
Kini Baby dan Cakra sedang duduk berhadapan di sebuah kursi yang terdapat di bawah sebuah pohon rindang. Cuaca sedang sangat panas hari ini, namun angin yang berhembus mesra menimbulkan kesan sejuk. Angin yang meniup pelan menerbangkan anak-anak rambut panjang milik Baby.
"Ada apa Bapak temui saya?" Entah sudah berapa kali pertanyaan itu terlantar di mulut Baby.
"Aku mau jelasin ucapan Luna beberapa hari yang lalu. Kamu dengerin aku bicara dulu sampai selesai baru setelah itu kamu bebas memutuskan apa."
Jujur saja Baby saat ini sedang merasa gugup setengah mati. Kenapa Cakra harus mengatakan ia bebas memutuskan sesuatu setelah mendengar ceritanya? Memang cerita apa yang akan ia perdengarkan? Kenapa ia harus memutuskan sesuatu? Itu hanya beberapa pertanyaan yang muncul di kepala Baby.
"Jadi setelah kamu pergi dari perusahaan, Luna semakin gencar dan justru malah semakin semangat untuk dekati aku. Aku cape, kamu nggak ada kabar. Aku mau hubungi kamu duluan, tapi rasanya aku sungkan. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan Luna dengan rencananya. Aku membiarkan pertunangan itu terjadi. Dan memang apa yang dibicarakan Luna kemarin itu benar. Pertunangan kita memang sudah ditentukan dan tinggal menunggu minggu. Tapi di hari itu aku juga punya rencana, aku akan melarikan diri di hari pertunanganku."
Baby refleks membuka mulutnya lebar-lebar.
"Bapak yakin? Itu akan mempermalukan keluarga Luna dan juga keluarga Bapak sendiri."
"Memang apalagi yang bisa aku lakukan? Aku sudah menolaknya mentah-mentah, aku sudah menghinanya, tapi dia sama sekali tidak mengerti dengan penolakanku. Aku rasa ini adalah jalan satu-satunya untuk menghindari Luna dan membuatnya jera."
"Pasti nanti akan ada konsekuensi yang sudah menunggu Bapak jika Bapak lakukan itu."
"Dulu memang aku memikirkan itu, sekarang tidak lagi. Aku tidak peduli dengan apa yang aku terima setelah aku melakukan kesalahan besar ini. Karena memang aku harus memilih salah satu. Menerima konsekuensi yang aku perbuat atau merelakan Luna menjadi istriku. Dan aku memilih pilihan yang pertama aku tidak mau menjadikan Luna istriku."
__ADS_1
Yang menjadi pertanyaan Baby sekarang adalah apa tujuan Cakra menceritakan ini padanya?
"Ya terus? Ya udah kalau Bapak memutuskan itu, ya lakukan saja. Terus kenapa Bapak menceritakan ini sama saya. Apa butuh pendapat saya? Bantuan saya? Atau apa? Jujur saya ini masih bingung loh, Pak. Bapak takut saya salah paham lalu Bapak rela menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Saya memang siapa, sampai Bapak seperti ini?"
"Aku nggak mau jauh dari kamu. Aku juga nggak mau kalau kamu berpikir aku menerima Luna menjadi istriku. Jujur saja, setelah kamu pergi dari kantor aku merasa kesepian. Kadang-kadang aku juga merindukan kamu yang membuat aku emosi, yang mengganggu pekerjaanku, yang membuatkan aku minuman dengan segala resep konyolmu itu. Apalagi kamu juga seakan menghilang dari kehidupan aku. Aku nggak tahu sejak kapan perasaan itu datang. Aku baru menyadari satu hal. Ketika kamu berhenti bernafas karena tenggelam, aku merasa tidak mau kehilangan kamu. Seandainya kamu tahu betapa paniknya aku waktu itu."
Cakra tiba-tiba menundukkan kepalanya. Kekhawatiran dan ketakutan yang sempat singgah beberapa waktu lalu kini kembali muncul. Nampaknya kematian istrinya membuat Cakra benar-benar trauma akan kehilangan.
