Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
30. Rencana Rahasia


__ADS_3

Cakra menampakkan ekspresi malas ketika memasuki ruang tamu dan sudah ada oma Ning yang duduk dengan wajah kejamnya. Ia sudah hafal, wanita tua itu pasti akan membicarakan sesuatu yang penting ketika beliau duduk di ruang tamu. Dan sesuatu yang penting itu tidak lain dan tidak bukan adalah Luna. Entah guna-guna apa yang dikirimkan Luna pada keluarga Cakra sampai-sampai Oma Ning saja bisa menuruti apapun yang diucap oleh wanita itu.


"Cakra apa benar kamu menjalin hubungan dengan karyawan kamu?"


"Iya."


"Akhiri atau Oma akan melakukan sesuatu."


"Tanpa mengurangi rasa hormat aku ke Oma. Maaf sekali, aku tidak bisa melakukan apa yang Oma perintahkan. Oma bisa menyuruh aku melakukan apapun asal tidak dengan menikahi Luna. Apa istimewanya Luna sampai Oma begini?"


"Kamu sudah tahu alasannya dari dulu. Kenapa masih bertanya?"


"Untuk menjalin persahabatan yang sudah Oma lalui di masa lalu, tidak harus dengan menikahkan kami. Hubungan kalian akan tetap berjalan baik jika komunikasi kalian juga masih baik."


"Jangan ajari Oma, kamu tahu apa?"


"Terserahlah!"


Cakra bosan dan lelah. Ia melipir pergi tak menggubris panggilan yang sejak tadi Oma Ning teriakkan. Hal itu membuat Oma Ning marah dan terbesit melakukan sesuatu untuk membuat Cakra dan kekasihnya itu berpisah.


Sementara Cakra yang baru saja sampai kamar sudah dikejutkan oleh Aura dan ibunya yang berada di kamarnya. Nampaknya wanita itu tahu apa yang aisah terjadi, itu sebabnya beliau menunggu Cakra di kamar deahm menunggu Aura yang mulia belajar berjalan dengan memali pegangan.


"Cape? Mama buatkan kopi, ya." Bu Nisa beranjak keluar kamar.


"Teh aja, Ma."


Bu Nisa mengernyit, Cakra tidak pernah minum teh, ia kurang suka dengan minuman yang satu itu. Minuman yang di minum Cakra selama ini hanya kopi, lalu sekarang ia minta teh, tumben sekali? Pikir Bu Nisa.

__ADS_1


"Kamu yakin minta teh?"


"Iya." Cakra memandang kosong ke arah Aura yang nampak asik dengan duniamya sendiri.


Merasakan sudah mendapatkan keyakinan, Bu Nisa akhirnya meninggalkan kamar Cakra. Dengan pertanyaan yang masih menggelayut manja di kepala, Bu Nisa menuruni anak tangga satu persatu. Beliau mengabaikan Ibu mertuanya yang sedang duduk diam di sofa ruang tamu dengan bibir mengerucut.


Hanya perlu beberapa menit saja untuk Bu Nisa membuat secangkir teh hangat. Beliau kembali ke lantai atas dengan memikirkan nasib anaknya. Beliau merasa iba pada Cakra, anak satu-satunya yang beliau besarkan dengan kasih sayang kini kehidupannya sedang dijajah oleh Ibu mertuanya.


Entah kenapa sejak awal masuk ke rumah ini, Bu Nisa sama sekali tidak punya kuasa atau tidak punya kekuatan untuk melawan. Rasa sungkan dan terlalu menghormati Ibu metuannya kini menyerang dirinya sendiri. Bahkan tidak dengan hanya dirinya, anaknya juga menjadi imbas dari keegoisan yang dimiliki Oma Ning.


"Cakra, ini teh nya."


Pria itu langsung menyeruput secangkir teh hangat itu. Ia memejamkan mata sejenak menikmati hangatnya air teh yang masuk ke dalam tubuhnya. Rileks sekali, itulah yang diratakan oleh Cakra.


"Sejak kapan kamu suka sama teh?"


"Baby maksud kamu? Dia jadi petugas pantry emang sekarang?"


