Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
49. Bu Nur Curiga


__ADS_3

Seperti biasa, Cakra memulai hari dengan bermain terlebih dahulu dengan anak semata wayangnya. Meski sekarang hidup sederhana dengan tinggal di rumah yang tak kalah sederhana, hidup mereka nampak bahagia. Tidak ada tekanan, lebih bebas dan lepas, bak burung yang baru saja terbebas dari sangkarnya.


Saat sedang asyik dengan Aura, Cakra di kejutkan dengan kedatangan seseorang. Pria berkacamata yang berwajah mirip dengan ayahnya. Siapa lagi jika bukan Pak Bima, anak sulung dari Oma Ning.


"Pakde, kok..." Cakra menggantung kalimatnya saking terkejutnya.


"Iya, Pakde tahu kamu tinggal di sini."


"Aku tahu maksud kedatangan Pakde ke sini, aku nggak mau pulang!"


"Siapa yang nyuruh kamu pulang? Pakde cuman main, kok. Ini rumah kamu sekarang?" Pak Bima menatap rumah sederhana yang baru saja dibeli Cakra.


Tidak besar, juga tidak kecil. Tidak merah juga tidak jelek. Sederhana saja, tapi Cakra tidak pernah hidup sesederhana ini. Ia terbiasa hidup mewah dan Pak Bima ingat, Cakra anak yang di manja oleh adiknya. Meskipun ia tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan keras karena perginya sang Ayah.


"Iya. Lebih baik tinggal di rumah ini dari pada di rumah mewah tapi aku tertekan. Mama juga nggak keberatan kalau tinggal di sini. Pakde jangan kasih tahu Oma kalau aku ada di sini. Aku nggak mau dipaksa terus, aku cape, Pakde."


"Nggak. Udah nggak ada yang paksa kamu. Lagipula keluarga Luna juga udah memutuskan hubungan sama kita. Pakde ke sini cuman mau kasih tahu, Oma sakit. Udah dua hari ini di rawat di rumah sakit. Selamat sebulan ini Oma sering sakit dan puncaknya akhirnya masuk rumah sakit kemarin. Biasa penyakit orang tua. Oma, kan udah nggak muda lagi. Ya barangkali kamu atau Mama kamu punya waktu untuk ke rumah sakit, Oma pasti akan senang."


"Mama aja diusir sama Oma. Menantu yang paling nurut, nggak pernah bantah, sabar, nggak pernah nuntut apa-apa. Sekalinya berontak belain anaknya langsung diusir. Aku sakit hati sama Oma. Kalau dia memperlakukan aku seperti boneka, ya okelah, tapi kalau soal Mama. aku rasa nggak ada anak yang mau dan rela jika ibunya diperlakukan tidak baik oleh siapa pun."


Pak Bima paham dengan apa yanga dirasakan oleh keponakannya. Pasti memang tak mudah, bahkan mungkin tidak semua orang akan kuat dan baik-baik saja di posisi mereka. Tapi mau bagaimana lagi, kepada Oma Ning yang nampak semakin hari semakin melemah bukankah harus di kelilingi oleh seluruh keluarganya?

__ADS_1


"Oma udah semakin lemah, Cakra. Dia ingin kamu ke sana. Ya mungkin untuk minta maaf sama kalian. Bukankah hal seperti itu sudah umum terjadi? Baru sadar kalau kita butuh seseorang ketika dia sudah pergi? Ya sekarang itulah yang terjadi sama Oma. Semarah apa pun kamu sama dia, tetap harus diberi maaf karena kita adalah keluarga."


Tidak berselang lama, datang Bu Nisa dengan wajah herannya. Beliau yang mendengar suara Cakra sedang bercakap-cakap akhirnya penasaran dengan siapa anaknya itu bicara.


"Mas Bima ada di sini? Udah lama?"


