Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
33. Tak Bernafas


__ADS_3

Baby masih berada di kolam saat semua orang yang di dalam riuh dengan hiburan dan permainan. Ia sama sekali tak bisa berenang atau bahkan berjalan ketepian. Posisi lantai kolam yang semakin ke tengah akan semakin dalam membuat Babg kesulitan menapak lantai. Dorongan Luna cukup keras dan kencang sehingga gadis itu langsung berada di posisi lantai yang sudah tak bisa ia jangkau dengan kakinya.


Ya Tuhan bagaimana caraku keluar dari sini? Aku mohon selamatkan aku, aku tidak ingin mati dulu. Astaga, aku sudah mulai sesak.


Baby akhirnya pasrah, ia merasa sudah kesulitan untuk bernafas. Hingga beberapa detik berikutnya ia tak tahu apa yang terjadi, kesadarannya hilang saat itu juga.


Sementara di dalam rumah. Cakra mulai sadar bahwa Baby tak ada di tempat semula. Awalnya ia mengira Baby sedang berbaur dan bermain dengan anak kecil seperti tadi sebelum ia pergi ke toilet. Namun, lama ia mencari dan meneliti setiap sudut ruang tamu, tak ia temukan ujung rambut Baby sekalipun.


Cakra melihat Oma Ning berada di tengah-tengah orang gua para anak-anak. Bu Marissa yang masih sibuk mengejar Aura yang sangat aktif tak mau berhenti bejalan. Sedangkan Luna sedang sibuk bermain dengan ponselnya engah bicara dengan siapa dirinya.


Oma dan Luna di sini, itu artinya Baby nggak dalam bahaya. Tapi di mana dia? Kenapa nggak kelihatan? Apa dia pulang? Rasanya nggak mungkin kalau dia pulang tanpa izin.


"Mama lihat Clarissa nggak? Dari aku keluar toilet aku cari nggak ada." Cakra menghampiri ibunya.


"Enggak. Tadi, kan lagi main sama badut dan anak-anak juga kayaknya."


"Iya, aku juga lihat kalau itu, Ma. Begitu aku kembali dari toilet dia udah nggak ada. Aku udah cari ke seluruh sudut ruang tamu, tapi nggak nemu."


"Coba aja telepon, barangkali dia ada di luar cari angin atau apa gitu."


Saling bingung dan cemasnya, Cakra sampai tidak terpikir ke arah sana. Untuk apa ia mencari ke seluruh ruangan jika ia bisa menghubunginya melalui telepon. Astaga, bodoh sekali, pikirnya.


Cakra menekan-nekan ponselnya menempelkannya pada telinga. Panggilan pertama tidak terjawab, ia mencoba menghubunginya kembali, namun dipanggilan kedua ini nomornya tidak aktif. Cakra tidak menyerah, ia kembali menghubunginya, namun nomornya tetap tidak aktif. Entah sudah berapa kali Cakra menempelkan dan mencabut benda pipih itu dari telinganya.


"Sialan! Ke mana sebenarnya Clarissa ini? Kenapa nomornya nggak bisa dihubungi?"

__ADS_1


Panik? Iya, tentu saja Cakra panik. Ia yang berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Baby malah sekarang ia kehilangan jejaknya. Ia bingung harus cari gadis itu ke mana.


"Tolong! Ada orang di kolam!" teriak salah satu baby sitter yang sedang mengasuh anak majikannya.


Cakra yang mendengar teriakan tersebut seketika melompat dari tempatnya. Ia berlari sekencang-kencangnya dan


Deg!


Jantungnya seketika berhenti saat melihat Baby yang sudah terapung di kolam bagian tengah. Tak pikir panjang, Cakra melompat ke kolam dan membawa Baby ke daratan. Suhu tubuhnya sudah sangat dingin, wajahnya nampak sangat pucat.


"Cla, Clarissa bangun." Cakra berusaha menekan-nekan perut Baby yang bisa saja kemasukan air banyak. Tak nada respon yang diberikan, tangan Cakra beralih pada dada Baby bagian atas. Entah berapa lama Cakra melakukan itu tak ada hasil apapun juga.


Cakra semakin panik.


