
Keesokan harinya Shaka dan yang lain berkumpul seperti biasa, memulai aktivitas dengan sarapan. Namun, nampaknya sang Oma masih kesal pada cucunya karena bantahannya kemarin.
Cakra tidak mau ambil pusing ia tetap makan seperti biasa. Sudah banyak beban hidup yang ia sangga. Ia tidak mau memikirkan hal-hal yang membuatnya menjadi lebih hilang kewarasan. Karena menurutnya, Cakra dengan hidup bersama omanya saja sudah membuat setengah kewarasannya hilang.
"Cakra, pecat karyawan baru itu! Oma nggak mau dengar dia masih ada di perusahaan kita."
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada badai, tiba-tiba Oma Ning membuka percakapan yang membuat darah Cakra mendidih karena masalah yang kemarin dibahas lagi oleh wanita tua itu.
Memang benar apa kata orang, jika kita ingin bicara pada seseorang atau bercanda dengannya jangan pada saat makan dan tidur. Karena dua aktivitas itu membuat mood berantakan ketika ada yang mengganggunya.
Yang benar saja, emosi Cakra seketika naik ke ubun-ubun. Baru saja ia hendak memasukkan roti ke dalam mulutnya, namun Oma Ning sudah membuka suara yang membuat nafsu makannya hilang.
Cakra meletakkan roti itu kembali ke piring dengan kasar. Kedua wanita yang di depannya sampai tersentak dan terkejut dengan perilaku Cakra yang diluar kebiasaan.
"Tidak sopan sekali kamu, Cakra!" tukas Oma Ning dengan tegas.
"Aku tidak akan berperilaku seperti ini jika tidak ada yang memancing, Oma. Ini masih pagi dan Oma sudah membahas hal itu lagi? Sebenarnya apa yang dilakukan Luna sampai Oma membelanya seperti itu? Apa yang sudah pernah diberikan oleh Luna ke Oma? Oma punya hutang ke keluarga Luna? Coba Oma ingat, dari aku kecil hingga detik ini, tidak pernah aku sekalipun membantah ataupun mengatakan tidak di depan Oma. Aku selalu berkata iya untuk apapun yang Oma minta. Bahkan keputusan terbesar di dalam hidupku juga Oma yang meminta. Oma memaksaku menikah dengan Aura di usiaku yang masih dua puluh lima tahun aku terima. Tapi, untuk sekarang aku minta maaf Oma, tidak semua ucapan yang keluar dari mulut Oma harus aku iya kan."
Tanpa mendengar sepatah kata pun dari Oma Ning, Cakra bangkit dari meja makan dan menyambar tasnya. Ia pergi meninggalkan rumah tanpa sarapan.
"Kamu lihat kelakuan anak kamu, Nisa? Dia sudah berani membantahku, itu pasti karena ajaran kamu yang tidak benar." Oma Ning juga melakukan hal yang sama seperti Cakra, meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan roti yang berada di tangannya.
__ADS_1
Bu Nisa menghela nafas dalam dan panjang, berusaha untuk kuat dan sabar menghadapi Ibu mertuanya yang seperti setan. Sudah puluhan tahun hidup bersama dengan ibu mertuanya, seharusnya membuat Bu Nisa tebal telinga akan olokan ataupun ucapan yang wanita itu keluarkan. Namun nyatanya, hal itu tidak berlaku bagi Bu Nisa yang terkadang memasukkan ucapan Oma Ning ke dalam hati dan membuat luka kecil di sana.
"Seharusnya aku sudah pergi dari sini sejak wanita itu ditinggalkan oleh anak kesayangannya. Tinggal di sini sampai mati sama saja membuat luka diri sendiri."
***
Cakra yang berangkat ke kantor dengan kekesalan, membawa rasa kesalnya itu hingga ke kantor. Para karyawan yang sudah lama bernaung dengan pria itu pasti paham jika Cakra memberikan tatapan tajam ke sembarang arah, itu artinya dirinya sedang marah dan tidak ingin diajak bicara oleh siapapun. Bahkan jika ada satu karyawan saja yang mengucapkan selamat pagi, maka akan dibentak oleh pria itu.
