Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
15. Kedipan Maut


__ADS_3

"Maaf, saya hanya terkejut tadi dia melihatku dan tersenyum." Baby merasa bersalah karena membuat Bayi Cakra menangis.


Entah kenapa menangisnya Aura kali ini sangat sulit untuk didiamkan. Cakra sudah melakukan kebiasaannya ketika menenangkan Aura, namun usahanya selalu gagal.


"Pak, apa saya bisa melakukan sesuatu?" tanya Baby tak enak hati karena membuat Aura terus menangis dan Cakra terlihat kerepotan.


"Susu. Coba buatkan dia susu. Barangkali dia haus."


"Bagaimana caraku membuat susu? Di mana susunya? Air pa..."


"Kau tidak lihat ada tas di dekatmu. Buka dan buatkan dia susu. Sudah ada lengkap di sana air dan susunya," jawab Cakra dengan galak.


Baby segera merogoh tas yang berisi air panas dalam tremos, sebotol air mineral, sebuah botol dot dan juga sebuah wadah berukuran sedang untuk tempat wadah susu. Tidak ada petunjuk sama sekali untuk membuat susu.


"Pak ini takarannya seberapa?" tanya Baby bingung.


"Astaga, biar aku aja yang buat. Kau bawa dia."


Saking paniknya karena Aura sejak tadi tak mau diam, akhirnya Cakra menyerahkan anaknya pada Baby. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Tidak pernah sekalipun Cakra menyerahkan Aura ke gendongan orang asing.


Baby tentu saja menggendong Aura dengan sedikit kaku. Ia tak pernah melakukan ini sebelumnya, hal yang wajar jika ia tidak bisa lihay saat menggendong anak sekecil Aura.


Eh tapi tunggu, Aura diam begitu tubuhnya berpindah tangan. Hal itu tentu saja membuat Cakra dan juga Baby saling pandang dalam keheranan.


"Eh kok diam. Wah, kamu tahu aja kalau aku cantik, pasti kamu seneng dan nyaman digendong sama tante cantik, ya," ujar Baby seraya sesekali memirik ke arah Cakra yang sedang melongo.


Semakin lama Baby sedikit terbiasa dan akhirnya bisa membuat Aura nyaman di gendongannya. Gadis itu terus menimang Aura agar semakin nyaman.


Cakra hanya melihat pemandangan itu dengan diam. Tangannya masih memegang botol dot dan juga tremos. Belum sempat ia membuatkan susu untuk anaknya, namun rupanya bidadari kecilnya itu sudah tenang dalam gendongan Baby.


Tak berselang lama, Aura ternyata tertidur di dalam gendongan Baby. Cakra merasa anaknya itu memang lebih mudah di tenangkan oleh perempuan. Hanya butuh waktu sebentar saja untuk menidurkan Aura. Contoh yang sering ia lihat setiap hari adalah Aura yang bisa tidur lebih cepat jika saat bersama dengan Bu Nisa atau baby sitternya, dan sekarang lihatlah, anak bayi itu sudah nyaman dalam gendongan Baby.


"Lihatlah, saya hebat, kan? Saya baru pertama kali bertemu dengannya. Dan dia udah tertidur pulas dalam gendongan saya," ujar Baby sangat pelan.


"Jangan bangga, namanya juga bayi. Semua orang yang akan menimangnya juga dia akan tidur."

__ADS_1


"Lalu kenapa tadi sama Bapak dia nggak tidur?"


"Belum ngantuk."


"Bapak, kenapa sih galak banget sama saya? Masa cuman perkara dua kali telat datang ke kantor Bapak marah-marah terus sama saya."


"Aku tidak marah, memang gaya bicaraku seperti ini. Kembalikan dia padaku, aku harus pulang."


Cakra mengarahkan kedua tangannya ke depan untuk mengambil Aura dari karyawan kantornya itu.


"Bapak bawa saja itu tas dan strollernya. Saya bantu bawa dia sampai mobil."


