
"Pak Cakra," panggil Baby lemah.
"Iya, kamu aman. Jangan menangis lagi."
Baby mengelap air matanya yang menetes di pipi. Rasa takut yang menyelimuti masih mendominasi. Hal seperti inilah yang sangat Baby khawatirkan dan takutkan jika pulang larut malam dan telat menjemputnya. Ia sangat takut dengan apa pun yang berbau kriminal. Padahal tidak ada trauma juga, tapi ia sangat takut akan hal seperti itu. Ia takut dilecehkan dan di perlakukan negatif lainnya.
Cakra membenarkan letak spion yang berada di dalam mobil. Ia melakukan itu agar bisa memantau dan melihat Baby yang nampak masih takut dengan kejadian barusan. Kapan lagi ia bisa memandangi Baby seperti ini, lama tidak bertemu rasanya sudah banyak perubahan yang ia alami. Seperti wajah yang tambah cantik, pipi yang semakin chubby dan penampilan yang semakin menarik.
Tak ada ucapan yang keluar dari mulut mereka bertiga, Cakra yang sibuk mengalihkan dunianya sejenak pada Baby. Dandi yang fokus dengan mengemudi, sebenarnya bukan hanya fokus tapi ia memberikan kesempatan untuk Cakra bicara lebih dulu. Atau setidaknya ia bisa berbasa-basi menanyakan apa alasan Baby masih berada di luar rumah jam segini? Namun, melihat Cakra yang justru hanya memandang Baby melalui spion, membuat Dandi mengumpat dalam hati.
"Ayah sama adik lo ke mana? Biasanya di jemput sama mereka, kan? Kok tumben lo belum di jemput." Dandi uang bicara
"Iya, aku juga nggak tahu kenapa. Nggak biasanya mereka telat begitu."
"Ya telepon dong Baby. Kalau liat nungguin doang, ya salah namanya. Siapa tahu mereka ketiduran." Masih Dandi yang bicara
"Hape aku mati, kehabisan baterai. Lupa ngecas."
"Ya udah, nih. Lo kabari ayah atau adek lo biar mereka nggak jemput. Atau paling nggak, mereka nggak panik nyari lo kalau salah satu di antara mereka sampai di cafe." Dandi memberikan ponselnya tanpa melihat Baby. Lirikannya justru ia arahkan pada Cakra yang nampak menyembunyikan wajah terheran.
Jadi mereka masih berkomunikasi dengan intens? Sedekat itu mereka sampai Dandi tahu kebiasaan Clarissa? Sebenarnya laki-laki ini mau mendekati Mira atau Clarissa?
Dandi tahu, Cakra pasti bertanya-tanya dalam hati, banyak pertanyaan yang mampir di kepalanya. Saking banyaknya, mungkin saja ia sampai tidak bisa menanyakannya satu persatu atau menanyakan pertanyaan yang mana dulu.
"Kamu sekarang kerja di cafe, Cla?" Cakra tidak bisa menahan kedinginantahuannya.
__ADS_1
"Iya, Pak. Sudah tiga minggu lebih."
Tidak ada lagi pertanyaan yang muncul setelah itu. Cakra lebih memilih untuk memandangi wajah Baby. Entahlah, mungkin saja rasa rindu yang menyeruak, kini sudah terobati dengan pertemuan yang tidak disengaja.
"Makasih, ya Dan. Kalian dari mana?" tanya Baby basa-basi seraya mengembalikan ponsel milik Dandi.
"Biasa nongkrong. Besok, kan weekend."
Baby hanya manggut-manggut, ia merasa canggung berada di tengah-tengah Cakra dan Dandi. Lama tidak bersua rupanya membawa situasi yang berbeda ketika kita menjumpai seseorang.
Tak berselang lama, akhirnya Baby sampai di rumah, Dandi langsung memutuskan melanjutkan perjalanan setelah melihat Baby benar-benar sudah masuk ke dalam rumah. Bukannya bermaksud untuk tidak sopan karena tak menemui kedua orang tua Baby terlebih dahulu, karena hari yang sudah malam membuat keduanya sungkan meskipun untuk hanya sekedar bertemu muka.
