
Baby turun dengan tergesa-gesa dan hampir lupa untuk membayar ongkos ojek. Dengan sekali teriakan saja, Baby kembali memutar tubuhnya yang sudah beberapa langkah ia bawa maju.
"Sorry lupa kalau gue naik ojek. Naik ojek berasa naik jet gue, gila kencengnya nggak karuan lo. Nih, minta bintang lima apa satu?"
"Lima lah."
"Kalau gitu jemput gue di sini nanti jam tiga sore. Telat, gue kasih bintang satu lo."
"Mana bisa sembarangan Ijah. Ya lo..."
"Nggak usah bawel. Gue kasih bintang satu lo nanti," ancam Baby berlari menuju kantor. Tak lupa ia menggerai kembali rambut yang sempat ia cepol asal. Untunglah Baby memiliki rambut yang lurus, jadi hanya menyisir dengan jari saja sudah terlihat bagus dan rapi.
"Astaghfirullah, sarapan apa gue tadi sampai dapat customer kayak begini, ya Allah," keluh driver ojek online.
Terdengar deheman saat kaki Baby menginjak tersebut kantor. Ia pun terpaksa menarik salah satu kakinya yang sudah menapaki lantai teras. Menurunkannya ke tanah dan menghadap ke belakang.
Sudah Baby duga, ia kembali dipergoki terlambat oleh Cakra. Pria itu kini sedang menatapnya dengan tatapan malaikat maut yang akan mencabut nyawanya.
"Selamat pagi, Pak," sapa Baby tanpa rasa bersalah.
"Kau berapa lama kerja di sini?"
"Dua hari, Pak."
"Bekerja baru dua hari, telat juga sudah dua hari. Kau belum waktunya untuk bekerja. Pulang saja dan jangan kembali ke sini!" Cakra berjalan melewati Baby dengan wajah seramnya.
Cakra tak suka dengan manusia manapun yang tidak bisa mendisiplinkan dirinya sendiri. Apalagi jika manusia itu adalah karyawannya, jelas ia tak suka dan tak mau menggaji manusia seperti itu.
__ADS_1
"Pak, saya mohon beri saya kesempatan sekali lagi, Pak. Saya tadi sudah berangkat tepat waktu, tapi di tengah jalan ban motor saya bocor. Tidak ada bengkel atau tukang tambal ban di sekeliling tempat ban motor saya bocor. Jadi saya harus mendorong motor saya hingga sekitar sepuluh sampai lima belas menit baru saya mendapatkan tambal ban. Percayalah Pak, saya tidak bohong. Bapak bisa melihat wajah cantik saya yang amburadul ini kalau bisa tidak percaya dengan saya. Lihat Pak, lihat saya." Baby berusaha memasang tubuhnya di depan Cakra namun, pria itu terus membuang muka. Tanpa sadar mereka sudah menjadi pusat perhatian para staf.
Tak berselang lama setelah itu, datanglah seorang wanita cantik dengan rambut coklat yang panjangnya sebahu. Wanita itu berjalan dengan anggun dan terlihat tak suka dengan ketidak sopanan Baby.
"Yang sopan jika bicara dengan atasan!" teriak wanita itu dengan lantang.
Baby seketika menghentikan aktivitasnya. Mata Cakra dan Baby beralih menatap wanita yang sedang berjalan ke arah mereka. Wanita itu nampak tegas dalam keanggunan.
"Kau dari kemarin aku lihat kok kecentilan sekali sama atasan. Kau sadar dengan posisimu di sini? Akan aku beritahu kalau kau tidak sadar. Kau itu sama seperti sampah yang...."
"Cukup Luna! Ini bukan ranahmu untuk bicara panjang lebar."
Luna, kakak dari Aura, almarhumah istri dari Cakra. Wanita itu terobsesi dengan Cakra setelah kepergian sang adik. Dan yang lebih parahnya lagi, keluarga Cakra dan Luna sudah membicarakan soal perjodohan keduanya. Hal ini membuat Luna semakin besar kepala dengan rencana kedua keluarga itu.
Namun sayangnya, Cakra enggan untuk menerima perjodohan itu dengan beralasan masih mencintai sang istri. Ia sengaja mengulur waktu demi mendapatkan wanita yang benar-benar ia cintai, bisa menjadi istri dan ibu untuk anaknya, itu yang paling penting bagi Cakra.
