Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
26. Pagutan Singkat


__ADS_3

Baby dengan gerakan tidak sabar menunggu Bian menerima panggilannya. Sudah tiga kali ini ia menelepon adiknya namun tidak ada sahutan.


"Halo, ke mana aja sih lo? HP tuh dikasih suara Bian, biar kalau ada orang telepon lo tahu," omel Baby begitu sambungan teleponnya sudah tidak terdengar.


"Iya-iya ini gue lagi di jalan mau ke sana. Sabar kenapa, sih!?"


"Nggak usah, lo jangan ke sini dulu. Gue lagi ada tamu spesial. Pokoknya jangan ke sini kalau gue belum telepon lo. Sampai lo ke sini sebelum gue telepon, gue penggal kepala lo."


Belum sempat Bian menyahut ucapan kakaknya, sambungan telepon itu sudah terputus. Dengan cepat-cepat Baby mematikan gawainya dan menyembunyikannya di sela perut dan celana.


"Oke aman."


Begitu embuka pintu ternyata Cakra masih berdiri mematung di depan kamar mandi. Tak ia sangka Cakra rela menunggunya di depan pintu seperti ini. Ia merasa kepalanya bertambah besar saat ini.


"Apa masih lemas?"


"Seseorang yang merasa lemas lalu masuk ke kamar mandi, bukan berarti lemasnya akan hilang Pak. Tentu saja saya masih sangat lemas. Saya butuh tangan Bapak untuk membawa saya ke ranjang."


"Ya sudah ayo aku bantu daripada kau pingsan di sini dan malah aku yang dituduh."


Rangkulan itu kembali dirasakan oleh Baby. Ayah sekuat tenaga dan berusaha sangat keras untuk tidak jingkrak-kingkrak di tempat. Sejak tadi suaranya pemberontak ingin sekali rasanya untuk berteriak, menunjukkan pada dunia bahwa ia sedang merasakan pelukan Cakra.


Di tengah-tengah pikirannya yang sedang ingin berteriak, Baby juga memikirkan hal lain. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar Cakra bisa melakukan lebih dari sekedar merangkulnya untuk membantu berjalan.


Biarlah setan-setan di rumah sakit ini mengatai dirinya kemaruk. Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali. Jika ia tidak menggunakan kesempatan hari ini, maka kesempatan yang lain sangat kecil kemungkinan untuk datang. Jadi harus memanfaatkan ini dengan baik.


"Terima kasih Pak sudah bersedia membantu saya. Selain marah-marah terus Bapak ternyata juga baik sama saya."


"Hm."

__ADS_1


Cakra tidak bisa berkata-kata, debaran jantungnya yang sedikit bergemuruh saat menyentuh Baby, membuat dirinya menjadi tidak tahu harus melakukan apa.


"Aduh," keluh Baby mengucek salah satu matanya.


"Kenapa?"


"Sepertinya ada sesuatu yang masuk. Saya tidak tahu ini apa, tapi perih sekali." Baby masih terus mengucek matanya. "Pak, bisa saya pinjam kaca?Saya ingin mengambilnya, rasanya perih sekali," imbuhnya.


"Aku mana ada cermin, Cla."


Cla? Oh Tuhan panggilan Pak Cakra manis sekali. Ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Rasanya aku ingin sekali terbang mendengar dia menyebut namaku seperti itu.


"Coba aku lihat, mungkin aku bisa bantu meniupnya."


"Bapak yakin? Bapak sadar tidak dengan apa yang Bapak ucapkan? Nanti malam marah-marah ke saya."


"Coba aku lihat, singkirkan tangannya."


"Pak, Bapak masih di sana?"


"Ha? Iya. Aku buka sedikit matanya untuk aku tiup, ya."


Baby mengangguk dengan semangat. Jika saja ia bisa membuat Cakra seperti ini terus setiap harinya, mungkin ia merelakan tubuhnya untuk sakit setiap hari tanpa sembuh agar bisa berdekatan dengan pria idamannya.


