Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
22. Solusi Yang Membuat Semakin Pusing


__ADS_3

"Satu tahun lagi aku harus menikah dengan Luna, kalau aku tidak punya Aura mungkin aku sudah melarikan diri dari rumah."


"Ya udah melarikan diri sama Aura sama Bu Nisa, kan bisa?"


"Enak banget ngomongnya," sungut Shaka. "Aku bisa aja kabur dari sana, ngajak Mama sama Aura, habis itu aku nggak bisa kasih makan mereka. Aku tahu apa yang ada dalam pikiran Oma itu apa. Modelan kayak Oma udah terbaca."


Ya, Cakra sudah tahu dan membaca pikiran Oma, jika ia melakukan itu, maka bisa saja Oma menutup semua akses perusahaan manapun untuk ia masuki. Sedangkan dirinya tidak tahu apa yang bisa ia kerjakan selain mengolah perusahaan. Karena sejak beranjak dewasa ia sudah belajar menjadi pimpinan tanpa mengasah kemampuannya.


"Kalau Bapak punya pacar atau mungkin pilihan lain apakah Oma akan tetap memaksakan kehendaknya?"


"I don't know. Aku belum pernah coba."


"Ya udah dicoba aja siapa tahu berhasil, kan. Seharusnya Bapak itu nggak hanya memikirkan, tapi bertindak juga. Segala usaha harus Bapak coba, selagi Bapak masih tidak mau menerima Luna. Kalau mau sih, ya udah pikirin aja solusinya tanpa prakteknya."


"Jadi menurutmu aku harus mencari pacar pura-pura, calon istri pura-pura?kau gila? Kalau aku melakukan itu dan aku diminta untuk menikahi pacar pura-pura itu bagaimana?"


"Yang terpenting nggak menikah sama Luna, kan? Ya Bapak maunya yang mana? Mau mencoba untuk mencari pacar pura-pura atau mau menikahi Luna? Jangan pikirkan hal yang belum terjadi, jalani saja yang ada dalam pikiran. Kenapa mesti memikirkan hal sejauh itu? Kalau nanti disuruh nikah, ya urusan belakangan. Yang penting, kan nggak menikah sama Luna."


Cakra mulai memikirkan ucapan Dandi. Menimbang-nimbang apakah solusi yang diberikan Dandi. Apakah cukup efektif untuk memberontak perjodohan yang sudah direncanakan.


"Aku harus cari wanita di mana untuk menjadi pacar pura-pura aku itu?"


"Ngapain dicari, kan udah ada itu si Baby. Tipe-tipe wanita seperti itu bisa menghadapi Oma Ning apalagi Luna, kecil buat dia. Pertama kali ketemu aja dia udah berani, kan sama Luna? Jadi kalau Bapak mau jadikan Baby pacar pura-pura, bisa jadi Bapak akan terbebas dari Luna. Pasti dia yang akan menjadi tameng Bapak."


"Akan aku pikirkan."


Dan yang benar saja, ucapan Dandi kini ikut menambah isi di kepala Cakra. Bahkan menggeser pikiran yang tadinya dipenuhi oleh pernikahan, Luna dan Oma Ning.


Sudah seharian ini Cakra menimbang dan memikirkannya. Ia sampai tak bisa tidur nyenyak karena tidak tenang. Cakra memang seperti itu orangnya, terlalu pemikir. Untuk masalah sepele saja ia memikirkan entah hingga berapa hari lamanya. Ia memikirkan hal yang sepele dan sebenarnya tidak perlu di pikirkan. Itulah sebabnya Cakra seringkali pusing karena kepalanya berjubel masalah kehidupan dari yang kecil hingga besar.

__ADS_1


Pusing dengan masalahnya, Cakra iseng bermain dengan gawainya. Menelusuri dunia maya, mungkin saja ada sesuatu yang bisa menghibur dirinya. Masih jam delapan malam, rasaya tidak pantas seorang CEO di jam seperti itu sudah tertidur pulas.


Di saat tangannya sedang berselancar di lovegram, ia tak sengaja menemukan foto Dandi yang sedang duduk dengan secangkir kopi di sebuah cafe.


"Kayaknya nggak masalah kalau aku nyusul ke sana."


