Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
54. Sedikit Mencair


__ADS_3

Hari itu adalah hari pertama Bu Nur menjalankan kerjasama dengan Cakra. Sesuai janjinya kemarin, Cakra akan menjemput kue itu beserta pembuatnya. Sengaja Cakra tidak membahas Baby atau datang ke rumahnya di saat Baby berada di rumah. Hal itu ia lakukan untuk meyakinkan Bu Nur bahwa mereka memang tidak memiliki hubungan setelah larangan itu.


"Apa nenekmu tahu kalau kamu bergaul dengan keluarga miskin lagi? Saya khawatir kalau nenekmu tahu dia akan datang kembali ke rumah dan memaki kami," kata Bu Nur di tengah-tengah perjalanan.


"Nenek saya sudah meninggal, Bu. Atas nama Nenek saya minta maaf yang sebesar-besarnya."


Bu Nur tidak menghiraukan ucapan maaf dari Cakra. Pandangannya beliau arahkan kembalin pada jalanan.


"Apa Ibu benci saya karena Nenek?"


"Saya nggak benci kamu."


"Lalu kenapa sikap Ibu seolah benci saya?"


"Biar kamu nggak deketin anak saya."


Cakra hanya manggut-manggut. Cakra ingin bertanya lebih jauh, tapi ia khawatir jika Ibu Nur curiga ia masih berniat untuk menikahi Baby. Ia harus tahan pertanyaan-pertanyaan itu untuk membuat Bu Nur berpikir bahwa ia tidak lagi selera dengan anaknya. Fokusnya sekarang harus merebut hati Bu Nur terlebih dahulu, baru ia akan mengatakan dengan jujur.


Setelah beberapa saat di jalan mereka sampai di toko Cakra dan Dandi. Nama toko snack yang terpampang nyata di dekat jalan raya itu adalah gabungan dari nama Cakra dan Dandi, yang jika disingkat menjadi Candi. Ya, Mereka memberi nama toko mereka 'toko snack candi'.


Cakra memperkenalkan karyawannya pada Bu Nur Begitu pun sebaliknya. Hari itu toko cukup ramai pembeli, memasuki cuti panjang akhir tahun banyak orang berburu snack untuk mereka bawa ke tempat liburan sebagai bekal dalam perjalanan.


Cakra memanfaatkan kesempatan itu untuk bercengkrama dengan para pelanggan. Pembeli yang mayoritas perempuan, baik dari remaja maupun kaum ibu membuat Cakra sedikit terbang dengan pujian yang dilontarkan oleh mereka. Pria itu melayani pembeli dengan ramah. Bahkan ia tak segan-segan untuk memberikan diskon berupa potongan harga dan beberapa jenis snack.


Bu Nur masih diam di tempat, ia mengamati gerak gerik Cakra yang ramah pada para pembeli. Jika di amati, ia jauh berbeda dari neneknya.


"Loh, Ibu Nur sudah ada di sini? Habis antar kue, ya Bu. Mari kita ngobrol dulu di dalam. Lagi nggak sibuk, kan?" Sapa Bu Nisa.


Bu Nur sebenarnya sangat canggung, namun ia berusaha untuk menyambut baik dan bersikap baik pada Bu Nisa.


"Nggak. Tapi apa saya tidak mengganggu?"


"Nggak, Bu. Justru saya senang karena ada temannya. Kita bisa ngobrol sebentar sebelum Ibu pulang." Bu Nisa menggeret wanita itu untuk ikut dengannya. Masuk ke dalam sebuah ruangan yang tak luas, ruangan yang biasa digunakan untuk Bu Nisa membuat laporan mingguan.


Begitu sampai di ruangan, ada satu keranjang mainan penuh di sudut ruangan. Engan kenapa mata Bu Nur langsung tertuju pada benda anak k

__ADS_1


Hari itu adalah hari pertama Bu Nur menjalankan kerjasama dengan Cakra. Sesuai janjinya kemarin, Cakra akan menjemput kue itu beserta pembuatnya. Sengaja Cakra tidak membahas Baby atau datang ke rumahnya di saat Baby berada di rumah. Hal itu ia lakukan untuk meyakinkan Bu Nur bahwa mereka memang tidak memiliki hubungan setelah larangan itu.


"Apa nenekmu tahu kalau kamu bergaul dengan keluarga miskin lagi? Saya khawatir kalau nenekmu tahu dia akan datang kembali ke rumah dan memaki kami," kata Bu Nur di tengah-tengah perjalanan.


"Nenek saya sudah meninggal, Bu. Atas nama Nenek saya minta maaf yang sebesar-besarnya."


Bu Nur tidak menghiraukan ucapan maaf dari Cakra. Pandangannya beliau arahkan kembalin pada jalanan.


"Apa Ibu benci saya karena Nenek?"


"Saya nggak benci kamu."


"Lalu kenapa sikap Ibu seolah benci saya?"


"Biar kamu nggak deketin anak saya."


Cakra hanya manggut-manggut. Cakra ingin bertanya lebih jauh, tapi ia khawatir jika Ibu Nur curiga ia masih berniat untuk menikahi Baby. Ia harus tahan pertanyaan-pertanyaan itu untuk membuat Bu Nur berpikir bahwa ia tidak lagi selera dengan anaknya. Fokusnya sekarang harus merebut hati Bu Nur terlebih dahulu, baru ia akan mengatakan dengan jujur.


