
Di atas meja yang sama, hari itu Baby, Mira, dan Dandi menghabiskan waktu satu jam istirahat untuk melepas sedikit beban dan penatnya pekerjaan yang tidak ada habisnya. Gelak tawa menghiasi mulut mereka karena tingkah konyol Baby yang tidak dimiliki oleh semua gadis.
Ini adalah pertama kalinya Dandi duduk di satu meja yang sama dengan staf wanita. Biasanya ia akan duduk atau bercengkrama dengan para staf pria itupun jarang ia lakukan.
"Udah Baby udah, perutku sakit karena curhatanmu. Orang tuamu itu tidak menyimpang, tapi mereka langka. Zaman sekarang susah banget nyari orang tua kayak gitu," sela Dandi di tengah tawanya.
"Iya mereka susah dicari karena orang tua kayak mereka udah nggak ada. Mana ada orang tua yang anak tirikan anak kandung. Ngomong-ngomong Pak Dandi orangnya humble banget, ya beda banget sama Pak Cakra. Seandainya aja Pak Cakra bisa kayak Pak Dandi."
"Jangan salah, Pak Cakra itu sebenarnya baik kok. Cuman memang kebaikannya itu agak ketutup sama kedisiplinan dan juga dinginnya Pak Cakra. Tanya aja sama karyawan lama, baik kok dia."
Tangan Dandi endak mengambil minum, namun di saat yang bersamaan ponsel yang ia letakkan di meja bergetar pendek-pendek menandakan ada pesan masuk. Fokusnya menjadi terbelah dan tak sengaja menumpahkan minuman ke pakaian Mira.
"Ya Tuhan, astaga maaf-maaf aku nggak sengaja." Dandi mengambil tisu dan berusaha untuk membantu Mira membersihkan jus yang membasahi roknya.
Mira terkejut dengan respon Dandi. Bukannya melanjutkan kegiatannya untuk mengeringkan roknya yang basah basah, ia justru menatap wajah Dandi yang begitu dekat dengan wajahnya. Ini adalah pertama kalinya Mira melihat Dandi dengan jarak yang begitu dekat, bahkan sangat dekat.
Baby, manusia satu-satu yang satu meja dengan mereka nampak paham situasi. Ia mengambil ponselnya lalu memotret kedekatan mereka, sangat nampak bahwa Mira seperti tertegun atau mungkin justru terpana dengan ketampanan yang dimiliki Dandi.
Dandi memang tidak memiliki kulit putih. Kulitnya yang cenderung kecoklatan justru menambah pesona manis pada pria berlesung pipi itu.
"Ah nggak apa-apa, Pak. Biarkan saja, ini tidak terlalu basah," ujar Mira tak enak hati.
"Iya, tapi ini terlihat basah Mira, warna rokmu coklat jadi kelihatan."
"Tidak apa-apa Pak sungguh."
Wajah Mira semakin bersemu merah ketika mereka saling tatap seperti ini.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf aku tidak sengaja."
Mira hanya mengangguk tersenyum lalu mengajak Baby untuk kembali ke meja kerjanya karena mam sudah menunjukkan pukul satu lebih. Mira pergi dengan membawa jantung yang masih berdetak dengan kencang, tak pernah ia sedekat ini dengan seorang pria sebelumnya.
Ya, secuek itu Mira pada seorang pria hingga usianya yang sudah dua puluh dua tahun ini, ia tak pernah memiliki seorang kekasih, sama halnya seperti dengan Baby. Bedanya, Baby memang tidak memiliki seorang kekasih karena ia tidak tertarik pada lawan jenis sebelumnya. Dari SMA hingga kuliah tidak ada satupun pria yang bisa meluluhlantakkan hatinya seperti saat dirinya melihat Cakra untuk pertama kalinya.
"Itu wajah habis kebakaran apa gimana sih Mir, merah banget?" celetuk baby saat menjauh dari kantin.
