
Selesai dengan makan siang, Baby menidurkan Aura dengan mengayun-ayunkan bayi satu tahun yang bertubuh gemuk itu. Hanya butuh waktu sepuluh menit saja, bayi itu sudah tertidur.
"Cla, makan! Aura biar aku yang pindahin, dia udah tidur. Kamu bawa makan siang ke sini niatnya makan bareng, malah kamu jagain Aura." Cakra sedikit sungkan dengan gadis yang akhir-akhir ini dekat dengannya.
"Pelan-pelan, dia baru saja tidur."
"Iya-iya. Aku bapaknya, lebih tahu aku dari pada kamu."
"Tapi aku bisa nidurin dia tanpa susu." Baby tak mau kalah dalam perdebatan itu.
Cakra hanya hanya membuang nafasnya kasar. Ia mengambil Aura dari Baby dengan pelan. Setelah berhasil ia bawa ke gendongannya dengan aman. Ia segera meletakkan Aura di kasur mini khusus bayi yang bisa dibawa ke mana-mana.
Baby lalu duduk bergabung di dekat Bu Nisa. Wanita itu masih sibuk dengan rak yang akan di jadikan tempat snack nantinya.
"Makasih, ya Nimas kamu udah peduli sekali sama kami meskipun kami sedang berada di posisi terendah dalam hidup. Kami benar-benar memulai berdiri dengan kaki kami sendiri hari ini dan kamu orang kedua yang nemani kami setelah Dandi."
"Nggak perlu terima kasih, Tante. Aku ikhlas kok. Aku juga seneng kalau bisa bantu kalian."
Ada kekhawatiran di diri Baby meski ia nampak biasa saja. Gadis itu memikirkan nasibnya sendiri. Bagaimana jika kedua orang tuanya tahu akan hal ini. Pasti akan terasa. lebih berat lagi.
Ya, sudah sejauh itu Baby berpikir. Padahal ia dan Cakra belum meresmikan hubungan untuk menjadi lebih jelas statusmya apa. Pria itu hanya pernah menanyakan soal pembahasan yang pernah selalu saja diucapkan oleh Baby. Pria itu hanya mengatakan ingin menagih kata-kata itu, sedangkan Baby tidak menjawab apa pun hingga sekarang. Dan Cakra juga tidak menagihnya kembali.
"Tante aku harus kembali ke cafe, jam istirahatku hampir selesai."
__ADS_1
"Iya, hati-hati di jalan."
"Iya, Tan. Aku pamit Pak Cakra dulu." Baby bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruangan belakang yang di beri skat oleh mereka untuk beristirahat.
Gadis itu berhenti sejenak menatap pemandangan indah yang tak pernah ia lihat. Cakra menenangkan Aura yang nampak mengeliat entah kenapa. Baby lalu bejalan mendekat ke arah Ayah dan anak itu.
"Kenapa? Apa dia terbangun?"
"Nggak, mungkin dia cape semua badannya. Dari tadi tidurnya nggak terlalu tenang. Kamu mau balik?"
"Iya. Masih ada setengah jam, sih. Biar santai di jalan aja. Aku trauma kalau harus ngebut dan nabrak mobil orang." Baby terkekeh mengatakan itu karena teringat dengan kejadian beberapa bulan lalu saat pertama kali ia bekerja sudah membuat masalah dengan atasannya.
"Kamu yang dulu itu sangat menyebalkan bagiku. Tapi memang benar apa yang dikatakan Dandi, kamu itu berbeda dari yang lain. Kamu langka, Dandi sudah merasa dari awal kalau kamu punya keistimewaan. Dan sekarang sudah nampak apa itu keistimewaan kamu."
"Apa?"
"Pasti wajahku merah sekarang. Kenapa Bapak jadi pintar merayu seperti ini? Sejalan kapan Bapak seperti ini?"
"Sejak kenal kamu. Baby, apa kamu mau menungguku hingga aku bisa kembali mapan? Setidaknya sampai aku bisa beli rumah untuk kita tinggali bersama nanti."
"Bapak berpikir sejauh ini?"
"Kenapa tidak? Aku nggak mau kehilangan kamu. Ya sudah pasti akan aku nikahi, kenapa kamu terkejut? Kami berpikir aku main-main?"
