Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
39. Menahan Rindu


__ADS_3

"Gue cuman pengen tahu gaimana Pak Cakra nilai gue dari sisi yang lain. Gue mau tahu Pak Cakra suka sama kepribadian gue yang mana? Biar gue juga bisa buat dia nyaman. Gue emang punya dua sisi kepribadian yang beda. Entahlah, gue merasa gue kayak punya kepribadian ganda. Tapi yang pasti, gue jadi diri gue sendiri. Gue nggak akan jadi orang lain biar disukai orang. Gue pecicilan bukan berarti gue nggak bisa dewasa."


"Iya gue tahu. Semua orang pasti punya sisi itu, Baby. Terus rencana lo selanjutnya apa? Gue kehilangan temen lagi, dong di sini."


"Gue akan selalu ada buat lo. Lo nggak aka kehilangan siapa pun. Ya udah gue beres-beres barang dulu. Habis itu gue langsung pulang. Udah di wanti-wanti sama Ayah. Lo kalau ada waktu main ke rumah gue, ya. Jangan acuh banget sama Pak Dandi. Kasihan tahu dia." Baby memberikan petuah seraya mengemasi barangnya yang untungnya tak banyak.


"Ya udah gue pamit, ya. Persahabatan kita nggak akan berakhir hanya karena gue resign. Jaga diri baik-baik, gue juga akan jaga diri gue dengan baik. Kalau ada apa cerita, gue juga akan melakukan hal yang sama. Bye." Baby segera pergi dari sana. Setiap kalimat yang ia ucapkan berirama bahagia dan biasa saja, tapi dalam hatinya begitu sedih dan menahan air mata.


Yang benar saja, begitu ia berjalan keluar gedung, air matanya luruh begitu saja. Tak lagi mampu menahan banjirnya cairan bening yang sejak tadi berdesakan ingin segera dikeluarkan.


***


Sepanjang perjalanan Cakra hanya diam memandang ke arah luar jendela. Ia tidak tahu kenapa hatinya begitu murung dan tidak mood melakukan sesuatu. Ia sejak tadi hanya melamun tanpa bicara apa pun.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Pak? Apa kau sedih dengan keputusan Baby yang keluar dari kantor?"


"Nggak tahu, aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku. Kenapa pikiranku tidak lepas dari Clarissa sejak dia tenggelam di kolam. Aku terus memikirkannya tanpa sebab yang jelas."


"Itu sih namanya jatuh cinta, Pak."

__ADS_1


"Jangan konyol Dandi! Masa iya aku jatuh cinta sama dia? Nggak mungkin Ah, mungkin aku hanya merasa bersalah saja, hanya itu yang aku pikirkan."


"Merasa bersalah yang bagaimana? Kan Bapak juga lihat kalau Baby sudah sehat. Apalagi yang membuat kau merasa bersalah?"


Merasa tidak bisa menjawab, Cakra memilih untuk diam. Ia merenung berusaha untuk memahami apa yang ia rasakan.


Dan sejak hari itu ia menghabiskan waktu dengan diam. Ia tidak lagi banyak bicara, bahkan amarah yang biasanya ia perlihatkan di kantor pun sekarang sudah jarang ia perlihatkan. Dan hal itu berlangsung selama satu bulan setelah Baby keluar dari kantor bahkan kehidupannya.


Ya, semenjak Baby resign, hubungan mereka juga tidak terjalin kembali. Baby yang tidak pernah menghubungi dirinya dan dirinya juga enggan untuk menghubungi lebih dulu. Ia merasa gengsi jika harus menghubunginya dahulu tanpa ada kepentingan.


Namun, selama satu bulan itu jangan tanyakan bagaimana keadaan Cakra. Ia merindukan Baby, merindukan sosok gadis yang biasa mengganggunya setiap pagi. Ia sekarang sadar, lebih baik diganggu daripada kehidupannya datar seperti ini. Iya, Cakra akui, ia merindukan Baby. Ia ingin melihat wajahnya, namun rasa gengsi yang masih melangit membuat ia memilih untuk menahan rasa itu.


