Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
46. Rencana Lembaran Baru Cakra


__ADS_3

Kemurkaan tidak hanya dialami oleh Oma Ning saja, tapi keluarga Luna juga begitu murka pada keluarga Cakra. Mega pukul sepuluh malam belum ada kabar dari keluarga itu, akhirnya kedua orang tua Luna datang mendatangi kediaman Oma Ning malam itu juga. Tentu saja mereka datang dengan membawa kemurkaan yang luar biasa.


"Bu Ning!" teriak Ayah Luna membuka pintu utama dengan kasar.


Oma Ning yang berada di ruang tamu masih dengan panik, cemas, khawatir, was-was dan kemurkaannya, dikagetkan oleh suara dobrakan pintu. Wanita yang sudah berumur itu tentu terkejut. Jantungnya berdetak dengan keras ketika melihat ayah Luna yang dengan kemurkaan mendatangi dirinya. beliau hanya takut pria itu akan membantingnya.


"Dasar tua bangka! Kau sudah membohongi kami, ya! Kau berani-beraninya mempermalukan dan menipu kami nenek tua! Jangan mentang-mentang kau beruang, kau bisa memperlakukan kami seperti ini. Ke mana perginya cucumu itu?!" Ayah Luna bicara dengan berteriak.


Sementara Luna sejak tadi menangis histeris karena ia merasa malu dengan keluarga, teman-teman, dan juga saudara lainnya.


"Kita bisa bicarakan ini baik-baik, tidak perlu mengetai saya seperti itu. Saya akan jelaskan kenapa sampai sekarang kami tidak datang ke acara pertunangan ini. Cakra melarikan diri, saya sendiri tidak tahu perginya ke mana anak ituhar, karena saya mengetahui Cakra tidak berada di rumah ketika sore hari. Jangankan kalian, saya juga marah dengan cucu saya sendiri. Ini anak buah saya sedang mencarinya, jadi tolong tenanglah semua akan baik-baik saja."


"Baik-baik saja kau bilang?! Harga diri kami tergadaikan gara-gara kalian dan kau mengatakan semuanya akan baik-baik saja? Kau menyuruh kami untuk tenang? Manusia macam apa kau ini? Memang benar apa kata banyak orang. Kau ini tidak bisa menghargai manusia manapun. Semuanya kau anggap enteng, kau merasa semuanya bisa dibeli dengan uang, kau merasa posisimu sekarang jauh di atas seluruh penduduk di muka bumi ini."


"Bukankah memang begitu? Memangnya siapa saja bisnis selama bertahun-tahun menduduki orang terkaya nomer satu di kalangan pebisnis?"


"Yang menduduki nomor satu memang kau, tapi akhir-akhir ini yang menjalankan bisnis itu cucumu. Dan sekarang kau kehilangan cucumu. Kita lihat siapa yang akan terjadi bebas ke bawah. Dan mulai detik ini, hubungan kita putus sampai di sini. Tidak ada perjodohan, tidak ada kerjasama atau tidak ada apa pun yang berkaitan denganmu. Aku mulai detik ini tidak mengenalmu. Ayo kita pergi dari sini dan untuk kamu, Luna. Jangan berharap lagi pada manusia biadab itu dia sudah mempermalukan kita."


Ayah Luna menatap kebencian yang begitu dalam pada Oma Ning sebelum pergi. Sedangkan wanita tua itu langsung terduduk lemas di sofa. Dalam hati ia merutuki Cakra yang sudah berani menipunya. Segala sumpah serapah beliau keluarkan dari hatinya.

__ADS_1


***


Keesokan harinya.


"Kalian mencari satu orang saja tidak becus."


Di hari yang masih pagi, Oma Ning sudah mencaci maki antek-anteknya karena gagal menemukan Cakra. Sejak semalam beliau tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kepalanya pusing, badannya terasa menggigil, nafasnya terasa sesak, segala macam rasa sakit beliau rasakan.


"Pergi ke kantornya sekarang!" titah beliau kemudian.


