Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
14. Taman


__ADS_3

Akhirnya hari yang di tunggu oleh semua mahluk di muka bumi ini tiba. Apalagi jika bukan hari libur alias weekend. Pagi ini Baby sudah menyiapkan diri untuk bermalas-malasan. Meringkuk di bawah  selimut di saat matahari sudah menyapa dunia memang sangat mengenakkan. Ah sudah lama sekali rasanya Baby tidak bangun siang, padahal ia baru bekerja satu minggu tapi rasanya sudah seperti sewindu.


"Baby! Bangun udah siang!" teriak Bu Nur dari luar kamar anaknya.


"Hm." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Baby.


Gadis itu kembali terlelap dalam mimpi seakan ia enggan meninggalkan mimpi yang mungkin saja indah baginya.


Sedang asyik-syiknya kembali berlayar ke alam yang tidak nyata, Baby merasa ada yang menggoyang-nggoyangkan tubuhnya. Dengan malas ia menggeliat dan memaksakan kedua matanya untuk terbuka.


"Bantuin Ibu masak. Ayo ini udah jam setengah enam, kamu anak gadis nggak boleh malas-malasan."


"Ini, kan hari libur Ibu," jawab Baby kembali menyelimuti dirinya.


"Mau libur apa nggak, kamu harus bangun pagi. Kamu, kan perempuan, mau di kasih makan apa anak suamimu kalau kamu jam segini belum bangun."


"Warung banyak, Ibu. Lagipula aku punya Bibi. Aku nggak perlu bangun pagi untuk masak."


"Baby, berhenti berkhayal. Ok baiklah, kalau kamu nggak mau bangun. Ibu akan masak untuk tiga orang saja. kamu bilang hari ini hari libur, kan? Itu artinya kamu juga libur makan," sungut Bu Nur kesal lalu meninggalkan kamar anak sulungnya.


Tak ingin berpuasa sendirian, akhirnya mau tak mau Baby memaksa dirinya untuk bangun dan menyeret kakinya menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri dengan cepat lalu beranjak ke dapur.


Jika Baby malas memulai hari untuk beraktivitas di hari libur, berbeda halnya dengan Cakra. Pria itu selalu memulai kegiatannya bahkan sebelum matahari terjaga untuk menyinari dunia. Siapa lagi yang membuat Cakra tebangun di pagi buta kalau bukan Aura, separuh jiwa Cakra ia letakkan di sana.


"Baiklah, bidadari kecilnya Ayah. Kita ke mana sekarang?" timang Cakra seusai anaknya mandi.


"Oh kita ada jadwal ke rumah sakit, ya. Iya, anak Ayah mau di imunisasi dulu? Ok baiklah, kita turun dan ajak Oma untuk bersiap kalau begitu, ya."


Jika hari libur seperti ini, Baby sitter tidak terlalu dibutuhkan oleh Cakra, karna ia sendiri yang akan mengasuh anaknya seharian. Dari mulai bangun tidur hingga kembali tertidur, jangan harap Aura akan lepas dari tangan Cakra. Bahkan mandi pun Vakra yang melakukan.

__ADS_1


"Ma, mau ke mana?" tanya Cakra saat melihat ibunya sudah rapi seperti hendak pergi. Hal itu di dukung oleh pundaknya yang sudah tersampir tali tas selempang.


"Mama ada arisan hari ini, kenapa?"


"Oh, ya udah deh. Tadi niatnya mau ngajak Mama buat ke rumah sakit, hari ini jadwalnya Aura imunisasi. Aku ajak Mbak aja kalu gitu."


"Benarkah? Kenapa nggak bilang dari semalam? Kalau bilang, Mama nggak akan ngajak hari ini kumpulnya."


"Bukan masalah yang besar, Ma. Mama berangkat aja nggak apa-apa."


"Bukan itu masalahnya, Mbak juga izin pulang dari semalam. Ibunya sakit, karena hari ini weekend, jadi Mama kasih izin, kan dia nggak terlalu kerja juga kalau kamu libur begini."


"Ya udah nanti biar aku diantar supir aja."


"Atau kalau nggak berangkat sorean aja, sehabis Mama arisan, ya. Mama udah telat ini. Maafkan Mama, ya."


"It's oke."


