PERUBAHAN GADIS POLOS

PERUBAHAN GADIS POLOS
PGP .USAHA PEMBUNUHAN 2


__ADS_3

Setelah melihat keadaan Rosa dalam keadaan sehat. dan peluru yang melesat itu tidak mengenai tubuh Rosa. Asep dan Mamat segera menghabiskan semua penjahat yang ada di depan mereka. tak berapa lama terlihat para penjahat itu beberapa orang sudah terkapar tak bernyawa , dan sebagian lagi terluka parah. Mamat segera memanggil Yoyok dan Diki untuk datang kelokasi kejadian . dia menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya. tak berapa lama terlihat dua mobil dan beberapa motor mendatangi mereka.


"Asep , Mamat...kenapa elo berdua tidak mengabari kami...bagaimana jika kalian tidak mampu membereskan mereka...!" seru Yoyok marah.


"Yok...jangan marah - marah...semua itu bukan salah mereka berdua. mana mungkin kami sempat memberi kabar pada kalian, kalau kami sudah di kepung oleh mereka..." kara Rosa menjelaskan pada Yoyok . mendengarkan ucapan Rosa , Yoyok terdiam dan tak lama dia berucap.


"Maafkan aku Sep, Mat...aku terlalu takut dan cemas saat mendengar kabar kalian dalam masalah. aku takut kejadian itu terjadi lagi pada Bos Rosa..." ucap Yoyok meminta maaf sambil memeluk Asep. dan Mamat.


"Nggak jadi masalah Yok...gue tahu elo ketakutan ketika gue telfon tadi..." jawab Asep dengan sabar. setelah itu Yoyok mendekati Rosa .


" Maafkan gue Bos...gue hanya takut kejadian yang membuatmu tiada membuat gue ketakutan..." kata Yoyok sambil tanpa sadar memeluk Rosa. Rosa merasakan kalau Yoyok menangis. begitu juga dengan Diki yang sejak tadi diam. dia melihat Diki meneteskan air mata.


"Terimakasih atas perhatian kalian pada gue. maafkan gue yang membuat hati kalian cemas. maafkan gue yang membuat kalian trauma atas kejadian yang menimpa gue, gue janji akan lebih hati- hati lagi.." jawab Rosa terharu. dia merasakan kehangatan mengalir di dalam hatinya. Setelah itu mereka segera mengurusi para penjahat itu, Yoyok , Diki dan Mamat segera membawa mereka yang masih hidup dengan luka parah ke kantor Polisi. sedang yang sudah meninggal Diki dan Yoyok meminta para anggotanya untuk segera menguburkan mereka dengan layak , walaupun mereka sudah berniat ingin membunuh tiga orang yang mereka hormati.


Sedangkan Rosa dan Asep segera kembali ke Villa . Setelah selesai membereskan apa yang terjadi, Yoyok dan Diki bersama beberapa orang anak buahnya , segera kembali ke Villa Rosa. sampai di sana ternyata Johan , Gilang, Roni dan Budi sudah berada di Vila milik Rosa .


Namun di tempat lain teoatnya di apartemen mewah milik Rifan , terlihat Rifan keluar dari apartemen mewahnya dengan tergesa- gesa. Dia segera membawa mobilnya dengan cepat menuju arah Villa milik Rosa. Masih teringat di fikiran Rifan omongan salah satu anak buahnya yang dia tugaskan tadi sore untuk melihat keadaan Rosa . mereka kembali dengan kabar mengejutkan buat dirinya. Saat itu dia sedang mengerjakan tugas kantor yang telah dia bawa tadi sore. Dia membawa tugas itu ke apartemennya agar besok tidak banyak pekerjaan yang akan dia hendel . karena dia berniat akan pergi kekantor sang kekasih. saat dia sedang asyik mengerjakan tugasnya. tiba- tiba bel pintu apartemennya berbunyi. dengan penuh tanda tanya dia berjalan ke arah pintu. saat dia melihat siapa yang ada di luar, dia agak kaget . Karena di luar terlihat kedua anak buahnya yang dia tugaskan melihat Rosa sudah berdiri di belakang pintu. Dengan cepat dia segera membuka pintunya .


"Lo kalian sudah ada di sini...? apa tugas kalian sudah selesai...?" tanya Rifan kaget.


"Maaf Bos kami ada kabar penting yang akan kami sampaikan.." jawab salah satu dari mereka.


"kalian akan menyampaikan sesuatu...?" tanya Rifan.


"Benar Bos... bole kami masuk...?" tanya salah satu dari mereka .


Rifan hanya membuka lebar pintu apartemennya tanpa berkata.


