Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
35. Aku Benci Pikiranku


__ADS_3

"Lebih tepatnya ulang tahun anak saya, Pak. Saya memang sengaja mengundang Baby, Karena mama saya suka sama kue buatan dia."


Pak Rahmat hanya mangguk-mangguk saja. Beliau merasa canggung karena berhadapan dengan atasan sang anak. Ingin menanyakan apa juga beliau rasa bingung. Bayinya, mereka sudah bertanggung jawab dengan membawa baby ke rumah sakit saja rasanya sudah cukup.


Tidak perlu menyalahkan atau mencari siapa yang salah. Kecelakaan memang tak bisa diprediksi, semua yang terjadu juga sudah kehendak Tuhan. Untuk menanyakan kenapa Baby bisa terjatuh di kolam renang juga rasanya tidak perlu. Memang apa yang akan beliau lakukan jika sudah tahu penyebabnya? Toh semua sudah terjadi, yang terpenting sekarang fokus saja pada pemulihan Baby. Begitulah kira-kira pikir Pak Rahmat.


"Cakra, lebih baik kita pulang dulu, sudah ada orang tua Baby. Kita bisa kembali esok hari."


"Tapi, Ma..."


"Tidak apa-apa, Pak. Bapak bisa pulang sekarang. Sudah dibawa dan ditinggu hingga kamu datang saja sudah lebih dari cukup. Terima kasih, Pak, Bu." Pak Rahmat yang bicara.


"Tidak perlu berlebihan, Pak. Baby celaka di rumah saya, jadi sudah kewajiban saya untuk tanggung jawab. Panggil saya Cakra saja, rasanya tidak pantas saya di panggil seperti itu oleh Bapak yang lebih tua dari saya." Cakra adalah pribadi yang hangat jika berada di sekitar orang-orang baru dan membuatnya nyaman.


"Ayo Cakra, Aura sendirian."


Cakra hendak menolak kembali, namun karena ibunya membawa-bawa nama Aura menjadi urung untuk mendebat. Di satu sisi ingin di sini hingga Baby terbangun, tapi di sisi lain ada anaknya yang harus membutuhkan dirinya juga. Lagipula ada orang tau Baby juga, pasti akan nampak canggung jika dirinya memaksakanĀ  kehendak.


"Ya udah. Pak, Bu, kami pamit pulang. Besok saya akan ke sini lagi. Kalau ada apa-apa, bisa hubungi saya. Baby kasih tanggung jawab saya. Ini ada kartu nama saya." Cakra merogoh dompet dan menyerahkan satu lembar kertas kecil.


"Iya, Nak Cakra. Terima kasih."


Cakra dan ibunya lalu beranjak dari sana. Kaki Vira sebenarnya berat untuk melangkah, namun harus ia paksa bergerak untuk membawa tubuhnya pergi dari sana.


"Bu, apa dia laki-laki yang pernah Ibu ceritakan ke Ayah?" tanya Pak Rahmat setelah punggung ibu dan anak itu tak terlihat


"Iya, dia memang waktu ketemu sama Ibu di taman itu ada bawa bayi. Bisa jadi hari ini ulang tahun bayi itu. Baby pernah gendong anaknya juga, Ibu khawatir kalau mereka dekat dan bukan hanya sekedar atasan dan karyawan. Ibu perhatikan tadi Cakra jgga sangat khawatir dan pandangannya beda."

__ADS_1


"Perasaan Ibu aja. Lagipula dia seperti itu dia merasa bersalah. Jangan kejauhan mikirnya. Kalah udah punya anak, kan harusnya punya istri."


"Dia duda, Yah. Kalau punya istri, mah, Ibu nggak khawatir."


"Jangan berpikir terlalu jauh. Kita ini orang biasa dan sederhana, nggak akan tertarik sama anak kita."


Jika di rumah sakit, kedua orang tua Baby banyak berbincang, lain halnya dengan tiga manusia di dalam mobil yang sedang membelah jalanan menuju pulang ke rumah.


Supir yang fokus mengemudi, bu Nisa yang diam-diam memperhatikan Cakra yang sejak tadi hanya menatap gelapnya jalanan yang diterangi oleh lampu jalan.


