
"Iya aku sama Mama ke sana sekarang."
"Ada apa?"
"Oma kritis, Pakde minta kita ke sana. Anggota keluarga sudah berkumpul semua, cuman kita yang nggak ada di sana."
"Ya udah kalau gitu kita ke sana sekarang. Tapi Aura bagaimana dia terlalu kecil untuk diajak ke rumah sakit menjenguk orang yang sakit, kan?"
"Biar sama aku aja, Tante. Aura, kan sudah dekat sama aku. Dia nggak akan rewel. Jadi kalian bisa pergi dengan tenang."
"Tapi..."
"Udah sana berangkat, lebih cepat lebih baik. Nanti sore, kan aku harus balik. Sekarang biarkan aku sama Aura udah nggak buruan berangkat, Pak," potong Baby cepat.
Merasa apa yang diucapkan Baby ada benarnya, mereka cepat-cepat masuk rumah bersiap untuk ke rumah sakit sekarang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh mereka soal Aura, karena anak kecil itu berada di tangan yang tepat.
Pukul sepuluh pagi, mobil Cakra sudah keluar dari pekarangan rumah. Pria itu melajukan mobilnya dengan cepat. Ternyata rasa kesal yang ia rasakan terhadap omanya tidak bertahan lama. Mendengar omanya yang kritis ternyata membuatnya khawatir juga.
Setelah beberapa menit menggilas aspal, akhirnya ibu dan anak itu berduyun-duyun masuk rumah sakit dengan perasaan yang tidak menentu. Rasa cemas, khawatir, panik, membaur menjadi satu.
"Bagaimana keadaan ibu, Mas?" tanya Bu Nisa pada Pak Bima.
"Apa pedulimu pada Ibu kami?" tanya anak perempuan satu-satunya di keluarga Oma Ning.
"Kok Mbak Via ngomongnya begitu? Aku juga bagian dari keluarganya, mana mungkin aku tidak peduli?"
"Kalau kamu peduli harusnya kamu tidak meninggalkan Ibu sendirian. Udah tahu Ibu udah tua, malah kamu tinggal minggat juga, kamu juga cakra. Dasar cucu nggak tahu diri kamu itu. Kalau kamu nggak mau di jodoh-jodohin itu ya bilang dari awal, ngomong. Nggak perlu kamu pakai acara kabur dari pertunangan."
__ADS_1
"Maaf, ya Bude. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Bude. Selama ini, kan Bude jauh sama saya, ya. Jauh sama saya, Ibu, dan Oma. Bude tidak tahu keseharian kami, Bude tidak tahu bagaimana perjuangan saya untuk menolak perjodohan ini. Yang Bude tahu saya kabur dari acara pertunangan, hanya itu saja. Tanpa Bude tahu apa yang terjadi sebelum hari itu. Jadi saya mohon dengan sangat jangan bicara sembarangan. Bude nggak tahu apa yang kita lewatin. Alangkah lebih baik kalau Bude diam!"
"Berani sekali kamu, Cakra sama saya!"
Keadaan semakin tegang. Perdebatan mereka terjadi cukup sengit meskipun tanpa berteriak. Hanya bicara dengan nada pelan dan menusuk saja, tapi cukup membawa suasana di sekitar mereka memanas dan terasa mencengkeram.
"Sudah, Via, Cakra, kalian ini apa-apaan ribut di rumah sakit? Ibu sedang butuh kita. Butuh doa kita, jangan hiasi kondisi ini dengan keributan." Pak Bima selaku anak tertua menengahi perdebatan tersebut.
Hingga sore hari, tiada perkembangan yang signifikan. Bu Nisa yang teringat dengan cucunya izin untuk pulang terlebih dahulu. Lagipula sudah banyak yang menunggu, pikir wanita itu.
"Baru berapa jam di sini, udah izin pulang aja. Selama Ibu keluar masuk rumah sakit tidak pernah sekalipun datang, sekalinya datang cuman beberapa jam," sindir Bu Via.
Cakra hendak menjawab ucapan itu, namun Bu Nisa mencegah niatnya dengan menyentuh tangan sang anak. Seakan mengerti dengan kode yang diberikan, Cakra hanya mengela nafas berat.