"Apa yang akan kalian sampai kan padaku..? bukankah kalian aku kirim untuk melihat keadaan wanitaku..?" tanya Rifan datar saat kedua orang itu sudah duduk di sofa ruang tamunya.


"Benar Bos...karena itulah kami ingin melaporkan masalah ini pada anda..." jawab salah satu dari kedua pria anak buah Rifan.


"Apa yang akan kau laporkan pada diriku..?"kata Rifan datar.


"Setelah kami mendapat tugas dari anda, kami langsung pergi keVilla tempat Nona Rosa berada. ketika kami sampai di pertigaan jalan menuju Villa Nona Rosa kami melihat Rombongan dua mobil dan beberapa motor berjalan kearah berlawanan dengan jalan menuju Villa. karena kami penasaran, Maaf tuan...kami mengikuti Rombongan itu. tak begitu jauh dari pertigaan ternyata kami melihat banyak orang yang tergeletak entah pingsan atau mati. akhirnya kami mendengar kalau ternyata di baru saja telah terjadi pengeroyokan terhadap dua orang pria dan satu wanita. untunglah ketiganya Selamat, dan mampuh melawan para pengeroyok yang ingin membunuh mereka. untunglah dengan kepandaian yang di miliki ketiga orang itu, ketiganya selamat . dan perlu anda ketahui kalau ketiga orang itu adalah Nona Rosa bersama pengawalnya tuan...." ucap sang pengawal mengakhiri laporannya.


"Apaa....! Mereka ingin membunuh Rosa..?!" seru Rifan kaget.


"Benar tuan...jadi ketika anda mengirim kami mungkin saat itu mereka sedang berhadapan dengan para pembunuh, dan ketika kami sampai di sana, perkelahian sudah Selesai . untunglah Nona Rosa dan kedua pengawalnya memiliki ilmu beladiri tinggi , kalau tidak...." orang itu tidak melanjutkan ucapannya saat Rifan memotong pembicaraannya.


"Cukup....kalau begitu sekarang kalian boleh pergi. dan katakan pada tuan Dikra untuk datang ke Villa Rosa sekarang juga. dan kalian aku tugaskan untuk mengawasi Burhan dan putrinya. laporkan apapun yang di kerjakan kedua orang itu . jiga kalian melihat tingkah mereka mencurigakan sedikit saja..laporkan padaku.." kata Rifan cepat.


"Baik tuan...kalau begitu kami undur diri. .." kata kedua pria itu sambil berdiri.


"Pergilah..." kata Rifan datar sambil berdiri dari duduknya. tak lama kedua pria utu segera keluar dari dalam apartemen Rifan.


Setelah melihat kepergian kedua pria itu. Rifan segera mengambil jaket dan kunci mobil. Dengan wajah cemas dan takut dia berlari keluar dari apartemennya. tak lama terlihat mobil Rifan keluar dari parkiran mobil apartemen miliknya. dengan kecepatan tinggi dia membawa mobilnya menuju Villa Rosa. .


Sedangkan di Villa Rosa sendiri. terlihat beberapa petinggi Blak Angel sudah berkumpul di ruangan khusus di Villa milik Rosa. dan terlihat Rosa duduk di antara para sahabatnya sekaligus anak buahnya.


"Yok..gimana masalahnya, apa sudah kau selesaikan semua...?" tanya Rosa pada Yoyok yang ada di sebrang mejanya.


"Beres Bos...semuanya telah beres . soal mereka yang mati, aku sudah menyuruh anak buah kita mengurusnya, sedang yang terluka parah sudah aku serahkan ke kantor kak Roy..." kata Yoyok pada Rosa. Roy adalah kakak tertua dari Yoyok, pria itu bekerja di departemen kepolisian . dia sudah menjabat sebagai Mayor Polisi.


"Baguslah kalau semua sudah kau lakukan, apakah kak Roy marah....?" kata Rosa lagi.


"Benar ...dia marah, sangat marah...dia marah pada para penyerang yang berani menyeramgmu. apa mereka tidak tahu dirimu..." kata Yoyok lagi .


"Gue kira kak Roy marah padaku dodol.. baguslah kalau mereka sudah berada di tangan yang sebenarnya . dan bilang pada kak Roy kalau dia masih membutuhkan perawat dan dokter untuk menyembuhkan mereka, aku bisa menyediakannya. dan bilang pada kak Roy jangan sampai media atau orang lain tahu tentang keberadaan mereka. kita masih butuh pengakuan mereka tentang keterlibatan Burhan di dalam usaha pembunuhan terhadapku..." kata Rosa pada Yoyok

__ADS_1


"Baik nanti aku akan menghubungi kak Roy dan mengatakan pesanmu.." jawab Yoyok.


