
Di tengah menunggu pesanan datang. Cakra yang baru saja meraih ponselnya dari saku tiba-tiba bergetar dalam satu waktu. Ia melihat siapa orang yang mengirimnya pesan
Cla?
[Maaf, aku baru baca pesanmu. Apa kau mengirim pesan hanya untuk menceritakan kalau kau akan bertunangan dengan Luna. Selamat, ya! Aku ikut senang]
[Akan aku jelaskan nanti. Jangan salah paham]
[Siapa yang salah paham? Dan untuk apa Bapak jelaskan? Memang kita ada hubungan apa?]
Cakra refleks menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membaca pesan dari Baby membuat ia sadar untuk apa ia panik jika Baby tahu ia akan bertunangan dengan Luna? Sungguh ia merasa bodoh karena sempat panik dan khawatir soal pertunangannya ini.
Dalam hati kecil Cakra entah kenapa ingin sekali rasanya ia menjelaskan duduk perkaranya pada Baby. Ia tak tahu apa yang membuatnya tidak ingin jika Baby salah paham.
Cakra mendongak ke arah barista. Tidak ada Baby di sana. Padahal dari tadi sebelum ia berkirim pesan gadis itu masih berdiri di tempat. Cakra semakin tidak tenang. Ingin sekali ia rasanya bisa pulang dengan segera lalu menghubungi Baby. Ia tak tahu apa yang membuatnua seperti ini. Ia tak peduli alasan dan penyebabnya, yang ia inginkan saat ini hanya ingin memberitahu Baby yang sebenarnya.
"Luna, ayo kita pulang. Aku cape."
Luna hanya menurut saja. Sebenarnya ia ingin lebih lama dengan Cakra, namun rasanya ia juga lelah dan butuh istirahat.
***
Masih di tempat yang sama, namun ruangan berbeda. Seorang gadis sedang berasa di sudut ruangan barista. Tentu saja ia sedang patah hati. Mendengarkan Cakra dan Luna yang akan tunangan entah kapan, membuat hati Bany merasa sakit seketika.
Baby sudah sangat berusaha untuk tidak memikirkannya, tapi rasanya hati dan logikanya sedang kompak untuk tidak menghancurkannya. Ia ingin tidak percaya dengan apa yang diucapkan Luna. Tapi jika melihat mereka berduaan entah dari mana membuat Baby terpaksa memercayai ucapan Luna.
Dan kesedihan itu, tidak berlangsung pagi itu saja. Sepanjang hari ia habiskan dengan bekerja dan menikmati patah hatinya.
Di sore hari, jam istirahat Baby telah tiba. Ia memutuskan untuk merebahkan dirinnya di ruang istirahat yang tersedia kasur dan bantal di sana. Meletakkan kepalanya di bantal dan bermain dengan ponselnya.
Tak berselang lama setelah itu ada pesan masuk dari Cakra.
__ADS_1
[Kok bisa online? Lagi longgar, ya?]
Baby tak mau menjawab. Ia memilih untuk mengabaikannya saja. Ia memutuskan untuk meletakkan ponselnya dan berusaha untuk tidur di waktu istirahat yang hanya dua jam. Lebih tepatnya memaksa untuk tidur.
Banyak menit yang Baby habiskan hanya untuk berganti-ganti posisi, namun matanya tak kunjung terpejam. Seakan kedua bola matanya ada sesuatu yang mengganjal.
Sedang sibuk dengan dunianya sendiri, ponsel Baby kembali berdering. Nama kontak uang ia beri nama Cakra rupanya yang sedang menghubunginya. Dengan malas ia segera menggeser tombol hijau agar pria itu tak lagi mengganggunya.
"Cla, bisa nanti pulang kerja kita ketemu? Atau jika itu terlalu malam kapan kamu libur? Kita buat atur jadwal untuk ketemu."
"Mau apa?"
"Aku mau jelaskan apa yang kamu dengar tadi, yang kamu dengar itu nggak seluruhnya benar."
