
Hari ini Bu Nisa ingin mengaburkan rasa penasaran yang sudah ia tahan satu minggu lamanya. Beliau terus saja kepikiran dengan khawatirnya Luna pada karyawan yang sudah berani mengatai dirinya bermulut kotor. Baru kali ini beliau mendengar ada seseorang yang berani memaki Luna seperti itu.
Pukul sebelas siang, Bu Nisa datang berkunjung ke kantor tanpa memberitahu siapapun, termasuk Cakra. Beliau membawakan makan siang untuk putra satu-satunya itu, beliau ingat hari ini adalah hari ulang tahun Cakra yang ke dua puluh tujuh tahun. Tak lupa beliau tadi sudah memesan catering kotak nasi kuning untuk seluruh karyawan di kantor anaknya. Tentu saja hal itu tanpa sepengetahuan Cakra.
Cakra memang sedikit berbeda dari manusia umumnya. Jika orang-orang akan senang ketika ulang tahunnya dirayakan oleh banyak orang dan diberi ucapan selamat ulang tahun oleh orang-orang di sekitar, tidak dengan Cakra. Ia tidak suka surprise, tidak suka kue dan tidak suka makan-makan bersama. Baginya hari ulang tahunnya ataupun hari biasanya adalah hari yang sama saja, tidak ada yang spesial.
"Selamat pagi, Bu," sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan Bu Nisa.
Bu Nisa hanya menjawab dengan anggukan serta senyuman ramahnya. Kakinya beliau bawa terus ke ruangan Cakra. Seperti hari biasanya, tidak ada perayaan atau setidaknya ada sesuatu yang berbeda di hari yang spesial Cakra. Semua nampak sama, karena memang Cakra tak suka dengan perayaan.
Tangannya sudah sampai di gagang pintu, bersiap akan menekannya, namun urung beliau lakukan. Sayup-sayup Bu Nisa mendengar ada suara seorang perempuan yang berada di dalam sana.
"Aku ada sesuatu untuk Bapak."
Kalimat itu terdengar di telinga Bu Nisa yang masih tajam. Dengan gerakan sangat pelan dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara, Bu Nisa membuka sedikit pintu ruangan Cakra. Beliau penasaran siapa yang berada di dalam sana, yang jelas bukan Luna karena beliau hafal dengan suara Luna.
"Happy birthday," ujar baby menyodorkan sebuah kue kecil di hadapan Cakra.
Bu Nisa yang mengintip mereka dari luar seketika was-was akan respon yang diberikan Cakra. Pria itu pasti akan mengamuk pada gadis itu.
"Aku ada sedikit kue kecil untuk Bapak. Aku sendiri yang membuatnya, sengaja aku membuat kue yang kecil supaya kita bisa makan bersama, hanya berdua saja."
Tanpa takut Baby berucap seperti itu. Entah ia tidak melihat ekspresi Cakra atau yang memang tidak peduli dengan ekspresinya. Baby terus menunjukkan perhatiannya pada atasannya itu. Ia terus berceloteh mengenai kue buatannya sendiri.
__ADS_1
"Cukup Clarissa! Apa kau tidak tahu kebiasaan di kantor ini? Kau tidak mendengar atau mendapat informasi apapun tentang hari ini?"
Di dunia ini hanya Cakra yang memanggil Baby dengan sebutan Clarissa. Itu Cakra lakukan karena terakhir kali ia menanggil sebutan Baby, gadis itu dengan lancang dan percaya dirinya memanggil Cakra dengan sebutan Sayang.
"Justru karena aku mendengar informasi ulang tahun Bapak. itu sebabnya aku memberikan surprise untuk Bapak. Ayolah, jangan terlalu kaku. Mari kita makan kuenya, ini jam istirahat!" ajak Baby dengan sumringah.
"Apa kau melihat ada orang yang memberi ucapan selamat ulang tahun atau surprise seperti ini?"
Baby menatap langit-langit ruangan Cakra seraya sedang mengingat-ingat siapa yang sudah mengucapkan ulang tahun pada Cakra.
"Saya rasa belum ada yang mengucapkan. Pasti yang jelas adalah orang terdekat Bapak yang mengucapkan pertema kali. Dan kedua saya, karena saya rasa sejak tadi pagi tidak ada yang mengucapkan pada Bapak."