Cakra sudah memikirkan akan mengajak bidadarinya itu ke taman begitu sudah selesai imunisasi nanti. Pasti anak bayi itu akan senang jika melihat keadaan taman yang ramai orang.


Sepanjang perjalanan mulut Cakra tak ada hentinya bicara, ia memberi tahu apapun pada anaknya apa saja yang ia lewati. Seakan Aura sudah mengerti dengan ucapan-ucapan sang Ayah.


Jika tidak biasa melihat kepribadian Cakra saat di rumah, siapapun akan menganga jika melihat Cakra yang hangat dan jiwa ke-bapak-an yang sudah ada pada dirinya di usia yang relatif masih muda.


"Oh Sayang, iya sakit, ya. Sakitnya sebentar saja, kan? Ini susunya, ini pasti bisa meredakan sakit di lenganmu."


Beberapa orang mengalihkan pandangan kepada duda muda yang masih pantas disebut perjaka itu. Kelihaiannya menenangkan anaknya membuat para wanita yang melihat pasti akan mengucapkan 'pria idaman'.


Kenapa semua orang melihatku? Apakah mereka tidak pernah melihat seorang pria menggendong bayi? Dasar aneh!

__ADS_1


Cakra benar-benar membawa Aura ke taman setelah dari rumah sakit. Ia duduk di bawah pohon yang rindang. Matahari mulai sedikit meninggi sekarang ini. Namun tidak terlalu terasa panas karena angin semilir datang untuk menyejukkan sejuta umat manusia.


Cakra sangat meniknati momen seperti ini. Momen di mana Aura hanya melakukan interaksi dengannya. Kedekatan mereka sudah pasti akan terjalin dengan sempurna.


"Kenapa? Aura mau ini? Kenapa dari tadi dilihatin? Mau, ya? Belum boleh dong. Aura hanya boleh minum susu, nanti, ya. Kalau udah sedikit besar, Aura akan Ayah belikan es krim yang banyak," ujar Cakra pada anaknya. Jiwa Cakra yang satu ini tidak semua pria memilikinya di usia muda.


"Hm enak tahu, Aura mau, ya?" Cakra menggoda anak bayinya dengan memamerkan es krim yang ada di tangannya. Aura yang masih tiga bulan itu hanya bisa menatap sang Ayah tanpa berkedip.


"Mau dong," sahut seseorang yang kedatangannya tidak Cakra sadari.


Pria itu sedikit terkejut karena kedatangan Baby yang bak mahluk halus. Tidak terasa kehadirannya, tiba-tiba saja sudah ada di depan mata. Untunglah Aura yang berada di pangkuan Cakra tidak sampai terlempar karena ulah Baby.


"Kau, ada di sini?" Cakra berucap di tengah keterkejutannya.


"Memang Bapak lihat saya di mana?" Baby dengan percaya diri duduk di samping Cakra. Pria itu sedikit menggeser tubuhnya agar tak terlalu dekat. Ia tak mau jika orang melihat kedekatan mereka akan mengira Baby adalah istrinya. Ia tak mau di sebut menikahi anak di bawah umur.


"Ini anak Bapak, ya? Wah cantik banget. Pasti mewakili wajah ibunya. Wajahnya ramah dan hangat. Tidak seperti bapaknya," gumam Baby tanpa rasa bersalah.


"Aku adalah atasanmu. Bicara yang sopan kalau kau tidak ingin kehilangan pekerjaan. Jauhan dikit duduknya!" protes Cakra.


"Bapak memang atasan saya, tapi pas di kantor. Sekarang, kan nggak kerja. Jadi posisi itu harusnya tidak berlaku sekarang. Lihatlah, Pak. Anak Bapak saja sedang menikmati pesona seorang Baby Clarissa," ujar Baby sedikit menoel-noel pipi gemuk Aura.


"Semua bayi seusianya juga akan seperti ini kalau melihat sesuatu."


"Bapak sendirian?"


"Kau juga lihat aku bersama seorang bayi. Kenapa kau mengira aku sendirian," sungut Cakra galak.


"Hey lihatlah! Dia tersenyum padaku, Pak!" pekik Baby dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Saking kerasnya suaranya, Baby membuat Aura menangis dan tangisan itu dihadiahi tatapan tajam di mata Cakra.


__ADS_2