
Malam ini adalah mala di mana kebahagiaan Luna berada di puncak. Di sebuah gedung yang sudah dihias dengan indah nan elegan, Luna sudah siap akan melangsungkan pertunangan. Berputar-putar di depan cermin memperlihatkan bahwa dirinya terlalu cantik malam ini.
Tepat pukul tujuh malam Luna sudah duduk tenang di kursinya. Ia melirik sekeliling, melihat hiasan yang indah dan cantik. Bunga-bunga yang tersusun dengan rapi dan berwarna-warni. Ia merasa beruntung karena Cakra tidak melibatkan soal dekorasi, laki-laki itu menyerahkan semuanya pada Luna. Tidak ada kata atau gambaran yang pas untuk menggambarkan perasaan Luna hari ini.
Acara yang seharusnya sudah dimulai setengah jam yang lalu nampak membuat para keluarga dan tamu undangan berbisik-bisik. Hal itu terjadi membuat Luna risih. Akhirnya ia pun menghubungu Cakra. Menelepon dua kali tidak ada jawaban, membuat Luna menghubungi Oma Ning.
"Ah sial, kenapa nggak ada yang bisa aku hubungi? Cakra nggak diangkat, Oma Ning nomernya dialihkan. Pada kenapa sih?"
***
Di lain tempat, perdebatan terjadi antara Oma Ning dan juga Bu Nisa. Wanita tua yang sudah menjodohkan Cakra dengan Luna itu murka mendapati cucunya yang pergi dari rumah di hari pertunangannya.
"Tidak mungkin kamu tidak tahu rencana ini. Kamu dan anak kamu itu dekat, pasti kamu turut andil dalam rencana ini, kan Nisa? Seharusnya aku sudah curiga dari awal. Seharusnya Aku tidak percaya begitu saja dengan Cakra yang tiba-tiba menerima pertunangan ini dengan tanpa syarat dan tanpa penolakan lagi. Ibu dan anak sama-sama saja menyusahkan."
Bu Nisa yang berpuluh-puluh tahun sudah cukup sabar menghadapi Ibu mertuanya nampaknya hari ini adalah puncak kesabarannya. Beberapa minggu terakhir Bu Nisa juga sudah menampakkan sedikit demi sedikit keberaniannya. Beliau sudah lelah jika harus terus diam ketika dirinya terus disalahkan. Apalagi akhir-akhir ini Oma Ning sudah sangat keterlaluan dengan Cakra.
"Saya dan anak saya menyusahkan? Kalau begitu biarkan kami pergi. Cakra sudah pergi meninggalkan rumah ini, jadi yang menyusahkan hanya tinggal saya, kan Bu? Kalau begitu saya juga akan pergi."
"Pergi, pergi sana! Bawa juga cucumu itu. Anak dan Ibu tidak hanya menyusahkan, tapi juga memalukan orang tua."
__ADS_1
Tak disangka, Oma Ning akan menjawab dengan kata-kata seperti itu. Tanpa diperintah dua kali, Bu Nisa segera pergi menuju kamarnya untuk mengemasi semua pakaian.
"Siapa yang suruh kamu naik ke atas?Saya minta kamu pergi bukan ke kamar! Jangan bilang kalau kamu sedang berpikir akan mengemasi pakaianmu, tidak bisa! Pakaian itu yang beli adalah anak saya, kamu pergi dari sini tanpa membawa barang apa pun uang sepeser pun, lepas semua perhiasanmu itu."
Bu Nisa lebih tercengang lagi dengan ucapan Oma Ning kali ini. Sungguh sakit hati Bu Nisa pada ibu mertuanya itu. Dengan segera Bu Nisa melepas semua perhiasan yang beliau pakai. Aura yang sepertinya merasakan ketidakenakan perasaan omanya membuat anak kecil yang berusia satu tahun lebih itu sedikit rewel.
Setelah selesai dengan pelepasan perhiasan itu, Bu Nisa membawa Aura pergi dari rumah besar itu. Rumah mewah yang membuat hatinya terasa terpenjara.
