
"Nanti sore aku jemput. Kau sudah harus siap, aku tak mau menunggu."
"Oke. Saya akan usahakan untuk tepat waktu. Tapi, jangan jemput di rumah. Nanti saya akan tunggu Bapak di tempat lain. Nanti saya share lokasi aja ke Bapak."
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, Pak. Saya hanya nggak mau ada laki-laki yang masuk ke rumah saya jika tidak pasti mengenai hubungan kami."
Itulah obrolan singkat saat Cakra mengingatkan Baby untuk datang ke rumah Cakra sesuai permainan Oma Ning.
Baby berubah akhir-akhir ini. Ia sedikit sedih dan kepikiran dengan kata-kata ibunya yang tidak boleh bergaul terlalu dekat dengan pria-pria yang tak sama derajatnya.
"Baby, kamu sudah semakin dewasa. Kamu juga baru saja memasuki usia baru. Semakin ke sini, Ibu yakin jika kamu sudah mulai tertarik dengan lawan jenis. Atau bahkan kamu sudah merasakannya sejak lama. Lingkungan kamu sekarang bukan hanya kalangan biasa saja. Tapi sudah dari berbagai kalangan dan yang paling banyak kalangan orang yang beruang. Ibu harap kamu bisa mencari calon suami yang sepadan saja sama kita. Ibu nggak mau kamu jatuh cinta dengan orang yang levelnya jauh di atas kita."
Hal yang paling ibunya takutkan adalah jatuh cinta. Wanita yang selalu ia panggil Ibu itu takut jika ia jatuh cinta pada orang yang levelnya lebih tinggi dari mereka, ia akan mendapatkan perlakuan buruk dari kelurganya nantinya.
Dan itu terjadi sore ini, betapa terkejutnya Baby ketika sampai di rumah Cakra yang besar bak istana. Jauh dari bayangan yang ia kira sebelumnya. Ah tidak seharusnya Baby terkejut, kan?
"Ayo turun, jangan panggil aku Bapak, jangan gunakan bahasa formal. Biasakan sebut diri sendiri 'aku' jangan saya! Kau bisa memulainya sekarang!" ujar Cakra mengingatkan.
"Iya. Aku akan ingat. Aku hanya kepikiran dengan apa yang kita lakukan. Aku takut ini akan menjadi boomerang buat kita sendiri." Baby mengungkapkan bebannya beberapa hari terakhir, lebih tepatnya setelah Cakra mengatakan bahwa ia harus diperkenalkan ke keluarga Cakra yang di mana itu pasti akan tudak mudah, apalagi ia hanya menjalankan tugas sesuai dengan apa yang Cakra minta.
Seiring berjalannya waktu, Baby pun sekarang sudah tak pecicilan seperti dahulu saat di depan Cakra. Entah kenapa ia ingin lebih terlihat lebih dewasa saja. Mungkin kesadarannya mulai bekerja dengan baik saat ini.
__ADS_1
"Boomerang gimana? Kenapa kau malah memikirkan yang belum terjadi? Kenalan kau akhir-akhir ini jadi pendiam? Kau tidak seperti Clarissa yang aku lihat dahulu. Ke mana perginya pecicilan dan ke absurd an mu itu? Apakah sekarang kau sudah sadar bahwa seharusnya di usia yang sekarang kau tidak mungkin bersikap seperti anak abg dan harus lebih menjaga image mu?"
"Semua orang pasti akan mengalami masa di mana dia akan berubah menjadi lebih baik, kan? Ngomong-ngomong kapan kita turun? Jangan bilang jika Bapak sedang terpesona dengan kecantikan saya dan juga perubahan yang saya alami sekarang."
"Kenapa aku harus terpesona dengan perubahan seseorang? Lupakan saja, dan satu lagi Clarissa, aku tidak bisa mengawasiamu penuh selama di sini. Jadi jika kau sedang berada jauh dariku, kau harus mengatakan kau ada di mana. Kau bisa kirim pesan padaku. Rumah aku memang tidak akan membuatmu nyasar, tapi aku akan kesulitan mencarimu ketika aku kehilangan jejakmu. Aku sudah menceritakan semuanya padamu dan aku harap kau juga bisa menjaga dirimu sendiri dan hati-hati."
