Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
28. Kecupan Singkat


__ADS_3

"Selamat pagi. Seperti biasa, saya membawa minuman untuk Bapak. Satu cangkir teh hijau, jangan terlalu sering kopi, nggak baik."


"Iya." Cakra sedikit merasa aneh dengan sikap Baby. Sejak pulang dari rumah sakit, gadis itu lebih pendiam dan tidak banyak tingkah. Apalagi setelah mereka mengubah status mereka menjadi pacar palsu, perhatian Baby memang tak berkurang sedikit pun. Tapi pecicilannya pergi entah ke mana hilangnya.


"Sayang, aku datang. Sudah sejak kemarin aku ingin ke sini. Aku mau bicarakan konsep pertunangan kita." Luna berjalan masuk dan duduk di kursi depan Cakra.


Ya, hasil dari perundingan beberapa hari yang lalu, pernikahan yang seharusnya di gelar lebih dari enam bulan lagi itu maju menjadi tiga bulan lagi. Dan pertunangan akan diselenggarakan bulan depan.


Shaka tentu saja murka dan ngamuk saat diberitahu oleh Oma Ning. Namun, amukan yang ia beri dianggap angin lalu oleh wanita tua itu.


"Kau tunangan saja sendiri," jawab Cakra tak mengalihkan pandangan dari berkas.


Pandangan Luna beralih pada Baby yang masih mematung dengan membawa nampan. Tatapannya ****** dan tajam.


"Ngapain lo masih berdiri di sini?" tanya Luna memandang tak suka. "Pergi sana! Nggak punya sopan santun banget nguping pembicaraan orang."


"Aku nguping? Kalau nguping itu sembunyi-sembunyi, kan aku jelas terpampang nyata di sini. Kau bilang aku tidak punya sopan santun? Lalu apa namanya masuk ruangan orang tanpa permisi? Apakah begitu etika orang yang berpendidikan?"


"Jangan bicara soal pendidikan pada orang yang berpendidikan. Level kita berbeda, kelas kita berbeda, jadi jangan merasa lo jadi bintang yang bertaburan ketika lo dikelilingi oleh orang-orang yang berada di langit."


Cakra sengaja diam. Ia ingin melihat siapa pemenang dari perdebatan ini. Seakan menonton drama ia memasang badan yang santai Menikmati kata demi kata yang mereka lontarkan demi membela diri masing-masing.


Cakra merasa Baby benar-benarĀ  berbeda saat ini. Tidak pernah ia melihat langsung ekspresi Baby yang sedang mendengar serius seperti ini. Tatapannya pun sangat tajam dan sangat jauh berbeda dari Baby biasanya. Sorot matanya begitu menusuk dan mengintimidasi lawan bicaranya.


Baby tersenyum miring, ia mengibaskan sedikit rambutnya yang menghalangi telinganya.


"Aku sok-sokan jadi bintang? Aku rasa kau harus berkaca. Tidak perlu bicara soal langit. Tidak perlu jauh-jauh membicarakan hal yang tinggi. Kita saja terbuat dari tanah, kita sama-sama terbuat dari tanah. Jadi nggak perlu bersikap setinggi langit nanti kalau nabrak pesawat sakit."


"Gue dari tadi nyuruh pergi dari sini. Kenapa lo malah ngajak debat? Mau nunjukin kalau lo berani sama gue, iya?"

__ADS_1


Suasana semakin panas karena Luna nampaknya termakan oleh ucapan Baby. Ujarannya yang terakhir begitu tinggi dan penuh emosi.


"Aku punya hak di sini, itu sebabnya aku masih berdiri di sini."


"Hak? Lo pikir lo itu siapa, ha? Cuma staf biasa aja songong banget lo."


"Aku memang staff biasa, tapi yang begitu luar biasa dariku adalah..." Baby menatap Cakra yang sejak tadi hanya bersandar pada kursi dan melipat tangannya di depan dada. "Katakan padanya siapa aku di sini."


Cakra yang berpikir bahwa Baby bisa mengatasinya sendiri tanpa dirinya nampak terkejut, karena melibatkan dirinya dengan tiba-tiba.


Pria itu sedikit melonggarkan dasinya dan juga menegakkan duduknya, tak lupa deheman seorang CEO ia perdengarkan.