Hari sudah malam, Bu Nisa tidak tahu ke mana perginya Cakra. Beliau berjalan sedikit jauh dari rumah lalu menghubungi anak satu-satunya itu.
"Cakra, kamu di mana? Jemput Mama sekarang. Di depan kompleks. Mama tunggu!" Bu Nisa tidak memberikan kesempatan Cakra untuk menjawab atau ucapannya. Beliau langsung memutuskan sambungan begitu niatnya sudah tersampaikan.
Bu Nisa yang sejak tadi sudah berusaha untuk tidak menangis akhirnya tumpah juga ketika melihat Aura yang tiba-tiba tertidur.
Ya, Cakra saat ini sedang berada di hotel yang jauh dari rumahnya. Sengaja ia memilih hotel yang jauh dan tidak terlalu besar ataupun dikenal banyak orang, karena ia tidak mau persembunyiannya itu diketahui oleh omanya ataupun antek-anteknya.
Dari hotel hingga rumah Cakra harus menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam. Pria itu dalam perjalanan begitu panik sampai ia tidak berhenti menggetar-getarkan kakinya.
"Pak bisa lebih cepat?"
__ADS_1
Entah sudah berapa kali Cakra menanyakan hal itu pada sang supir. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia khawatir pada ibu dan juga anaknya yang berada di luar rumah. Aura tidak pernah keluar rumah sampai selarut ini. Apalagi ia tidak kuat dengan udara dingin.
Setelah satu jam lebih lima menit akhirnya Cakra sampai di depan kompleks perumahannya. Ia berlari tunggang langgang menuju ibunya dan juga Aura yang sedang dipangku.
"Mama, ayo pergi dari sini."
Cakra tidak sempat menanyakan hal apa pun meskipun banyak pertanyaan yang berjejal di kepalanya. Baginya, pertanyaan itu bisa ditanyakan nanti, yang terpenting sekarang adalah ibu dan anaknya itu bisa pergi dari sini dengan segera. Udara malam sangat tidak baik untuk mereka.
Bu Nisa masih terisak saat dirinya sudah terduduk di dalam taksi. Hal itu tentu saja membuat pertanyaan di kepala Cakra.
"Sini, Ma. Aura biar sama aku." Cakra mengelurkan tangannya dan mengambil aura dari tangan ibunya.
Tangan kanannya Cakra gunakan untuk menopang kepala sang anak. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk merangkul sang Ibu. Ia sengaja membiarkan ibunya itu menangis hingga puas terlebih dahulu. Jika sudah memungkinkan untuk bisa ditanya, barulah Cakra akan menanyakan ada apa. Lagipula mereka sekarang sedang berasal di dalam taksi. Rasanya tidak elok jika mereka membicarakan masalah kelurga ketika ada orang lain.
Cakra membatin dalam hati, ibunya minta dijemput tanpa membawa apa pun. Perhiasan yang biasa beliau gunakan dan tak pernah beliau lepas sekarang nampak tidak ada di jari manisnya.
Setelah berusaha untuk bungkam dan memenangkan ibunya, akhirnya Cakra buka suara begitu sampai di kamar hotel.
"Ma, bisa Mama ceritakan ada apa? Kenapa Mama nangis?"
__ADS_1
"Mama cape disalahin terus sama Oma kamu. Dia bilang kita ini hanya menyusahkan dan hanya bisa buat malu dia. Mama udah cape kalau harus diam terus. Mama akhirnya melepas emosi. Nggak ada Ibu mana pun yang diam saja ketika anaknya dikatai seperti itu. Akhirnya Oma kamu nyuruh Mama pergi juga dari rumah dengan tanpa membawa apa-apa. Bahkan semua pemberian dari Papa juga disuruh kembalikan." Bu Nisa semakin terisak saat menceritakan itu.
Cakra tak bisa berkata-kata lagi. Sakit hatinya mendengar ibunya diperlakukan tidak baik seperti itu oleh Ibu mertuanya sendiri. Pria itu hanya bisa menenangkan dengan memberikan pelukan sayang utuk ibunya. Mulai hari ini dan seterusnya, Cakra dan ibunya harus berdiri sendiri di kakinya sendiri.