"Kenapa Bapak sekawatir itu apakah sudah mulai ada rasa sesuatu yang berbeda terhadap saya?"
"Kepercayaan dirimu memang tidak pernah merubah Clarissa. Ayo turun sekarang!"
Setelah beberapa menit berada di halaman akhirnya mereka turun juga. Yang dikatakan oleh Baby tadi tidak sepenuhnya salah. Cakra sepertinya sudah mulai memperhatikan Baby akhir-akhir ini. Pria itu memperhatikan dari segi apapun. Mulai dari sifatnya yang mengalami sedikit perubahan, cara berpenampilan, dan juga tutur katanya yang masih mengandung kepercayaan diri tinggi, namun dengan bahasa yang berbeda. Cakra menyadari semua perubahan Baby. Dan tentu saja itu membuat Cakra lebih nyaman ketimbang Baby yang bar-bar.
Belum banyak orang yang berada di rumah besar itu. Karena memang acara ulang tahun Aura yang pertama itu akan dilaksanakan setengah jam lagi. Tentu saja ulang tahun pertama anak dari pemilik perusahaan besar itu akan digelar dengan meriah dan banyak tamu undangan yang besar kemungkinan adalah teman dari Cakra yang sudah memiliki anak tentunya.
Begitu sampai di ruang tamu, sudah ada keluarga inti Cakra yang sedang berkumpul serta beberapa orang yang entah siapa Baby tidak mengenalnya. Nampak juga Aura yang terlihat kegirangan saat melihat ayahnya. Anak kecil cantik yang berusia satu tahun itu berjalan dengan pelan menghampiri ayahnya.
"Eh tamu spesial Mama sudah datang. Ayo masuk!"
Tamu spesial?
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Mama adalah orang yang mengetahui sandiwara kita."
"Memangnya Bapak berpikir saya ini memikirkan apa?"
__ADS_1
Pandangan Baby lalu beralih pada Aura yang sekarang berada di gendongan Cakra. Beberapa bulan lalu ia sempat bertemu dengan Aura yang masih berusia tiga bulan dan sekarang anak kecil itu sudah tumbuh menjadi anak yang terlihat manis dan menggemaskan.
Baby yang menyukai anak kecil itu refleks menimang-nimang Aura yang sejak tadi memperhatikannya.
"Hai anak manis. Kenapa dari tadi kamu melihatku? Apakah aku terlihat cantik? Tentu saja aku cantik, kalau tidak mana mungkin aku menjadi pacar pura-pura papa kamu." Berbicara di telinga Aura saat di akhir kalimat.
"Jangan mulai Cla. Ayo kita masuk!"
Panggilan yang berbeda dari Cakra masih tetap terdengar manis seperti beberapa bulan yang lalu.
Mereka lalu melanjutkan langkah yang sempat berhenti. Oma Ning yang semula duduk bergabung dengan beberapa tamu, berdiri dan berjalan menghampiri keduanya. Pandangan mata menyelidik dan tidak mengenakkan diterima Baby dari wanita tua itu.
"Selamat sore Oma, perkenalkan saya Baby." Gadis itu menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Pandangan Oma Ning masih sama tajamnya meskipun uluran tangan itu disambut oleh wanita yang terlihat tidak menyukai Baby itu.
"Jadi ini yang namanya Baby? Perempuan yang katanya menjadi kekasih cucu saya?" Pandangan wanita tua itu naik turun dari kepala hingga kaki. Mungkin saja beliau sedang memperhatikan dan meneliti penampilan perempuan muda itu.
Baby hanya tersenyum kikuk. Jujur saja ia tidak nyaman dengan pandangan yang beliau lempar. Hal itu membuat ia ingat pesan ibunya yang mengatakan bahwa, orang seperti Oma Ning adalah orang yang menyombongkan kekayaannya dan sudah dipastikan akan merendahkan siapapun yang tidak selevel dengannya.
"Mari kita masuk. Saya yakin ini adalah pertama kalinya kamu datang ke pesta ulang tahun anak kecil, tapi terlihat sangat mewah dan elit. Jadi saya harap kamu bisa sadar posisi dan menempatkan diri."
Mendengar ucapan omanya, Cakra langsung menatap ke arah Baby. Ia begitu takut jika respon perempuan itu berikan akan menjadikan semuanya berantakan.
__ADS_1