
Dan ketika hari Senin itu tiba Cakra benar-benar menepati ucapannya. Ia berkunjung ke rumah Baby dengan balasan baru saja meeting dan melewati jalan raya depan rumahnya. Sehingga pria itu memutuskan untuk mampir, itulah alasan yang ia gunakan ketika Bu Nur bertanya.
"Lalu ada kepentingan apa ke sini?"
"Hanya mampir, sudah lama saya tidak bertemu dengan..."
"Baby sedang bekerja," potong Bu Nur dengan cepat seakan beliau mengerti kata apa yang akan keluar dari mulut Cakra selanjutnya.
"Lagi pula saya sudah melarang kalian untuk berhubungan, kan? Lalu kenapa kamu masih berani ke sini?" tanya Bu Nur lagi.
"Saya, kan datang ke sini sebagai tamu, Bu. Nggak mau ketemu Baby juga kok. Saya hanya ingin menjalin silaturahmi dengan keluarga Baby karena saya rasa Baby dan saya tidak punya masalah, jadi tidak ada salahnya juga silaturahmi kami berlanjut, kan?"
"Nanti kelamaan akan timbul cinta lebih baik tidak usah dekat."
"Saya juga nggak pernah ketemu Baby lagi setelah saya ke sini sore hari waktu itu. Ya seenggaknya, kan saya boleh menjalin silaturahmi dengan Ibu dan juga Bapak."
"Untuk apa?"
"Ibu ini apa-apaan, sih? Ada tamu kok dibiarin begitu. Ayo Nak Cakra, silakan masuk!" Pak Rahmat yang baru datang dari belakang meminta Cakra masuk ke dalam rumah. Bu Nur akhirnya tak bisa berbuat apa-apa lagi selain membiarkan Cakra masuk dengan wajah kesalnya.
Beliau lalu berjalan ke belakang, seperti kebiasaan semua orang yang sedang
kedatangan tamu, Bu Nur membuatkan jamuan berupa minuman untuk suami dan tamunya.
Sementara itu, di ruang tamu, Pak Rahmat dan Cakra sedang berbincang. Beliau yang sudah mendengar apa yang terjadi pada anak gadisnya dan Cakra tidak perlu lagi bertanya apa maksud kedatangannya.
__ADS_1
Ya, Baby dan ayahnya sangat dekat. Seperti Ayah pada umumnya mereka akan menjadi cinta pertama bagi anak gadisnya. Begitupun dengan Baby dan Pak Rahmat. Sosok pria yang dipanggil Ayah oleh Baby itu merasakan kegundahan Baby beberapa bulan lalu.
Sebagai sosok Ayah, beliau dan Baby tentu saja memiliki ikatan batin yang kuat. Pak Rahmat merasakan kegundahan anak gadisnya beberapa bulan lalu. Awal beliau bertanya, tidak ada kejujuran pada mulut Baby. Namun, kelamaan akhirnya Baby terbuka juga dengan pria itu.
Dan sebagai Ayah, Pak Rahmat hanya bisa menuntun dan menunjukkan Baby ke jalan yang benar dan terarah. Pak Rahmat akan mendukung apa pun keputusan Baby jika memang itu membuatnya bahagia. Termasuk dengan memilih pasangan hidup.
Pak Rahmat sangat berbeda dengan Bu Nur. Pria itu lebih fleksibel dan tidak memiliki pemikiran kolot seperti istrinya. Memang beliau pernah sakit hati dengan ucapan yang pernah beliau dengar dari Nenek Cakra. Tapi begitu mendengarkan cerita dari anak gadsnya bahwa Cakra dan ibunya itu sangat berbeda dengam Oma Ning, Pak Rahmat akhirnya mengerti kenapa Baby begitu mempertahankan Cakra.
"Kenapa nggak pas Baby libur kerja aka?"
"Saya, kan tujuannya mau melakukan pendekatan ke Ibu. Yang saya butuhkan sekarang hanya restu Ibu. Ayah sudah merestui kami, kan? Saya dengar dari Baby kalau Ayah menyerahkan semua pada Baby. Jadi saya sekarang fokusnya ke Ibu. Saya juga nggak mau lama-lama begini terus. Kasihan Baby kalau menjalani hubungan seperti ini dalam waktu yang lebih lama lagi."
"Iya, kamu benar. Memang hubungan seperti merugikan untuk Baby."
