
"Jaga bicaramu. Aku tidak pernah mengizinkan siapapun memanggilku seperti itu!"
"Ayolah! Di sini kita hanya berdua, tidak ada siapapun. Nggak perlu malu." Luna duduk di meja kerja Cakra dan menghadap pria itu, jarak tubuh mereka begitu dekat.
Wanita itu semakin tidak ada harga dirinya di mata Cakra. Urat malu yang entah sejak kapan terputus itu sangat mengganggu keseharian Cakra. Ia memikirkan bagaimana jika omanya mengetahui kelakuan wanita yang akan dijodohkan dengannya, mungkin saja wanita tua itu bisa berubah pikiran.
"Luna, yang aku tahu kau adalah wanita berpendidikan. Jam terbangmu soal pendidikan jauh lebih tinggi daripada aku, tapi kenapa aku tak melihat sopan santunmu sama sekali? Tidakkah kau tahu ini di mana? Apakah aku harus menjelaskan kita sedang di mana?" Nada bicara Cakra masih terlihat pelan meskipun penuh dengan penekanan. Ia masih menekan amarahnya agar tak meluap sekarang.
"Iya aku tahu ini di kantor, tapi kita hanya berdua, lagi pula kita ini akan menikah nanti. Jangan terlalu kaku lah Cakra."
"Memang siapa yang mengatakan bahwa aku akan menikah denganmu? Itu adalah pembicaraan antara keluargaku dan juga keluargamu, tidak dengan diriku. Jadi jangan menyebarkan apapun atau bicara kepada siapapun bahwa kita akan menikah. Karena aku tidak akan pernah mau dan aku juga tidak pernah mengatakan itu padamu. Jangan buat dirimu sendiri malu."
Tak mau berurusan lebih lama lagi dengan Luna, pria itu mengemasi berkasnya dan berjalan menuju ruangan asistennya. Luna dengan segera turun dari meja. Namun sialnya, saat kakinya menapakan lantai ia berdiri dengan tidak seimbang, sehingga membuatnya terjatuh dan membentur kursi yang ada di depannya.
Cakra sempat menatapnya sekejap, namun di detik berikutnya ia acuh dan meneruskan langkah keluar ruangan.
Luna menghentakan kakinya kesal. Dahinya sedikit memar, namun sama sekali tidak diperhatikan oleh pria yang sudah mengambil hatinya.
"Ah sial! Apa salahku? Kenapa Cakra sangat tidak suka dengan kehadiranku? Kenapa dia tidak pernah menganggap aku ada. Dan juga karyawan baru itu masih ada di sini, itu artinya Cakra belum memecatnya. Apa Oma Ning belum menyampaikan apa yang aku minta?" gerutu Luna keluar ruangan.
Luna tidak tahu ke mana perginya Cakra. Akhirnya ia putuskan untuk kembali pulang seraya mengelus-elus dahinya yang memar. Dan sialnya luka itu ternyata tidak luput dari penglihatan Baby. Dengan sedikit sembunyi-sembunyi ia menganga melihat memar di dahi wanita yang kemarin menghinanya.
"Ya ampun, dahinya memar. Jangan-jangan wanita itu pergi ke ruangan Pak Cakra dan mood Pak Cakra masih buruk, lalu Pak Cakra melakukan kekerasan pada wanita itu." Baby bergidik ngeri ketika membayangkan hal itu benar-benar terjadi.
__ADS_1
Mira melewati meja Baby saat gadis itu membayangkan kekerasan yang dilakukan oleh Cakra.
"Kenapa lo? Kesurupan?" Entah sebuah pertanyaan atau hinaan yang dilemparkan Mira itu.
"Gue tadi lihat si Luna jalan lewat sini, nggak tahu habis dari mana, tapi yang jelas mungkin saja habis dari ruangan Pak Cakra. Luna dahinya memar tahu, jangan-jangan Pak Cakra sudah melakukan kekerasan sama perempuan itu. Mood dia, kan masih buruk." Baby menjelaskan seraya sesekali melirik kopi yang berada di tangan Mira.
Mira menepuk jidatnya sendiri, lalu tangannya tergerak untuk usil menoyor kening teman barunya itu. Sungguh konyol sekali pikiran Baby, pikir Mira.
