
"Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu dengan pertanyaanku?" sungut Cakra kesal.
"Jelas lucu lah, Sejak kapan Bapak peduli dengan gadis itu. Apa Bapak mulai merindukannya?"
"Tidak perlu mengada-ngada. Mana mungkin aku merindukan perempuan pecicilan seperti itu?"
Dandi hanya geleng kepala. Selama dua hari belakangan, Cakra memang sedikit tidak fokus dengan pekerjaannya. Tidak ada yang tahu alasan pasti kenapa pikirannya seolah terbagi-bagi. Dandi mengura bahwa Cakra memikirkan soal nasibnya dengan Mira. Tapi, jika mendengar pertanyaan yang ia lontarkan barusan, mungkin saja pikirannya selama dua hari ini bercabang kepada Baby juga.
"Tipes Baby itu udah hampir parah. Dia masih dirawat di rumah sakit. Katanya masih perlu pengawasan langsung dari dokter, nggak tahu juga kapan pulangnya. Saya hanya takut kalau dia tidak akan kembali ke sini."
"Apa maksudmu?" Cakra terkejut sampai mencondongkan tubuhnya ke arah meja.
"Tipes kalau sudah akut bisa menyebabkan komplikasi dan paling parah adalah kematian, itu yang saya baca dari artikel di internet."
Di sadari atau tidak oleh Cakra, wajahnya mencetak ekspresi cemas yang disembunyikan. Mungkin saja ia lupa bawa Dandi mengenalnya luar dalam.
"Nggak usah cemas kali, Pak. Baby Nggak apa-apa kok, cuman memang tipesnya ini perlu diperhatikan dokter. Saya ada foto Baby terakhir kali dari Mira, sebentar saya perlihatkan."
Dandi lalu meraih gawai yang berada di saku celana, lalu menyodorkan pada Cakra setelah memilih foto terakhir Baby.
Cakra melihat foto Baby dengan memasang wajah biasa saja. Meskipun sebenarnya entah kenapa dan Apa alasannya ia merasa sedikit cemas. Apalagi setelah melihat foto Baby yang nampak tersenyum meskipun ia nampak lemah dan wajahnya yang pucat.
"Pak, bukankah besok adalah hari pertemuan keluargamu dan juga Luna besok hari Sabtu, kan?"
"Besok hari Sabtu? Astaga aku sampai tidak ingat hari."
"Kalau begitu untuk menghindari pertemuan besok, Bapak bisa ikut saya menjenguk Baby."
"Kau mau ke sana?"
Dandi mengangguk, "Sama Mira."
Cakra nampak ragu. Ia masih menimbang-nimbang saran dari Dandi. Apakah ini pilihan yang tepat? Ia memang tidak mau menghadiri pertemuan keluarga itu, tapi apakah pilihannya harus bertemu dengan Baby? Tapi di satu sisi ia juga ingin melihat kondisi gadis yang membuat hidupnya tidak tenang itu. tapi anehnya, ketika tidak ada yang mengganggunya, ia juga merasa ada yang berbeda di setiap harinya. Aneh bukan?
"Apakah tidak ada cara lain? Haruskah aku bertemu dengannya meskipun aku tidak ingin menghadiri acara itu?"
__ADS_1
"Ya nggak harus, tapi setidaknya Bapak punya tempat untuk sembunyi, kan? Daripada Bapak luntang-lantung kabur entah ke mana."
"Ya udahlah besok kita ketemu di rumah sakit."
Akhirnya Cakra mengambil keputusan bahwa ia lebih baik bersembunyi dengan Dandi daripada harus keluar rumah tapi tidak tahu tujuan.
Dan sore hari di hari Sabtu itu, Cakra mulai mengendap-endap keluar rumah. Berjalan tanpa suara dan melihat sekeliling kini sedang ia lakukan demi keselamatan dirinya. Ya sudah persis seperti anak ABG yang hendak keluar berkencan dengan kekasihnya.
"Huft, akhirnya," ujar Cakra lega begitu mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya dengan aman dan tentram.
Cakra langsung menuju rumah sakit di mana tempat Baby dirawat. Dandi sudah sempat mengirimkan lokasinya tadi, sehingga ia tinggal mengikuti arah yang sudah ditunjukkan. Tidak membutuhkan waktu lama rupanya, hanya perlu lima bekas menit saja sudah sampai di tempat persembunyiannya yang mudah-mudahan saja tidak ditemukan oleh siapapun. Nampak Mira dan juga Dandi sudah menunggu dirinya di teras rumah sakit.
"Apa kalian menunggu lama?"
"Nggak, kita juga baru sampai. Ya udah yuk langsung masuk aja nanti keburu ada yang lihat lo lagi."