"Kau tahu itu artinya apa?"
"Hentikan!" teriak Cakra sedikit keras. Hal itu membuat Baby sedikit terkejut.
"Kau mau tahu kenapa tidak ada satupun orang di sini yang mengucapkan hari ulang tahun untukku? Karena aku tidak suka itu. Aku tidak suka surprise konyol seperti ini. Bawa kembali ke luar kue mu ini. Aku tidak mau melihat apalagi memakannya. Sangat tidak berguna."
Hati Baby ngilu mendengar penuturan Cakra. Dengan sudah payah ia bangun tengah malam dan membuat kue ini untuknya. Ia merelakan jam tidurnya berkurang untuk membuat sesuatu yang spesial, tapi justru amarah yang ia dapat.
Baby mengira satu bulan membiarkan ia keluar msuk ruangannya dan membuat minuman untuknya salah sebuah kode bahwa ia akan disambut baik dan tidak akan berkata sekasar ini.
"Konyol? Tidak semua orang diperhatikan seperti ini, Pak. Tidak semua orang mendapatkan perhatian kecil dari seseorang. Jika Bapak tidak suka dengan apa yang saya beri, katakan saja dengan cara yang baik. Bapak orang berpendidikan tapi tidak tahu bagaimana cara menghargai seseorang. Ini adalah bentuk perhatian seseorang pada Bapak. Tidak selamanya memberikan hadiah dan surprise di hari ulang tahun itu hal yang konyol."
__ADS_1
"Jangan pernah mengajariku cara menghargai seseorang. Jangan memaksakan kehendakmu pada orang lain. Kau memintaku untuk menghargai seseorang, kau minta aku untuk menghargaimu, tapi kau juga tidak menghargai kebiasaanku. Kau ingin aku melakukan hal yang diluar kebiasaanku? Asal kau tahu aku tidak mementingkan dan tidak suka dengan ulang tahun yang seperti ini. Surprise, hadiah, tiup lilin, potong kue, makan-makan bersama, aku tidak pernah suka. Jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tidak aku sukai!"
"Bagaimana kalau orang yang ada sekitar Bapak menyukai hal itu dan jika Bapak melakukannya mereka akan bahagia. Apakah Bapak tidak ingin melihat orang-orang di sekitar Bapak bahagia?"
"Mereka semua tidak pernah protes dengan apa yang tidak aku sukai. Mereka semua tidak pernah keberatan, kau siapa mengaturku seperti ini?"
Bu Marissa masih diam di tempat, tidak ada yang menyadari bahwa beliau sedang memperhatikan mereka. Beliau sedikit terkejut dengan keberanian yang dimiliki oleh gadis yang dipanggil Clarissa oleh Cakra. Belum pernah sebelumnya beliau melihat ada orang yang menentang Cakra seperti itu, bahkan Dandi pun jarang melakukan hal itu.
"Itu artinya mereka menghargai Bapak. Mereka sebenarnya ingin melakukan seperti yang saya lakukan, tapi karena Bapak yang tidak bisa menghargai orang itu sebabnya mereka lebih memilih untuk diam dan menuruti kebiasaan bapak. Ini yang saya lakukan adalah sebagai bentuk sebagian kecil dari bukti bahwa kita perhatian, kita memiliki kasih sayang pada seseorang itu. Ki...."
"Berhenti mengajariku Clarissa, bawa keluar kuemu sekarang atau aku lempar sekarang juga."
"Lakukan kalau bisa."
"Kau menantangku?"
Dengan gerakan cepat Cakra merebut kue di tangan kanan Baby, namun dengan gerakan yang tidak kalah cepat, ia berhasil membawa kue itu dibalik punggungnya.
Cakra nampak terkejut sedangkan Baby menunjukkan senyum simpulnya. Cakra tidak mau menyerah, ia kembali merebut kue itu, namun dengan cerdiknya juga baby terus melangkah mundur. Apapun akan ia lakukan agar Cakra tidak membuang kue yang sudah susah payah ia buat.
Baby memang cerdik untuk memanfaatkan situasi. Jarak keduanya yang begitu dekat bahkan hampir tidak ada jarak membuat Baby menantang Cakra dengan memajukan kakinya satu langkah.
Deg!
__ADS_1