
"Baik ..kalau tidak mengganggu kalian..." ucap tuan Wira.
"Tidak paman...oh ya kenalkan ini Rifan, Johan , Mamat dan Asep..." kata Rosa memperkenalkan para sahabat dan kekasihnya. Mereka saling berjabat tangan memperkenalkanku diri.
Mereka mencari meja untuk duduk dan makan bersama . mereka menemukan meja kosong di dekat cendela . tak lama setelah mereka duduk, seorang pelayan datang mengantarkan buku menu restoran, setelah menulis beberapa macam makanan pesanan mereka, pelayan itu pergi meninggalkan mereka.
Sambil menunggu makanan datang, mereka berbincang.
" Paman kok sendiri ...kemarin kami lihat bersama keluarga...?" tanya Mamat.
"Sekarang Paman akan pergi langsung kekantor nak..kalau kemarin si kecil minta kemari..." jawab paman Wira.
"Masih punya putra kecil paman..?" tanya Mamat kaget. Mendengar pertanyaan Mamat , paman Wira tertawa.
"Ha ha ha ...bukan nak...cucu bapak yang bapak maksud...tapi Memangnya seusia paman sudah tidak cocok lagi punya putra ya...?" kata paman Wira sambil tertawa.
"Nggak juga sich paman ... Cuman rata- rata orang seusia Paman sudah memiliki cucu..." jawab Mamat sambil garuk - garuk kepala. Sepertinya Mamat malu dengan pertanyaannya tadi . melihat itu Rosa berucap.
" Maaf teman saya Paman...dia memang orangnya suka terus terang, tapi hatinya baik kok..." kata Rosa membantu Mamat.
"Oo..nggak masalah nak Rosa.. Itu lebih baik dari pada ada ganjalan di hati..." kata paman Wira di sela tawanya .
"Oh ya nak Rosa..bagaimana kabar kedua orang tuamu sekarang...?" tanya paman Wira antusias.
"Maaf Paman...mama dan Papa sudah meninggal hampir dua tahun yang lalu dalam suatu kecelakaan mobil..." jawab Rosa dengan wajah sedih.
"Apa...kecelakaan...? Innalillahi wainnailaihi rojiun...ya Tuhan...jadi Galuh sudah meninggal...?" terlihat wajah kesedihan di mata paman Wira. Terlihat kesunyian di meja mereka. Paman Wira tak sanggup menghentikan tetesan air mata yang mengalir di pipinya . Dia mengusapnya dengan cepat.
"Jadi kau sudah di tinggal pergi kedua orang tuamu nak Rosa...?" tanya paman Wira sambil menatap Rosa dengan wajah sedih.
"Benar Paman, Ayah dan Bunda telah pergi meninggalkan Rosa..." jawab Rosa .
"kau memiliki berapa saudara...?" tanya paman Wira lagi.
"Saya anak tunggal Paman..." jawab Rosa.
"Jadi kau tinggal sendiri...?!" serunya kaget.
"Rosa memiliki keluarga angkat Paman...mereka lah yang merawat Rosa setelah Mama dan Papa meninggal . .." jawab Rosa.
"Ya Tuhan...kasihan sekalinya kau nak..." kata Paman Wira dengan wajah sedih. " Anda akan semakin sedih dan terluka jika anda tahu kalau Rosa yang sebenarnya meninggal karena tidak memiliki saudara lagi ..." kata Rosa dalam hati .
"Mungkin sudah nasib Rosa seperti ini paman... Oh ya paman, paman ini apanya Mama...?" tanya Rosa.
"Aku sahabat dekat mamamu nak... mama mu memiliki tiga sahabat dekat yaitu aku, Rina dan Yusi..." jawab pak Wira dengan wajah sedih. Namun percakapan mereka terhenti saat pelayan datang membawa makanan pesanan mereka . akhirnya pembicaraan mereka mereka tunda. Mereka menikmati makanan mereka masing- masing . Terlihat sekali tuan Wira kehilangan nafsu makannya. Sesekali terlihat dia menghela nafas panjang. Setelah beberapa saat kemudian , mereka telah selesai dengan makan pagi mereka. Karena sudah siang, sepertinya tuan Wira harus bekerja.