"Enggak, Ma. Entahlah Clarissa itu sering bertingkah aneh. Dia setiap pagi membuatkan aku minuman yang berbeda-beda setiap harinya. Aku sering protes, tapi dia malah membuat aku semakin stress. Jadi, ya sudah aku biarkan saja dia membuatkan aku minuman setiap pagi."


"Apa dia juga yang menjadi pacar kamu? Kamu beneran ada hubungan sama dia?"


"Enggak lah, ya kali aku pacaran sama dia. Cuman pura-pura aja kok. Siapa tahu dengan cara ini aku bisa gagal menikah sama Luna."


"Terus soal ciuman?"


"Ya itu akal-akalan Clarissa saja, Ma. Mama nggak tahu aja sih, Luna itu kelakuannya di belakang kalian tuh kayak gimana. Nyebelin, suka menghina orang. Makanya Clarissa juga empet sama dia, tapi memang caranya dia membuat Luna percaya sama omongan aku itu ya itu tadi. Kesannya memang kurang ajar sih dia, entahlah akhlaknya kurang banget dia. Eh tunggu, kok Mama tahu, sih. Pasti Luna, ya yang cerita, ngadu sama Mama dan Oma?"

__ADS_1


Bu Nisa akhirnya menceritakan apa yang terjadi tadi siang. Dari datangnya Luna sampai niatan Oma yang akan mendatangi kantor siang tadi.


Sial seribu kali sial. Gelagat Bu Nisa dan juga Cakra yang sudah terbaca oleh Oma Ning itu, akhirnya membuat wanita tua itu mengikuti langkah Bu Nisa saat membawa teh tadi. Dan yang terjadi sekarang adalah Oma Ning yang sudah tak lagi muda itu mendengar seluruh obrolan menantu dan juga cucunya.


Sunggingan tipis dan miring beliau tunjukkan seketika. Setelah itu pergi dari sana.


"Cakra, ini tidak mudah. Tapi Mama akan selalu mendukung kamu, Mama aku selalu ada di belakang kamu. Jika kamu tidak mau menikah dengan Luna, kamu bisa memakai berbagai cara untuk membatalkannya. Asalkan tidak melukai hati orang. Mungkin akan menyakitkan bagi pihak Luna, tapi mau bagaimana? Dia yang memaksakan, kan? Ini sulit tapi kamu jangan menyerah."


"Mama nggak perlu khawatir kalau soal itu. Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan tidak."


***


Keesokan harinya saat makan pagi bersama, Oma Ning tiba-tiba membuka suara yang membuat Cakra dan ibunya sedikit terkejut.


"Cakra, coba kenalkan perempuan yang kamu jadikan sebagai pacar itu kepada Oma dan juga ibumu. Oma ingin tahu apa yang menjadi kelebihan dia, sampai kamu menjadikan perempuan itu sebagai pacarmu dibandingkan dengan Luna yang lebih dari segalanya."


Ujaran dari Oma Ning tentu saja membuat Cakra dan ibunya saling tatap. Tinggal berpuluh-puluh tahun di satu atap yang sama tentu saja membuat mereka hafal dengan karakter beliau. Ibu dan anak itu curiga bahwasanya wanita yang berkuasa di rumah itu sedang merencanakan sesuatu. Meskipun sudah terbaca oleh Cakra gelegat Oma ada yang aneh tetap saja pria itu tidak tahu apa yang sudah direncanakan wanita tua itu. Beliau terlalu pandai menyembunyikan rencananya.


"Apalagi yang Oma mau?"


"Mau kenal saja apa salahnya? Katanya pacar harusnya berani mengenalkan dong. Bawa dia ke sini nanti pas acara ulang tahun Aura yang pertama. Itu pun kalau kamu memang serius pacaran sama dia."


"Baiklah, aku akan bawa dia."


Meskipun tak tahu apa yang ada dalam pikiran omanya, Cakra akan tetap melakukan permintaan wanita itu. Karena jika tidak dikabulkan, maka Oma Ning pasti akan curiga terhadapnya.


Aku khawatir jika Oma melakukan sesuatu yang buruk terhadap Clarissa. Tapi jika aku tidak mengabulkan apa yang Oma minta, pasti Oma berpikir aku tidak serius dengan hubunganku dan Clarissa. Itu artinya aku harus menjaga Clarissa saat berada di sini nantinya.

__ADS_1


__ADS_2