
"Lo kenapa sih, By. dari pantry kayak orang kesurupan. Apa yang membuat lo sebahagia ini sekarang?" Kedua bola mata Mira tidak sengaja menangkap kening Baby yang memar. "Itu kenapa jidat lo memar begitu? Oh gue tahu, lo pasti kena karma. Tadi lo ngurusin memar Luna. Dan sekarang, lo juga memar. Lo tahu ini namanya apa? Karma dibayar kontan. Haha." Mira tertawa melihat apa yang dialami oleh Baby.
"Sembarangan kalau ngomong. Ini tuh bukan karma, ini itu luka membawa cinta. Lo tahu? Gara-gara luka ini, gue dikasih minyak dong sama Pak Cakra. Lo jangan iri, pria dingin itu perhatian ke gue." Baby memperlihatkan sebotol minyak untuk meredakan nyeri akibat benturan.
Tentu saja apa yang dikatakan Baby membuat Mira terbelalak tak percaya. Mau tidak percaya, tapi apa yang ia lihat ada di depan mata. Bahkan minyak itu masih di terpampang jelas si depan matanya.
"Kok bisa? Ini sulit dipercaya Baby. Gimana bisa lo dapat minyak dari Pak Cakra? Ngapain Pak Cakra ke pantry? Seumur-umur nggak pernah gue lihat dia jalan ke pantry."
"Ya memang luka ini tercipta bukan di pantry, Mira. Luka ini terbentur pintu ruangan Pak Cakra."
"Kok bisa? Ngapain lo ke ruangan Pak Cakra?"
"Antar minuman."
"Kok bisa?" Kebingungan masih terdengar begitu nyata di nada bicara. Mira.
"Apapun bisa dilakukan oleh Baby. Ini baru permulaan. Jangan heran dengan apa yang terjadi nanti. Percayalah, untuk kali ini, Baby akan mendapatkan apa yang dia mau." Baby berucap dengan jumawa. Seoalah ia sudah mendapatkan harta karun berupa berlian yang melimpah.
Hari itu berjalan begitu cepat, ini adalah pertama kalinya Baby bekerja dan waktu berlalu begitu saja tanpa ia sadari. Tentu saja ia pulang dengan hati riang gembira.
***
__ADS_1
Makan malam di keluarga Cakra selalu tepat waktu, hening, dan tegang. Cakra sejak pulang kerja tadi masih di diamkan oleh Oma Ning. Seakan kesalah Cakra begitu besar dan tak terampunkan.
Cakra sedang berpikir apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk bicara dengan omanya menganai apa yang sudah ia rencanakan tadi siang? Apakah harus menunggu waktu yang tepat untuk bicara mengenai kewarasan dirinya sendiri? Jika iya, kapan waktu yang tepat itu akan datang? Mau sedang marah atau sedang baik, Oma Ning pasti akan merespon keinginan Cakra dengan mulut racunnya yang pedas.
"Oma, bisa kita bicara sebentar?" Cakra memberanikan diri berucap begitu omanya hendak bangkit dari meja makan.
"Bisa," jawab Oma Ning kembali duduk. "Mau bicara apa?"
"Soal rencana kalian mengenai perjodohan aku dengan Luna. Aku ingin kita bertemu lagi dengan keluarganya, maksudku pertemuan ini melibatkan aku dan juga Luna. Sebelumnya kalian membicarakan perjodohan kami tanpa ada kami, kan? Aku ingin kita kembali bertemu dengan ikut sertakan aku dan juga Luna."
Oma Ning tidak langsung menjawab, beliau mengamati wajah tampan cucunya, mengamati dengan lekat seakan beliau tidak pernah berjumpa dengan Cakra.
"Kenapa tiba-tiba kamu merencanakan ini? Tadi pagi seingat Oma, kamu menolak perjodohan ini. Ada sesuatu yang kamu rencanakan?"