"Baby sudah baik-baik saja, kenapa kamu masih sedih juga? Apa yang kamu pikirkan?"


"Nggak ada. Mana ada aku sedih? Kelihatan sedih emang?"


"Kamu bisa aja ngelesnya. Mau bohong kok sama Mama. Kamu khawatir? Mulai ada rasa?"


Cakra menoleh ke arah ibunya seketika.


"Kamu ingat nggak, tadi pas di jalan mau ke eunya sakit, kamu ada ngomong apa sama Baby?"


Cakra nampak mengingat ingat sesaat lalu mengangguk, "Ingat," jawabnya singkat.


"Apa?"


"Apapun yang dia minta aku kabulkan."


"Kalau dia benar-benar mau menjadi bagian hidup kamu gimana?"

__ADS_1


Cakra menghela nafas panjang dan dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Nggak mau mikir itulah, Ma. Lagi pula dia nggak denger juga, kan?"


Meskipun dalam hati Cakra sadar itu sudah seperti nazar yang harus dilakukan. Tapi saat logikanya masih tidak beriringan dengan ucapannya tadi. Entahlah, ia tak tahu kenapa tadi siang berucap begitu. Kalaupun nanti, apa yang dikatakan ibunya menjadi kenyataan, banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh Cakra. Bukankah bagian hidup bukan berarti menjadi suami istri? Apa? Suami istri? Kenapa Cakra berpikir ke arah sana?


Astaga, aku benci pikiranku.


***


Di tempat lain, di jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam masih berada di rumah Oma Ning. Wanita itu sedang melakukan sedang berusaha untuk merusak cctv yang terpasang di sekitar terasa samping. Sudah sejak kepergian Cakra ke rumah sakit wanita itu masih berkutat pada CCTV, dan akhirnya berhasil ia rusak tepat di saat mobil Cakra masuk pekarangan rumah.


"Cakra sudah pulang, ayo kita pergi."


Oma Ning sedikit kesal degan Luna. Menurutnya, wanita itu terlalu ceroboh dengan tindakannya. Oma Ning memang tidak suka dengan Baby, tapi tindakan Luna tidak beliau benarkan. Hal itu sudah termasuk kriminal dan lebih parahnya lagi, Luna melakukan itu di rumahnya. Itu yang membuat Oma Ning semakin kecewa dan tak terima.


"Bagaimana keadaan Baby, Cakra?"


"Dia berhasil mengembalikan nafasnya. Apa yang kau lakukan di sini sampai malam? Kenapa kau tidak pulang?" Tatapan Jalan Cakra lempar ke arah Luna.


"E aku.. Aku menemani Aura hingga tertidur."


Cakra hanya memiringkan bibirnya satu sisi. Ia tahu Luna berbohong. Ia tahu Aura sudah tertidur sesaat sebelum ia mengetahui Baby tenggelam. Lagi pula sejak kapan ia peduli dengan Aura? Selama ini ia hanya fokus pada Cakra tanpa peduli anaknya.


Merasa tidak penting meladeni Luna, Cakra pergi tanpa permisi pada Oma Ning maupun Luna. Untuk pertama kalinya Luna merasa lega ketika Cakra bersikap seperti itu padanya. Yah, setidaknya dirinya terbebas dari tuduhan, kecurigan, ataupun pertanyaan dari pria itu. Pasalnya dirinya menyadari bahwa yang tidak menyukai Baby hanyalah dirinya dan juga Oma.


" Ya sudah kamu boleh pulang sekarang Luna. Untuk perempuan itu bisa diselamatkan. Kalau tidak, mungkin rumah ini akan menjadi bahan pemberitaan besok karena kolam renangnya merenggut korban jiwa. Lain kali tangannya jangan usil," ujar Oma Ning dengan pelan, namun menimbulkan rasa nyeri dan kesal di hati Luna.

__ADS_1


Dasar nenek tua. Bisanya nyalahin doang dari tadi.


Luna menggerutu dalam hati seraya berjalan keluar rumah.


__ADS_2