"Ah nggak, kok. Baru saja. Aku ke sini cuman mau kasih kabar kalau Ibu sakit, dan sekarang sedang ada di rumah sakit. Ibu nanyain kalian berdua, makanya aku datang ke sini. Ya mungkin kalau ada waktu kalian bisa nengokin ke sana. Di rumah sakit biasa. Ya udah kali gitu aku pulang, ya. Kalian jaga diri di sini. Kalau ada apa-apa boleh minta bantuan ke aku, ya Nis."


Bu Nisa hanya mengangguk saja. Beliau tahu, Pak Bima memang berhati baik, sangat jauh dengan adiknya yang pertama dan terakhir. Di antara ke empat saudaranya, memang hanya Pak Bima dan ayah Cakra yang berhati baik seperti suami dari Oma Ning.


"Mama mau ke sana? Kalau nggak mau jangan di paksa. Aku takut kalau dia sembuh malah berulah."


***


Hari ini adalah hari kebebasan bagi Baby. Hari libur untuk dirinya. Seperti hari libur di hari sebelumnya, ia menghabiskan waktu di rumah Cakra, bercengkrama dengan si cantik Aura. Hubungan keduanya semakin hari semakin dekat. Di usianya yang masih satu tahun, Aura sudah bisa mengucapkan satu di buah kata. Hal yang membanggakan untuk semua orang tua melihat perkembangan sang anak.


Bu Nur yang mengamati gerak-gerik Baby akhir-akhir ini yang selalu keluar rumah saat libur kerja mau tak mau memancing kecurigaannnya. Beliau takut jika anaknya itu dekat dengan seseorang yang bukan lahir dari kalangan seperti dirinya.


Baby selalu tampil cantik saat keluar rumah. Berangkat pagi dan pulang sore, setiap ia libur kerja seperti itu. Dan hari ini, beliau ingin tahu, ke mana perginya sulungnya itu. Beliau meminya Bian untuk mengikuti ke mana perginya Baby.


"Hati-hati, ya. Jangan sampai mbakmu tahu kalau kamu ikuti dia."

__ADS_1


"Iya, Bu."


Seperti biasanya, Baby akan lebih dulu membeli sesuatu untuk Aura. Ia tidak pernah bisa melakukan itu saat berkunjung ke rumahnya.


Setelah lima belas menit berada di jalanan, akhirnya Baby sampai juga di rumah Cakra. Aura yang sedang bermain dengan Bu Nisa seketika berlari ke arah Baby. Frekuensi mereka yang sering bertemu membuat Aura mengenal baik Baby. Anak kecil itu sudah lengket dengannya sejak awal bertemu. Sosok ceria dan bisa mencairkan suasana membuat Baby mudah mendekati Aura.


"Selamat pagi, sayangnya Aunty. Nih, pakai buat kamu, nih." Baby meletakkan jajanan itu di lantai teras dan bersalaman dengan Bu Nisa. Mereka sudah sangat dekat, sudah seperti keluarga kedekatan mereka.


"Kalau ke sini nggak usah bawa ginian nggak apa-apa, Cla. Aura juga nggak akan ngambek. Uangnya bisa buat yang lain," sahut Cakra duduk bergabung dengan mereka.


"Ini berapa, sih harganya. Murah aja, nggak bakal habis juga uang aku."


Saking seringnya bercengkrama, mereka tak kehabisan bahan untuk bicara. Ada saja yang mereka bicarakan entah itu hal yang ringan hingga ke yang serius. Mereka saling terbuka satu sama lain.


Beberapa lama berbincang dengan sesekali gurauan, ponsel Cakra berdering. Menampilkan nama Pak Bima di sana. Cakra yang sudah tahu apa yang akan dibahas oleh Pak Bima, memutuskan untuk mengabaikannya saja. Hal itu justru mengundang pertanyaan di kepala Bu Nisa.


"Dari siapa? Angkat. Siapa tahu penting."


"Pakde Bima."


"Angkat dong, Cakra. Nggak sopan kamu."

__ADS_1


__ADS_2