
Sejak pertemuan mereka yang tak disengaja di taman itu, Baby semakin intens mendekati Cakra. Namun, cara yang digunakan Baby untuk mendekati pria itu bukan cara yang konyol seperti yang Luna lakukan. Sebisa mungkin gadis dua puluh dua tahun itu mencoba untuk mendekati dinginnya Cakra dengan cara memberikan perhatian dan juga gombalan-gombalan yang menurutnya membuat leleh hati siapapun yang akan mendengarnya.
Apakah Cakra akan menerima semua perlakuan itu dengan baik? Tentu saja tidak. Ia justru semakin depresi karena melihat kelakuan Baby yang semakin hari semakin berani keluar masuk ruangannya tanpa diminta.
Sudah dua bulan ini kesabaran Cakra semakin diuji dengan tingkah Baby. Seperti pagi ini, ia baru saja mendudukan dirinya di kursi kebesarannya, pintu sudah terdengar di ketuk dari luar. Ia sudah menebak siapa yang mengetuk pintu itu. Pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh petugas pantry, sekarang pindah tangan dikerjakan oleh Baby.
Bagaimana bisa hal itu terjadi? Hal itu bermula dari kebohongan-kebohongan kecil yang Baby ciptakan. Petugas pantry sedang ke kamar mandi, sedang sibuk, sedang melakukan hal yang lain, sedang sakit perut, dan sedang-sedang yang lain selalu Baby ciptakan setiap harinya. Cakra yang semula keberatan menjadi mulai terbiasa dan membiarkan gadis itu bertingkah sesuai kemauannya, asalkan pekerjaannya tetap diselesaikan dengan baik. Toh, selama dua bulan bekerja, pekerjaan baby cukup baik.
"Selamat pagi Pak Cakra, saya bawa sesuatu yang baru untukmu."
"Apalagi? Apalagi minuman yang kau buat untukku. Terakhir kali kau buat minuman baru, tapi semuanya rasanya hancur. Jadi tolong jangan bereksperimen apapun mengenai minumanku," protes Cakra memegang keningnya seakan ia merasa pusing dengan kelakuan karyawan yang satu ini.
"Bapak tenanglah, saya membuat ini sesuai resep yang ada di youtube. Jadi Bapak harus mencoba, untuk kali ini tidak mungkin gagal."
"Apa jaminannya?"
"Cinta saya, Pak. Kalau saya membuat minuman ini gagal di terima di lidah Bapak, saya rela melepas Bapak untuk Luna. Saya korbankan perasaan saya, Pak," jawab Baby dengan nada dan ekspresi yang di buat-buat.
"Aku yang nggak terima. Kenapa kau jadi bawa-bawa Luna dan cinta dalam masalahmu ini. Pergi sekarang!"
"Coba dulu," rengek Baby.
"Kau siapa memerintahku?"
"Teman yang sebentar lagi akan jadi teman hidup."
Baby ngacir pergi setelah mengatakan itu. Ia sudah hafal, pasti setelah ini ia akan mendapat amukan dari Cakra jika tidak segera menyelamatkan telinganya dari pria dingin itu.
__ADS_1
Bruk!
"Aduh," pekik Baby saat membuka pintu.
Di saat Baby membuka pintu ternyata dalam waktu bersamaan Dandi sedang berada di depan pintu hendak menemui Cakra. Tangannya yang hendak mengetuk pintu, namun pintu yang terbuka begitu cepat itu membuat Dandi tak bisa mengerem tangannya untuk menghentikan niatnya. Terjadilah tabrakan dan ketukan di kening Baby.
"Astaga, Baby. Kau membuat aku terkejut. Apa keningmu sakit?"
"Tidak, Pak. Ketukan di tanganmu ini terasa nikmat," jawab Baby seraya mengelus keningnya yang sakit.
"Lagian kurang kerjaan kau lari-lari."
"Dandi, kau mau ghibah atau kerja?"
Tanpa ucapan apapun lagi, mereka berdua membubarkan diri untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. Baby kembali ke mejanya, sedangkan Dandi masuk ke dalam ruangan Cakra.
"Minumlah! Terakhir kali aku minum buatan dia rasanya seperti tercekik leherku."
