertawa. Melihat ketiga putra putrinya yang terlihat bahagia, tuan Renda dan nyonya Safitri terlihat sangat bahagia.
"Lalu sekarang kau tinggal di mana..?" tanya Resa kembali.
"Di Villa milik Kenaya sendiri kak..." jawab Rosa
"Apaa...kau punya Villa...?" tanya kedua kakaknya .
"He he he...iya kak...Papa dan Mama sudah pernah kesana...?" kata Rosa sambil tertawa.
"Papa sudah pernah kesana...? jadi Papa sudah tahu kalau Rosa putri Papa dan Mama....?" tanya Dika .
"Ha ha ha...Memang, Papa dan Mama sudah tahu kalau Rosa adik kalian..." jawab tuan Rendra sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Dasar Papa...sudah tahu tak memberitahukan pada kita..." sungut Dika yang membuat mereka tertawa bersama.
"Oh ya Pa, Ma ..ada sesuatu yang ingin Rosa sampainkan pada Mama dan Papa.." kata Rosa sambil mendekati Sang Papa dan mamanya .
"Apa itu nak...?" tanya tuan Rendra sambil membelai kepala putrinya dengan sayang.
"Sebelumnya Rosa minta maaf, sebab baru sekarang Rosa atau Kanaya memberitahukan ini pada kalian berdua juga pada kedua kakak Kanaya..." terlihat Kanaya terdiam sejenak.
"Apakah kalian mengetahui Perusahaan KAG atau KAI yang memiliki cabang Di kota B..?" tanya Rosa pada ke empat orang yang ada di depannya.
"Aya...siapa yang nggak tahu perusahaan ternama itu dek ..semua perusahaan dan pembisnis pasti tahu sayang...dan kakak juga memiliki hubungan kerjasama dengan perusahaan itu..." ucap Resa.
"Perusahaan kuti juga memiliki hubungan dengan mereka Aya, benar kan Pa...?" kata Dika sambil menatap sang Papa.
"Benar sekali , kita ada kerjasama membuat Mall di kota R dengan mereka. dan banyak lagi Ros...memangnya ada apa dengan perusahaan itu...?" tanya sang Papa.
"Apakah kalian tahu siapa pemilik perusahaan itu...?" tanya Rosa.
"Tentu saja...bukankah pembisnis muda Johan itu kan...?" kata Dika.
"Bukan kak...perusahaan itu bukan Milik Johan, Johan hanyalah anak buah atau wakil CEO yang di percaya oleh pemiliknya , dan sebenarnya perusahaan itu milik adik kakak...." kata Rosa perlahan.
"Apaaa.....!" seru mereka bersamaan.
"Apa maksudmu Kanaya...!" kata sang Papa kaget.
"Perusahaan itu Milik Kanaya Pa..apakah Papa tidak melihat nama dari perusahaan itu..." tanya Kanaya sambil tersenyum.
"Tunggu...Bukankah kepanjangan KAI itu maksudku KAG adalah Kanaya Adi Grub Pa..." seru Resa kaget.
"Jadi benar perusahaan besar itu milikmu Ros...!" seru sang Ayah kaget. Kanaya hanya bisa mengangguk kan kepalanya karena melihat wajah syok keempat orang yang berada di depannya. Mereka terdiam cukup lama. dan tak lama terdengar suara sang Papa.
"Sejak kapan kau memiliki perusahaan itu nak...?" tanya sang Papa.
"Sejak pertama kali perusahaan itu berdiri Pa...empat atau lima tahun yang lalu..." jawab Rosa .
"Ya ampun putriku....ternyata Papa tidak mengenali putri Papa sendiri..." seru tuan Rendra sambil memeluk sang Putri . terlihat air mata mengalir di pipinya. dan sang Mama pun ikut memeluk Rosa .
"Pa , Ma...tapi Rosa bukan cuma memiliki dua perusahaan itu,..." Kata Rosa pelan.
"Apa maksudmu...?" tanya sang Papa kaget. begitu juga dengan nyonya Safitri. mereka melepas pelukan dan memandang putri mereka dengan wajah penuh tanda tanya .
"Ada dua toko elekto di kawasan pasar B dan satu butik di TA. Satu apotik di jalan H . juga satu perusahaan pemesanan Bodyguard. Pa..." kata Rosa pelan.
"Apaa....!" seru mereka kembali terkejut mendengar perkataan Rosa. hingga sang Mama jatuh terduduk karena Syok.
Mereka hanya bisa menatap gadis di depan mereka dengan wajah kosong. sedang sang putri mendekati nyonya Safitri yang terduduk karena Syok Berat.
"Ma...maafkan Rosa Ma..." kata Rosa menghibur sang Mama.
"Lalu siapa yang mengelolah semua ini Ros...dan siapa itu Johan...?" tanya sang Papa. setelah sadar dari keterkejutan mereka .
"Yang mengelolah semua itu Rosa sendiri di bantu anak buah Rosa Pa...Johan salah satu dari mereka. mereka sudah Rosa anggap sebagai keluarga. dan dua orang dari mereka , Orang yang selalu bersama Rosa atau Kanaya sejak dulu , mereka menjadi bodyguard Rosa ,Pa, Ma...." kata Rosa menjelaskan .
"Apakah yang kau maksud Mamat dan Asep Ros..." tanya sang Papa.
Yang memang sering melihat mereka bersama Rosa.
"Benar Pa...kekuatan mereka berdua kalau cuma sepuluh orang bukan tandingan mereka Pa..." kata Rosa. andai Mamat dan Asep mendengar perkataan Rosa, mereka akan merasa sakit dada, karena yang Rosa katakan itu bukan mereka. tapi Rosa sendirilah. kalau hanya sepuluh atau dua puluh orang saja, Rosa tak akan pernah gentar walau berhadapan sendirian.
Mereka semua hanya bisa geleng- geleng kepala. karena mereka tak pernah mengangka kalau putri atau adik mereka ternyata seorang Milyuner muda.
udahan dulu ya...maaf jika ada typo
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komennya selalu author tunggu.
Bersambung.