
Cakra memulai hari dengan melihat perkembangan keadaan Baby. Ia membawa beberapa makanan dan juga camilan untuk kedua orang tua Baby. Syukur-syukur jika Baby sudah siuman, ia bisa menikmati makanan yang ia bawa dari rumah. Semua makanan Bu Nisa yang membuat.
"Mama nggak bisa ikut nggak apa-apa, kan? Mama ada urusan."
"Nggak apa-apa. Aku saja sudah cukup. Aku berangkat, ya."
Cakra berjalan keluar rumah seraya membawa beberapa tentangan berisi makanan. Dalam langkahnya terselip doa untuk kesehatan Baby agar segera membaik, agar rasa bersalah yang bersarang di hati dan kepalanya tidak berlama-lama membebani dirinya.
Pagi itu Cakra berangkat lebih awal dari biasanya. Dengan harapan ia bisa berlama-lama di sana Entahlah rasanya sejak semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena yang ada di dalam kepalanya hanya Baby, Baby, dan Baby.
Kepala Cakra bertambah berat ketika ia memutuskan untuk menceritakan kejadian kemarin pada Dandi. Pikirannya tidak tenang membuat ia semalam tidak bisa tidur nyenyak dan akhirnya memutuskan untuk curhat aja pada Dandi.
"Apa? Tapi sekarang keadaannya udah stabil, kan?" Reaksi pertama yang diberikan Dandi ketika Cakra menyelesaikan ceritanya.
"Detak jantungnya, sih tadi pas aku pulang masih lemah. Aku berharap besok dia sudah stabil. Aku nggak bisa tidur karena mikirin keadaannya."
"Apakah ada orang yang kau curigai?"
"Yang aku tahu di rumah ini, kan yang benci sama Baby cuman Luna dan Oma. Aku nggak tahu harus mencurigai siapa, tapi kalau Oma, kan nggak mungkin banget. Oma mana bisa dorong Clarissa dengan kuat sampai ke tengah kolam begitu."
"Itu artinya kau mencurigai Luna?"
"Aku nggak bisa bilang gitu juga, kan? Aku nggak punya bukti apa-apa. Aku nggak bisa berbuat apa-apa sekarang, bagaimana caraku mencari tahu kalau CCTV di sekitar kolam itu rusak."
"Ya udah jalan satu-satunya, ya kita cuman tanya ke Baby. Ya udah istirahat sana! Besok tanyain, mudah-mudahan sudah sadar."
"Aku nggak bisa tidur. Aku kepikiran terus, rasanya aku pengen jagain dia. Tapi tadi disuruh pulang sama orang tuanya."
"Hahahaha. Dasar bucin!" olok Dandi.
"Sembarangan kalau ngomong! Aku cuman merasa bersalah saja. Wajar, kan kalau aku merasa bersalah. Aku sudah janji pada diriku sendiri untuk menjaga dia dari Oma ataupun Luna, tapi malah aku kecolongan."
__ADS_1
"Ya, Kan kau sudah tahu kalau detak jantung Baby sudah kembali. Itu artinya dia sudah melewati masa itu, dia pasti akan baik-baik saja untuk esok hari atau kapan sudah dipastikan akan kembali sehat. Lalu apa yang kau pikirkan?"
"Ya bukan berarti aku jatuh cinta sama dia. Aku ini laki-laki yang bertanggung jawab, jadi wajar kalau aku kepikiran." Cakra masih mengelak.
"Percaya sama aku, sebenarnya kau ini tidak ingin kehilangan Baby. Kau bukan hanya kepikiran, tapi takut kehilangan."
"Nggak nyambung."
"Ya sudah, anggap saja begitu. Terus kenapa kau mengeluarkan air mata untuk seorang Baby, perempuan yang membuatmu darah tinggi?"
"Khawatirlah aku."
"Jangan bersembunyi dengan satu kata itu. Sekarang aku tanya padamu, apa kau merasa akhir-akhir ini Baby berubah? Dia sudah tidak lagi sedikit pecicilan seperti dulu, dia juga jarang membuatkan mu minuman. Apakah kau merasakan perbedaan itu atau tidak?"