Cakra lalu beralih menghubungi asisten pribadi yang ia panggil Kakak jika di luar kantor. Ya, memang tak ada yang tahu sedekat itu hubungan mereka. Cakra yang menjadi anak tunggal dan Dandi anak bungsu membuat mereka seakan melengkapi satu sama lain. Cakra merasa punya Kakak, sedangkan Dandi merasa punya adik. Dan memang sedekat itulah mereka.


Setelah menghubungi Dandi, Cakra pun membawa Aura ke kamar ibunya. Keinginan Bu Nisa yang ingin sesekali tidur dengan Aura pun akhirnya terkabul malam ini.


"Iya hati-hati, jangan pulang larut malam. Nanti langsung tidur aja, ya. Biar Aura tidur sama Mama sampai besok. Mama tahu kamu lagi banyak pikiran. Mama nggak bisa bantu banyak. Mama hanya bisa dukung apa yang akan menjadi keputusan kamu."


"Iya, itu aja udah cukup buat aku, Ma. Ya udah aku keluar dulu, ya." Cakra mengecup kening Aura sesaat sebelum beranjak dari sana.


***


"Pak Cakra mau ke sini? Ya udah kalau gitu aku pulang aja," ujar Mira yang kini sedang berdua dengan Dandi.


Gadis cuek yang pernah ditinggalkan oleh kedua sahabatnya yang bekerja di kantor yang sama membuat Mira mengubah kepribadiannya menjadi sedikit tertutup sebelum ada Baby.


Sebenarnya Dandi lebih dekat pada Baby, karena gadis itu memiliki karakter yang mudah akrab dengan orang lain, bahkan orang baru pun rasanya akan nyaman jika dekat senang gadis itu. Gadis yang punya pembawaan ceria dan humoris bisa dengan mudah menyihir seseorang untuk dekat dengannya. Namun, entah kenapa ia hanya menganggap Baby sebagai teman, ia tertarik untuk mendekati Mira yang sebenarnya cuek terhadap lawan jenis meski punya karakter yang sedikit mirip dengan Baby.


"Nggak usah pulang. Kamu hubungi aja itu si bayi biar ke sini. Cakra lagi banyak pikiran, butuh hiburan dia."


"Ya yang ada dia akan semakin stress kalau ada Baby di sini."


"Coba aja, Mira. Yang tahu Cakra luar dalam itu aku. "


Dari pada berdebat, akhirnya Mira melakukan apa yang Dandi katakan. Baru saja berucap, Mira sudah memejamkan mata seraya menutup telinga.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kamu tutup telinga?" Tanya Dandi begitu obrolan Mira dengan Baby selesai.


"Kamu kayak nggak tahu Baby aja, pake nanya lagi," sungut Mira jengkel.


Inilah yang membuat Dandi tertarik dengan Mira. Mudah kesal dan galak adalah tipe-tipe gadis yang sukar di buka hatinya apalagi untuk di miliki. Sudah dua bulan mereka berkomunikasi dengan intens, tapi baru kali ini Dandi berhasil mengajak Mira duduk berdua di cafe. Bahkan saat di kantor pun, Dandi tak pernah duduk berdua jika tak ada Baby bersamanya, karena gadis itu pasti menolak.


Tak berselang lama, Cakra datang dengan membawa muka kusutnya. Ia begitu terkejut ada Mira bersama dengan pria yang paling dekat dengannya.


"Loh, kok..." Ucapan Cakra sengaja ia gantung.


"Iya, udah duduk sini. Gue memang tadi sama Mira."


"Kok di sosial media lo cuma ada foto lo sama kopi? Wah parah lo ngerjain gue."


Lo, gue? Ini kuping gue yang salah apa gimana, sih?


"Siapa yang ngerjain, sih? Udah duduk aja, orang tadi nggak sengaja juga ketemu sama Mira."


Cakra menatap Mira dan Dandi bergantian.


"Sejak kapan kalian dekat?" Cakra kembali pada mode dingin.


"Sejak Baby masuk perusahaan. Kalau nggak salah di hari kedua Baby kerja."


Cakra memutar bola matanya malas. Tidak bisakah ia tidak mendengar nama Baby yang masuk ke dalam telinganya.


"Hai kalian ada di sini juga ternyata?"


boleh juga ni mampir di karya temen otor yang nggak kalah seru. jangan lupa tinggalkan jejak juga, ya ☺

__ADS_1



__ADS_2