Setelah beberapa saat menyusuri lorong rumah sakit mereka sampai di ruangan Baby. Cakra berjalan paling belakang di antara Dandi dan Mira. Meskipun dengan ragu Cakra tetap masuk juga. Nampak Baby yang sedang duduk dengan memainkan gawainya.
"Hp-an teruuuus! Sakit bukannya istirahat hp-an teruuus!" olok Mira.
"Gue cuman sakit nggak mati. Mana ada larangan orang sakit pegang hp," sahut Baby tak mengalihkan perhatian dari benda pipihnya.
Kesal dengan sambutan yang tidak mengenakan membuat Mira merampas ponsel Baby dan membuangnya ke sofa.
"Aaaa Mira. Ganggu ketenangan gue aja lo."
Deg!
Baby yang ingin melanjutkan rengekannya seketika mematung ketika melihat sosok pria yang berdiri di belakang Dandi. Jantungnya pun rasanya ikut mematung tak berdetak karena saking terkejutnya.
"Mir. Kenapa lo nggak ngomong kalau lo ke sini bawa masa depan gue? Ini terlalu mengejutkan buat gue sampai gue gak ngerti mau ngomong apa," ucap Baby tidak mengalihkan pandangan pada Cakra.
Tapi tidak pernah melihat Saka yang berpakaian casual seperti ini. Pesona dan ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. Baby sampai meraba dadanya. Ia takut jantungnya akan selamanya berhenti berdetak.
Sementara yang ditatap pun juga menatap dirinya. Mereka seseolah-olah sedang terhipnotis oleh sesuatu sehingga pandangan mereka tidak beralih ke manapun.
__ADS_1
"Khem." Deheman dari Dandi membuyarkan semuanya.
Akhirnya mereka berdua mengalihkan pandangan dengan salah tingkah.
"Gimana kondisi lo? Kok nggak pulang-pulang, sih? Nggak parah banget, kan?" Dandi yang bertanya.
"Enggak, ini udah jauh lebih baik. Kemungkinan besok udah boleh pulang. Makasih, ya udah nengokin terutama buat Bapak. Suatu kehormatan bagi saya ditengok sama Bapak." Baby mengatupkan mulutnya setelah itu.
"Yang dianggap cuman Bapak doang? Ya udah Mir, kita pergi dulu cari makan."
Dandi langsung dihadiahi tatapan membunuh dari Cakra.
"Gue lagi dalam proses pendekatan dengan Mira. Tolong mengertilah dan biarkan aku berdua. Lo bisa ngomong sekarang kalau lo butuh bantuan dia buat menggagalkan rencana pernikahan lo sama Luna. Jangan sungkan atau gengsi. Percaya sama gue, Baby adalah perempuan yang telah untuk diajak kerja sama," bisik Dandi yang membuat kedua gadis di sana sama-sama mengerutkan kening.
Cakra seketika menampakan wajah yang sedang berpikir keras seakan ia menghadapi masalah negara. Tatapannya kembali bertemu dengan Baby. Nampak gadis itu hanya diam dengan wajah datarnya. Entah kemana wajah centil dan slengeannya yang beberapa saat lalu ia tampilkan.
Kenapa sekarang dia malah diam seperti ini? Apa dia sedang merasakan sakit?
Padahal pada kenyataannya gadis itu sedang berpikir bagaimana caranya agar adiknya yang bertugas untuk menjaga dirinya tidak sampai ke sini dalam waktu dekat.
"Pak, bisa aku minta tolong. Aku masih sedikit lemah. Aku ingin ke kamar mandi."
"Lemah? Kau tadi bisa berteriak, bagaimana mungkin kau bisa dikatakan lemah?"
"Pak, tenaga suara dan tenaga di tubuh itu berbeda. Aku bisa berteriak, tapi aku masih kesulitan untuk berjalan. Tapi tidak masalah lah, aku akan belajar ke kamar mandi sendiri."
Baby menyibak selimutnya dan dengan pelan menurunkan kakinya ke lantai. Bukan Baby namanya juga ia tidak menggunakan waktu sebaik mungkin untuk mencari perhatian crush nya.
Baru dua langkah berjalan ia sudah nampak limbung, hampir saja dirinya tersungkur ke lantai, namun untunglah tangannya berhasil ditarik oleh Cakra.
"Kau tidak apa-apa?" Refleks pertanyaan itu muncul begitu saja.
"Saya masih sedikit pusing, tapi tidak apa-apa. Sudah saya katakan saya masih lemas, kan?"
"Ya udah aku bantu jalan."
__ADS_1
Baby mengatupkan mulut seketika. Dalam hati ia mengagumi isi kepalanya yang sangat licik ini. Tidak ada yang tahu betapa bahagianya hatinya saat ini, mendapat sentuhan dari Cakra dan tidak ada jarak di antara mereka.
Saat melewati sofa, diam-diam tangan Baby meraih ponselnya untuk ia bawa ke kamar mandi.