Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
37. Galau


__ADS_3

"Kirim pesan? Nggak ada, Cla. Aku nggak kirim pesan," sangkal Cakra merogoh ponselnya dan meyakinkan dirinya sendiri dan Baby bahwa ia sama sekali tak mengirim pesan apa pun padanya.


"Tuh, kan nggak ada," ucapnya kemudian memperlihatkan benda pipihnya.


Baby tak mau kalah, ia juga menunjukkan pesan yang masih ada di ponselnya. Menunjukkannya pada Cakra. Pria itu pun merespon dengan mengerutkan kening.


"Terus yang nemuin kamu siapa di kolam? Kalau ada chat seperti itu berarti kamu sudah di tunggu."


Ucapan Cakra membuat Baby seketika mengerti bahwa Luna adalah biang kerok dari apa yang sudah menimpa dirinya. Wanita itu sengaja mengajaknya bertemu di kolam untuk membuatmu celaka.


Oh, aku mengerti sekarang. Baiklah, kalau begitu. Aku sebenarnya tidak punya malasah dengan dia. Tapi dia lah yang memulai permasalahan denganku. Akan aku tunjukkan siapa aku sebenarnya. Dia pasti punya niatan untuk membuat aku jera dekat dengan Cakra. Akan aku buat keadaan menjadi sebaliknya.


"Saya rasa seharusnya Bapak sudah tahun siapa orangnya. Disekitar Bapak yang tidak menyukai saya, kan sudah jelas siapa."


"Luna? Apa dia orangnya? Pantas CCTV di rumah rusak. Pelakunya sudah hafal dengan seluk belum rumah."


"Sudah konsekuensi saya, bersedia membantu Bapak, Itu artinya semua konsekuensi harus diterima."


"Maaf, sudah membawa kamu ke dalam masalah. Aku tidak tahu jika akan berakibat seperti ini. Aku nggak pernah terpikir kalau Luna akan bertindak sekeji ini."


"Nggak apa-apa. Toh, saya juga bersedia membantu Bapak."

__ADS_1


"Membantu apa, Baby?" sahut Bu Nur dari sofa.


Mereka bicara dengan pelan dan berbisik, tapi rupanya obrolan mereka masih terdengar di telinga kedua orang tua Baby. Kedua sejoli itu hanya saling tatap dalam diam seakan menanyakan hal yang sama.


"Bantu Pak Cakra menyelesaikan pekerjaan, Bu. Apa lagi? Kan aku kerja sama Pak Cakra."


Bu Nur hanyan mengangguk meski ragu. Wanita itu merasa ada yang disembunyikan oleh sang Anak. Jangan lupa, Bu Nur adalah wanita yang melahirkan Baby. Beliau pasti tahu dan nuraninya pasti bekerja dengan baik jika bersangkutan dengan anaknya.


Merasa situasi sudah canggung membuat Cakra pamit dari rumah sakit. Ia berjanji akan datang lagi saat pulang dari kantor. Bu Nur yang sejak kemarin merasa ada yang tidak beres di antara keduanya seketika menyahut sebelum Baby menjawabnya.


"Kan ada kami, Nak Cakra. Nggak perlu repot-repot. Baby masih tanggung jawab kami. Terima kasih sudah menyempatkan waktu ke sini."


"Ah, iya Bu. Kalau begitu saya permisi." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Cakra.


"Ibu, kenpa bicara begitu?"


"Memang apa salahnya? Ibu benar, kan kalau kamu masih tanggung jawab kami? Apa yang dia lakukan sudah lebih dari bertanggung jawab. Membawa kamu ke sini, menunggu kamu hingga kami datang, paginya ke sini lagi, itu sudah lebih dari cukup. Nggak perlu lagi merasa bersalah atau bertanggung jawab. Jujur sama Ibu, kenapa kamu kemarin bilang ke ulang tahun teman, bukan ulang tahun anak bosmu?"