"Selama enam bulan gue kerja di sini, semarah-marahnya Pak Cakra sama orang atau seburuk-buruknya mood-nya, dia nggak pernah melakukan kekerasan sama karyawannya ataupun sama orang lain. Lo tanya noh sama senior-senior kita."
"Pak Cakra kelihatannya masih muda. Emang berapa tahun sih dia jadi CEO di sini?"
"Dari usianya dua puluh tahun. Tapi, dulu itu fokusnya masih di kuliah, jadi ke sini nggak tiap hari kayak sekarang. Lo cari di internet kalau mau tahu banyak soal Pak Cakra, biar nggak nanya gue mulu, lo pikir gue emaknya?"
"Mau buat minum, Mbak?" tanya petugas pantry.
"Iya, aku mau minum kayak Mira tadi, dia minum apa, ya? Mau juga aku kayak gitu. Kamu tahu nggak?"
"Akan aku buatkan kalau mau, Mbak. Aku antar ini dulu ke ruangan Pak Cakra."
Mendengar Nama crushnya disebut, ide cemerlang langsung muncul di kepala Baby. Ia merebut nampan yang berisi secangkir kopi yang entah kopi apa, Baby tak paham.
"Biar aku saja yang antar, Mbak buatkan kopi untukku juga. Sama seperti punya Mira tadi. Oke."
__ADS_1
Petugas pantry itu sudah hampir meraih lengan Baby untuk mencegah gadis itu agar tidak mengantar minuman yang seharusnya bukan tugasnya. Namun sayangnya, Baby terlalu gesit untuk ia tangkap. Ia hanya khawatir jika dirinya mendapatkan amukan dari Cakra, karena menyuruh orang lain untuk melakukan tugasnya.
"Ah kenapa aku khawatir? Ada CCTV di sini, nanti kalau aku dimarahin, aku tunjukin cctv-nya kalau bukan aku yang menyuruh perempuan itu, tapi dirinya sendiri yang mau."
Baby Sudah beberapa kali mengetuk pintu atasannya itu, tapi tak kunjung ada yang menyahut. Ia ingin masuk ke ruangannya, tapi takut jika ada Cakra di dalam, atau memergoki dirinya yang lancang masuk ruangan atasannya.
Sedang berada dalam ambang kebingungan, datanglah orang yang membuat dirinya bingung.
"Ada urusan apa kau berdiri di depan ruanganku?" tanya Cakra dengan nada yang tidak ada ramah-ramahnya.
"Aku mengantar ini. Jadi, tadi petugas pantry membuatkan aku minuman, karena aku merasa harus sekali, Benar-benar haus akan air dan juga kasih sayang dari seseorang. Karena aku ingin segera minum, jadi aku yang menggantikan tugasnya mengantar ini. Kalau aku menunggunya mengantar ini, pasti akan terasa lama. Kalau aku pingsan lagi bagaimana?"
Cakra hanya memejamkan mata mendengar ocehan Baby yang begitu panjang. Ia hanya bertanya ada urusan apa, malah dijawab dengan melantur ke mana-mana. Untunglah mood Cakra sudah sedikit membaik setelah dari ruangan Dandi. Jika tidak, mungkin saja Baby sudah mendengar amarah pria itu lagi.
Cakra hendak mengambil cangkir yang berada di nampan, tapi dengan cepat Baby menghindarkan benda itu menjauh dari tangan Cakra.
"Akan aku bawakan sampai ke dalam. Rasanya tidak pantas jika seorang CEO membawa secangkir kopinya sendiri ke meja. Silakan masuk lebih dulu, Pak."
Entah apa yang salah dengan Cakra, dengan mudahnya pria itu menuruti apa yang diucapkan oleh Baby. Dengan menghela nafas berat, pria itu membuka pintu ruangan dan duduk di sofa panjang yang tersedia di sana.
"Saya taruh di mana, Pak? Di meja ini atau yang sana? Atau mau saya taruh di hati Bapak aja?" Baby mengatupkan mulut setelah mengucapkan itu.
Entah berapa kali Cakra melakukan hal yang sama. memejamkan mata dan menghela nafas panjang dan dalam seakan ia sedang menekan emosi yang bergejolak.
__ADS_1
"Letakkan di sini saja!" jawab Cakra menunjuk meja di depannya.