Sementara itu, gadis yang dipikirkan Cakra juga melanjutkan hidupnya dengan hampa. Sejak mengundurkan diri dari perusahaan Cakra, ketika ponsel berdering ia selalu berharap bahwa itu dari pria yang pernah menjadi kekasih palsunya. Harapan yang selalu ia pupuk setiap hari membuatnya sakit hati, hingga akhirnya ia berusaha untuk melupakan Cakra dalam kehidupannya. Ia mulai belajar membiasakan diri untuk terbiasa tanpa Cakra. Bukankah sebelum bekerja ia juga hidup tanpa Cakra?


Baby saat ini juga sedang sibuk dengan pekerjaan barunya, ia sudah bekerja selama beberapa minggu ini di sebuah cafe bernuansa anak muda. Beruntungnya ia mendapatkan teman yang baik, sehingga ia bisa melupakan sejenak permasalahan percintaannya. Meskipun terkadang di saat sendirian ia kembali teringat.


"Lo belum di jemput?" tanya salah seorang teman Baby.


"Belum, tapi udah gue WA kok, mungkin masih di jalan. Lo duluan aja nggak apa-apa."

__ADS_1


Teman Baby akhirnya kembali pulang lebih dulu setelah mendengar ucapan Baby itu. Ia menunggu di depan Cafe seorang diri. Tidak biasanya ayahnya atau adiknya menjemputnya telat seperti ini.


Satu menit dua menit tiga menit Baby menunggu, namun tak kunjung ada motor yang berhenti di depannya. Ia mulai tidak tenang karena hari sudah semakin malam. Sejak tadi ia celingukan ke kanan dan ke kiri, ia hanya takut jika ada yang berniat jahat padanya. Meskipun jalan masih nampak ramai tetap saja ia seorang perempuan dan tidak bisa melakukan bela diri.


Baby mulai mondar-mandir ke kiri dan ke kanan setelah menunggu sepuluh menit lamanya. Ia tidak bisa menghubungi siapa pun karena ponselnya juga sudah mati karena kehabisan baterai. Bukan Baby namanya jika dalam hati ia tidak merutuki siapa pun yang seharusnya menjemputnya.


"Sialan! Kalau memang gak ada yang jemput kenapa nggak ada yang bilang? Sampai kapan gue harus nunggu di sini? Mana nggak ada taksi lagi," gerutu Baby kesal.


Tidak lama setelah ia menggerutu, tiba-tiba berhenti dua orang pria yang berbadan besar memakai helm tertutup tepat di depan tempatnya berdiri. Tentu saja Baby was-was dan mundur beberapa langkah ke belakang dengan cepat. Tanpa aba-aba atau mengucapkan apa pun, salah satu pria turun dari motor dan merebut tasnya.


Baby berusaha untuk mempertahankan tasnya dengan berteriak minta tolong. Merasa teriakannya percuma, ia menendang pria itu dengan sekencang-kencangnya. Ia berlari secepat kilat begitu pria itu terjungkal ke trotoar. Namun, pria itu masih bisa bangkit dan mengejarnya. Menyadari hal itu Baby melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah pria itu. Ia masih berusaha berlari secepat mungkin, hingga akhirnya ia hampir tertabrak oleh mobil.


Baby nekat mendekati mobil itu untuk ia minta tolong.


"Pak, Mbak, Ibu tolong siapapun tolong saya. Saya dikejar orang jahat," ujar Baby seraya menangis.


Sang supir pun keluar dan tidak disangka pemilik mobil itu adalah Dandi. Sungguh keajaiban yang luar biasa menurut Baby.


"Dandi tolong aku, Dan, aku dikejar sama orang jahat."

__ADS_1


"Ya udah masuk. Dududuk belakang!" Dandi membuka pintu belakang dengan segera. Baby pun masuk mobil dengan secepat kilat. Jantungnya terasa berhenti berdetak ketika ia berhasil mendudukkan dirinya di mobil.


__ADS_2