
Rosa kembali ke hotel bersama kawan- kawan, sedang Mahardika dengan kedua saudaranya kembali kerumah mereka.
Keesokan harinya , pagi- pagi setelah mandi dan solat subuh , Dengan mata masih mengantuk walaupun sudah mandi, Rosa kembali berada di depan leptopnya. Pekerjaan tadi malam yang dia kerjakan sampai jam dua dini hari , ternyata belum kelar.
Tak terasa matahari mulai bersinar dengan terang. Rosa melihat jam yang ada di tangannya sudaj menunjukkan jam 07 .30 . Rosapun segera menutup leptopnya dan bersiap untuk pergi ke proyek. Tak lama terdengar ketukan di pintu kamarnya. Ternyata ketiga anak buahnya sudah menunggu dia di depan pintu.
"Kau sudah siap Bos....?" sapa Johan.
"Kalian... sebentar aku ambil leptopku.." jawab Rosa . Dia kembali masuk kedalam kamarnya. tak lama dia keluar dengan menjinjing tas leptop yang langsung di ambil Asep dari tangannya.
"Ayo..." ajak Rosa setelah mengunci pintu kamarnya. mereka segera melangkah meninggalkan kamar Rosa.
Seperti biasa , mereka akan makan dulu di Restoran langganan mereka sebelum mereka berangkat ke kantor.
Sedangkan Mahardika dan Yuda memyempatkan diri pergi ke Rumah sakit sebelum pergi kantor mereka . Mereka ingin memberitahukan masalah tadi malam pada tuan Sandy. Ketika mereka sampai di ruang rawat tuan Hartanto. Mereka di sambut oleh tuan Sandy yang membuka pintu untuk mereka.
"Assalamualaikum ..." sapa Mahardika dan Yuda yang masuk kedalam ruangan tuan Hartanto.
"Waalaikum salam ..." jawab tuan Hartanto dan tuan Sandy bersamaan .
" Lo papa kok semdirian, bukannya kemaren bersama tante Rahayu..?" tanya Mahardika pada Sandy sambil menyalami mereka berdua . .
"Tantemu tadi malam kembali dengan Om Manyo..." jawab sang Papa .Om Nanyo adalah suami Tante Rahayu Ayah dari Yuda dan Dena .
"Benar Kak... Mama tadi malam pulang bersama Papa..." kata Yuda menyela pembicaraan mereka .
"Oo..aku fikir Papa di sini bersama tante Rahayu, kakek bagaimana kabarnya sekarangjadi pulang sekarang...?" sapa Mahardika pada tuan Hartanto .
"Jadilah...kakek sudah tidak betah tinggal di sini ..kalian tidak kekantor...?" tanya tuan Hartanto pada kedua cucunya.
"Pergi kek...hanya ada sedikit keperluan sama Papa..." kata Mahardika .
"Kau ada keperluan denganku Dik...?" kata sang Papa.
"Iya Pa...ada masalah yang ingin aku bicarakan pada Papa..." jawab Mahardika .
"Ya sudah sana kau bicarakan di luar saja... biar aku dengan Yuda di sini..." kata tuan Hartanto yang tahu kalau masalahnya ingin mereka bicarakan berdua.
"Trimakasih Kek.. Kami Keluar dulu..." kat Mahardika.
"Pergilah..." jawab tuan Hartanto. Mahardika dan tuan Sandy keluar ruangan , mereka memilih berbicara di kantin Rumah sakit sekalian mengajak sang Papa makan pagi.
Sesampainya di kantin, mereka mencari tepat duduk . Setelah mendapatkan tempat duduk untuk mereka berdua. Dika segera memesan makanan untuk sang Papa. Sedang dia sendiri memesan teh hangat.
"Kau tidak makan....?" tanya tuan Sandy.
"Tidak Yah..tadi sudah sarapan di rumah.." jawab Mahardika .
"Ada masalah apa hingga kau mencari Papa kemari Dik...apa ino masalah tentang kantor...? bukankah nanti Papa akan kekantor juga..." kata sang Papa.