"Aku hanya takut Ibu mikir yang nggak-nggak aja. Ibu, kan selama ini selalu mikir kalau aku ada apa-apa sama dia sejak ketemu di taman. Padahal aku hanya dan dia, ya hanya bisa dan karyawan. Tapi Ibu mikirnya kejauhan."


"Baik, lupakan itu kalau begitu. Kamu bantu dia apa sampai konsekuensinya nyawa kamu? Ibu dengar semua Baby. Meskipun kalian bicara dengan bisikan, telinga Ibu masih normal."

__ADS_1


Baby masih diam dan menundukkan kepala, barangkali di situasi seperti ini kepalanya masih bisa ia gunakan untuk berpikir dan mencari alasan yang masuk akal. Tapi rasanya semakin ia berpikir bukannya mendapat ide, kepalanya justru semakin pusing.


"Nggak usah mikir mau jawab apa! Jawab saja apa adanya!"


Merasa Baby sudah tak sanggup lagi berpikir akhirnya mengalirlah cerita Baby yang membantu Cakra menggagalkan rencana perjodohannya dengan Luna. Engh bagaimana reaksi ibunya nanti, ia hanya bisa pasrah. Tapi, ia meyakini satu hal, semua akan baik-baik saja jika dirinya jujur. Itulah yang selalu terjadi sebelum-sebelumnya.


"Kalau begitu, setelah ini jangan bekerja lagi di sana."


"Ibu kenapa begitu? Aku..."


"Nggak mau tahu apa pun. Kamu mundur bekerja di sana atau Ibu aka marah dan nggak anggap kamu anak. Ibu dan Ayah menguliahkan kamu biar kamu dapat pekerjaan yang bagus, tapi tidak merangkap menjadi perempuan yang seperti itu."


Bu Nur kecewa pada anak gadisnya yang bertindak sejauh itu. Baginya apa yang dilakukan Baby adalah kesalahan besar. Mau atau tidak? Menerima atau tidak? Itu bukan urusan Baby, jadi tidak ada kewajiban baginya untuk membantu Cakra apa lagi membantu sejauh itu.


Inilah hal yang sangat dikhawatirkan Bu Nur jika Baby tidak menyaring pergaulan. Beliau takut jika ia malah jatuh hati dan menaruh hati sepenuhnya pada orang-orang yang beruang. Keadaan ekonomi yang hanya disebut keluarga sederhana membuat Bu Nur rendah diri dan merasa tidak pantas untuk mereka yang beruang. Beliau merasa hanya akan diinjak jika sampai berbesan dengan mereka. Ya, sejauh itu pikiran Bu Nur.


"Kamu sudah bertindak keluar jalur, Baby. Ayah setuju sama Ibu. Cari kerjaan baru."


Baby hanya bisa diam. Ia tak bisa berbuat apa-apa jika kedua orang tuanya sudah bicara. Membayangkannya saja rasanya sangat sulit. Apa yang harus ia katakan pada Cakra? Hati yang sudah ia letakkan di hati Cakra, apakah bisa hilang begitu saja? Rasa yang diam-diam tumbuh tanpa ia pupuk apakah bisa mati dengan mudah? Godaan yang biasa ia lempar hanya untuk menggoda Cakra nampaknya membuahkan hasil yang bukan candaan.


"Iya, aku akan izin resign setelah keluar dari sini," putus Baby dengan berat.

__ADS_1


Dan akhirnya hari itu tiba. Hari di mana Baby sudah diperbolehkan pulang. Dan keesokan harinya, ia harus menghadapi perpisahan dengan Mira, Dandi, dan Cakra. Tidak ada di antara mereka bertiga yang tahu rencana Baby ini. Pasti hal ini akan menyedihkan dan mengagetkan bagi Mira dan Dandi yang punya kedekatan dengannya seperti sahabat lama.


Malam ini Baby tak menyentuh ponselnya sama sekali. Memang itu sudah ia rencanakan. Rasanya ia ingin menyendiri saja malam ini.


__ADS_2