Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
23. Drama Baby


__ADS_3

Cakra sedikit terperanjat mendengar suara Baby. Namun, yang lebih membuatnya terperanjat lagi adalah kehadiran Baby yang berada di cafe yang sama dengannya. Refleks bola mata Cakra memutar ke arah Dandi dan Mira. Sedangkan mereka yang ditatap pura-pura acuh dan tidak tahu apa-apa.


"Kau ada di sini?"


"Enggak, saya lagi ada di hati Bapak, " jawab Baby dengan enteng seraya duduk bergabung di meja mereka.


Di saat bersamaan Cakra berdiri dan hendak pergi dari cafe itu. Mira dan Dandi refleks mendongak, namun tanpa suara, yang berani bersuara hanya Baby.


"Pak Cakra mau ke mana?"


"Pulang," jawab Cakra singkat.


"Saya salah apa sih, Pak? Kenapa Bapak tidak pernah bersikap baik sama saya? Apa salah saya sampai Bapak seperti itu? Bapak bersikap seolah-olah saya ini pernah merusak kehidupan Bapak. Kalau memang iya urusan pekerjaan, seharusnya Bapak sudah pecat saya dari dulu. Tapi Bapak tidak melakukan itu. Apakah itu artinya kita ada masalah pribadi, Pak?"


Dandi dan Mira menatap keduanya secara bergantian. Dua bulan lebih mengenal, baru kali ini Baby berucap dengan serius. Tidak ada gurauan atau lelucon di setiap kalimatnya. Siapapun yang melihat keseharian Baby pasti akan merasa saat ini Baby sedang kerasukan.


Cakra pun akhirnya mau tidak mau memikirkan jawaban untuk pertanyaan Baby. Sebenarnya dirinya tidak membenci, hanya saja kebiasaan baby yang menurutnya mengganggu membuat Cakra tidak ingin dekat dengannya.


Cakra mentao wajha Baby sesaat, wajahnya tidak semenyebalkan biasanya. Justru wajahnya sekarang membuat iba siapapun yang melihatnya.


"Aku nggak benci siapapun. Kenapa kau berpikir seperti itu?"


"Semua orang yang ada di posisi saya akan berpikir sama, Pak. Jika Bapak tidak ingin kehadiran saya di sini, baiklah saya akan pulang. Lain kali saya tidak akan mendatangi tempat manapun yang di situ ada Bapak, kecuali di kantor. Permisi."


Sungguh di luar dugaan, Baby nampak benar-benar seperti sedang kecewa dengan perlakuan Cakra. Mira dan Dandi hanya menatap bingung Cakra dan Baby bergantian. Ingin berucap pun mereka bingung hendak berucap apa dan mendahulukan yang mana.

__ADS_1


Cakra pun tak kalah terkejut, ia tak menyangka jika perlakuan yang ia berikan padanya membuat gadis itu merasa dibenci. Sebagai manusia uangmmsou punya hati, tentu saja Cakra merasa tak enak hati.


Sementara yang terjadi sebenarnya tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Di balik punggung Baby yang sedang berjalan pelan keluar cafe, ada jari yang sedang menghitung mundur menunggu teriakan dari Cakra.


Jantungnya berdetak tak tenang. Langkahnya susah hampir di pintu cafe, namun suara Cakra tak kunjung terdengar.


"Lima, empat, tiga, dua, sa..."


"Siapa yang menyuruhmu pulang? Duduk saja kalau kau ingin bergabung di sini!" teriak Cakra yang mendapatkan reaksi plonga-plongo dari Dandi dan Mira.


Yes!


Drama apa yang sebenarnya mereka mainkan ini? Batin Dandi tak habis pikir.


Sementara gadis yang sedang mereka batin sedang menahan tawa dari kemenangan yang ingin sekali ia luapkan dengan teriakan.


Ya, Baby tadi hanya berpura-pura. Gadis itu memang cerdik untuk mendapatkan apa yang ia mau. Entah pikiran dari mana yang terlintas tadi, sehingga Baby membuat Cakra dengan sadar dan ikhlas menyuruhnya untuk duduk kembali. Tidak salah Dandi menjuluki gadis itu dengan sebutan gadis yang tidak ada duanya.


"Kenapa kau masih berdiri di sana? Duduk kembali sebelum aku berubah pikiran!" tutur Cakra sekali lagi.


Oh Cakra kenapa kau tidak sabar? Aku sedang menetralkan wajahku yang sedang memerah ini. Tunggulah sebentar lagi.


"Oke Baby, sepertinya kamu sudah bisa kembali ke meja. Oke stay cool dan jangan tunjukkan kalau kamu sedang memainkan drama satu, dau, tiga, balik," gunakan Babu lirih.


Jika saja ada seorang sutradara yang melihat ekspresi wajah baby yang berubah dalam waktu cepat, mungkin akan mengajaknya untuk bermain sinetron saat itu juga. Akting baby benar-benar luar biasa, tidak kalah dengan artis-artis di TV yang memenangkan banyak Award.

__ADS_1


Sementara si cerdas Dandi dan si cuek Mira tidak mampu mengucapkan kalimat apapun. Mereka masih terlalu syok dengan apa yang terjadi di depannya.


Hening.


Cakra masih sibuk dengan buku menunya. Meskipun wajahnya masih nampak kesal dan cemberut, itu tidak masalah bagi Baby. Yang terpenting adalah ia sudah membuat sejarah baru di kehidupan Cakra di depan Dandi dan Mira, itu adalah sebuah penghargaan yang besar untuknya. Sepulang dari cafe ini, pasti grup chat yang berisi hanya tiga orang itu akan berisik membahas hal ini.


Baby, Mira, dan Dandi kini sedang saling pandang dan membuat gesture seperti sedang ngobrol tanpa suara. Semacam telepati saja sudah seakan mereka mengerti maksud dari gerakan satu sama lain.


"Mau sampai kapan kalian ngobrol pakai telepati begitu? Ngobrol, ngobrol aja kali," sahut Cakra yang sejak tadi melirik mereka.


"Kau mau pesan tidak?" tanya Cakra pada Baby.


"Mau pesen hati Bapak bisa nggak?" Baby kembali pada mode kebiasaannya.


"Mau pesan hati aku? Bayarnya mahal kau tidak akan bisa dan tidak akan pernah mampu, stop menghalu!" Cakra menekankan kalimat demi kalimatnya.


"Menghalu adalah hak setiap orang dan saya tidak akan pernah berhenti menghalu sebelum saya mendapatkan apa yang saya mau. Jadi stop menyuruh saya berhenti menghalu. Karena Bapak tidak berhak untuk meminta saya apapun yang Bapak mau. Kan Bapak dan saya hanya sebatas bawahan dan atasan."


"Tapi masalahnya yang menjadi bahan haluanmu itu adalah aku. Dan aku tidak mengizinkan siapapun menghalu tentangku, termasuk juga kau."


"Kalau begitu akan kubuat Bapak menghalau tentang saya."


"Jangan mimpi."


Akhirnya perdebatan itu terus berlanjut entah hingga berapa lama. Niat Cakra yang ingin meredakan masalahnya malah adu mulut dengan Baby tiada henti. Tapi tidak apa, itu jauh lebih baik daripada ia harus terus kepikiran dengan masalahnya.

__ADS_1


__ADS_2