"Sepertinya saya akan sulit untuk melunakkan hati istri Ayah. Kira-kira apakah ada yang tips untuk saya, barangkali bisa membuat saya setidaknya melangkah maju meski hanya satu langkah. Untuk nemuin saya saja sepertinya Ibu enggan. Saya jadi bingung." Cakra mengungkapkan kebingungannya.
"Mungkin bisa dengan memesan sesuatu ke Ibu untuk perusahaan kamu atau kamu kata Baby punya toko camilan. Bisa tuh pesen roti kering ke Ibu buat stok toko. Gitu aja kok mikir kamu ini."
Cakra tertawa kecil. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa hal ini tidak pernah terpikir olehnya. Jika ia melakukan itu, kesempatan untuk bertemu dengan Ibu Baby akan lebih sering. Dan interaksi mereka mau tak mau juga akan lebih sering terjadi.
"Iya juga, ya. Ah saya merasa bodoh sekali jika dihadapan Ayah," ujar Cakra terkekeh. "Ya udah kalau gitu mulai sekarang aja, Yah." Cakra berucap dengan semangat.
"Ya udah Ayah panggilkan Ibu."
Cakra akhirnya bisa bernafas lega. Ada sedikit harapan dan cahaya untuk memulai harapannya. Mudah-mudahan semua lancar, begitu harap Cakra dalam hati.
__ADS_1
Cakra menunggu kedatangan Ibu Nur sedikit lama. Beberapa kali ia menengok ke belakang, namun tidak ada tanda-tanda Bu Nur atau Pak Rahmat muncul dari belakang. Apakah mereka sedang berdebat? Batin Cakra bertanya-tanya.
Baru saja membatin seperti itu, Bu Nur tiba-tiba muncul dengan wajah datarnya. Wajah yang sama seperti tadi saat menyambut dirinya, namun Cakra tidak mempermasalahkan itu. Baginya ekspresi Bu Nur tidak penting, yang penting adalah ia bisa berinteraksi walaupun hanya sebentar. Itu sudah menambah poin keberhasilannya.
"Jadi kamu ke sini itu mau silaturahmi atau mau ngajak kerjasama? Yang bener yang mana?"
"kalau dua-duanya bisa dijalankan, kenapa harus milih salah satu, Bu?"
"Jadi gimana kapan mulai kerjasamanya?" sela Pak Rahmat.
"Kalau saya, sih, sebisanya Ibu aja. Kalau Ibu mulai besok, ya besok bisa kita mulai. Kalau bisa lusa, ya lusa. Terserah Ibu saja Ibu bisanya kapan."
Bu Nur nampak diam, entah sedang berpikir atau sedang berusaha untuk melarikan diri dari situasi ini. Saat sedang berpikir untuk pergi dari ruang tamu, beliau teringat perdebatan yang baru saja terjadi di dapur.
Bu Nur sebenarnya menolak mentah-mentah ajakan Cakra untuk bekerja sama, karena beliau tidak mau terlibat urusan apa pun dengan Cakra. Setiap kali melihat pria itu, beliau selalu teringat dengan neneknya yang sudah menghinanya. Belum lagi soal Bany yang pernah masuk rumah sakit karena membantu urusan pribadinya.
"Bu,kalau kita bekerja sama dengan Cakra, pasti usaha kita akan lebih maju. Penghasilan kita bertambah, perekonomian kita bisa lebih baik. Emang Ibu kepingin kayak tetangga-tetangga yang ikut arisan, beli-beli baju, belanja, kan lumayan Bu uangnya buat tambah-tambahan. Bukannya Ayah menuntut Ibu untuk membantu Ayah, nggak. Tapi kalau ada kesempatan, kenapa kita nggak ambil? Mungkin ini cara Tuhan untuk mendatangkan rezeki lebih ke kita."
Kalimat itu selalu terngiang-ngiang di telinga Bu Nur. Belum lagi anak sulungnya yang mengambil kuliah kedokteran pasti perlu biaya yang lebih banyak daripada Baby dahulu.
"Ya sudah kalau begitu besok pagi saya akan mulai buat."
"Siap. Untuk masalah harga Ibu bebas mematok berapa saja. Kalau nanti kuenya sudah jadi, Ibu bisa kabari saya. Biar nanti saya ambil kuenya sekalian Ibu atau Ayah bisa ikut juga biar tahu tempatnya. Nanti kalau sudah berjalan dengan lancar usaha kita, Ayah dan Ibu bisa mengantarnya sendiri ke toko."
Kedua orang tua itu refleks mengangguk setuju.
__ADS_1