***
Sementara, di rumah Cakra. Baby nampak sedang bercengkrama dengan tetangga sekitar rumah. Wanita itu memang pandai bergaul, niatnya yang hanya ingin mengajak Aura jalan-jalan berujung pada perkenalannya dengan tetangga Cakra yang ia sendiri tidak tahu Cakra mengenalnya atau tidak.
"Saya permisi, ya Bu. Itu Pak Cakra sudah datang. Mari," kata Baby ramah.
Baby segera pulang ke rumah setelah mendapat anggukan dari tetangga yang baru saja ia kenal.
"Baby, apakah Aura rewel? Maafkan kami karena meninggalkanmu terlalu lama, ya," ujar Bu Nisa seraya mengambil alih Aura dari gendongan Baby.
"Ah nggak Tante, Aura sama sekali nggak rewel, kok. Alhamdulillah dia cocok sama saya. Saya langsung pulang, ya Tan. Udah sore."
"Aku antar, nanti aku pulangnya bisa naik ojek. Ini udah sore, kamu terlalu sering ke sini, tapi nggak pernah mau aku antar. Aku yang tanggung jawab atas keselematan kamu. Aku kayak nggak tanggung jawab."
__ADS_1
"Tidak perlu, Pak. Ayah dan Ibu nggak mempermasalahkan kok. Jadi Bapak nggak perlu khawatir."
"Iya, sekarang nggak masalah. Aku takut akan jadi masalah nanti ke depannya. Udah, kamu nurut sama aku."
"Pak..."
"Udah Baby, nggak apa-apa," sahut Bu Nisa.
Baby berpikir, apakah tidak menjadi masalah ke depannya jika mereka mengetahui hubungan mereka sekarang? Tapi di sisi lain, Baby juga paham jika cekat atau lambat kedua orang tuanya harus tahu hubungan mereka. Tapi untuk saat ini sungguh Baby tak siap.
Setelah tidak bisa lagi menolak, akhirnya Baby pulang ke rumah dengan degupan jantung tak biasa. Ia tak bisa duduk dengan tenang di jok motornya. Ia memikirkan apa pun yang akan terjadi nantinya.
Lamunan Baby terasa membawa perjalanannya lebih cepat. Ia terkesiap begitu motornya sudah sampai di halaman rumahnya.
Baru saja Baby turun dari motornya, Ibu Baby sudah terlihat di teras. Bu Nur terlihat menunggu kepulangan anaknya itu dengan cemas dan nampak wajahnya yang dipenuhi tanda tanya.
"Pak, Bapak yakin akan bertemu Ibu sekarang?" tanya Baby setelah Cakran melepask helem nya.
"Apa yang membuat aku tidak yakin? Cepat atau lambat aku harus menghadapinya. Lebih baik aku menghadapinya sekarang dari pada nang-nanti, kan? Aku pasti bisa kok mendapatkan apa yang aku mau. Usah yuk sekarang kita ke dalam. Tuh, ibu udah nungguin."
Dengan pelan Baby melangkah, langkahnya seakan sangat berat dan terasa sangat jauh. Ia seperti tak ingin beranjak dari tempatnya. Bahkan rasa sesak pun sekarang rasanya hinggap. Padahal udara di sekelilingnya juga masih terasa, namun entah mengapa ia merasa udara di sekelilingnya terasa sudah seperti dipenuhi oleh polisi yang membuat nafas Baby terasa tak normal.
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Cakra menyalami Ibu Baby.
"Waalaikumsalam." Bu Nur menyambut uluran tangan Baby, namun wajah dan nada bicara tak bisa dibohongi.
"Jadi ini yang membuatmu setiap ada kesempatan libur kerja kamu selalu keluar rumah?" tanya Bu Nur to the poin. "Masuk rumah sekarang, biar Ibu bicara sama Cakra dulu. Benar, kan nama kamu Cakra?"
__ADS_1
"Iya, Bu."
Ucapan Bu Nur membuat Baby merasa tak enak, apa yang akan mereka bicarakan nanti? Hal inilah yang membuat Baby tak siap mempertemukan Cakra dan ibunya sekarang.