"Tapi sepertinya Bapak sudah biasa, kan dengan suguhan Baby di pagi hari seperti ini. Buktinya setiap hari dia ke sini."
"Kau tahu sendiri kelakuan dia bagaimana, kan? Aku tidak tahu bagaimana cara orang tuanya mendidiknya. Kenapa dia bisa tumbuh menjadi orang yang mengganggu lainnya. Dia itu klan nya Luna. Sangat mengganggu."
"Tapi respon yang Bapak berikan pada mereka berdua beda."
"Dandi mana berkas yang aku minta. Kenapa kau jadi bahas dua manusia itu?"
Dandi terkekeh, ia menyerahkan berkas yang diminta oleh Cakra. Diam-diam ia memikirkan bahwa Cakra dan Baby ini memiliki kecocokan jika bersama. Ia mulia berpikir untuk menyatukan mereka dalam hubungan. Terdengar konyol, tapi sepertinya memang hanya Baby yang bisa meruntuhkan kebiasaan Cakra.
__ADS_1
Hal yang dilakukan oleh Cakra akhir-akhir ini sangat di luar kebiasaan dan tidak ada orang satupun yang bisa mengubah kebiasaan itu, tertutama dirinya. Manusia yang paling dekat dengan Cakra saat di kantor maupun di luar kantor.
Kebiasaan kecil itu adalah minuman yang saat ini tersedia di meja. Sebelum ada Baby, tidak pernah Cakra minum kopi yang berbau susu. Jangankan minum, membiarkan minuman itu di meja saja tidak pernah ia lakukan. Namun, lihat sekarang! Bahkan kopi susu itu sekarang nampak keluar masuk ruangan Cakra meski ia hanya menyeruputnya sedikit dan membuangnya karena di rasa minuman buatan Baby merusak tenggorokan dan perutnya.
"Membicarakan Luna membuat saya ingat, Bapak sudah bicara soal penolakan perjodohan itu?"
"Belum, aku berencana akan datang ke rumah Luna hari sabtu besok."
"Lebih cepat lebih baik, Pak. Biar mereka juga nggak ngira kalau Bapak menerima perjodohan ini seperti dengan almarhumah Bu Aura dulu."
***
"Oma, kapan aku dan Cakra akan tunangan? Hanya tunangan saja. Bagaimana kalau di hari ulang tahun Cakra, sebentar lagi dia akan ulang tahun, kan? Aura juga harus segera punya Ibu, kan? Dia sudah terlalu lama tidak mendapat kasih sayang dari seorang Ibu." Luna sedang berada di rumah Cakra dengan tujuan melancarkan aksinya untuk menjadi nyonya Cakra dengan segera.
"Luna. Bersabarlah, ini masih terlalu cepat. Meninggalnya adikmu saja belum ada enam bulan."
Jujur saja Luna sebenarnya khawatir dengan kehadiran Baby yang setiap saat berada di dekat Cakra. Apalagi ia tahu bahwa gadis itu juga mengincar Cakra untuk menjadi miliknya. Ia tak bisa dua puluh empat jam berada di samping pria itu, sedangkan dengan Baby, banyak waktu yang ia habiskan dengan karyawannya itu. Meskipun tidak ada interaksi intens di antara keduanya, mereka sering bertemu dan dalam durasi waktu yang lama.
"Oma, sebenarnya aku sangat tidak nyaman dengan hadirnya karyawan yang pernah menghinaku. Dia Sampai sekarang kenapa masih ada di kantor. Dia menggoda Cakra tanpa takut padanya. Kurang ajar sekali dia, Oma," adu Luna.
"Kamu kenal Cakra, kan? Apa menurutmu dia mudah tergoda? Tenanglah. Biarkan saja gadis itu bekerja di sana. Dia tidak akan bisa merebut Cakra darimu. Kamu juga tahu bagaimana menurutnya Cakra pada Oma."
Bu Nisa yang berada di sana tidak ingin mengucapkan apapun. Semakin ke sini, ia semakin sadar kenapa Cakra tak mau kembali dijodohkan apalagi dengan Luna.
Siapa karyawan itu sebenarnya? Apa istimewanya dia? Kenapa Luna sekhawatir itu?
Jangan lupa ke sini juga, ya.
__ADS_1