Di saat beliau tengah pusing dengan hilangnya Cakra, terlintas di kepalanya nama Baby. Mungkinkah Cakra pergi dengan wanita itu? Apakah Cakra pergi karena wanita itu? Berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan Cakra dan Baby akhirnya berjejal di kepala Oma Ning.


"Datang saja ke kantor dan minta data tentang Baby. Kau akan mendapatkan semuanya di sana. Katakan bahwa kau adalah anak buahku."


Senyum menyeringai dan tetapan menyeramkan Oma Ning suguhkan. Beliau yakin bahwa Cakra dan Baby saat ini pasti sedang bersama menikmati keberhasilan mereka yang menggagalkan acara pertunangan dan juga rencana mempermalukan omanya sendiri.


***


Masih di hotel. Dandi yang sejak subuh tadi berada di hotel tempat Cakra tidur sedang ikut pusing dan memikirkan solusi untuk masalah yang sedang menimpa atasannya.

__ADS_1


"Di kepalaku hanya terpikir kalau Bapak mengganti identitas saja. Apapun yang berada di diri Bapak mengenai Cakra harus ditinggalkan. Mungkin itu tidak mudah, tapi saya rasa hanya itu satu-satunya cara untuk Bapak mendapatkan pekerjaan di perusahaan orang. Kalau bapak memakai identitas sebenarnya, saya yakin yang Bapak takutkan selama ini akan terjadi. Berita ini sudah menyebar di kalangan bisnis."


"Kalaupun aku ganti identitas, wajahku tetap sama Dandi. Orang juga akan mengenali kalau aku Cakra."


"Ya Bapak harus total dong, ganti juga penampilan Bapak. Mengganti gaya rambut, gaya berpakaian, pakai kacamata atau apa gitu. Lagi pula style Bapak mulai hari ini, kan harus diubah Bapak harus hemat. Bapak harus bisa hidup dengan cara sederhana. Apa yang saya katakan benar, kan Bu Nisa?" Dandi meminta persetujuan Bu Nisa setelah memberi petuah pada Cakra.


"Iya Cakra, yang di katakan Dandi benar. Tapi kalau pun kamu nggak mau mengganti identitas, kita bisa memakai cara lain. Maksudnya Mama kita bisa memulai usaha dari nol. Tabungan kamu masih ada, kan? Bagaimana kalau kalian buka cafe, rumah makan, bengkel atau apa pun yang bisa dikerjakan kalian berdua. Bukankah itu akan lebih menjamin? Coba kalian pikirkan! Kamu bisa Sembunyi di balik nama Dandi, Cakra."


Dandi yang semula sangat yakin dengan idenya, kini nampak memikirkan apa yang diucapkan oleh Bu Nisa. Rasa-rasanya ide yang diberikan Bu Nisa lebih simple, masuk akal dan tidak membutuhkan waktu ataupun biaya yang banyak.


"Aku rasa ide dari Bu Nisa lebih bagus, Pak."


"Berhenti manggil aku, Pak! aku bukan atasanmu lagi. Kira-kira usaha apa yang cocok buat kita?"


Mereka bertiga akhirnya memegang kening masing-masing. Menampakkan bahwa mereka sedang berpikir untuk pertanyaan Cakra barusan.


"Kenapa kalian nggak mencari ruko atau toko kecil-kecilan yang bisa kalian gunakan untuk jualan snack? itu terlihat receh, tapi snack tidak pernah sepi pembeli bukan. Semua orang dari kalangan anak-anak hingga dewasa sekali pun menyukai snack. Kebetulan Mama punya teman yang memproduksi snack sendiri. Kita bisa ambil dari sana, harganya jauh lebih murah. Kita fokus dulu pada satu hal itu, nanti kalau sudah maju, kita bisa merambah ke hal lainnya. Gimana? Jangan fokus pada untung dulu, yang penting kita ada pemasukan, ada pekerjaan. Iya, kan?"


Cakra dan Dandi tiba-tiba kompak saling tatap. Seperti saudara yang sudah ada ikatan batin, mereka kompak mengatakan setuju untuk membuka toko sncak.

__ADS_1


__ADS_2