
Baby masih berdiam diri di tempat. Ia berpikir bagaimana caranya membuktikan bahwa apa yang dikatakan Mira tadi adalah hal yang benar. Apakah benar laki-laki dingin di depannya ini tidak pernah melakukan kekerasan pada seseorang.
"Kenapa masih berdiri di situ?"
"Bapak belum minta saya untuk keluar, makanya saya berdiri di sini."
Astaga, dosa apa yang aku lakukan sampai aku harus dikelilingi oleh wanita-wanita seperti ini, Tuhan.
"Ya sudah kau boleh keluar dari sini." Cakra berusaha sangat keras untuk tidak emosi saat ini. Tidak emosi di kantor adalah hal yang benar-benar menyulitkan dirinya, karena pawangnya yang bisa meredakan emosi hanyalah anaknya yang tidak mungkin ia bawa ke kantor.
"Baik, Pak. Saya permisi."
Baby berjalan dengan pelan, barangkali ia bisa menemukan jalan untuk pura-pura terjatuh dan ingin melihat reaksi dari Cakra. Ia sadar ia sudah membuatnya sedikit kesal, dari tadi ia ingin tahu bagaimana reaksi Cakra kepada orang yang membuatnya sedikit kesal jika orang itu terluka.
Seakan semesta mendengar apa yang Baby inginkan, saat menyentuh gagang pintu dan belum sempat menekannya, tapi pintu itu sudah terbuka dari luar. Kening gadis itu tentu saja terbentur oleh benda persegi yang berfungi untuk menutup ruangan.
"Aduh, sorry, Baby. Aku nggak sengaja. Sorry-sorry, sakit ya. Coba mana lihat?" Dandi membuka pintu tanpa sengaja terbentur oleh kening Baby terlihat panik karena gadis itu begitu kesakitan.
"Nggak, Pak. Nggak apa-apa kok, cuman memar doang paling," jawab Baby seraya mengelus keningnya.
"Ini aku ada minyak untuk mengurangi rasa sakit memar karena terbentur benda keras. Kau bisa memakainya. Silakan keluar dari ruangan saya."
Tiba-tiba saja Cakra datang dengan membawa sebotol minyak berwarna hijau yang ia sodorkan pada Baby. Gadis itu tentu saja menerimanya dengan senang. Ia mengatupkan mulutnya agar tidak berteriak di tempat.
__ADS_1
Ternyata benar apa yang katakan Mira. Pangeran idamannya itu sebenarnya berarti baik dan luka yang di kening Luna tadi tidak mungkin diciptakan oleh Cakra. Entahlah, Baby sendiri juga bingung kenapa harus peduli dengan luka wanita yang sudah membuatnya kesal itu.
"Terima kasih, Pak atas cintanya. Eh maksud saya minyaknya. Permisi." Baby segera berlari menuju pantry. ia tahu wajahnya pasti memerah saat ini.
Dandi hanya bisa sedikit tertawa dengan tingkah konyol Baby.
"Bapak tahu? Selama saya bekerja di sini, saya baru menemukan karyawan seperti Baby, dia memang benar-benar langka."
"Kenapa kau selalu memujinya, kau suka?" tanya Cakra yang kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Tentu saja tidak, Pak. Dia itu agresif, tipe perempuan yang suka mengejar sedangkan saya tidak suka dikejar. Sebagai laki-laki sejati seharusnya saya yang mengejar. Lagi pula sepertinya dia sedang mengincar seseorang di sini." Dandi mengikuti langkah atasannya dan duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi Cakra.
"Dia baru bekerja tiga hari di sini dan kau tahu sesuatu tentang dia. Perhatian sekali kau padanya."
"Bukannya Bapak yang perhatian? Buktinya Bapak menghitung jumlah hari Baby bekerja di sini. Saya saja tidak ingat kapan Baby mulai bekerja di sini."