"Ya kali gue nggak deg-degan, lo kan tahu sendiri tadi sedekat apa wajah gue sama Pak Dandi. Gila, gue baru sadar dong kalau dia ganteng juga ternyata, manis banget. Mana sweet lagi. Gue nggak akan pernah bisa lupain momen ini. Aduh jantung gue masih nggak baik-baik aja ini."
"Tenang aja, gue mengabadikan momen itu. Ntar gue kirim deh. Eh kayaknya lucu deh, Mir kalau misalkan ini beneran kejadian. Gue udah membayangkan nih, lo jadian sama Pak Dandi, gue sama Pak Cakra kita ngedate bareng, nikah bareng bikin anak bareng. Semuanya serba bareng, terus kita jodohin anak-anak kita, kayaknya hidup kita indah banget, ya."
Tuing.
Satu toyoran berhasil membuat kepala Baby terhuyun sebentar.
"Mimpi aja terus," jawab Mira mengenai khayalan yang Baby utarakan padanya, lalu ia meninggalkan temannya itu lebih dulu ke meja kerja. Tidak akan ada habisnya jika menanggapi khayalan teman barunya itu.
"Mau gue anter nggak?" tawar Mira berjalan beriringan dengan Baby.
"Nggak usah gue naik ojek aja. Ini gue udah pesen kok."
" Ya udah kalau gitu gue temenin aja deh sampai ojeknya dateng."
Baby tak menjawab, pandangannya fokus pada luar kantor yang nampak seperti ada ojek online yang sedang menunggu seseorang.
"Itu kayaknya ojek gue deh, Mir gue jalan dulu, ya. Lo hati-hati di jalan."
__ADS_1
Mereka sore itu terpisah di halaman kantor. Baby berusaha berjalan dengan cepat agar segera sampai di mana tukang ojek itu menunggu. Ia juga lelah sekali rasanya, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya, bekerja baru dua hari saja membuat tulang Baby terasa remuk.
"Jemput Baby Clarissa bukan?" tanya Baby begitu sampai di dekat tukang ojek yang tidak membuka helmnya itu.
"Iye. Ini gue yang tadi pagi, terpaksa gue balik lagi karena ongkos yang lo kasih kurang," ucap pria itu membuka helmnya.
"Masa sih? Jangan korupsi deh lo."
"Ngapain sih? Gue nyari kerjaan itu buat makan, buat masuk ke perut gue sama keluarga gue. Masa iya gue kasih nafkah keluarga gue pakai duit haram. Nih, duit lo tadi cuman dua puluh ribu."
Baby hanya manggut-manggut lalu segera naik ke motor tukang ojek itu.
"Turunin gue di tempat yang tadi lo jemput, ya."
Hening.
Tidak seperti saat tadi pagi, mereka berdua naik di kendaraan yang sama dengan ada mulut. Padahal mereka baru pertama kali bertemu, tapi pertemuan mereka malah diwarnai dengan ada mulut yang tidak usai hingga baby sampai di kantor.
"Makasih, ya." Baby menyodorkan uang kekurangan tadi pagi dan juga ongkos yang sore ini.
"Sama-sama. Jangan lupa kasih bintang lima ya, jangan kasih bintang satu. Itu pengaruh banget loh ke perusahaan. Nanti orang tua gue, gue kasih makan apaan. Gue anak bungsu, adik gue juga masih sekolah."
Tiba-tiba pria itu memasang wajah murung.
"Iya, nanti gue kasih bintang lima. Emang selama ini nggak ada yang pernah kecewa sama pelayanan lo? Gue ancem pakai bintang satu aja lo udah sedih gitu mukanya."
"Enggak, gue jadi ojek online itu udah tiga tahun dan lo satu-satunya penumpang yang rese."
__ADS_1
"Gitu, ya? Kalau gitu gue save nomor lo, biar kalau ada apa-apa gue tinggal telepon lo. Lo nggak punya penumpang rese, kan? Kalau gitu gue jadi penumpang rese buat lo. Bye."
Dasar wanita gila.