Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
32. Niat Jahat


__ADS_3

Kalau bukan orang tua, sudah aku sleding mulut wanita ini.


"Tentu saja Oma. Saya akan sadar dan akan menempatkan di mana posisi saya yang benar. Oh ya ini ada kue ulang tahun untuk Aura, saya bisa meletakkannya di mana?"


"Di sana." Oma Ning menunjuk sebuah arah yang terdapat meja dan juga tumpukan kado di sana.


Babu segera pergi ke meja dan meletakkan kue ulang tahun buatannya si sebelah kado yang tertumpuk. Tak lupa mainan dan beberapa stel baju untuk Auran ia letakkan bersama dengan kado yang lain. Kado yang sederhana dan tidak mahal. Hanya menghabiskan beberapa ratus ribu saja. Tapi ia yakin kado itu akan lebih berharga dan dibutuhkan oleh Aura.


"Baby, kamu bawa apa?" tanya Bu Nisa yang menghampiri Baby sedang meletakkan kue dengan pelan agar tak rusak.


"Saya membuatkan kue sederhana untuk Aura. Mungkin harganya ini nggak akan mahal jika dibandingkan dengan kue yang dibeli oleh Pak Cakra. Tapi saya buat ini dengan hati, Bu. Pasti rasanya juga nggak akan kalah sama kue ini. Mudah-mudahan saja."


Nada bicara Baby yang nemapak dewasa jujur saja membuat Bu Nisa sedikit terkejut. Yang ia lihat beberapa bulan lalu nampaknya bukan Baby yang sekarang. Baby yang beliau lihat dulu sangat jauh berbeda dengan saat ini.


Ah, mungkin saja dia bisa menempatkan diri saat bicara dengan seseorang.


"Gabung sama yang lain, yuk. Sebentar lagi acara akan di mulai."


Bu Nisa berjalan lebih dulu lalu disusul oleh Baby. Mereka lalu bergabung dengan yang lain. Saat sampai di tengah kerumunan para teman Cakra dan anak-anakya, di situlah mau Baby tak sengaja bertemu dengan mata Luna. Ia berdiri di dekat Cakra dan Aura.


Cakra diam saja meskipun sangat terlihat bahwa ia tidak nyaman. Pria itu mengalihkan fokusnya pada anaknya saja.


Detik berlalu digantikan oleh menit, entah sudah berapa menit acara itu berlangsung, semakin malam semakin meriah. Karena anak-anak yang datang tidak dari kalangan bayi saja. Tapi ngga dari kalangan anak sekolah yang sudah berusia SD. Sengaja disediakan banyak acara dan permaian agar anak-anak tak kerasa bosan.

__ADS_1


Baby yang memang mudah bergaul dengan siapapun itu bisa bercengkrama dengan hangat dengan anak-anak lainnya. Cakra tanpa sadar melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. Entah ia tujukan untuk apa dan siapa, hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tahu.


"Ma, aku nitip Aura dulu. Mau ke kamar mandi." Cakra menyerahkan Aura pada ibunya. Sebelum kenkemar mandi ia letakkan ponsel di atas televisi, tidak ada anak yang bermain hingga ruang tengah, jadi aman dari jangkauan anak-anak.


Pergerakan yang dilakukan oleh Cakra sejak tadi dilihat oleh Luna. Senyum licik terbit dari bibirnya ketika Cakra berjalan ke arah kamar mandi dekat dapur. Dengan buru-buru ia menuju ruang tengah dan mengambil ponsel milik Cakra.


Seakan semesta sedang mendukungnya ponsel Cakra tidak dikunci menggunakan password, PIN, sidik jari, atau apapun itu. Hanya dengan menggeser layar ke atas, menu sudah terbuka dan terpampang nyata di depan mata Luna.


Dengan cepat-cepat ia mengklik aplikasi hijau yang bergambar telepon.


"Aduh nama Baby nyimpennya pakai nama apa, ya?" Luna yang tak ingin membuang waktu akhirnya beralih pada nama kontak saja. Ia mencari daftar nama dan meneliti foto yang berbaris di sana. Besar harapannya untuk menemukan nomor Baby. Jika memang mereka menjalin hubungan harusnya mereka menyimpan kontak masing-masing.


"Clarissa, ah iya ini foto Baby," ujar Luna kegirangan.