"Maaf nak.. Paman tidak bisa berbincang lebih lama denganmu, paman harus pergi bekerja..." ucap pak Wira.
"Tidak masalah paman... Sebenarnya masih banyak yang ingin Rosa tanyakan pada Paman soal Mama. Tapi waktu yang tidak mengijinkan. Apakah nanti sore kita bisa bertemu lagi paman...?" tanya Rosa.
"Tentu nak...kalau begitu nanti sore kita bisa bertemu lagi dan berbicara sepuasnya. Boleh paman minta nomer telfonmu...?" tanya pak Wira dengan wajah gembira.
"Boleh Paman..." jawab Rosa. Rosa pun memberikan nomer telfonnya. Setelah itu mereka berpisah. Rosa segera pergi ke proyek bersama sahabat dan kekasihnya.
Sore harinya mereka baru pulang dari proyek.
Sedang di rumah tuan Wisnu Hertanto setelah kepergian Rosa, nyonya Menur datang bersama putrinya Tika. Mereka tidak mendengar berita tentang kejadian hari itu dari anaknya maupun dari para pelayan. Rahayu memang berkata kalau tidak ada yang boleh mengatakan kejadian itu pada sang Mama, takutnya nyonya menur akan jatuh pingsan seperti sang Papa. Sedangkan sang adik nyonya Tika pulang kembali kerumahnya.Tika dan Sandy tinggal di rumahnya sendiri, begitu juga dengan Rahayu. Namun beberapa minggu ini dia tinggal di rumah kedua orang tuanya , karena sang Papa merasa kesehatan agak terganggu. Keesokan harinya setelah bangun pagi dan solat, tuan Wisnu hanya diam saja duduk di taman belakang rumah mereka sambil mandang di kejauhan. Terlihat wajahnya sedih sekali. Melihat tingkah sang suami , nyonya menur menghampiri sambil membawa kopi dan makanan kesukaan sang suami.
"Pa...ada apa dengan Papa...?kenapa wajah Papa terlihat sedih sekali..?" tanya nyonya Menur pada tuan Wisnu. mendengar sapaan nyonya Menur, tuan Wisnu memalingkan wajahnya menatap sang istri.
"Aku teringat putri kita Ma..." ucap tuan Wisnu. Sang istri duduk di sebelahnya .
"iya Pa.. Kita lama tidak bertemu dengan Galuh.. Di mana anak itu sekarang... Sudah 21 tahun kita tidak bertemu dengannya.. Di mana dia sekarang..." ucapannya dengan sedih .
"Ma...aku telah bertemu dengan putri Galuh...." kata tuan Wisnu dengan wajah sedih.
"Apaaa...kau bertemu dengan cucu kita Pa...kapan..?" tanya nyonya Menur dengan wajah kaget.
__ADS_1
"Tadi malam...dia ternyata orang yang ingin membeli tanah milik Galuh..." jawab tuan Wisnu dengan wajah sedih.
"Benarkah...ternyata yang ingin membeli tanah itu cucu kita..Lalu kenapa wajah papa sedih...dan kenapa Papa tidak menyuruh dia tinggal disini...!" seru nyonya menur beruntun.
"Dia pergi meninggalkan rumah ini ma... Dia tidak ingin memiliki hubungan dengan keluarga kita...' kata tuan Wisnu dengan wajah sedih.
"Tidak Pa...aku tidak ingin kehilangan mereka lagi. Aku tidak ingin kehilangan putri dan cucu kita lagi. Ayo Pa kita pergi menemui cucu kita...!" seru nyonya Menur dengan wajah cemas dan sedih.
"Tunggu kabar dari Sandy dulu ma...kita belum tahu di mana dia berada dan dia tinggal di maba sekarang..." jawab tuan Wisnu.
"Papa.. Aku tidak sabar lagi bertemu dengan anak itu...Pa..cucu kita laki- laki atau perempuan...?" tanya nyonya Menur dengan wajah penasaran.