"Bukan Pa...ini bukan masalah kantor, tapi masalah sepupu Rosa...?" jawab Mahardika.
"Masalah Rosa...? Ada apa dengan Rosa...?" tanya tuan Sandy dengan wajah heran.
"Dia tadi malam ada yang ingin membunuhmya.." jawab Mahardika .
"Apaaa...membunuh Rosa...!" seruh Tuan Sandy kaget . tanpa sadar dia berseru agak keras hingga membuat orang di sekitar mereka menatap kearah mereka berdua.
"Sst...Papa...pelan- pelan kenapa." ucap Mahardika mengingatkan sang Papa.
"Maaf...habis Papa kaget..." kata tuan Sandy.
"Lalu gimana keadaan Rosa...?" ucap tuan Sandy cemas.
"Rosa tidak apa- apa Pa... Untung saja dia memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi...kalau tidak, habis sudah dia tadi malam . Papa bisa melihat aksi dia saat melawan para penjahat it, Yuda sempat merekamnya..." kara Mahardika sambil memberika ponsel miliknya.
"Apa merekam...? kalian bukannya membantu malah merekam kejadian...!" seru tuan Sandy dengan nada marah .
"Kami tidak jadi membantu karena kedua pengawalnya saja diam membiarkan Roda melakykannya sendiri Pa..." jawab Mahardika membela diri.
"Pemgawalnya...?" tanya tuan Sandy kaget.
"Dua orang yang selalu bersama Rosa itu pengawalnya Pa...tapi mereka juga sahabat Rosa..." jawab Sandy.
Akhirnya dengan wajah penasaran tuan Sandy mengambil ponsel yang di sodorkan sang Putra. Dan saat dia melihat vidio tentang Rosa. Terlihat wajahnya yang kaget .
"Ya Tuhan....dia benar- benar Rosa...?" kata tuan Sandy tak percaya.
"Benar Pa...ternyata Rosa dan teman- temannya memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi. Dan mereka merobohkan beberapa orang itu haya dalam hitungan menit saja Pa... "Kata Mahardika dengan nada kagum. terlihat wajah tuan Sandy yang Sock mendengar ucapan Mahardika.
"Lalu apa kalian tahu siapa yang telah menyuruh mereka...?" kata tuan Sandy lagi.
" Tante Tika Pa...tante Tikalah yang menyuruh mereka untuk membunuh Rosa..." kata Mahardika dengan wajah sedih dan marah .
__ADS_1
"Apaa...Tika...? Yang bener Dik....!" seru tuan Sandy kaget dan tak percaya . "
"Benar Pa..." jawab Mahardika.
"Darimana kalian tahu itu...?" kata tuan Sandy lagi.
"Salah satu dari mereka yang masih sempat tersadar dari pingsannya ..." jawab Mahardika.
"Brengsek si Tika...kenapa dia tidak kapok- kapok juga melakukan kejahatan pada keluarga sendiri..mungkin karena kita tidak memberi tindakan padanya hingga dia menyepelehkan kita...!" kata tuan Sandi dengan marah. Namun percakapan mereka terhenti sejenak saat pesanan mereka datang . Tuan Sandy segera memakan makanannya .
"Benar kata Papa...mungkin karena saat dia membuat tante Galuh celaka , dan tidak ada tindakan apapun padanya,dia merasa kita tidak berani memberi pelajaran Pada dia, hingga kini diapun ingin berbuat kembali pada Rosa Pa ..." kata Mahardika dengan Wajah kesal .
"Lalu kalian bawa kemana para penjahat itu...?" tanya tuan Sandy.
"Kami telah menyerahkan mereka pada polisi Pa..."jawab Mahardika.
"Bagus... kita akan menyerahkan masalah ini pada pihak yang berwajib, biar polisi yang menangani masalah ini .." ucap tuan Sandy dengan wajah kesal.
"Apakah kita akan memberitahukan masalah ini pada Kakek Pa...?" tanya Mahardika pelan .
