
Baby duduk dengan elegan dan bersikap santai saja seakan tak terjadi apa-apa. Padahal saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian para staf yang berada di kelilingnya.
"Gila! Pesona Baby Clarissa nggak ada duanya. Keberanian dari mana lo bisa melawan Nona Luna?" ujar Mira yang terkesima dengan keberanian teman barunya itu.
"Gue emang nggak pernah takut sama siapa aja, Mira. Kita sama-sama manusia, lagipula tadi lo denger sendiri kalau dia ngatain gue kayak sampah, nggak ada orang yang terima kalau dikatain sampah. Gue kenal aja enggak kok, dia udah ngatain kayak gitu."
"Gila! Gue salut sama lo, nggak nyesel gue temenan sama lo."
"Udah jangan banyak ngomong, kerja lagi sana!"
Mendadak mood Baby sedikit berantakan karena pertengkaran yang baru saja terjadi. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya ia dihina oleh seseorang yang bahkan tidak ia jumpai sebelumnya. Baby memejamkan mata dan mengatur nafasnya berkali-kali untuk mengembalikan mood-nya agar ia bisa bekerja dengan baik.
Di dalam bangunan yang sama, namun ruangan berbeda nampak dua orang manusia sedang membicarakan satu wanita. Dandi yang seharusnya membicarakan meeting hari ini, justru ia menceritakan apa yang ia lihat.
"Kau yakin Luna sudah pergi dari sini? Kalau gitu kita meeting sekarang, aku tidak mau terlambat. Kau bicarakan saja beritamu itu nanti di mobil."
Seperti biasa, dengan penuh kewibawaan dan juga ketegasan, Cakra melangkahkan kaki dengan langkah lebar untuk meeting di luar kantor. Lalu lalang kedua pria tertampan di kantor itu selalu menjadi pusat perhatian oleh para staf, terutama kaum betina.
Para kaum hawa di kantor mengagumi Cakra secara fisik maupun kepribadian, karena meskipun ia nampak dingin, semua orang tahu bahwa Cakra adalah pimpinan yang baik.
Saat sampai di barisan staf, Cakra melirik meja di mana baby duduk. Gadis itu nampak menuliskan sesuatu di kertas dengan memegang keningnya. Cakra memperhatikannya sedikit lama, namun di detik berikutnya ia kembali acuh.
"Pak, Bapak harus melihat apa yang saya lihat, Bapak pasti tidak akan percaya dengan rekaman ini. Saya yang nonton live aja rasanya tidak percaya kalau ada manusia yang bisa melawan Nona Luna." Dandi membuka pembicaraan dengan menggebu seraya fokus pada mobil yang ia lajukan.
"Melawan Luna? Kau yakin, mana coba aku lihat!"
Dandi menyerahkan ponselnya. Lalu Cakra melihat video yang terputar, nampak kedua perempuan yang tadi ia tinggal sedang bersitegang. Cakra sangat fokus pada benda pipih di tangannya. Seakan ia tak mau melewatkan momen yang tak pernah ia lihat.
Video usai. Tersungging senyum yang sangat tipis terbit dari bibir menggodanya.
"Luna memang pantas di perlakuan seperti ini," ujar Cakra mengembalikan ponsel Dandi.
__ADS_1
"Menurut Bapak bagaimana? Baby terlalu berani dan ajaib sekali, kan Pak? Dia sangat langka," puji Dandi.
"Kau suka padanya? Gadis gesrek yang entah bagaimana ceritanya bisa nyasar ke perusahaan ternama. Berisik sekali gadis itu," tukas Cakra kesal jika mengingat kedipan mata yang ia lihat kemarin.
"Saya memuji bukan berarti saya suka, Pak. Saya hanya bicara fakta bahwa Baby itu langka, ya meskipun dia memang berbeda dari perempuan kebanyakan."
Dia bukan beda, tapi dia gila.
***
Akhirnya waktu yang ditunggu Baby sejak tadi tiba. Apalagi jika bukan waktu makan siang. Ia selalu membawa bekal ke kantor, bukan karena tak punya uang, tapi ia merasa lebih hemat dan terjaga kesehatannya jika membawa makanan dari rumah.