" Perempuan.. Dia cantik seperti Galuh..malah dia lebih cantikan lagi dari Galuh Ma..." kata tuan Wisnu dengan wajah berseri. Dia sedikit terhibur bila mengingat sang cucu. Namun tak berapa lama, dia terlihat kembali sedih.
'Aah...tahu begitu aku kemarin tidak ikut Tika pergi keluar..." sesal nyonya Menur.
" Sabar Ma...kita tunggu saja kabar dari Sandi..." ucap tuan Wisnu Hartanto yang juga tidak sabar menunggu kabar dari putra pertamanya itu. Siang harinya saat tuan Wisnu Hartanto sedang makan bersama istri nya dan putrinya Rahayu. Tiba - tiba Sandy datang dengan wajah berseri- seri. Dia segera duduk di ruang makan setelah memberi salam pada kedua orang tuanya.
"San...kau sudah datang... apakah kau sudah mendapat kabar tentang Rosa...?" tanya sang Papa dengan wajah penasaran.
"Sudah Pa... Tapi biarkan aku makan dulu..aku lapar Pa..." ucap Sandy sambil mengambil piring untuk makan. Tuan Wisnu hanya bisa menghela nafas dan menekan keingin tahuan dia tentang kabar Rosa. Dia harus sabar sampai putra pertamanya selesai makan. Begitu juga dengan Istri dan Rahayu putrinya .
Setelah selesai makan Sandy berkata.
"Pa...kita berbicara di ruang kerja Papa.." kata Sandy sambil berdiri.
"Baik...kita berbicara di ruangan Papa..." jawab tuan Wisnu Hartanto. Mereka segera berjalan ke ruangan kerja tuan Hartanto. Setelah menutup pintu kamar sang Papa, Rahayu ikut duduk di sofa yang ada di ruang kerja sang Papa.
"Sekarang kau katakan apa yang kau ketahui tentang cucu Papa.." ucap tuan Wisnu Hartanto dengan wajah penasaran dan tak sabar .
"Sabar Papa..." goda Sandy yang tahu perasaan sang Papa.
"Kau ini.. Masih sempat menggoda papa...!" seru tuan Hartanto marah.
"Iya, iya sandy akan ngomong. .. Sandy hanya bisa mengatakan kalau Rosa sekarang tinggal do Hotel R . Dan Papa tahu.. Dia adalah pemilik dari hotel yang akan di bangun di dekat lahan milik Galuh. Dan dia ternyata memiliki dua perusahaan besar di kota J . ternyata dia seorang pembisnis muda yang sukses di kota J..." kata Sandy pada tuan Wisnu Hartono.
"Lalu gimana kabar Galuh dan Buyung....gimana keadaan mereka...?" kata tuan Wisnu.
"Melihat kesuksesan Rosa, kemungkinan besar hidup mereka bahagia Pa..." kata Sandy lagi.
" Benar kata Kakak Pa...kemungkinannya Galuh hidup sukses dan bahagia.." ucap Rahayu menimpali.
"Syukurlah kalau mereka bahagia,..Kalau begitu usahakan perusahaan besar milik kita bekerjasama dengan perusahaan Rosa San..." kata sang Papa.
"Baik Pa..." jawab Sandy.
Kegemburaan mereka terusik dengan tiba- tiba terdengar dering ponsel . Ternyata ponsel milik Sandy yang berbunyi . Saat dilihat tertera nama. Malik sang Asisten Sandy.
"Assalamualaikum Lik...ada apa..?" sapa Sandy.
"Waalaikum Salam Pak.. Ini saya mengirim berita terbaru tentang Nona Rosa , CEO perusahaan KAG...saya sudah mengirimkan pada emael milik Bapak...!" ucap Malik dari sebrang.
"Baik akan kulihat...trimakasih Lik...!" kata Sandy. Diapun segera mengakhiri percakapannya dengan sang Asisten.
"Ada apa San...?" tanya sang Ayah.
