
Dan yang benar saja, setelah hari itu, Bu Nur benar-benar menjaga ketat anak perempuannya itu. Tidak ada lagi pertemuan di hari libur kerja, tidak ada lagi upaya-upaya membujuk wanita itu agar direstui hubungannya. Bu Nur benar-benar menutup hati dan juga kesempatan untuk Cakra agar bisa bersama dengan anaknya.
Meski tidak pernah bertemu di hari libur atau bertemu seharian penuh seperti sebelumnya, Cakra dan Baby masih menyempatkan waktu bertemu setiap harinya. Entah di jam makan siang atau jam istirahat Baby yang tidak menentu stiap harinya. Hal itu terjadi selama satu minggu ini.
Dan hari ini, adalah hari puncak kesehatan Oma Ning yang benar-benar menurun drastis. Sudah seminggu ini beliau kritis dan sama sekali tak membuka mata. Sudah berkali-kali juga Cakra berusaha untuk berinteraksi intens dengan beliau, namun tak ada perkembangan sama sekali. Bahkan semua anak-anak dan cucunya sudah mengikhlaskan apa pun yang terjadi, mengingat Oma Ning sudah tua dan sering sakit akhir-akhir ini.
Sudah sejak semalam, nafas Oma Ning sudah mulai susah dan terasa sangat berat. Cakra dan Bu Nisa yang sadar, bahwa mereka adalah orang yang paling di cari oleh wanita itu sebelum kritis, beberapa kali mengatakan maaf dan memberi maaf di telinga beliau.
Dan akhirnya di pagi hari, tepatnya pukul sembilan pagi, Oma Ning benar-benar pergi meninggalkan semua yang ia punya. Ia pergi dengan membawa kesombongan yang masih belum sempat ia rubah. Bahkan di hari-hari terakhirnya rupanya keinginan untuk bertemu dengan Cakra dan ibunya harus beliau bawa ke alam dunia yang berbeda.
Semua berduka, semua merasakan kesedihan yang sama. Meskipun ada beberapa menantu dan cucu yang merasa biasa saja karena mereka merasa sakit hati dengan ucapan beliau.
"Cakra, kembali pulang dan urus lagi perusahaan yang sudah menjadi tanggung jawabmu. Sudah cukup lama kamu meninggalkannya," kata Pak Bima di malam harinya.
__ADS_1
Cakra bingung, ia ingin meninggalkan semua harta warisan yang ia limpahkan padanya, ia ingin hidup sederhana saja dengan ibunya. Apalagi ia juga dalam proses mengejar cinta kedua orang tua Baby.
"Aku sudah terlanjur nyaman dengan kesederhanaan Pakde, tapi..."
"Kalau dia nggak mau urus, ya sudah, Mas. Jangan dipaksa, biarkan cucu yang lain saja yang ngurus. Cucu Ibu banyak, nggak cuman Cakra, lagi pula itu perusahaan Ayah harus diurus semua cucunya," protes Via, adik Pak Bima.
"Yang membesarkan nama perusahaan inti, kan ayahnya Cakra. Dari keempat saudaranya hanya Bram yang bersedia membantu Ayah. Kamu juga nggak bersedia nerusin, kan waktu itu? Lalu kenapa sekarang kamu minta semua cucu yang urus. Waktu Ayah nggak ada cuman Bram satu-satunya yang mengurus perusahaan itu dan ketika Bram tidak ada juga hanya Cakra dan Ibu yang mengurus. Sekarang perusahaan itu sudah besar dan kamu meminta semua cucu mengurusnya? Nggak adil buat mereka dong."
Merasa mendebatkn sesuatu yang tidak penting, Bu Nisa selaku ibu dari anak yang diperdebatkan akhirnya angkat suara.
Cakra yang sejak tadi jadi bahan perdebatan masih melamun. Pikirannya sudah bercabang kemana-mana, kedukaan yang masih belum hilang, sementara hatinya tak pernah lepas dari Baby, dan sekarang ia menjadi bahan perdebatan perkara perusahaan. Perkara kantongan restu dari orang tua Baby saja sudah menjadi beban terberatnya akhir-akhir ini. Hal ini sungguh seperti menyita kehidupannya, sekarang ditambah lagi perkara-perkara yang tidak penting.
Bu Nisa menatap anaknya dengan iba, beliau tahu Cakra sedang banyak pikiran. Mencintai anak orang dan bertemu diam-diam memang tidak mengasyikkan. Dan memang akan menjadi beban tersendiri untuk laki-laki dewasa yang sudah siap menikah.
__ADS_1
"Nak Istirahatlah! Badan kamu lelah, kamu nggak akan bisa berjuang kalau kamu lelah. Mama hanya bisa bantu doa, kejarlah yang menurut kamu pantas untuk dikejar. Perjuangkan yang menurut kamu layak untuk diperjuangkan. Hanya satu pesan Mama, tetap berada di jalan yang benar. Jangan hanya karena terhalang restu, kamu jadi punya pikiran sempit dan mengambil jalan pintas."
"Iya, Ma. Aku akan selalu ingat pesan Mama."
Sejak hari itu, keseharian Cakra kembali seperti dahulu. Hari-harinya dipenuhi dengan meeting dan bekerja. Hal itu membuat frekuensi bertemunya dengan Baby menjadi jarang, hanya satu sampai dua kali saja dalam satu minggu. Dan itu terjadi hingga enam bulan lamanya dan selama itu belum ada perkembangan mengenai hubungan mereka.
"Mau sampai kapan kita begini terus, ya? Jujur aja aku udah cape begini terus." Baby sudah mengeluh dengan hubungannya.
"Sabar dong Sayang, ini ujian buat kita. Sebenarnya aku ada rencana buat ke rumah. Setelah aku antar kamu waktu itu, kan aku belum pernah datang lagi. Aku belum ketemu sama Ayah juga, kan? Aku rasa Ayah lebih enak di ajak ngobrol. Dari mukanya kelihatan sabar, pas ketemu di rumah sakut waktu itu Ayah juga lebih terlihat welcome."
"Iya, sih. Ayah nggak se protektif Ibu. Memang kapan kamu mau ke sana?"
"Ayah libur kerjanya kapan?"
__ADS_1
"Setiap senin Ayah libur."