Di saat Cakra sedang sibuk meniup niup mata Baby, Dandi dan Mira membuka pintu hendak masuk, namun langkah mereka terhenti karena jika dilihat dari belakang nampak Cakra yang seperti sedang melakukan sesuatu yang mengandung unsur dewasa.


Mira dan Dandi lalu saling tetap seraya membuka mulut saking syoknya. Mereka lalu kembali keluar ruangan setelah melakukan obrolan tanpa suara.


"Masih perih?"

__ADS_1


"Udah jauh lebih baik, terima kasih untuk cintanya, eh maksudnya bantuannya."


Cakra yang sempat melembut kembali pada jiwa titisan kulkas setelah mendengar ucapan Baby yang mulai kumat.


Cakra lalu duduk di tepian ranjang dekat kaki Baby. Entahlah, nampaknya pria itu hari ini banyak khilafnya, ia nampak seperti tidak sadar yang sedang ia lakukan. Semua seperti refleks begitu saja.


Baru saja beberapa detik menempelkan bokong dengan ranjang, ponsel Cakra sudah bergetar.


Astaga Oma?


Tanpa pikir panjang pria itu menekan tombol merah di ponselnya lalu menonaktifkan ponselnya.


Mendapat panggilan dari Oma membuat Cakra teringat dengan maksudnya ke sini. Dan mau tak mau ia juga teringat dengan pesan Dandi. Namun, ia bingung harus memulai obrolan ini dari mana.


"Cla, sebenarnya a..."


Ucapan Cakra terhenti, karena tiba-tiba hidung Baby mengeluarkan darah segar. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak, tapi entah kenapa hal itu Cakra panik.


"Eh hidungmu keluar darah, kau mimisan." Cakra mencabut beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Baby.


"Saya takut darah, Pak. Bisa Bantu saya? Lagipula bagaimana cara saya membersihkan darah di hidung saya jika saya tidak bisa melihatnya."


Apakah ini modus Baby? Tentu saja iya. Bukankah ia sudah katakan bahwa ia akan memanfaatkan hari ini sebaik mungkin? Apapun akan Baby lakukan demi mendapatkan perhatian dari Cakra dan membuat pria itu salah tingkah sendiri dengan apa yang dilakukannya. Dan lagipula, mumpung Cakra hari ini lebih banyak khilafnya dari pada warasnya, jadi Baby tentu saja tidak ingin melewatkannya. Hal sekecil apapun, akan menjadi besar bagi Baby jika yang melakukannya Cakra.


Cakra lalu mendekatkan wajahnya ke kawasan Baby agar bisa melihat dengan jelas. Membersihkan hidung yang tiba-tiba meneteskan darah. Saking dekatnya wajah mereka tioan nafas sari keduanya terasa menerpa wajah. Hembusan nafas itu membuat keduanya saling tatap dalam desiran yang entah bagaimana mereka menjelaskannya.


Entah mengapa dan apa maksud Baby yang dengan perlahan memejamkan mata. Tindakan Baby yang kecil ini membuat Cakra merasa ingin khilaf lebih dalam. Ia mengamati wajah dan bibir mungil Baby yang tiba-tiba saja membuat matanya ingin melahapnya.


Cakra pria normal, di heningnya ruangan dan dunia yang sudah mulai menggelap ini rasanya sangat mendukung kedekatan mereka saat ini. Entah apa yang membuat Cakra mendorong kepalanya untuk lebih maju dan

__ADS_1


Hal yang sangat tidak disangka siapapun sedang terjadi saat ini. Dengan perlahan namun pasti, Cakra mempertemukan bibirnya dengan bibir Baby. Gerakan yang Cakra lakukan sangat lembut dan membuat Baby kembali terbang entah ke surga yang mana. Semakin lama pergerakan mereka semakin membuat decakan yang terdengar sangat nyata. Bunyi decakan itulah yang membuat mereka sadar dan seketika melepas pagutan malam yang singkat itu.


"Apa yang kita lakukan?"


__ADS_2