"Tentu...tapi kita harus memberitahukan ini pada kakek dengan cara perlahan- lahan..." jawab sang Papa. Merekapun berbicara sampai makanan milik tuan Sandy habis. Setelah itu mereka kembali ke ruang rawat tuan Hartanto. Tak berapa lama Mahardika dan Yuda pamit pergi ke kantor. Saat Mahardika dan Yuda keluar dari ruangan tuan Hartanto, nyonya Rahayu datang bersama Dena.
"Lo...kalian belum kekantor...?" tanya nyonya Rahayu .
."Belum Ma..." jawab Yuda.
" Belum Tan ..soalnya ada yang harus Dika bicarakan pada Papa..." kata Mahardika.
"Apa soal tadi malam...?" tanya nyonya Rahayu.
"Benar tan...apa Yuda sudah memberitahu pada tante dan Om Manyo...?" kata Mahardika.
"Sudah Dik..." jawab nyonya Rahayu.
"Ya sudah Dika dan Yuda kekantor dulu Tan. Kita ketemu lagi nanti di rumah Kakek.." kata Mahardika pada nyonya Rahayu.
"Iya...pergilah kalian sekarang hati- hati di jalan..." ucap nyonya Rahayu.
" Baik tan..." jawab Mahardika .
"Yuda pergi dulu ma..." pamit Yuda.
"Iya...hati- hati..." jawab sang Mama.
"Asalamualaikum..." pamit mereka berdua.
Dua jam kemudian, Rosa datang bersama kedua pengawalnya . sejak kejadian tadi malan , Johan tidak memperboleh kan Mamat dan Asep meninggalkan Rosa. Johan takut kejadian seperti tadi malam terjadi lagi.
Setelah mendapatkan persetujuan dokter, tuan Hartanto keluar dari rumah sakit. Rosa mengantar sang kakek pulang kembali kerumahnya . hampir satu jam kemudian, mereka sudah berada di depan rumah mega tuan Hartanto. Nyonya menur terlihat sudah menunggu mereka di teras rumahnya. Saat melihat Rosa turun dari mobil , terlihat wajah bahagia terlukis di wajah tuanya .
"Sayang...kau ikut kemari juga nak...?" sapa nyonya Menur pada Rosa.
"Selamat siang Nek....apa kabar...?" sapa Rosa sambil mencium tangan nyonya Menur .
"Baik sayang.. kau baik- baik juga kan...?" jawab nyonya Menur .
"Rosa baik- baik saja Nek..." jawab Rosa
"Ayo masuk sayang...ajak teman- temanmu masuk..." ucapnya bahagia.
"Baik Nek..." jawab Rosa. Mereka masuk kedalam rumah mega itu mengikuti tuan Hartanto. Ketika sampai di dalam rumah, tuan Hartanto segera di bawa masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Namun betapa terkejutnya tuan Hartanto ketika sampai di ruang keluarga yang berhadapan langsung dengan kamar nya , Dia melihat pitrinya yaitu nyonya Tika sedang asyik duduk di depan TV sedang menonton acara TV . Saat melihat tuan Hartanto dan rombongan masuk , dia berkata.
"Papa sudah pulang ...apa kabar Pa...?" ucapnya dengan wajah tenang. Dia berdiri dan berjalan mendekati tuan Hartanto.
"Kau di sini...!" seru tuan Hartanto kaget .
"Iya Pa..." jawabnya tenang sambil mencium tangan tuan Hartanto. namun tuan Hartanto menarik tangannya. Dia menatap nyonya Tika dengan wajah marah. sedangkan nyonya Tika sendiri terlihat kaget ketika melihat Rosa berada di belakang tuan Hartanto.
"Lo..kenapa gadis ini masih hidup.. ucapnya dalam hati .Namun dengan cepat dia menghilangkan wajahnya yang kaget. terlihat ketenangan kembali di Wajahnya . Namun semua perubahan itu tidak lepas dari mata jeli Rosa .
"Ma...kenapa dia ada di sini...!' seru tuan Hartanto pada sang istri dengan wajah marah . Melihat kemarahan di wajah sang suami, terlihat nyonya Menur heran.