"Iya. Terus?"
"Kau merasa kehilangan sesuatu?"
"Kau suka sama perubahan apa orangnya?"
"Kenapa jadi bahas beginian, sih? Aku bagi ini padamu biar entengan dikit ini kepala. Malah tambah jadi pikiran aja. Aku tuh, takut Cla kenapa-napa. Aku trauma dengan perginya Aura yang tiba-tiba."
"Kau takut kehilangan orang yang akan kau bawa masuk ke dalam kehidupan mu untuk kedua kalinya. Kau nggak akan merasakan sakit yang sama seperti kehilangan Aura di saat kau melihat orang yang kau anggap teman biasa sedang meregang nyawa. Terlepas dari kejadian itu di rumah mu, di acara mu. Kau nggak akan merasakan itu kedua kalinya dengan perasaan yang beda. Ngerti, kan maksudnya?"
Merasa kesal dengan apa yang dibahas oleh Dandi, cakra memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan melemparkan gawainya ke ranjang. Curhat ke Dandi bukannya bisa tidur malah menambah beban pikiran baru, pikirnya.
Rasanya tidak puas bagi Cakra sudah memikirkan Baby semalam penuh. Sekarang pun ia berada di jalanan masih saja pikirannya terpaut pada gadis itu. Ia menyadari pasti ada yang salah dengan dirinya.
"Selamat pagi, Pak, Bu. Ini saya ada makanan untuk kalian." Cakra meletakkan seluruh makanan ke meja dekat sofa.
"Haduh, Nak. Kenapa repot-repot? Kami bisa membelinya sendiri di kantin. Jadi merepotkan," ujar Bu Nur merasa tidak enak.
__ADS_1
"Tidak merepotkan, Bu. Makanan biasa saja kok. Bapak dan Ibu silakan sarapan, biar saya yang temani Baby." Cakra menoleh ke arah ranjang, Baby masih belum sadar. " Baby belum bangun, ya?" tanyanya kemudian.
"Sudah kok, tadi dini hari dia bangun, tapi nggak lama habis itu tidur lagi." Pak Rahmat yang menjawab.
Dalam hati Cakra benar-benar bersyukur jika Baby sudah membuka matanya. Akhirnya ia bisa bernafas lega setelah semalam suntuk memikirkan perempuan yang membuatnya merasakan campur aduk itu.
"Alhamdulillah kalau begitu. Bapak dan Ibu silakan makan, saya duduk sana, ya." Cakra menunjuk kursi dekat ranjang.
"Silakan kalau memang tidak mengganggu waktu Nak Cakra."
"Sama sekali tidak."
Cakra duduk tegak memandang gadis yang masih terbaring itu. Rasanya tidak pantas sekali jika melihat Baby yang terbiasa pecicilan, tapi malah sekarang terlihat tidak berdaya.
Bangunlah jika kamu ingin menceritakan sesuatu padaku!
Cakra meletakkan tangan di ranjang lalu menopang dagu dengan telapak tangan kanannya. Perhatiannya ia pusatkan pada Baby yang baru ia sadari kecantikannya.
Selang lima menit setelah itu, nampak mata Baby yang mengerjap seakan ingin membuka mata. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja degup jantung Cakra terasa sangat kencang. Ia berusaha menetralkan debaran itu dengan tetap terlihat cool lebih depan Baby.
Baby mengucek matanya dengan pelan saat melihat Cakra yang berada di depannya. Seakan ia sedang memastikan apakah ia salah lihat atau tidak.
"Pak Cakra ada di sini?"
"Iya. Aku baru saja sampai. Bagaimana keadaanmu?"
"Jauh lebih baik, saya nggak apa-apa kok, Pak."
"Maaf, ya aku kecolongan. Kamu ngapain sampai di teras samping? Apa yang kamu lakukan?" tanya Cakra pelan.
"Apa yang aku lakukan? Aku datang ke sana karena Bapak yang minta. Bapak mengirim pesan pada saya kalau ingin menemui saya di teras samping dekat kolam. Makanya saya ke sana."
__ADS_1
"Apa?"