"Kenapa Bapak harus menjelaskannya pada saya? Bapak mau bertunangan dengan siapapun adalah hal Bapak. Tidak ada urusannya dengan saya."
"Aku mohon Cla, aku nggak tahu apa yang membuat aku begitu tidak tenang ketika kamu salah paham begini."
"Gimana? Bisa kita ketemu?" tanya Cakra lagi.
"Kok kamu jadi maksa?"
"Nggak bermaksud maksa. Aku cuman.."
Tut tut
Baby memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia lalu menonaktifkan ponselnya. Sengaja ia melakukan itu, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Cakra jika ia hilang kabar seperti ini. Ini juga cara satu-satunya untuk mengetahui sepenting apa dirinya di mata Cakra.
Dan nyatanya cara itu ampuh untuk membuktikan apa yang Baby ingin ketahui. Entah tahu dari mana hari libur Baby, pria itu tak ada angin, hujan, badai, tiba-tiba datang ke rumah Baby. Untunglah saat itu Baby sedang berada di teras. ia bergegas mendatangi Cakra yang masih berjalan di halaman dan menghadang jalan pria itu.
"Aduh, Bapak ngapain di sini? Mau apa?" tanya Baby dengan panik seraya sesekali menengok ke arah pintu rumah. Seakan ada sesuatu yang ha khawatirkan.
__ADS_1
"Kamu nggak ada kabar. Aku, kan mau ngomong sama kamu. Kenapa, sih? Kok kayak panik gitu? Ada ala?"
Baby segera memutar tubuh Cakra dan mendorongnya kembali ke jalanan. Dan anehnya Cakra hanya hanya menurut saja, meskipun ia bingung kenapa Baby melakukan ini.
Setelah mereka berada di luar pagar, mereka saling tatap dalam keheningan.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini?"
"Ada Ibu di dalam."
"Ya terus kenapa? Aku cuman mau bertamu, nggak mau maling."
"Iya tahu, Bapak mau apa ke sini?"
"Kok masih tanya. Aku mau jelasin perkara tempo hari itu."
"Ya udah, kita ketemu di taman depan. Bapak tunggu saya di sana. Saya akan segera menyusul. Saya izin Ibu dulu."
"Kalau begitu kita keluar bareng, biar aku yang izin."
Cakra kembali masuk ke halaman. Namun baru beberapa langkah, tangan pria itu sudah dicekal oleh Baby. Cakra dibuat semakin bingung. Kenapa kesannya ia tak bileh bertemu dengan ibunya. Bukankah selama ini merw6tak ada masalah apa pun? Tak pernah terlibat pertengkaran, jangankan pertengkaran, mereka saja baru satu kali bertemu saat Baby masuk rumah sakit beberapa bulan lalu.
"Jangan, Pak. Kalah Bapak nggak mau ikuti cara saya, silakan meninggalkan rumah saya."
"Ya udah, aku tunggu di taman. Jangan lama-lama."
Akhirnya Cakra kembalu berlalu dari sana. Hembusan nafas lega akhirnya terdengar dari mulut Baby.
Bukan apa-apa, sejak kejadian Baby masuk rumah sakit karena tenggelam, Bu Nur yang tidak hanya meminta Baby untuk keluar dari kantor Cakra, tetapi juga menjauhi pria yang statusnya menjadi mantan atasannya itu. Alasannya masih sama, beliau merasa bahwa keluarganya dan juga Cakra tidak sepadan. Masih ada kekhawatiran dan ketakutan jika harga dirinya diinjak-injak oleh mereka yang beruang.
Setelah mobil Cakra berlalu, ia segera masuk rumah dan mengatakan pada ibunya akan pergi ke suatu tempat. Tentu saja ia tidak jujur soal ke mana perginya dan dengan siapa. Karena itu hanya akan mempersulit dirinya sendiri.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama bagi Baby untuk segera meluncur ke taman yang tak jauh dari rumahnya. Hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar tiga menit saja Baby sudah sampai di taman.