Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
38. Pamitan


__ADS_3

Jika biasanya Baby berangkat ke kantor dengan wajah yang ceria tidak dengan hari ini. Ia masih malas-malasan di kamar meskipun ia sudah menggunakan baju yang rapi. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Pasti sebentar lagi ponselnya akan ramai oleh pesan dari Mira.


Baru saja dipikirkan, ternyata Mira malah menelepon dirinya. Tapi ia tidak berniat untuk menerima panggilan itu. Ia hanya melihatnya sebentar, lalu beranjak pergi dari kamar, membiarkan ponselnya berteriak meminta perhatian.


"Baby, langsung pulang, ya. Jangan mampir ke mana-mana," pesan Pak Rahmat.


Baby hanya mengagukan kepala seraya memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Akhirnya ia kembali melewati jalan yang setiap hari ia lewati dengan senang hati. Tidak ada yang berbeda dari pemandangan yang ia lihat sekarang, yang berbeda hanya suasana hatinya.


Ayo Baby, ini hanya masalah waktu saja. Kau pasti bisa. Lagian kau ini kenapa? Perkara laki-laki saja kau sampai segininya?


Baby menyemangati dirinya sendiri di tengah gempuran hati yang tersakiti. Menghabiskan perjalanan dengan melamun untunglah tidak membuat Baby celaka. Ia selamat sampai tujuan dengan wajah mendungnya.


Belum sempat Baby sampai di bangunan, ia sudah berpapasan dengan Dandi dan juga Cakra.

__ADS_1


"Loh, kok sudah masuk? Kalau belum sehat bener nggak apa-apa istirahat di rumah dulu. Kamu kelihatan tidak sehat karena matamu yang bengkak," ujar Cakra.


"Saya ke sini cuman mau kasih ini, Pak. Ini surat pengunduran diri saya. Saya minta maaf karena tidak lagi bisa bekerja di sini. Kedua orang tua saya meminta saya untuk resign."


Saking terkejutnya Cakra, ia sampai tidak bersuara. Ia tercengang menyerap kata-kata yang dikeluarkan oleh Baby, menelaah kata demi kata yang ia dengar apakah salah atau tidak?


"Apa? Kenapa, By? Apa alasannya?" Dandi yang bertanya.


"Untuk alasan, aku tidak bisa menjelaskan secara detailnya. Tapi yang jelas Ayah dan Ibu tahu kalau aku masuk rumah sakit karena seseorang dan mereka juga tahu kalau aku membantu Pak Cakra dalam persoalannya. Ayah dan Ibu marah karena menganggap aku bekerja tidak semestinya. Ayah dan Ibu tidak marah padamu, Pak. Mereka hanya kecewa padaku karena sudah merusak kepercayaan mereka."


"Tapi bukankah ini semua bisa dijelaskan dengan baik-baik. Maksudnya tidak harus dengan resign, kan?" Nampaknya Dandi masih berat kehilangan sahabatnya itu. Pasalnya di perusahaan itu hanya Baby satu-satunya orang yang membantu mendekatkan dirinya dengan Mira, gadis berarti dingin yang susah didekati.


"Maafkan Aku, Pak. Aku tidak bisa menentang keinginan kedua orang tuaku. Sebenarnya aku juga nggak mau resign, tapi aku ini, kan masih jadi tanggung jawab kedua orang tuaku. Aku masih butuh restu dan mungkin sampai kapan pun aku akan butuh restu dari mereka. Jika aku bersikeras ingin melanjutkan pekerjaanku di sini tanpa restu mereka, pasti hasilnya juga tidak baik untukku, kan? Bahkan mungkin untuk perusahaan ini juga."