"Kok lo tahu kalau Clarissa kerja di cafe? Sebenarnya lo itu mau ngedeketin Mira apa Clarissa, sih?" Pertanyaan itu akhirnya muncul juga.
"Kok lo sama sekali nggak cerita ke gue gue soal ini?"
"Penting memang? Bukannya lo selalu bilang kalau kepergian Baby nggak ada pengaruhnya di hidup lo? Terus kenapa gue musti cerita?"
Cakra berdecak kesal. Untuk apa pula ia menanyakan hal itu? Kenapa bisa keceplosan mengatakannya? Ah jadi ketahuan, kan kalau ia diam-diam sebenarnya ingin mengetahui kabar Baby hanya saja ia termakan oleh gengsi.
Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu, Cakra yang baru saja termakan oleh omongannya sendiri lebih memilih untuk diam agar tidak semakin malu dengan Dandi.
Dan keheningan itu membawa mereka sampai di rumah Cakra tepat pukul sebelas malam. Mereka terpisah di jam itu karena Dandi memutuskan untuk langsung pulang dan beristirahat tanpa mampir di rumah Cakra.
Pria yang baru saja sampai di rumah itu langsung berlari menuju kamar. Ia melupakan sejenak Aura yang tertidur dengan sang ibu. Entah kenapa ia memilih untuk merogoh ponsel yang ia letakkan di saku dan menghentikan sesuatu di sana.
__ADS_1
[Cla, Kamu sudah tidur?]
Entah disadari atau tidak Cakra dengan tindakannya itu. Setelah pertemuannya yang pertama setelah terpisah seakan gengsi Cakra lenyap begitu saja. Ia merasa tidak seharusnya ia membiarkan Baby dan dan Dandi sedekat itu. Meskipun ia tahu incaran Dandi adalah Mira, namun tetap saja ada titik di mana Cakra merasa tidak terima jika sekretarisnya itu lebih dekat dengan Baby.
Lima menit, sepuluh menit, Cakra menunggu balasan dari Baby. Pria itu menunggu dengan gelisah seraya membolak-balikkan badannya di tempat tidur dan sesekali mengecek ponselnya.
Ah mungkin saja dia sudah tidur, lagi pula kenapa aku menunggu balasan darinya? Dia pasti lelah seharian bekerja di cafe.
Cakra tidak bisa tidur setelah pertemuan pertamanya dengan Baby itu. Ia bingung, ada perasaan senang dan juga kelegaan yang ia rasakan setelah beberapa saat berjumpa dengannya.
***
Tidur yang tidak terlalu nyenyak membuat Cakra bangun tidur dengan kepala sedikit pusing. Entahlah, setelah bertemu dengan Baby bukannya ia bisa tidur dengan nyenyak dan tenang, kepalanya justru seakan memaksanya untuk membuka mata dan memikirkan kebahagiaannya hari ini karena bertemu dengan Baby.
Cakra langsung menuju meja makan begitu membuka mata karena ia merasa lapar. Begitu sampai di sana, Cakra merutuki dirinya sendiri, kenapa ia harus mengawali hari dengan seburuk ini.
"Hai, Cakra. Kaget, ya aku pagi-pagi sudah ada di sini."
"Nggak kaget lebih ke muak. Untuk apa kau datang sepagi ini?"
"Cakra, jaga bicaramu!" sahut Oma Ning. "Tentu saja dia datang ke sini mau feeting baju untuk pertunangan kalian. Hari pertunangan kalian sebentar lagi dan kalian harus sudah memiliki baju. Jadi nanti berangkatlah ke desainer langganan kita untuk meminta baju ke sana."
Ya, perjodohan mereka nampaknya masih berlanjut. Oma Ning yang pernah dikecewakan oleh Luna nampaknya tidak mengurangi atau membuat wanita tua itu berpikir kembali untuk menjodohkannya dengan cucunya.
Baiklah, sepertinya Luna memang harus diajak bermain. Sekarang akan aku kabulkan permintaanmu dan lihat saja nanti apa yang terjadi.
__ADS_1