"Trimakasih Yok..." kata Rosa sambil tersenyum pada Yoyok.


"Oh ya Jo...apakah kau bisa membeli tanah yang ada di sebelah tanah Villa gue..?" tanya Rosa pada Johan.


"Tanah di sekitar Villa ini Ros...?" tanya Johan dengan nada heran .


"Iya...aku ingin menambah luas Villa ini..." jawab Rosa.


"Memangnya kamu mau membuat apa Ros...kok mau menambah luas tanah milikmu ini...?" tanya Johan lagi.


"Aku ingin membangun markas sekaligus rumah untuk kita Jo...jadi kita tidak akan kesulitan jika ingin membuat kelompok kita lebih cepat maju Jo.." jawab Rosa.


"Waah aku setuju ....idemu bagus Ros..." kata Johan senang.


"Benar...aku juga setuju..." kata Roni .


"Aku juga setuju...." kata Gilang menyelah dan mereka semua kompak setuju.


"Kalau semua sudah setuju, Jo.. kau bisa mengurus soal tanah kan...?" tanya Rosa pada Johan.


"Bos. maaf..bagaimana kalau soal tanah aku yang akan mengurusnya...soalnya aku punya teman yang memiliki tanah yang berbatasan dengan tanahmu Bos... mungkin saja aku bisa meminta dia untuk menjual tanahnya pada kita..." kata Budi dengan logat jawanya.


"Tapi maaf bukannya aku merebut pekerjaanmu Jo...cuma mungkin aku bisa membeli punya temanku itu..." kata Budi pada Johan.


"Hey...mana mungkin aku merasakan seperti itu Bud...aku malah bersyukur jika ada yang bisa menyelesaikan pekerjaan yang di tugaskan oleh Bos kita..." jawab Johan.


"Trimakasih Jo....lalu gimana Bos...?" tanya Budi pada Rosa.


"Ya sudah...kalau kau sanggup pekerjaan itu kuserahkan padamu, Kita memang satu keluarga, jadi siapapun yang bisa harus menunjukkan kemampuannya..." kata Rosa sambil tertawa. namun pertemuan itu terganggu ketika tiba- tiba pintu ruangan di buka secara keras. dan di depan pintu terlihat Rifan menatap Rosa yang terkejut dan menatap pada pintu yang terbuka dengan keras tadi . Melihat Rifan berdiri di depan pintu dengan cemas. Rosa heran .


Tak lama terlihat Rifan berlari kearah Rosa dan menarik tubuh gadis cantik itu kedalam pelukannya. Tentu saja Rosa kaget melihat sikap Rifan. Dia terdiam membeku dalam pelukan Rifan .


"Kak...ada apa...?" tanya Risa heran.


Namun Rifan diam saja, dia hanya memeluk erat tubuh Rosa. . Tak berapa lama barulah Rifan melepas pelukannya.


"Ada apa kak...?" tanya Rosa dengan menatap Rifan bingung.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku saat kau dalam bahaya Bee...kau tahu betapa cemas dan takutnya aku ketika mendengar kau lepas dari maut..!" seru Rifan dengan nada marah.


"Hey..jangan marah dulu...dengarkan aku...mana bisa aku menelfon kakak kalau kami saat itu sudah didalam kepungan mereka..." ucap Rosa membela diri .


"Apakah ini ulah Burhan...?" tanya Rifan marah.


"Siapa lagi.. aku yakin dia yang melakukan semua ini, tapi kami tidak mempunyai bukti untuk memasukkan dia kedalam penjara..." ucap Rosa kesal.


"Kita pasti memiliki bukti itu Bee..." ucap Rifan dengan marah .


"Kita akan mencarinya kak..." jawab Rosa.


"Lalu di mana para penyerang itu sekarang ...?" tanya Rifan lagi .


"Mereka sudah kami bereskan tuan Rifan.. yang terluka kami kirim ke kantor polisi sedang yang tewas kami kebumikan..." jawab Yoyok dengan tenang. Mendengar ucapan Yoyok, Rifan baru sadar kalau mereka berdua bukan hanya berdua saja di ruangan itu. Dia menatap kearah Yoyok.


"Hey..apakah kau pria bandel adik Mayor Roy...?" tanya Rifan sambil berjalan kearah Yoyok.


"Lo...kenapa tuan Rifan tahu tentang gue ya...?" tanya Yoyok sambil berdiri dari duduknya ketika Rifan Mendatangi tempatnya.

