
Baby tidak tahu harus menggambarkan hari ini dengan perasaan yang bagaimana. Di satu sisi ia senang, ternyata perasaannya selama ini terbalaskan. Tak pernah ia sangka sebelumnya, bahwa Cakra akan mengungkapkan perasaannya secepat ini. Namun di sisi lain, ia bersatu dengan Cakra tidak semudah membalikan telapak tangan.
Ada beberapa kendala yang sudah nampak terlihat di depan mata. Salah satunya adalah restu. Bahkan sebelum hari ini, Baby sudah diwanti-wanti untuk tidak menjalin hubungan dengan pria yang tidak setara dengannya. Belum lagi restu dari keluarga Cakra yang nampaknya pasti akan sulit ia dapat.
Dua hal ini nampaknya menjadi kendala terbesar bagi keduanya. Akan sulit mendapatkan restu dari Bu Nur ketika keluarga Cakra memperlakukan orang memandang statusnya. Dan begitupun sebaliknya, keluarga Cakra juga akan sulit menerima Baby karena keadaan perekonomian dan level mereka yang berbeda.
Baby membanting tubuhnya di kasur. Nampaknya ungkapan perasaan yang seharusnya membuatnya senang, tidak sepenuhnya kesenangan yang ia rasakan. Justru yang sekarang lebih dominan adalah bagaimana cara menyatukan cinta mereka beserta mengajak kedua buah keluarga itu menjadi satu. Belum dilakukan saja sudah sangat terasa sulit.
Namun Baby dan Cakra sudah sepakat untuk membiarkan hubungan mereka seperti ini dulu sampai acara pertunangan yang akan digelar itu terlewati. Banyak hal yang mereka bicarakan tadi saat di taman.
"Tapi, Pak. Kita itu sama-sama tahu, kalau aku dan Bapak itu akan sulit untuk bersatu. Yang paling kentara itu adalah restu. Sudah jelas, kan kalau Oma tidak akan merestui hubungan kita. Belum lagi Ibuku, kedua wanita itu sama-sama tidak merestui hubungan anaknya karena status sosial."
"Gimana sih, Cla maksudnya? Aku nggak paham."
"Ibuku yang tidak pernah menyetujui kalau aku menjalin hubungan dengan seseorang yang, yah bisa dibilang punya banyak uang dan harta. Karena menurut Ibu semua orang kaya itu sama seperti Oma Ning, memandang seseorang dari kekayaannya dan ibu takut kalau aku sampai menikah dengan laki-laki yang seperti itu, aku hanya akan diinjak-injak dan tidak dianggap sebagai manusia karena aku tidak punya harta. Ini akan terasa sangat sulit."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Cla. Kalau dibayangkan saja memang akan sulit, tapi kita harus tetap berjuang, bukan?"
"Bapak yakin mau memperjuangkan cinta Bapak sama aku? Masih banyak perempuan di luar sana yang lebih pantas dari aku."
"Ya memang banyak, yang lebih cantik banyak, yang lebih seksi banyak, yang lebih pintar banyak, dan yang lebih-lebih lainnya banyak sekali di muka bumi ini. Tapi apakah jika hati sudah bicara pada satu wanita akan mudah diganti dengan wanita lainnya?"
Baby tersenyum seraya menatap langit-langit kamarnya jika ia mengingat obrolannya dengan Cakra saat di taman tadi. Ia seperti melihat Cakra dari sisi yang berbeda. Sisi yang sama sekali tidak pernah ia lihat ketika berada di kantor.
***
"Ada urusan bentar, Oma. Aku juga punya urusan selain pekerjaan."
"Urusan apa?"
"Oma tidak semua apa yang aku lakukan ada di bawah kendali Oma. Aku juga punya kehidupan sendiri."
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kamu menemui perempuan yang bernama Baby itu," terka Oma Ning.
"Nggak. Kan Oma tahu, kalau sesudah kejadian itu Baby resign dari kantor. Aku nggak pernah ketemu dia lagi. Aku juga nggak ada hubungan apa-apa lagi."
Dari obrolan yang baru saja terjadi, Cakra akhirnya berpikir dalam hati. Nampaknya ia harus waspada dan tidak menemui Baby dalam waktu dekat. Ia takut jika Oma Ning malah berbuat sesuatu terhadap perempuan itu.
Dan semenjak hari itu, Baby dan Cakra benar-benar tidak bertemu sama sekali. Mereka hanya melepas rindu melalui sambungan telepon saja. Dan hal itu berlangsung hingga hari di mana Cakra akan bertunangan dengan Luna.
Rencana yang sudah ada di kepala sejak lama akan ia laksanakan malam ini. Dandi, pria satu-satunya yang dipercaya oleh Cakra akan turut andil dalam membantu apa yang akan dilakukan atasannya itu.
"Cakra, perasaan Mama tidak enak dari kemarin. Apa yang akan kamu lakukan ini resikonya sangat besar dan kamu juga melibatkan Dandi dalamnya. Mama takut kalau dan dia akan menerima sekuensinya juga jika kalian ketahuan. Akan sangat tidak adil kalau Dandi juga akan kehilangan pekerjaannya karena bantuin kamu."
"Mama tenang aja, aku akan melakukannya dengan bersih dan rapi. Aku pastikan tidak akan ada satu pun orang yang tahu kalau aku akan kabur di hari pertunanganku dan yang membantuku adalah Dandi. Aku yang akan menjaminnnya. Mama nggak usah khawatir. Mama cukup duduk tenang di acara nanti."
Ya, rencana Cakra yang sudah ia pikirkan beberapa minggu terakhir sudah dipastikan akan benar-benar ia lakukan. Mungkin akan terlihat memalukan, tapi Cakra lebih baik melakukan itu daripada harus menikah dengan Luna. Apapun akan ia lakukan untuk menghindari menjalin hubungan sakral dengan perempuan itu.
__ADS_1