__ADS_1
"Tapi aku, kan pernah bilang kalau ini nggak mudah. Ibuku..."
"Jalani, jangan dibayangkan susah atau nggak nya. Yang namanya kehidupan pasti akan ada ujiannya. Anak sekolah aja ada ujiannya untuk naik kelas. Apalagi kehidupan? Nggak dapat rsdgu sekarang, suatu saat nanti akan dapat. Itu tugas kita berdua."
"Bagaimana dengan Oma?"
"Kehidupan ku sudah terpisah, jangan bicarakan dia."
Dan setelah hari itu mereka menjalani hubungan yang santai, meski kadang-kadang Baby masih memikirkan nasibnya ke depan. Hari ini sudah satu bulan Cakra dan Bu Nisa menggeluti usaha barunya. Meski usaha ini dibangun berdua dengan Dandi, pria itu hanya jarang-jarang saja ke toko. Ia lebih fokus pada promosi dan memperkenalkan usaha barunya pada semua orang.
Di hari ke tiga puluh hidup tanpa cucu dan menantunya membuat Oma Ning merasa kesepian dan sering sakit-sakitan. Di saat seperti inilah, Oma Ning merasa butuh kehadiran menantunya.
Sudah menjadi rahasia umum, kan jika kita baru sadar jika orang yang di sekeliling kita berarti dan berharga ketika orang itu hilang dari kehidupan kita. Dan karma itu tidak mengenal pengecualian, Oma Ning sekarang merasakan arti kehadiran cucu dan menantunya.
Di rawat di rumah sakit sejak dua hari yang lalu. Anak cucu yang semula jauh berkumpul di rumah Oma Ning untuk bergantian menjaga ibunya yang sedang tak berdaya dengan selang infus di tangannya. Alat bantu nafas pun menempel di hidungnya.
"Bagaimana? Apa kalian bisa menemukan Cakra dan Nisa? Kenapa mereka nggak pulang-pulang? Kehidupan mereka bagaimana?" tanya a Ning pada anak sulungnya.
"Ibu tunggu sebentar. Aku akan menemukan Cakra dan Nisa sebentar lagi, aku sudah dapat sedikit titik terang di mana keberadaan mereka. Aku akan bawa mereka ke sini untuk Ibu. Jadiakan ini sebagai pelajaran, Bu. Dari dulu kami selaku anak Ibu nggak suka dengan sikap Ibu yang seperti ini. Nggak semua apa yang Ibu inginkan harus didapatkan. Ada kalanya kita itu harus ikhlas dengan ketentuan Tuhan. Apa yang terbaik buat Ibu belum tentu yang terbaik untuk Cakra. Dia yang menjalani kehidupan yang Oma tentukan. Ibu mau membuat cucu Ibu sendiri menderita? Kalau sudah begini Ibu bari sadar kalau Ibu salah."
"Ya sudah kamu jangan nyalahin Ibu terus."
"Nggk nyalahin, Ibu. Aku mengingatkan. Nisa dan Cakra termasuk orang yang punya kesabaran luar biasa bisa bertahan hidup dengan Ibu puluhan tahun. Lihat menantu dan cucu Ibu yang lain. Nginep seminggu di rumah aja pada nggak mau."
__ADS_1
Oma Ning diam, membenarkan ucapan anak sulungnya. Tidak ada anak cucunya yang mau menginap atau tinggal serumah dengan beliau. Wanita itu selamanini hanya berpikir bahwa mereka tidak peduli dan tidak sayang padanya, itu sebabnya mereka tak mau tinggal bersama. Padahal bukan itu yang mereka rasakan, tapi sikap Ima Ning lah yang membuat tidak nyaman siapa pun untuk tinggal serumah.
Apakah anak sulungnya tidak pernah mengingatkan? Jangan tanyakan! Entah sudah berapa kali anak sulungnya itu selalu menasehati ibunya. Namun, apa pun keluar dari mulut anaknya tidak pernah dianggap oleh Oma Ning. Beliau merasa ada yang sayang dan lebih membahagiakannya karena Bu Nisa dan Cakra yang selalu menurut padanya. Dan sekarang kedua orang itu pun sudah pergi, barulah saat ini beliau sadar dengan sikapnya. Meskipun dalam hati, beliu tidak mau disalahkan seorang sepenuhnya.