"Ada apa Pa....?" ucap perempuan tua itu dengan wajah kaget.
"Sejak kapan dia berada di rumah ini..?" ucap tuan Hartanto dingin.
"Kemaren dia datang dan menginap di sini Pa..memangnya ada apa Pa...?' tanya nyonya Menur heran.
"Suruh dia pulang kerumahnya sendiri . aku tidak ingin melihat wajahnya....!" seru tuan Hartanto marah. Dia berjalan masuk kedalam kamar tidurnya.
"Pa...kenapa aku harus pulang....aku ini putri Papa...aku berhak berada di rumah ini...!" seru nyonya Tika marah. Mendengar ucapan nyonya Tika, terlihat tuan Hartanto yang di papah nyonya Rahayu dan Dena berhenti berjalan. dia membalikkan badannya menatap sang putri dengan marah .
"Tidak..ini rumahku, dan aku berhak menolak kedatanganmu di rumah ini, sebelum aku mengijinkan kau datang kembali ke rumah ini ..!" ucap tuan Hartanto dengan tegas.
__ADS_1
"Pa...! Aku ini putrimu...aku juga berhak datang dan tinggal di rumah ini...!" seru nyonya Tika.
"Tapi aku yang lebih berhak menentukan siapa yang boleh datang dan berada di rumah ini..." ucap tuan Hartanto dingin.
"Kau jahat Pa...kau lebih memilih gadis s****l yang bukan siapa- siapamu itu dari pada aku putrimu..!" seru nyonya Tika marah.
"DIAAAM...! apakah kau tahu gadis yang kau katakan bukan siapa- siapa kita adalah putri kakakmu...?" seru tuan Hartanto marah .
"Tika..! Apakah kau tidak bisa mengalah dulu..? Kau tahu Papa baru saja pulang dari rumah sakit...!" seru nyonya Rahayu yang sejak tadi diam saja.
"Diam kau... kau berkata seperti itu karena kau juga memihak pada gadis j****g itu ..!" seru nyonya Tika marah. Sedangkan Rosa yang berdiri di belakang nyonya Rahayu dan tuan Hartanto diam memperhatikan perdebatan mereka .
"Tunggu sebenar....ada apa ini ,kenapa kalian semua pada bertengkar...!" ucap nyonya Menur keheranan.
"Ma...suruh wanita egois itu kembali kerumahnya. Dan jangan biarkan dia datang kerumah ini tanpa seijin diriku...!" seru tuan Hartanto marah.
"Pa...kenapa kau lebih membela gadis sialan itu dari pada putrimu sendiri..!" seru nyonya Tika marah.
"Gadis yang kau sebut hadis sialan itu adalah cucuku sendiri , putri dari wanita yang telah banyak kau sakiti..!" ucap tuan Hartanto marah.
"Itu pantas dia terima, karena dia telah merebut pria yang sangat aku cintai..." ucap nyonya Tika marah.
'Ya Tuhan...wanita ini masih waras atau sakit jiwa sich... Kenapa di dalam otaknya masih tertanam kalau dialah yang lebih berhak dengan cinta Ayah Buyung...ucap Rosa dalam hati.
Dia menatap nyonya Tika dengan wajah dingin.
"Cukup Tika...Papa tidak ingin lagi mendengar kegilaanmu itu...Papa minta kau keluar dan jangan datang sebelum Papa mengijinkan dirimu datang kerumah ini...!" seru tuan Hartanto marah.
"Papa....!" seru nyonya Tika dengan wajah marah. namun tuan Hartanto sudah melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamarnya . nyonya Tika terlihat sangat marah. Dia menatap Rosa penuh dengan kebencian . Andai matanya terbuat dari pisau tajam,mungkin Rosa sudah terluka parah .
"Tika...ini sebenarnya ada apa sich... kenapa mama lihat Papamu sangat marah padamu...?" tanya nyonya menur sambil menatap nyonya Tika .
"Semua ini gara- gara dia dan Mama gadis sialan itu Ma...!" seru nyonya Tika marah .