"Malik mengirim berita tentang Rosa Pa..." jawab Sandy sambil membuka emaelnya. Terlihat Sandi mulai membaca email yang di kirim Malik tentang Rosa . tak berapa lama terlihat wajahnya sedih dan tanpa sadar air matanya mengalir. Melihat perubahan Sandy tentu saja tuan Wisnu dan istri serta putrinya kaget.
"Ada apa San...!" seru tian Wisnu.
"Apa yang kau baca San...?" tanya sang Mama.
"Ada berita apa kak...kenapa kau menangis....?" tanya Rahayu khawatir.
"Pa...Galuh dan Buyung sudah meninggal dua tahun lalu Pa..." ucap Sandy sambil menangis.
"Apaaa..!" seru ketiganyq serempak. Dan tiba- tiba nyonya Menur pingsan seketika.
__ADS_1
"Maaa...!" seru Rahayu kaget. Melihat sang istri jatuh. Tuan Wisnu menekan dada yang sakit. Namun keadaannya tak menguntungkan diapun jatuh pingsan. Melihat semua itu, Rahayu dan Sandy Panik. Mereka segera meminta tolong pada para penbantu , Dan segera membawa kedua orang tua mereka kerumah sakit. Dokter Angga yang memang sedang bertugas di rumah sakit, segera membawa tuan Wisnu Hartanto yang lebih parah karena penyakit jantungnya yang kembali kambuh ke ruang ICU . Sedang nyonya Menur di bawa ke UGD . Tika yang mendengar Papa dan Mamanya masuk rumah sakit segera pergi kesana.
Untunglah tuan Hartanto masih dapat di tolong. Setelah mendapat pertolongan pertama, semua orang bernafas legah. Namun dia masih harus tinggal di ICU. karena jantungnya harus mendapat pantauan dari para dokter . sedang nyonya Menur sendiri, setelah mendapat perawatan di ruang IGD, dia segera di pindahkan ke ruang rawat VIV.
Keluarga Hartanto sedikit legah melihat perkembangan keluarga mereka.
Sedangkan Rosa sendiri kini pulang dari proyek. setelah mandi dan Solat dia segera bersiap untuk pergi kerestoran tadi pagi jam 15.30 . karena ada janji dengan Wira sahabat sang Mama. Dengan memakai celana kain warna hitam dan atasan polos lengan panjan warnah coklat muda, membuat wajah cantik rosa semakin terlihat cantik. setelah memakai parfum , Rosa keluar dari kamarnya. ketika membuka pintu kamarnya terlihat Rifan di depan pintu kamarnya.
"My Bee kau sudah ada di sini...?" tanya Rosa heran.
"Kita jadi pergi bertemu pak Wira...?" tanya Rifan.
"Jadi dong...aku ingin tahu kenapa mereka sampai mengusir mama dari rumah keluarga Hartono.." kata Rosa dengan nada terlihat marah.
"Kalau begitu ayo kita pergi..." ajak Rifan.
Dan ternyata Asep dan Mamat pun sudah ada bersama mereka.
"Bos kita berangkat...?" kata Mamat.
"Kita berangkat sekarang Ros...?" tiba- tiba terdengar suara Johan. dan pria itu terlihat berjalan kearah mereka.
"Baik kita berangkat sekarang..." jawab Rosa. Mereka berlima segera masuk kedalam lift menuju lantai dasar. tak lama terlihat mobil kantor Rosa keluar dari dalam parkiran hotel . tak berapa lama sampailah mereka di Rumah makan tempat janji pertemuan Rosa dengan paman Wira.
Ketika mereka sampai di dalam Restoran itu. terlihat paman Wira melambaikan tangannya memanggil Rosa. Mereka segera menuju tempat paman Wira. Saat mereka sampai di meja paman Wira , ternyata paman Wira tidak sendirian . ada dua wanita paruh baya yang masih terlihat cantik duduk bersama dengannya .
"Maaf Paman Rosa baru datang ...Paman sudah tadi...?" tanya Rosa sopan .
"Tidak Nak...Paman juga baru datang bersama mereka...kenalan tante Rina dan ini tante Yusi..." kata paman Wira memperkenalkan dua wanita yang bersama dengan dia.