"Tidak ada yang aku rencanakan. Sebenarnya aku berniat ingin membicarakan penolakanku terhadap perjodohan ini. Oma tahu aku sangat tidak tertarik dengan Luna, Oma. Lihatlah rekaman CCTV ini. Ini bukan satu-satunya alasan kenapa aku menolak. Oma lihat sebentar dan sekali saja, supaya Oma tahu bagaimana perilaku wanita yang akan Oma jodohkan pada cucu Oma ini. Aku menolak perjodohan ini bukan hanya karena tidak cinta Oma. Kalau soal cinta aku tidak peduli dengan itu, aku dulu dengan Aura juga tidak cinta, tapi aku tetap nurut sama Oma. Karena aku tahu, perilaku Aura itu jauh lebih baik, berhati lembut, tidak seperti Luna. Mereka memang kakak beradik, tapi kelakuan mereka jauh banget. Udah kayak langit sama bumi."
"Kamu berani mendikte Oma?"
"Bukan mendikte Oma, tapi aku ini sudah cukup dewasa dan mengerti apa yang harus aku lakukan, apa yang baik untukku dan tidak."
"Apa yang baik menurut kamu, bukan berarti dia yang terbaik."
__ADS_1
"Kenapa Oma bicara itu padaku? Seharusnya Oma terapkan dalam kehidupan Oma, apa yang menurut Oma baik, belum tentu terbaik juga untukku."
"Oma sudah mengambil keputusan dan kamu tahu ketika Oma sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa merubahnya. Perjodohan tetap akan dilanjutkan."
Oma Ning meninggalkan meja makan tanpa melihat rekaman CCTV yang disodorkan oleh Cakra. Tidak ada yang tahu isi kepala dari wanita tua itu. Tidak ada yang tahu juga alasan Oma begitu ngotot dan kekeuh untuk tetap menjodohkan Luna dan cucunya. Entah apa yang salah dengan omanya, Cakra begitu tertekan memiliki keluarga seperti wanita tua itu. Jika saja melenyapkan nyawa seseorang tidak mendapatkan dosa dan hukuman maka mungkin saja di detik itu Cakra melakukannya.
"Boleh Mama lihat rekamannya?" Bu Nisa mengambil ponsel yang tak jauh darinya.
"Lihat aja, Ma. Setelah melihat itu aku yakin, Mama akan berpihak padaku."
Bu Nisa memperhatikan benda pipih milik anak satu-satunya itu. Sesekali beliau menampakkan wajah tidak percaya dan juga mengerutkan keningnya menjadi beberapa lipat, karena tak percaya melihat Luna yang begitu tidak mempunyai sopan santun.
Sebagai sesama wanita, Bu Nisa merasa malu dan juga ilfil dengan apa yang sudah dilakukan oleh Luna. Beliau tak menyangka wanita yang terlihat sopan dan anggun justru bersikap murahan seperti ini.
"Apa dia sering seperti ini?" Bu Nisa mengembalikan ponsel anaknya.
"Sangat sering, Ma. Di saat aku kembali aktif di kantor setelah meninggalnya Aura, dia semakin gencar mengejarku dan melakukan hal-hal yang seperti mama lihat tadi. Belum lagi dia mengatakan pada semua karyawan di sana kalau aku ini calon suaminya. Mau di bawa ke mana harga diri aku, Ma. Masa istrinya baru meninggal dia malah mengumumkan aku ini calon suaminya. kayak nggak ada harga dirinya, Ma. Mama, please! Jangan paksa aku juga untuk menikah sama dia."
"Cakra, tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke dalam penderitaan. Mama juga tidak ingin memaksa kehendak lagi. Tapi mama bisa apa? Apa yang bisa Mama melakukan supaya Oma tidak menjodohkan kalian lagi?"
"Untuk itu biar aku yang urus. Kalau Oma nggak mau mempertemukan aku dan juga keluarga Luna, aku yang akan datang sendiri ke sana. Akan aku katakan kalau aku menolak mentah-mentah perjodohan ini. Aku tidak peduli dengan reaksi Oma nantinya."
__ADS_1
"Kalau kamu memang sudah siap untuk menerima konsekuensi apapun dari tindakan kamu, Mama akan ada di belakang kamu. Mama sendiri sebenarnya juga udah cape sama Oma kamu itu. Tapi mau bagaimana lagi? Kita yang dititipi amanah sama Papa untuk jaga Oma, kan? Kita jaga dia sebaik mungkin, tapi bukan berarti dia bisa memaksakan kehendak seperti yang sudah-sudah. Percayalah, Mama akan ada di samping kamu, Nak."
Merasa mendapatkan angin segar dari ibunya. Cakra semakin yakin dan percaya diri, keputusan yang ia ambil adalah benar.