
Dua hari setelah itu, Oma Ning dibuat semakin murka, karena Cakra yang tidak bisa dihubungi dan tidak masuk kantor sama sekali. Wanita tua itu lalu mengambil tindakan dengan langsung menemui Baby di rumahnya. Terlalu mudah bagi Oma Ning untuk mencari rumah Baby, hanya dengan sekali jentikan jari saja, informasi sudah beliau dapatkan lengkap dengan data kedua orang tua Baby.
Siang itu juga Oma Ning datang ke rumah Baby dengan di temani dua orang antek-anteknya. Dengan wajah dan gaya sombongnya beliau berjalan ke rumah Baby.
Pak Rahmat yang berada di teras memasang sepatu kerjanya sampai menghentikan kegiatannya karena perhatian pria itu teralihkan pada wanita tua yang berjalan ke arahnya. Dan dua orang pria yang berbadan besar berjalan di belakang wanita itu.
"Selamat siang, benar ini rumah Rahmat dan Nur. Orang tua Baby Clarissa?" tanya Oma Ning membenarkan letak kacamatanya.
"Iya benar. Saya Rahmat, ada apa, ya Bu?"
"Saya adalah nenek dari Cakra. Mantan atasan anak kalian. Ke mana perginya sekarang anak sialan mu itu?"
Bu Nur yang baru saja keluar dan mendengar ucapan Oma Ning tidak terima dengan olokan yang di lempar oleh wanita berumur itu. Tidak ada Ibu yang suka rela mendengar anaknya si olok.
"Anak sialan? Siapa yang Ibu maksud anak sialan? Anda ini siapa? Tidak kenal, tidak pernah ketemu, tidak pernah bertegur sapa, tidak ada masalah, datang-datang bawa masalah." Bu Nur nampak marah dan ditenangkan oleh suaminya.
"Kau tidak tahu saya? Saya adalah wanita yang menguasai dunia bisnis. Semua orang yang punya pendidikan dan kedudukan, pasti tahu nama saya. Pasti tahu siapa saya. Karena kalian tidak berpendidikan, jadi saya akan memaklumi jika kalian tidak tahu saya. Ke mana perginya anakmu itu? Anak yang tidak tahu diuntung. Sudah dikasih pekerjaan sama cucu saya, malah dia menghasut cucu saya untuk meninggalkan rumah di hari pertunangannya. Katakan di mana dia sekarang!"
Mendengar ucapan itu, akhirnya Bu Nur paham siapa wanita sombong yang berada di depannya itu. Sudah beliau duga bahwa wanita tua itu adalah wanita beruang. Dari gaya bicara, gaya berpakaian, dan gaya penampilannya saja sudah sangat menunjukkan bahwa wanita itu bukan wanita biasa. Dan inilah ketakutan yang Bu Nur selama ini khawatirkan. Bergaul dengan orang yang salah dan akhirnya disalahkan dalam setiap tindakan yang tidak ia lakukan.
__ADS_1
Sekarang alasan Bu Nur untuk tidak merestui Baby dengan pria manapun yang beruang semakin bulat dan tidak akan berubah. Pemikirannya mengenai sifat dan sikap orang kaya membuat beliau semakin yakin bahwa mereka tidak akan memanusiakan manusia yang berekonomi menengah ke bawah.
"Ibu jangan sembarangan kalau ngomong, ya!" Pak Rahmat yang berucap. "Anak saya tidak menghasut siapa pun untuk berbuat hal yang buruk. Anda tahu apa soal anak saya sampai bicara begitu?" imbuhnya.
"Kalian yang tidak tahu apa-apa soal anak kalian! Semenjak anak kalian masuk ke dalam perusahaan cucu saya dan mengenalnya, cucu saya berubah drastis. Dia menjadi pembangkang dan sering melawan saya. Padahal dulunya apa pun yang saya katakan selalu dia iyakan. Dan sekarang dia malah berani mempermalukan saya dan keluarganya, dan itu pasti hasutan dari anak kalian!" tuduh Oma Ning.
"Apa Ibu punya bukti untuk itu? Anda mau koar-koar bagaimanapun, saya tidak akan percaya, saya akan tetap percaya anak saya. Anak saya tidak pernah begitu, dia tidak pernah berbuat jahat sama orang."
"Kalau saya sampai tahu anak kalian yang membawa pergi cucu saya. Saya hancurkan kalian semua. Sekarang kalian bebas dari tangan saya. Suatu saat nanti, jangan harap kalian bisa lepas!" Oma Ning lalu memutar badan dan pergi dari sana.
Kedua orang tua Baby hanya menatap punggung wanita itu dengan tatapan emosi yang masih berkuasa.
"Ibu, jangan menyamaratakan orang seperti itu. Coba Ibu bayangkan kalau semua orang menilai orang miskin sama dengan pencuri, pasti Ibu juga tidak akan terima. Padahal tidak semua orang yang miskin itu mencuri, kan Bu?"
"Itu sudah lain cerita."
Bu Nur lalu mengakhiri perdebatan mereka dengan meninggalkan Pak Rahmat sendirian di teras. Pria paruh baya itu hanya bisa menghela nafas panjang.
***
__ADS_1
Di tempat lain, Cakra, Bu Nisa dan juga Aura berada di toko berukuran sedang yang berhasil Dandi dapatkan kemarin. Meraka sedang mempersiapkan segala kebutuhan untuk berjualan snack buatan teman Bu Nisa sendiri. Sudah pasti snack dan aneka jajanan ringan itu jarang ada yang menyediakan karena memang jajanan home made itu masih belum ada yang menjual di pasaran.
Berbagai rak, meja alat tulis dan lain sebagainya saat ini sedang di siapkan oleh mereka. Sementara Aura sangat anteng dengan berbagai mainan yang di tumpah ruah kan di lantai.
"Assalamu'alaikum," sapa Baby yang tiba-tiba datang dengan membawa tiga kotak makan siang. Dan satu kotak berukuran kecil yang mungkin saja itu makanan untuk Aura.
"Waalaikumsalam."
Aura bersalaman dengan Bu Nisa. Kedekatan mereka berjalan cepat sejak dua hari yang lalu. Lebih tepatnya hari di mana Cakra melarikan diri dari rumah.
"Aku datang terlambat. Semua sudah siap. Bagaimana kalau kita makan siang dulu. Ini aku bawa makanan untuk kita makan siang. Ini untuk Aura." Baby membagikan makanan yang berada ditangannya.
"Kok jadi ngrepotin, sih," kata Cakra sedikit sungkan.
"Nggak, hanya makanan saja. Aku tinggal menukarnya dengan uang. Aku tidak perlu repot memasak. Jadi sama sekali nggak ngrepotin aku."
Bu Nisa dan Cakra tertawa kecil. Pria yang tadinya sangat risih degan kehadiran Baby, kini nampak sedang menatap gadis itu dengan intens. Baby yang ia kenal pecicilan dan begajulan itu kini sangat berubah drastis. Ia suka Baby yang sekarang, lebih kalem, sopan, jika banyak tingkah dan lebih feminim.
"Aura, makan sama Aunty, yuk! Lihat deh, Aunty lumayan apa. Tuh, ada nasi sama sayur mayur. Ada ikannya juga tuh disuir-suir. Sini Aunty gendong, kita makan. Apa makan sambil jalan-jalan? Iya mau? Ya dah kita jalan ke sana, kita lihat kendaraan lewat, banyak mobil tahu. Yuk!"
__ADS_1
Dengan lembut Baby meraih tangan Aura dan membawanya ke depan toko. Cakra dan Bu Nisa hanya menatap Baby dan Aura dengan suulas senyum.