Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
29. Mengadu


__ADS_3

"Tidak ada yang tahu kejadian itu, diam! Aku tidak mau ada orang yang mendengar." Cakra menurunkan tangannya di mulut Baby.


"Ya sudah kalau begitu jangan protes dengan apa yang saya lakukan. Yang penting, kan apa yang saya lakukan bisa membuat Luna pergi dari sini."


Mendengar ucapan Baby membuat Cakra membenarkan apa yang ia katakan. Ia juga baru menyadari bahwa Baby memiliki sisi lain yang mungkin saja tidak semua orang melihatnya.


"gomong-ngomong, keberanianmu patut aku acungi jempol. Lumayanlah, jadi aku nggak perlu bersusah payah mengeluarkan tenaga untuk mengusir dia."


"Tidak semua orang beruntung melihat sisi lain dari diriku, bersyukurlah!"


"Nggak udah besar kepala. Semua orang di sini juga akan sama sepertimu jika punya keberanian."


"Ya sayangnya mereka nggak punya apa yang aku punya."


"Ya, mereka setidaknya normal dari pada dirimu."


Baby hanya memutar bola matanya malas. Tapi tak apa, setidaknya ia bisa mendapatkan kecupan singkat meskipun ia yang memberikan. Ah seandainya saja ia bisa membuat bibirnya itu tak terkena air, mungkin ia akan melaikukannya.


***


Selesai dari kantor Cakra, Luna tak langsung pulang, ia lebih memilih ke rumah Oma Ning untuk mengadukan semua yang baru saja ia lihat.


Sebelum turun dari mobil, Luna membuat drama terlebih dahulu. Menyiapkan wajah sedih dan juga air mata palsu yang sudah ia buat.

__ADS_1


Cukup lama membuka pintu utama terbuka. Entah kemana perginya orang-orang yang bekerja di rumah Cakra, ia sedikit kesal karena menunggu lebih dari satu menit.


"Luna, ayo masuk!" ajak Bu Nisa yang belum menyadari kesedihan yang dibuat Luna.


"Tumben kamu ke sini nggak ngasih kabar dulu. Di jam kerja lagi, kan nggak bisa ketemu Cakra."


Hanya basa basi semata. Bu Nisa bukanlah Oma Ning yang memaksakan kehendaknya. Sepenuhnya keputusan beliau serahkan pada Cakra, karena ia yang menjalani kehidupannya sendiri.


"Aku tadi habis dari kantor Cakra, Tante tahu apa yang terjadi? Cakra malah pacaran sama karyawan yang pernah ngatain aku. Tante, tanggal pernikahan aku sama dia, kan sudah ditentukan. Bagaimana bisa dia seperti itu? Tante harus buat mereka putus," adu Luna seraya terisak. Tentu saja dibuat-buat.


"Ini, kan masalah kalian. Tante sebagai orang tua hanya bisa menasehati, nggak bisa Tante kalau harus nyuruh ini itu. Kita nggak bisa mengendalikan kehidupan orang lain Luna. Tapi, nanti akan Tante coba untuk kasih tahu, ya. Kamu sabar, jangan terlalu dipikirkan. Semua akan baik-baik saja."


"Tante, kenapa perempuan itu masih bekerja di situ? Kenapa nggak di pecat? Oma bilang akan membuat dia nggak bekerja di sana. Tapi nyatanya sampei sekarang masih di sana dan semalin kurang ajar. Dia berani mencium Cakra di depanku."


"Oma." Luna memekik kegirangan.


Sementara Bu Nisa hanya menghela nafas panjang dan dalam. Berita yang dibuat Luna sampai di telinga Oma Ning dan itu tidak akan baik untuk Cakra.


"Siapa yang kamu ceritakan tadi?"


"Baby, karyawan yang pernah hina aku. Dia sekarang malah pacaran sama Cakra. Tadi dia cium Cakra di depan aku, Oma."


"Keterlaluan. Nisa! Apa ini alasan Cakra kabur malam itu?"

__ADS_1


"Maaf, Bu. Tapi juga nggak tahu, Ibu sendiri juga lihat bagaimana reaksi saya ketika mendapati Cakra tidak di rumah saat ada pembahasan penting. Kita sama-sama ngga tahu."


"Kamu ini Ibu macam apa? Kenapa apa-apa tidak tahu atau jangan-jangan kamu malah bekerja sama dengan Cakra untuk membuat pernikahan ini tidak pernah terjadi!" tuduh Oma Ning.


"Untuk apa saya melakukan itu? Cakra punya kehidupan sendiri yang tidak perlu diatur kanan kiri."


"Kamu punya anak satu saja tidak becus untuk mendidiknya menjadi anak yang baik. Luna Ayo kita ke kantor Cakra. Oma ingin tahu bagaimana wajah karyawan baru itu secantik dan sekaya apa dia berani mendekati Cakra."


Mendengar itu tentu saja membuat Luna bersorak senang. Dengan semangat empat lima ia berdiri dan menggandeng Oma Ning untuk segera ikut ke mobil.


"Ibu, sepertinya bukan pilihan yang bagus ketika membicarakan masalah pribadi di kantor. Alangkah lebih baik jika kita menunggu Cakra pulang saja. Kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin tanpa emosi."


"Kantor yang aku urus sekarang adalah kantor yang susah payah dibuat oleh suamiku. Dia hanya meneruskan, memang siapa yang berani melarang ku untuk datang ke kantor suami itu sendiri yang sekarang di urus Cakra?"


"Tidak ada yang melarang, tapi sebagai manusia yang berpendidikan kita harus etika yang bagus. Rasanya tidak pantas jika membahas masalah keluarga di jamm kerja seperti ini. Itu akan mengganggu Cakra dan aktivitas-aktivitasnya. Kita bisa tunggu Cakra sampai pulang lalu dibahas bersama di rumah."


Oma Ning nampak diam memikirkan ucapan dari menantunya. Setelan dipikir-pikir, apa yang diucapkan wanita itu ada benarnya. Datang ke sana dan menanyakan soal insiden yang dilihat Luna nampaknya bukan pilihan yang tepat.


Luna memasang wajah ketar-ketir ketika nampak wajah Oma yang lebih memilih untuk menuruti ucapan menantunya.


"Apa yang dikatakan Tante Nisa benar, Luna. Kamu bisa datang ke sini nanti pukul lima sore,kita akan bicarakan ini bersama-sama."


"Iya Luna, akan sangat percuma jika kamu ke sana sekarang, Cakra akan marah-marah."

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain, dengan sangat terpaksa Luna mengikuti saran dari kedua wanita terdekat Cakra. Akhirnya ia pulang dengan harapan hampa.


__ADS_2