"Wanita yang kau sebut tadi, adalah putri dari orang yang ada di hadapanmu nyonya Tika..." ucap Rosa datar .
"Diam Kau...semua ini terjadi karena kedatanganmu...!" seru nyonya Tika marah.
"Kesalahanku...? he he he...kalau aku tidak datang, pasti kejahatanmu tidak akan terbongkar di depan kakek..." ejek Rosa .
"Ka..kauuu...!" seru nyonya Tika marah. Dia mendekati Rosa dan mengangkat tangannya. namun sebelum tangan itu melayang di pipi Rosa. terdengar nada dingin menegur nyonya Tika.
"Tidak semudah itu tangan kotor anda mengenai pipi Bos kami nyonya..." ucap Asep yang memegang tangan nyonya Tika yang ingin menampar Rosa. Asep melepas tangan nyonya Tika dengan keras hingga nyonya Tika terlihat agak terhuyung. Melihat tingkah nyonya Tika, nyonya Menur terlihat marah.
"Cukup Ka...jangan membuat keributan lagi sudah cukup keributan yang kau buat hari ini...sekarang pergilah kau, dan jangan datang kerumah ini sebelum Papamu menyuruhmu datang...!" seru nyonya Menur marah.
"Ma...kau juga mengusirku...?" kata nyonya menur terlihat kaget.
"Ya...cukup sampai di sini keributan yang kau buat. Mama tidak ingin membuat penyakit Papamu semakin parah...." ucap nyonya Menur dengan nada marah.
"Tapi Ma..." kata nyonya menur ingin memprotes lagi keputusan sang Mama.
"Tidak ada tapi- tapian lagi Ka... sekarang Mama harap kau kembali kerumahmu sendiri...!" ucap nyonya Menur dengan wajah terlihat kesal. Mendengar ucapan sang Mama, terlihat nyonya menur Marah. dia menatap kembali Rosa dengan penuh kebencian. akhirnya dia pergi berjalan menuju kekamarnya .
"Ayo kalian duduk dulu..maaf kalau kalian melihat keributan di rumah kakek Rosa..." ucap nyonya menur pada Asep dan Mamat.
"Trimakasih nyonya....kami memakluminya..."jawab Asep .
"Trimakasih nak...ayo silahkan duduk..." ucap nyonya Menur. Asep dan Mamat berjalan kearah sofa yang ada di ruang tamu yang memang bersebelahan dengan ruang keluarga di ikuti Rosa. namun sebelum kaki Rosa melangkah terdengar panggilan dari sang kakek.
"Rosa...kemarilah nak...!" seru tuan Hartanto .
"Ya kek..." jawab Rosa.
"Pergilah temui kakekmu..." kata nyonya Menur.
"Trimakasih Nek..." jawab Rosa. dia segera masuk kedalam kamar tuan Hartanto. terlihat Dena dan nyonya Rahayu sedang duduk di dekat tuan Hartanto .
"Duduklah di sini Ros..." kata nyonya Rahayu sambil menunjuk sofa yang ada di dekatnya .
"Trimakasih tante..." jawab Rosa. dia segera duduk di sebelah nyonya Rahayu.
"Mulai nanti sore, kakek minta kau dan teman- temanmu tinggal di sini, kakek tidak ingin melihat kau masih tinggal di Hotel..." ucap tuan Hartanto.
"Tapi kek..." sebelum ucapan Rosa selesai, tuan Hartanto sudah memotongnya .
"Tidak ada tapi- tapian Ros...kakek minta nanti sore kalian semua tinggal di sini ..." ucap tuan Hartanto tegas.
"Baiklah kek..." jawab Rosa mengalah.
Rosa menemani tuan Hartanto sampai waktu makan siang, setelah itu dia berpamitan akan kembali ke proyek. dan berjanji nanti sore mereka akan datang kembali sekaligus tinggal di rumah itu .
Maaf sampai di sini dulu ceritanya. jangan lupa like, vote dan komennya selalu author tunggu. Author selalu memohon dukungan kalian .
__ADS_1
Bersambung
.