__ADS_1


"Apakah kau sudah lupa dengan teman kakakmu saat SMA dulu...?" tanya Rifan sambil berdiri di depan Yoyok dan menatap wajahnya .


"Teman kak Roy...?" ucap Yoyok sambil berfikir.


"Empat Pria yang sering tidur di rumahmu saat mengerjakan pekerjaan sekolah. dan kau Pria bandel, apakah kau lupa dengan kejailan mu yang selalu membuat kami kesal..?" tanya Rifan sambil tersenyum .


"Tunggu....apakah kakak teman kak Roy yang dingin dan tak tersentuh itu...?" tanya Yoyok sambil menatap Rifan.


"Benar...aku adalah empat orang pria yang sering kerumahmu dan tidur di rumahmu, dan kaulah yang selalu meminta uang pada kami tanpa setahu kakakmu...' kata Rifan sambil tersenyum.


"Ya Tuhan....jadi kakak pria dingin itu...apa kamar kak.. " seru Yoyok sambil menjabat dan memeluk Rifan.


"Aku baik- baik saja Yok...gimana kabar kedua orang tua kalian...beliau sehat kan...?" tanya Rifan lagi.


"Alhamdulillah kak...kami sekeluarga baik- baik saja ..." jawab Yoyok.


"Lalu kenapa kau sekarang ada di sini...? jangan bilang kau adalah salah satu anak buah gadis kakak..." ucap Rifan lagi.


"Memang aku anak buah Bos Rosa kak.." jawab Yoyok bangga .


"Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu di kantor KAG...?" tanya Rifan.


"Aku di tugaskan di markas sebagai pelatih kak..." jawab Yoyok.


"Markas...? pelatih...? maksudmu...?" tanya Rifan tak mengerti. Mendengar ucapan Rifan, Yoyok baru sadar dengan omongannya.


"Aah itu kak...maksudku kantor cabang lain..." jawab Yoyok berusaha mengelak sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal .


"Ooo...begitu.." kata Rifan datar sambil menatap Rosa yang terlihat sedang memandang Yoyok dengan tajam.


"Bee...apakah kalian masih lama rapatnya...?" tanya Rifan pada Rosa mengalihkan pembicaraan .


"Tidak kami sudah selesai kok..." jawab Rosa cepat .


"Ya sudah aku fikir rapat kita sampai di sini dulu, dan kita akan rapat kembali kalau sudah ada berita dari Budi. dan kau Bud...selesaikan secepatnya urusan tadi..." kata Rosa pada Budi.


"Baik Bos...kami akan segera melaksanakannya..." kata Budi dengan cepat.


"Ya sudah kalau begitu kalian bisa cari sendiri kamar kalian , pasti Bik Sum dan Bik Narti sudah membersihkan ruang kamar kalian. Namun sebelum kita tidur, sebaiknya kita menyantap masakan yang di buat Bik Sum dan Bik Narti lebih dahulu . karena itu mari kita pergi keruang makan lebih dahulu..." ajak Rosa.


Akhirnya Mereka semua pergi keruang makan . Saat mereka melangkah kearah ruang makan, Rifan yang berjalan di sebelah Rosa , berbisik pada Rosa.


"Bee...aku menunggu penjelasan darimu..." ucapnya perlahan. mendengar perkataan Rifan, seketika darah Rosa membeku . Apa yang harus aku katakan pada pria dingin ini ...seru Rosa dalam hati .


"Dasar Yoyok sialan... mulutnya ember banget sich... " seru Rosa dalam hati.


Ketika mereka sampai di ruang makan, Mang Dulah berkata kalau Rifan di cari temannya. dan ternyata Fikri dan Dikra yang datang. Mereka segera di ajak makan bersama sebelum merundingkan masalah tuan Burhan bersama - sama .


Sedang di sebuah Ruangan diperusahaan Cakra Mas, terlihat tuan Baron sedang menunggu kabar dari para anak buahnya yang di suruh membunuh Rosa. namun sampai waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, kabar dari sang pengawal belum juga dia dapatkan ,


Sudah beberapa kali dia menelfon sang pengawal , namun tak kunjung di angkat oleh sang pengawal.


"Brengsek kenapa si Daksa tidak mengangkat telfonnya...kemana saja pria bodoh itu.. kenapa di telfon tak diangkat- angkat juga..." seru tuan Burhan marah.


Dan ternyata ponsel Daksa ada di mobil miliknya yang sekarang di jadikan barang bukti di kantor polisi.


udahan dulu ya..jangan lupa like, vote dan komennya gue tunggu. dan maaf kika ada typo atau kata yang kurang benar .


Bersambung .

__ADS_1


__ADS_2