"Bapak merasakan itu karena Bapak merasa bersalah saja, Pak."
"Rasa bersalah akan hilang ketika kamu melihat kamu baik-baik saja. Bahkan ketika kamu sudah keluar dari rumah sakit pun rasa khawatir aku ke kamu itu masih ada. Cla, kamu masih ingat dengan kata-kata kamu yang selalu mengumbar bahwa kamu akan menjadikan aku milikmu? Kamu masih ingat dengan gombalan-gombalan kamu yang selalu mengarah kepada pembahasan teman hidup? Aku ingin menagihnya sekarang."
Ya Tuhan, Baby. Bukankah ini momen yang kamu tunggu? Kamu dulu sangat menginginkan saat seperti ini. Sekarang kenala kamu jadi bisu?
"Ini tidak lucu, Pak. Tolong jangan bercanda," balas Baby sedikit bergetar.
"Lihat mata aku, apa aku terlihat lagi bercanda? Mungkin ini terlihat mustahil, karena jika mengingat hubungan kita sebelumnya yang sama sekali tidak bisa disatukan. Tapi, bukankah tidak ada yang mungkin? Tuhan yang membolak-balikan hati manusia, kan?"
"Aku nggak tahu musti ngomong apa," jawab Baby dengan polosnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan setelah pergi dari perusahaan? Tidak bertemu denganku selama satu bulan, apakah ada yang berbeda? Apakah kamu merindukan sesuatu dariku?"
"Bapak seharusnya mengingat pertemuan terakhir kita ketika aku pamit untuk resign. Aku sudah menunjukkan perasaanku ketika akan berpisah dengan Bapak. Hanya saja mungkin Bapak tidak menyadarinya. Jangankan menunggu selama satu bulan kita nggak ketemu. Di malam hari sebelum aku izin kepadamu saja aku menghabiskan waktu dengan menangis. Entah apa yang aku tangisi aku sendiri juga nggak tahu. Aku berpikir kalau selama ini aku menggoda Bapak itu adalah hal yang main-main, bukan untuk serius, hanya untuk bercanda saja. Tapi ternyata hasil dari main-main ku itu tidak bercanda."
Di bawah angin yang masih bersemilir pelan. Mereka mencoba untuk mencari kebenaran dari ucapan masing-masing dengan menatap lekat kedua bola mata orang yang berada di depannya.
Dengan semilir angin yang masih berhembus, beberapa helai rambut Baby terbawa olehnya. Cakra menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah ayu Baby. Lalu ia membawa helaian rambut itu ke belakang telinga.
"Rasanya aneh sekali, ya kita duduk berdua di sini. Tapi, aku harap kita suatu saat nanti bisa terbiasa seperti ini."
"Memang apa yang Bapak harapkan dari aku? Aku cuman perempuan biasa saja, dari keluarga yang sederhana, nggak ada yang bisa aku banggakan."
"Kamu hidup untuk nyata, bukan untuk sempurna. Jangan merasa kamu nggak punya apa-apa hanya karena kamu nggak berkelimpahan harta. Kamu punya cinta, kasih sayang yang banyak untuk orang-orang yang berada di sekeliling kamu. Kamu percaya nggak kalau kamu berhasil merubah aku? Kamu bisa membuat aku merasakan cinta lain setelah setahun aku sendiri."
Ya, untunglah Cakra menyadari bahwa ia jatuh hati dengan Baby dalam waktu singkat. Meskipun cinta itu tidak datang di saat yang tepat, setidaknya ia tidak terlambat untuk menyatakannya. Kasih ada waktu dan banyak kesempatan jika Vira menggunakan dengan sebaik-baiknya.
"Bapak terlalu cepat menilai kalau ini cinta."
"Sudah aku katakan tadi, kan? Aku tidak akan menilai ini cinta jika aku tidak takut kehilangan. Kamu bisa tanya ke Mama kalau nggak percaya, tanyakan apa yang aku lakukan saat kamu kehilangan nafas."
__ADS_1