Setelah beberapa saat di jalan mereka sampai di toko Cakra dan Dandi. Nama toko snack yang terpampang nyata di dekat jalan raya itu adalah gabungan dari nama Cakra dan Dandi, yang jika disingkat menjadi Candi. Ya, Mereka memberi nama toko mereka 'toko snack candi'.


Cakra memperkenalkan karyawannya pada Bu Nur Begitu pun sebaliknya. Hari itu toko cukup ramai pembeli, memasuki cuti panjang akhir tahun banyak orang berburu snack untuk mereka bawa ke tempat liburan sebagai bekal dalam perjalanan.


Cakra memanfaatkan kesempatan itu untuk bercengkrama dengan para pelanggan. Pembeli yang mayoritas perempuan, baik dari remaja maupun kaum ibu membuat Cakra sedikit terbang dengan pujian yang dilontarkan oleh mereka. Pria itu melayani pembeli dengan ramah. Bahkan ia tak segan-segan untuk memberikan diskon berupa potongan harga dan beberapa jenis snack.


Bu Nur masih diam di tempat, ia mengamati gerak gerik Cakra yang ramah pada para pembeli. Jika di amati, ia jauh berbeda dari neneknya.


"Loh, Ibu Nur sudah ada di sini? Habis antar kue, ya Bu. Mari kita ngobrol dulu di dalam. Lagi nggak sibuk, kan?" Sapa Bu Nisa.


Bu Nur sebenarnya sangat canggung, namun ia berusaha untuk menyambut baik dan bersikap baik pada Bu Nisa.


"Nggak. Tapi apa saya tidak mengganggu?"


"Nggak, Bu. Justru saya senang karena ada temannya. Kita bisa ngobrol sebentar sebelum Ibu pulang." Bu Nisa menggeret wanita itu untuk ikut dengannya. Masuk ke dalam sebuah ruangan yang tak luas, ruangan yang biasa digunakan untuk Bu Nisa membuat laporan mingguan.


Begitu sampai di ruangan, ada satu keranjang mainan penuh di sudut ruangan. Engan kenapa mata Bu Nur langsung tertuju pada benda anak kecil itu. Bu Nisa mengerti arah pandang Bu Nur, dan beliau berucap.

__ADS_1


"Itu mainan cucu saya, Bu. Kadang-kadang saya memang ajak dia ke sini. Kadang Cakra yang ajak ke sini kalau lagi weekend."


"Belum, kurang lebih enam bulan yang lalu. Waktu itu kami membuka usaha ini untuk menyambung hidup. Saya an Cakra kebetulan ada masalah dengan Ibu mertua. Jadi kami pergi dari rumah dan membuka usaha ini. Beberapa minggu kemudian setelah kepergian kami, Oma sering sakit dan akhirnya meninggal. Ibu bagaimana kabarnya?" Bu Nisa mengalihkan topik.


"Alhamdulillah baik."


Obrolan meraka lalu berlanjut, membahas hal yang ringan dan seperti kebanyakan kaum Ibu obrolkan. Setelah beberapa saat kemudian, Cakra muncul dari balik pintu.


"Ibu ada di sini rupanya, saya cariin tadi. Saya kira pulang sendirian," ujar Cakra terkekeh.


"Iya. Ini saya juga mau pamit, kok. Udah agak siangan.."


"Saya antar, Bu."


"Tidak usah, saya bisa pulang sendiri. Kamu juga harus berkerja, kan?"


Bu Nur beranjak dari duduknya dan bersalaman dengan Bu Nisa sebagai tanda perpisahan.


"Nggak apa-apa saya antar, Bu. Ibu ke sini sama saya. Jadi Ibu tanggung jawab saya."


Akhirnya mereka kembali membelah jalanan untuk pulang ke rumah Bu Nur. Cakra bahagia hari ini, ia melihat Bu Nur yang nampak sedikit mencair. Beliau tak sekaku dan segalak kemarin saat dirinya bertandang ke rumah. Melihat perubahan yang cepat ini membuat Cakra yakin hubungan mereka juga akan cepat direstui.


Saat sedang berhenti di lampu merah. Anak kecil pedagang asongan menghampiri mobil Cakra. Akan kecil laki-laki itu mengetuk jendela mobil.


Cakra membuka kaca jendela dan memberikan uang dua puluh ribu untuk anak kecil itu lalu mengambil sebotol air mineral.


"Terima kasih, Om baik dan ganteng." Seperti biasa, Cakra hanya mengulum senyum seraya melambaikan tangan pada anak kecil itu. Melihat itu tentu saja mengernyitkaan kening.


"Dua puluh ribu untuk satu botol air mineral?" tanya Bu Nur heran.


"Ya sebenarnya nggak semahal itu, Bu. Cuman saya kasih aja kembaliannya buat dia. Buat amal juga."


Bisa jadi dia melakukan itu untuk memperlihatkan bahwa dirinya baik.


Tapi kalau ini hanya untuk reputasi saja interaksi di antara mereka terlihat sudah seperti bertemu berapa kali.

__ADS_1


Bu Nur kini berperang dengan pikiran dan hatinya sendiri.


__ADS_2