Dandi adalah laki-laki idaman para kaum hawa. Ia peka, bahkan sangat peka terhadap lingkungan di sekitarnya dan juga kode-kode yang diberikan para wanita. Jika para lelaki di luaran sana kebanyakan tidak mengerti dengan kode yang diberikan oleh para wanitanya, maka lain halnya dengan Dandi. Ia sangat-sangat mengerti dan peka terhadap para betina.
Namun sayangnya, kepekaan yang ia punya itu tidak ia tonjolkan pada wanita di luaran sana. Ia hanya akan menunjukkan pada wanita yang menjadi pilihan hidupnya nanti.
"Pak, apakah menurutmu hal yang salah jika Bapak memperjelas hubungan Bapak dengan Luna. Maksud saya begini, jika Bapak tidak mau menikah dengan Luna alangkah lebih baik jika Bapak juga mengatakan itu pada keluarganya, tidak hanya dengan Luna."
Ya, sejauh itu hubungan antara Cakra dan Dandi. Tidak hanya sebatas atasan dan juga asisten pribadinya, tapi lebih kepada persaudaraan, persahabatan, dan juga pertemanan yang hangat. Hanya saja hubungan itu tidak diperlihatkan di luar ruangan, hubungan itu hanya diketahui oleh mereka berdua saja.
__ADS_1
Dandi yang usianya lebih tua dan juga sosoknya yang dewasa bisa menjadi soso Kakak bagi Cakra. Tidak ada tempat bagi Cakra untuk berkeluh kesah dan menceritakan kisah hidupnya selain pada Dandi.
Sejak usia dua puluh tahun sudah diperkenalkan dunia kerja oleh sang Oma, membuat Cakra tidak sempat bersenang-senang dan menghabiskan masa remajanya seperti remaja pada umumnya. Ia harus berkutat pada kuliah dan juga perusahaan yang seharusnya tidak ia emban. Dan sejak saat itu hanya Dandi yang ada untuknya. Yang menemani harinya di kantor dan juga sosok pria yang ia repotkan saat ada tugas dari kampus. Dan di situlah awal kedekatan mereka berdua.
"Apa menurutmu itu ide yang bagus? Aku mengatakan tidak pada Oma saja dia sudah membahasnya berlarut-larut dan merespon berlebihan. Apalagi aku melakukan apa yang kau sarankan?"
"Itu adalah efek dari Bapak yang selalu menuruti apa kata Oma Ning sejak kecil. Mau salah atau tidak, mau merugikan Bapak atau tidak, Bapak selalu mengatakan iya. Itu sebabnya sekali saja Bapak mengatakan tidak, maka beliau pasti akan merespon dengan berlebihan seperti yang Bapak katakan tadi. Sama seperti anak kecil yang terlalu di manja. Maka dia akan sedih dan merasa tidak di sayang ketika kita memarahi dia sedikit saja."
"Kau benar. Aku akan coba saran darimu. Mudah-mudahan saja hasilnya sesuai dengan apa yang aku inginkan. Aku benar-benar muak dengan semuanya. Itulah yang menyebabkan aku memberanikan diri untuk tidak mengiyakan apa yang Oma katakan. Apa menurutmu aku salah? Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan kehidupan aku sendiri."
"Itu seharusnya sudah Bapak lakukan dari dulu."
***
Biarkan hati bicara
Katakan semua rasa kita
Hentikankah kebisuan membohongi kita
(Ruli-chintya~pesan dari hati)
Baby dengan sumringah menyanyikan sebuah lagu pol yang cukup dikenal di kalangan anak muda. Gadis itu bernyanyi seraya berjalan dan sesekali berputar-putar membuat rambut panjangnya terombang-ambing ke mana-mana.
__ADS_1
Kegilaannya itu tentu saja dilihat oleh sahabat barunya, Mira, dan gadis itu lagi-lagi hanya menggelengkan kepala dan juga menepuk keningnya sendiri.
"Bobrok banget ini anak sumpah. Dia pernah bilang kalau orang tuanya itu menyimpang dari kebiasaan orang tua yang lain, tapi dirinya sendiri begitu."