Seperti kemarin, gadis itu selalu digiring Mira untuk ke kantin. Mereka makan berdua di meja yang sama.
"Mir, lo nggak punya temen apa di sini? Perasaan dari kemarin lo merepet ke gue mulu, deh."
"Bukan mggak ada temen, kedua temen baik gue pergi ninggalin gue semua. Mereka sama-sama ke surga barengan karena kecelakaan. Baru bulan kemarin, emang gue sengaja nggak dekat sama siapapun setelah itu. Masih berduka aja. Tapi begitu ketemu sama lo, kayaknya kita se frekuensi dan lo juga sendirian di sini, makanya gue samperin lo waktu di ruang kesehatan."
"Entah dia yang halu atau gimana, dia memang semenjak istrinya Pak Cakra meninggal dia merepet terus ke Pak Cakra, padahal almarhumah istrinya itu adiknya sendiri. Belum juga genap empat bulan meninggal, tapi mau digaet terus itu adik iparnya."
Baby berhenti mengunyah seketika. Ia terkejut dengan status Cakra yang ternyata seorang duda.
"Jadi maksud lo, Pak Cakra itu duda?"
"Iya, udah anak bayi satu masih tiga bulan. Lo ngelamar kerja nggak cari tahu dulu apa gimana sih? Orang ngelamar kerja cari tahu soal perusahaan dan pemiliknya, heran gue, lo asal masuk pasti."
"Masuk, mah masuk aja ngapain pakai cari tahu. Kalau mau masuk itu harusnya pakai pemanasan bukan cari tahu."
"Apa, sih nggak nyambung."
Baby hanya terkekeh melihat Mira yang nampak kesal karena ucapannya.
__ADS_1
"Tapi gue denger mereka dijodohin, sih. Tapi kalau gue lihat dari cara Pak Cakra memperlakukan Luna, kayaknya nggak mau Pak Cakra nya. Tapi nggak tahu juga, ya. Itu asumsi gue aja. Lo masih ada kesempatan kali aja mau jadi ibu dari anaknya."
"Trabas! Gue mah jadi apa aja mau kalau sama dia. Jadi pembantu juga nggak apa-apa kalau gue."
"Lo suka beneran sama Pak Cakra. Udah gila lo, nggak sadar diri banget lo jadi orang!"
"Suka doang, lo juga suka pasti. Mana ada betina yang nolak dengan pesona dia. Nenek lampir aja takut arjunanya kepincut sama gue. Harus gue kerjain kayaknya dia."
Baby mengucapkan kalimat itu dengan licik. Tak ada yang suka dan terima begitu saja jika ada orang yang menghina harga dirinya.
Hati Baby masih sakit ia dikatai sampah oleh wanita yang bernama Luna tadi.
"Harus, kau memang harus ngerjain dia biar nggak sering-sering ke sini. Paling nggak aku bisa aman dari pelampiasan Pak Cakra."
Entah sejak kapan Dandi berada di kantin yang dipenuhi oleh manusia itu. Pria itu duduk bergabung dengan membawa sepiring makan siang di tangan kanannya.
Dandi memang sudah biasa duduk bersama dengan para staf. Baginya semua saja, meski ia berkedudukan cukup tinggi di perusahaan itu, ia tidak mau membatasi diri soal pergaulan di mana pun. Ia juga tak malu dengan jika harus bergaul dengan mereka. Dandi memang kebalikan dari Cakra saat di kantor.
"Eh Pak Dandi. Makannya nggak sama Pak Cakra, Pak?" Baby bertanya setelah menenggak es teh manis di depannya. Ia sedikit terkejut ketika tiba-tiba Dandi ikut nimbrung di mejanya.
"Enggak, memang asisten sama bos harus bareng-bareng terus gitu?"
"Ya nggak, si. Yang harus bareng terus itu sepasang suami istri. Duh, enak kali, ya kalau punya suami. Ah aku jadi ingat suamiku."
Dandi dan Mira sama-sama menyemburkan makanan yang sempat masuk ke dalam mulut.
"Lo udah nikah?" tanya Mira terkejut.
"Udah, gue nikah diem-diem sama Oppa Nchim."
"Hahahaha." Dandi dan Mira kompak tertawa dengan lebar.
__ADS_1