"Dengan berat hati aku harus mengatakan padamu Luna, kalau Clarissa dan aku sudah menjalin hubungan yang bisa dikatakan, yah sudah dipastikan akan naik ke pelaminan."


Luna seketika membulatkan matanya lebar-lebar. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kamu jangan gila Cakra! Hari pertunangan dan pernikahan kita itu sudah ditentukan dan aku yakin Oma pasti sudah memberitahu kamu soal ini. Ngapain kamu malah pacaran sama perempuan kampung ini?"


"Aku yakin ini cuman rencana kamu untuk membatalkan pernikahan kita? Iya, kan? Kamu pikir aku sebodoh itu, Cakra?"


"Siapa bilang?"


Baby beringsut mundur dan berjalan ke arah Cakra. Menatapnya sesaat dan


Cup.


Satu kecupan singkat dan menggetarkan jiwa mendarat mulus di pipi Cakra. Lagi-lagi gadis itu berusaha untuk tidak mereok di tempat. Memasang wajah sok cantik dan keren sepertinya pas untuk di suguhkan pada Luna.


Wajah sama-sama terkejut dan syok tecetak jelas di wajah Luna dan Cakra. Namun, di detik berikutnya, Cakra kembali cool dan memasang wajah yang selalu ia nampakkan meskipun ia sedang menahan sensasi yang entah bagaimana ceritanya bisa muncul begitu saja. Ciuman beberapa hari di rumah sakit pun turut hadir dalam ingatan Cakra. Hal ini semakin membuat pria itu ingin menenggelamkan dirinya di dasar samudera.

__ADS_1


"Kurang ajar banget ya, lo?" Luna menghampiri Baby dan melayangkan tangannya ke udara.


Cakra refleks berdiri untuk jaga-jaga jika Luna melakukan sesuatu. Namun, belum sempat Cakra bertindak Baby sudah mengatasinya lebih dulu.


Luna yang hendak melayangkan tamparan pada Baby itu berhenti di tengah jalan, karena Baby berhasil mencekram pergelangan tangan Luna dengan kuat. Wanita itu sampai merintis kesakitan.


"Jangan bermimpi untuk menyentuh kulitku. Aku tidak membiarkan dan tidak mengizinkan siapa pun untuk menyentuh kulitku apalagi dengan cara yang kasar." Baby menghempaskan tangan Luna dengan kencang.


Merasa sakit hati dengan perlakuan Baby, Luna memutuskan pergi dari sana. Sebelum ia pergi, tentu saja ia mengobarkan ancaman terhadap Baby.


"Lo salah dengan memutuskan untuk mencari masalah sama gue. Gue pastikan, ke depannya lo nggak akan bisa lagi nyentuh gue terlebih Cakra."


Dengan tatapan yang ****** seakan binatang buas yang ingin memangsa musuhnya, Luna memberikan tatapan terakhir pada kedua manusia itu lalu pergi.


Baby bernafas lega begitu Luna tidak terlihat di matanya.


"Akhirnya, nenek lampir itu pergi juga."


Cakra menatap Baby seperti sebelum-sebelumnya. Tatapan tajam yang tidak ia perlihatkan beberapa hari terakhir kembali hadir.


"Kenapa Bapak menatap seperti itu?" Baby bertanya begitu ia menyadari ia sedang di tatap oleh kekasih palsunya.


"Berani sekali kau menciumku?"


"Kenapa tidak? Kan Bapak yang minta saya buat bantu membatalkan pernikahan Bapak sama Luna. Memang siapa yang minta bantuan saya untuk jadi pacar pura-pura? Bukankah kita memang harus bertingkah seperti pacar di depan Luna? Saya hanya mendalami peran, kenapa Bapak seolah tidak terima?" Cerocos Baby kembali pada mode petakilan.


"Nggak gitu juga maksudnya."


"Saya cuman cium pipi, ya Pak. Dan itu cuman beberapa detik doang. Coba Bapak ingat kejadian waktu di rumah..."

__ADS_1


Untuk yang kedua kalinya Cakra membungkam mulut Baby agar tidak mengingatkan dirinya pada kejadian itu.


__ADS_2