"Lo ..Bukankah ini tante yang pernah bertemu dengan kami...apa kabar tante..." sapa Rosa pada Wanita yang di perkenalkan paman Wira bernama Rina.
"Lo ini kan gadis yang mirip dengan Galuh...kau putri Galuh...?" tanya nyoya Rina kaget .
"Maaf tante...maafkan Rosa yang kapan hari tidak mengakui kalau Rosa putri Mama Galuh. karena Rosa tidak tahu siapa tante..." jawab Rosa .
"Kau sangat mirip dengan dia nak..apa benar kedua orang tuamu telah meninggal dunia...?" tanya nyonya Rima lagi .
"Benar Tante...dua tahun yang lalu Papa dan Mama meninggal saat menolong atasan Papa yang mobilnya hampir celaka. namun sebaliknya mobil Papa yang mengalami celaka..." jawab Rosa.
"Ya ampun...mereka memang selalu sepertu itu. jika membantu seseorang , Mereka tak perduli dengan keselamatan mereka sendiri..." ucap paman Wira dengan wajah sedih.
"Nak... apa boleh tante memelukmu sayang..." ucap nyonya Rina . terlihat tetesan air mata jatuh di pipinya. Begitu juga dengan wanita yang bernama Yusi .wanita itu sampai terseduh - seduh karena menangis . Rosa mengangguk dan memeluk mereka satu- persatu. akhirnya mereka duduk bersama .
Setelah memesan makanan mereka kembali berbincang .
"Nak...Seperti apa kehidupan Ayah dan Bundamu setelah keluar dari pulau ini...?" tanya Rina pada Rosa.
"Saya juga tidak tahu Tan... yang aku tahu. Ayah dan Bunda memiliki perusahaan , walaupun tidak terlalu besar tetapi cukuplah untuk kehidupan kami, hingga bisa menyekolahkan aku sampai di perguruan tinggi. tapi saat aku duduk di bangku kulia semester empat. Papa dan mama mengalami kecelakaan yang membuat mereka meninggal seketika di tempat kejadian. Rosa yang saat itu memang tidak memiliki keluarga dekat, akhirnya memilih keluar dari kuliah . serta mejual semua properti keluarga untuk membayar hutang dan gajih pegawai ..." kata Rosa bercerita. Mendengar penuturan Rosa, terlihat ketiga sahabat Mamanya menangis.
"Bagaimana dengan keluarga yang telah orang tuamu tolong nak...?" tanya paman Wira dengan wajah prihatin .
"Karena beliaulah kehidupanku semakin terpuruk, namun semua itu telah berlalu tan... dan aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi ..." jawab Rosa. Rifan yang melihat kesedihan di wajah Rosa segera menggenggam tangannya. dia sadar kalau Rosa terbawa oleh perasaan Rosa yang sebenarnya.
"Ya Tuhan....betapa berat kehidupanmu sayang...." kata nyonya Yusi yang sejak bertemu dengan Rosa selalu menangis. dan ternyata dari ketiga sahabat Galuh, Yusi lah yang paling dekat dengan Galuh
.
"Sekarang Rosa ingin tahu Tante, Paman. kenapa Mama Galuh sampai terusir dari rumah keluarganya. dan kenapa juga aku tidak pernah mendengar berita dari keluarga Papa Buyung...apakah Papa juga di usir dari keluarganya, dan di mana keluarga Papa...?" tanya Rosa pada ketiga orang di depannya.
Terlihat mereka bertiga saling berpandangan. tak lama paman Wira berkata.
"Ceritanya panjang Nak..." ucap Paman Wira. namun sebelum ucapannya berlanjut. Pelayan Restoran datang dengan membawa makanan pesanan mereka.
Mereka memutuskan untuk makan dahulu sebelum melanjutkan ceritanya.
Maaf....sampai di sini dulu ya ceritanya... besok aku lanjut lagi. jangan lupa like, vote dan Komennya aku tunggu.
__ADS_1
Bersambung.