Sepertinya ada yang salah dengan Cakra, pria itu tiba-tiba saja menurut dengan ucapan gadis yang selalu membuatnya emosi saat di kantor. Ia meraih tas yang berada di kursi dan mendorong strollernya ke arah parkiran.


"Siapa nama anak Bapak?"


"Aura."


"Nama yang bagus. Apa Bapak tidak pakai baby sitter?"


"Tipe pria idaman."


"Memang iya, aku adalah pria idaman para kaum kalian."


Cakra menjawab pertanyaan demi pertanyaan Baby dengan nada dan wajah datar. Tak apa, Baby sudah merasa senang dengan interaksi seperti ini.


Hening sesaat. Hingga akhirnya sebuah suara yang melengking membuat Baby dan Cakra sedikit terlonjak dari tempatnya. Untunglah Aura tidak sampai kembali menangis karena lengkingan suara dari Bu Nur.


"Astaga Ibu, kenapa harus berteriak? Malu dilihat orang," protes Baby dengan lemah lembut.


Hal itu tentu saja mengundang tanya di kepala Bu Nur. Sejak kapan anak gadisnya ini bisa bicara dengan selembut itu? Mata beliau lalu beralih pada bayi yang terlelap dalam gendongannya dan sosok pria yang bermuka datar di samping Baby.


"Kamu ngapain ada di sini? Ayo pulang!" ajak Bu Nur berusaha menekan jiwa keponya.


"Iya. Aku antar mereka ke mobil sebentar. Udah deket, nanggung."

__ADS_1


Mereka lalu melanjutkan jalan yang tinggal sedikit lagi untuk sampai mobil.


"Terima kasih," ujar Cakra masih dengan ekspresi datarnya. Ada sedikit kegugupan saat Cakra mengambil alih Aura ditangan Baby.


Bisa bilang makasih juga ternyata.


"Iya sama-sama. Saya pulang dulu, ya Pak. Dan maaf, tadi kedatangan Ibu saya sedikit mengagetkan dan membuat tidak nyaman."


"Nggak apa-apa. Ya udah sana, udah ditunggu sama ibunya."


Baby hanya mengangguk seraya tersenyum. Tak lupa ia memberikan sedikit kedipan manja yang ia yakini bisa meluluhlantakkan hati siapapun yang melihat kedipan mautnya.


Mendapat tatapan menusuk dari Cakra membuat gadis itu seketika melipir menjauh dari sana.


Baby kembali pada tempat ibunya yang masih berdiri di tempat yang sama. Ia sempat melupakan sesaat tujuannya ke taman hanya ingin jalan-jalan sebentar seraya menunggu ibunya belanja di supermarket. Tapi yang terjadi justru ia kebablasan. Pasti ibunya tadi menunggu dirinya terlalu lama hingga menyusulnya ke taman.


"Siapa tadi?" tanya Bu Nur begitu Baby sampai di dekatnya.


"Atasan di kantor, Bu. Ngak sengaja ketemu."


"Terus yang kamu gendong?"


"Anaknya. Dia duda, ditinggal istrinya pas melahirkan. Ya udah ayo pulang, mau sampai kapan jadi wartawan."


"Kamu tuh bikin Ibu kesel, ya. Ibu entah dari kapan nungguin kamu di teras supermarket kayak gembel, kamunya malah di sini santai-santai. Memang seharusnya Ibu nggak ngajak kamu. Udah lebih bagus ngajak Bian, kamu sekalinya diajak malah kelayapan," tutur Bu Nur panjang lebar.


"Ya, kan Baby sekarang udah di sini, Bu. Kenapa masih ngedumel aja? Lagian bosen aku nunggu Ibu, ya aku jalan-jalan, eh nggak tahunya ketemu sama jodoh."


"Siapa maksudnya?"


"Yang tadi."


"Baby, kamu kalau cari suami yang sepadan saja sama kita. Jangan cari yang jauh di atas kita, yang ada kira akan diinjak sama mereka."


Bu Nur memberikan sedikit petuah sederhana untuk sang anak gadis. Tapi nampaknya anak gadisnya itu tidak menganggap serius.

__ADS_1


__ADS_2