Dan hal itu sekarang terjadi pada Baby. Gadis yang baru bekerja tiga hari itu memberikan sapaan lembut kepada atasannya. Seakan menunjukkan pada Cakra bahwa ia tidak datang terlambat datang ke kantor hari ini.
"Diam! Dan lakukan pekerjaanmu!" jawab Cakra tak menghentikan langkahnya.
Baby bingung. Ia mengintip Mira yang berada di sampingnya.
"Itu artinya dia lagi bad mood, dia membawa kekesalannya dari rumah ke kantor."
"Kok lo tahu banyak soal dia?"
"Ya, kan gue udah enam bulan kerja di sini. Gue pelajari aja karakter dan juga kebisaan orang-orang di sini apa. Gue juga pernah kok kena bentak gara-gara nyapa Pak Cakra pas mood nya nggak bagus. Memang begitu orangnya. Apalagi setelah Pak Cakra menikah sama almarhumah istrinya, Pak Cakra makin uring-uringan tiap hari. Sekarang, mah udah mending. Udah nggak suka ngamuk kayak dulu. Itu yang gue denger dari pekerja senior."
Baby hanya manggut-manggut. Entah kenapa ia justru tak fokus bekerja hari ini, pikirannya malah memikirkan apa yang membuat mood crushnya itu rusak.
__ADS_1
Baru saja duduk di kursinya, Baby kembali bangkit dan melongokkan kepalanya ke kursi Mira.
"Mir, nasib Pak Dandi gimana kalau mood Pak Cakra rusak begitu? Pasti dapat amukan yang lebih parah dari kita dong, secara, kan Pak Dandi yang paling banyak berinteraksi dengan Pak Cakra."
"Mana gue tahu kalau itu. Mereka kalau di luar ruangan, mah kerja profesional. Nggak tahu lagi kalau di dalam ruangan Pak Cakra gimana. Lagian lo kenapa repot amat ngurusin hidup orang, sih. Kerjain sana kerjaan lo. Riweh banget gue duduk di sebelah lo. Nggak fokus kerja nih gue," protes Mira kesal.
Baby hanya mencebik dengan ucapan Mira. Ia kembali meletakkan pantatnya di kursi dan menghadap komputer yang baru menyala.
Baru saja fokus dengan layar yang berada di depannya, sudut netra Baby malah menangkap sosok Luna yang berjalan di depannya. Wanita itu terlihat menatap kesal dan tajam ke arah Baby meskipun hanya beberapa detik.
"Mir, Luna itu tiap hari apa gimana ke sini? Nggak ada kerjaan kah dia sampai ke sini tiap hari?" Baby kembali mengganggu Mira yang sedang fokus-fokusnya.
"Ya Allah, Baby. Gue nggak waras lama-lama duduk sebelah lo."
"Gue nanya doang, Mira."
"Nggak tiap hari, tapi sering. Udah, kan?Lo sekali lagi nanya hal yang nggak penting ke gue, gue tonjok lo."
"Iya-iya." Baby kembali duduk dengan wajah cemberut. "Ini penting tahu, kan Pak Cakra masa depan gue," gumam Baby dengn nada bicara yang teramat pelan.
Beralih pada Luna yang baru saja membuka pintu ruangan Cakra. Sudah berulang kali Cakra marah pada wanita itu karena datang ke ruangannya tanpa permisi ataupun mengetuk pintu. Namun, amukan dari Cakra nampaknya hanya angin lalu bagi Luna. Wanita itu sama sekali tidak menggubrisnya.
__ADS_1
Bosan dengan kata-kata peringatan, akhirnya Cakra memilih untuk tidak menghiraukan kedatangan mahluk yang membuat Cakra ingin sekali menghilang dari bumi.
"Selamat pagi, Sayang."