"Ya Tuhan, Cla aku mohon bangunlah! Mama handuk, Ma!" teriak Cakra yang tak tahu bahwa ibunya berada di belakangnya berdiri dengan syok.


"Clarissa, aku akan marah kalau kamu nggak bangun, Cla." Cakra membawa kepala Baby ke dalam pangkuannya. Ia menepuk-nepuk pipi Baby pelan. Barangkali hal itu bisa membuatnya tersadar.


Cakra memperhatikan raut wajah Baby seperti tidak menghembuskan dan menarik nafas. Pikiran Cakra semakin tak karuan. Ia memeriksa denyut nadi gadis itu dan tak berdegak sama sekali.


Tak terim dengan hasil pemeriksaannya, ia menempelkan jari telunjuknya ke sela hidung dan mulut gadis itu, hasilnya pun sama. Tak ada hembusan nafas yang terasan menerpa jarinya.


Tubuh Cakra bergetar hebat. Panik, cemas, khawatir, was-was, semuanya bercampur menjadi satu. Cakra tidak tahu rasa yang mana yang lebih mendominasinya saat ini. Entah kenapa juga ia merasa sangat terpukul dan matanya berkaca-kaca penuh dengan air mata.


"Cakra, handuknya." Bu Nisa datang dengan membawa sebuah handuk tebal. Wanita itu membantu dengan menggosok gosok telapak tangan Baby agar menimbulkan rasa hangat. Sementara Cakra yang sudah tak bisa laki berpikir hanya mengusap pakaian Baby dengan kencang.

__ADS_1


"Bangun, Cla. Aku akan marah kalau kamu nggak bangun. Atau kamu mau aku pecat, nafas Cla nafas. Aku mohon kembalikan nafasmu!"


Cakra mulai menangis, ingatannya tiba-tiba kembali pada satu tahun yang lalu, di mana Aura, istrinya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Bu Nisa yang mendengar penuturan dari anaknya seketika memeriksa nadi dan nafas Baby.


"Cakra cepat bawa ke rumah sakit. Cepat Cakra jangan sampai terlambat."


"Dia udah nggak nafas, Ma. Dia udah nggak ada nafas!" Cakra histeris.


Luna tak kalah terkejut, ia tak menyangka jika kan seperti ini jadinya. Ketakutan mulai menyerang seluruh tubuhnya. Ia merasa sudah panas dingin, tubuhnya sedikit bergetar.


Oma Ning, manusia satu-satunya yang sadar dan mementingkan reputasi keluarga meminta para tamu untuk meninggalkan tempat.


"Nggak ada salahnya kita bawah ke rumah sakit, di sana akan dapat penanganan. Kenapa kamu diam saja? Ayo cepat bawa Cakra!" teriak Bu Nisa di akhir kalimat.


Sadar dengan teriakan ibunya, Cakra langsung membawa Baby ke dalam gendongannya dan berlari keluar rumah. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup. Bu Nisa juga turut ikut ke rumah sakit untuk menemani anaknya.


"Bangun, Cla. Aku mohon bangunlah. Aku janji akan menuruti apapun yang kamu katakan dan minta. Kamu selama ini mendekati ku ingin menjadi bagian hidupku, kan? Aku akan melakukannya asal. Kamu bangun, Cla. Jangan begini." Cakra mengajak bicara Baby yang masih tak kunjung kali bernafas. Entah sadar agak tidak yang ia katakan tadi, tapi yang jelas, Bu Nisa mendengar dengan jelas apa yang keluar dari mulut Cakra.. Kekhawatirannya ternyata membuat dirinya sevara tidak langsung sudah berikrar.


"Pak, tolong cepatlah. Apa yang akan aku katakan pada orang tuanya nanti. Ya Tuhan, Cla. Aku mohon, kenapa kamu nggak dengar aku?" Cakra benar-benar merasa bersalah dan merasa khawatir.


Tak berselang lama, mereka sampi di rumah sakit. Teriakan dari Cakra membuat petugas rumah sakit langsung melakukan tugasnya.


"Pak, tunggu di luar, ya. Kamu akan melakukan yang terbaik."

__ADS_1


"Tolong, selamatkan dia," ujar Cakra lemah.


__ADS_2