Luna menekan tombol kirim dan segera menghapus pesan itu. Ia segera kembali meletakkan ponsel di tempat semula dan berjalan ke arah ruang tamu, melihat Baby yang sedang melihat ponselnya, Luna akhirnya berjalan ke teras samping.


Hanya menunggu beberapa detik saja. Baby sudah sampai di teras dekat kola renang. Ia sedikit terkejut ketika mendapati Luna di sana.


Merasa tidak ada urusan dengan Luna, Baby melihat sekeliling. Barangkali Cakra sedang menunggunya di sudut lain. Namun semua nampak sepi dan sedikit gelap karena pencahayaan yang tak terlalu terang. Entah memang dibuat seperti itu, atau tidak semua lampu dinyalakan Baby tak tahun.


"Orang yang kamu cari tidak ada di sana. Tapi dia ada di depan kamu," ujar Luna menyilangkan tangan di depan dada.


"Maaf sepertinya aku harus kembali ke dalam." Baby yang enggam. Bertengkar itu pun hendak memutar badan meningalkan Luna, namun gerakannya kalah cepat dengan tangan Luna yang berhasil mencengkramnya.

__ADS_1


"Urusan kita belum selesai, siapa yang berani mengizinkanmu datang ke acara ini?"


"Oma Ning. Beliau yang undang aku. Tanyakan saja pada Cakra kalau nggak percaya. Aku kekasihnya, wajar jika aku diundang, kan?"


"Jangan senang dulu, barangkali dia mengundangmu hanya untuk dipermalukan saja, kan? Kau lihat sendiri tadi bagaimana Oma Ning memperlakukan aku dengan sangat baik, sudah seperti cucu menantunya saja. Dan Cakra juga terlihat nyaman dan bahagia saat dekat denganku tadi. Apalagi yang kau tunggu? Segera pergilah jika tidak mau patah hati. Aku tahu kau menaruh hati sama Cakra. Jadi aku yang baik hati ini memberitahu mu bahwa sebaiknya kau pulang, karena apa? Malam ini adalah malam di mana peresmian hubungan aku sama Cakra. Jadi yang semula hubungan kami disembunyikan dari banyak orang, malam ini semua orang akan tahu, jika aku dan Cakra akan menjadi sepasang suami istri beberapa bulan lagi."


Entah keyakinan dari mana, informasi dari mana sehingga Luna bisa mengatakan itu. Padahal Oma Ning sama sekali tidak membicarakan perihal hubungan mereka malam ini. Memang Luna adalah wanita yang paling bisa mengarang cerita.


"Untuk apa Oma Ning mengumumkan ini di acara ulang tahun anak-anak? Lihatlah! Yang datang saja tidak dalam lingkup yang besar, hanya orang tertentu saja dan kebanyakan keluarga. Jika tanggal pernikahan sudah ditentukan itu harusnya pihak keluargan besar kalian sudah tahu. Lalu untuk apa diumumkan lagi? Yang datang sebagai orang lain di sini itu juga tidak dalam lingkup yang besar. Lalu apa yang kau banggakan?"


Baby tak mau kalah. Ia tidak menyukai Luna bukan karena Luna mencintai pria idamannya, tapi karena sikapnya lah yang membuat Baby merasa Luna tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Jika itu terjadi, maka sama saja ia membiarkan Luna menjajah dirinya.


Luna nampak mengeratkan rahangnya, mungkin saja ia emosi mendengar penuturan Baby, namun ia tidak sanggup menjawab atau setidaknya membuat Baby diam dan kapok berdebat dengannya.


"Ada balasan dalam setiap perkataan, tapi kata-kata yang keluar dari mulut murahmu itu sepertinya harus diberi pelajaran lebih dari umpatan."


Dengan gerakan tiba-tiba dan cepat, Luna menarik tangan Baby dengan kencang dan kuat. Mendapat serangan mendadak membuat Baby tak sempat mengelak.


Byurr.


Senyum Luna kembali terbit ketika ia menyadari bahwa Baby tak bisa berenang. Kolam yang cukup dalam dan ditambah lagi hari sudah malam, pasti Baby akan tidak baik-baik saja jika ia berendam terlalu lama.


"Bye," kata Luna melambaikan tangan saat kepala Baby muncul ke permukaan.

__ADS_1


__ADS_2