Hening.
Di detik berikutnya, Cakra meninggalkan kedua wanita itu berdiri berhadapan.
"Pak, apa saya mendapatkan kesempatan ke dua? Saya masih boleh mengais rezeki di sini, Pak? Saya berjanji akan memperbaiki kesalahan saya, Pak. Bapak boleh hukum saya apapun asal tidak menghentikan rezeki saya di sini," ujar Baby panjang lebar tak peduli dengan tatapan mata semua staf yang tertuju padanya.
"Jangan banyak janji! Tunjukkan dengan bukti. Aku tidak suka membuang uangku pada orang yang tidak disiplin waktu." Cakra berucap tanpa membalik badan, menambah kesan dingin pada pria yang berstatus duda itu.
Semua staf melongo, tak biasanya Cakra membatalkan apa yang sudah ia ucap. Mereka saling pandang dalam keheranan. Mira, satu-satunya karyawan yang sejak kemarin banyak berinteraksi dengan Baby mendelik menatap Baby yang cengar-cengir. Ia sedang mencari pesona apa yang ada di diri Baby sehingga gadis itu begitu mendapatkan sesuatu yang sama sekali tidak karyawan lain dapatkan.
Mira bekerja dengan Cakra sudah enam bulan lamanya, tak pernah ia tahu bagaimana bentuk ruangan manusia dingin itu, sedangkan Baby, baru satu hari bekerja sudah merasakan di gendong Cakra dan tahu ruangannya.
__ADS_1
Dan sekarang lihat apa yang terjadi, pria itu dengan mudahnya menarik kata-kata yang sudah ia keluarkan.
"Alhamdulillah, masih bisa kerja di sini! Hari ini kau selamat Baby, besok jangan diulangi lagi," gumam Baby melipir pergi dari tempatnya berdiri. Tak sadar meninggalkan Luna yang masih berdiri dengan tatapan buasnya.
"Hey kau!" teriak Luna sedikit keras.
Refleks Baby terhenti dari langkahnya dan memutar tubuhnya ke arah Luna.
"Kau memanggilku?"
"Memangnya siapa lagi?" Luna berjalan maju mendekati Baby. "Manusia sepertimu memang seharusnya diberi pelajaran, jangan ganjen sama calon suami orang. Cakra calon suamiku. Jangan sok kecentilan di depan dia," imbuhnya.
Baby hanya tersenyum miring, senyum khas Baby untuk mengejek seseorang.
"Memang letak kecentilan saya di mana? Saya hanya minta kesempatan kedua untuk bekerja di sini. Itu adalah hal yang lumrah dan pasti akan dilakukan semua orang jika sedang mendapatkan peringatan. Itu bukan kecentilan, tapi sebuah bentuk pembelaan. Kenapa Ibu takut sekali kalau Pak Cakra jatuh hati sama saya?"
"Hey! Jaga bicaramu!" Luna mengangkat jari telunjuknya di depan wajah Baby.
"Tidak pantas orang sepertimu bicara seperti itu di depanku. Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan Cakra. Kau adalah satu-satunya orang di sini yang berani bicara padaku seperti itu. Kau tidak akan selamat setelah ini!"
"Ibu bukan Tuhan yang menentukan keselamatan seseorang. Ibu tidak bisa menyogok Tuhan dengan uang untuk mencelakai seorang."
"Tapi aku bisa menyuruh seseorang untuk mencelakaimu dengan uangku," ujar Luna dengan senyumam liciknya.
"Bahkan aku bisa mencelakaimu tanpa menyuruh seseorang. Aku bisa melakukan dengan tanganku sendiri. Sayangnya, aku tidak mau mengotori tanganku dengan berbuat jahat pada manusia bermulut kotor sepertimu. Jangan pernah kau samakan aku dengan staf di sini yang mungkin takut padamu. Aku Baby Clarissa tidak takut dengan siapapun. Aku memang tidak kaya sepertimu, aku juga baru di sini, tapi sepertinya semua orang di sini tahu mulut siapa yang lebih berpendidikan. Permisi!"
Baby lalu berjalan meninggalkan Luna dengan wajahnya yang memerah menahan amarah.
__ADS_1
Tak ada yang tahu dari kejauhan berdiri sosok pria yang menyaksikan adegan langka itu dengan merekamnya.