__ADS_1


"Dandi, kenapa jadi kau yang keberatan? Yang menjalani ini Clarissa, kenapa kau jadi yang mengurusnya? Biarkan saja dia mematuhi perintah kedua orang tuanya, jangan mengajarkan dia untuk menjadi durhaka. Ya sudah surat ini aku terima, kamu bisa membereskan barangmu sekarang. Ayo, Dandi kita pergi." Cakra yang sejak tadi hanya diam melamun akhirnya angkat suara dan tak lama kemudian langsung melangkahkan kaki menjauh dari Baby. Dandi dan Baby hanya mampu saling tatap saat ini.


Baby melihat kepergian Cakra dengan ekor matanya, tidak terasa matanya berembun dan hampir menitikkan air mata. Namun, belum sempat cairan bening itu membasahi pipinya, ia sudah lebih dulu menguap matanya sebelum menangis. Tidak mau berlama-lama di tempat menyediakan ini, Baby segera pergi ke dalam kantor dan mengemasi barangnya sekalian berpamitan dengan Mira. Langkahnya terasa berat, namun ia paksa untuk berjalan dengan cepat dan seakan tanpa beban.


"Baby, lo gue telepon dari tadi nggak diangkat-angkat, gue kira lo nggak masuk. Bisa-bisanya udah jam segini lo baru dateng. Lo habis nangis, ya? Kok matanya sembab begitu, sih?" Mira menelengkan kepalanya demi melihat wajah Baby.


Air mata yang sejak tadi Baby tahan akhirnya tidak sanggup untuk ia paksa agar tidak keluar. Ia seketika menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Hal itu tentu saja membuat Mira semakin bingung, bukannya menjawab pertanyaan malah menangis, batin Mira.


"By, Lo kenapa, sih? Ada apa cerita ke gue."


Dengan ditemani isakan Baby menceritakan kejadian kemarin hingga akhirnya ia diminta untuk berhenti bekerja di kantor Cakra oleh kedua orang tuanya.


"Lo yang sabar, ya. Lo nggak kerja di sini bukan berarti lo nggak bisa ketemu sama Pak Cakra. Kalian, kan sekarang sudah dekat. Ya meskipun sering bertengkar, tapi hubungan kalian jauh lebih baik dari sebelumnya. Dunia ini nggak kiamat cuman gara-gara lo berhenti kerja, Baby. Kenapa lo bisa sesedih itu?"

__ADS_1


"Iya gue tahu, gue masih bisa ketemu sama Pal Cakra, dunia ini juga nggak kiamat cuman gara-gara gue nggak kerja di sini. Tapi kesempatan untuk ketemu Pak Cakra jadi sedikit dan bahkan mungkin nggak ada. Gue baper sama gombalan-gombalan gue sendiri. Ya memang gue ngedeketin dia karena ingin masuk ke dalam kehidupannya dan menjadikan gue ini berarti untuk dia. Tapi gue nggak nyangka kalau rasa gue itu sedalam ini. Gue nggak sadar Mira, kalau gue cinta sama dia. Gue kira rasa gue, ya cuman sekedar kagum, akan menjadi sebuah kebanggaan kalau gue bisa menjadi milik dia, tapi ternyata gue salah."


"Jangan ngomong gitu, By. Cinta itu nggak pernah salah. Hati juga nggak pernah salah menautkan hatinya ke hati orang lain. Kita bisa jatuh cinta sama orang, itu memang karena kendali dari hati itu sendiri. Kita nggak bisa mengendalikan perasaan kita biar nggak cinta sama dia, biar gak sayang sama dia, kita nggak bisa atur itu, karena memang itu datangnya dari hati. Mana bisa perasaan diatur-atur? Ayolah Baby, jadi manusia yang gue kenal kayak dulu. Lo berubah banget akhir-akhir ini tahu nggak, lo kenapa, sih? Gue sadar kalau lo berubah itu sejak lo masuk rumah sakit waktu lo sakit tipes. Setelah itu lo sama Pak Cakra menjalankan misi itu, kan? Sekarang gue tanya kenapa lo berubah?"


__ADS_2