Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
21. PKI Dan Kamu


__ADS_3

"Kamu ini malu-maluin Cakra, hanya karena perkara sepele seperti itu kamu berniat menggagalkan pernikahan. Ke mana kedewasaan yang kamu gadang-gadangkan selama ini ke Oma?" omel Oma Ning yang sudah menahan kesal sejak makan malam tadi. Baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu, mulut beliau sudah meracau.


"Terserah apa kata Oma. Aku tidak peduli. Gelar saja pernikahan yang Oma inginkan, jangan harap aku akan datang." Cakra meninggalkan Oma dan ibunya dengan kesal.


Malam yang Cakra tunggu rupanya benar-benar membawa sial. Ia tak menyangka Luna punya sisi licik yang tidak bisa di permainkan.


"Kamu kasih tahu anak kamu biar nggak kurang ajar sama orang tua. Akhir-akhir ini dibiarkan semakin ngelunjak. Mau jadi apa kalau nggak nurut sama Ibu," omel Oma Ning pada menantunya.


"Ibu, mau di kasih tahu sekeras apapun kalau dia nggak mau kita bisa apa? Lagipupa saya lihat sendiri itu kelakuan Luna memang buat ilfil siapapun yang dia dekati."


"Dasar anak sama ibu sama saja. Sama-sama suka membantah, sifat buruk inilah yang kamu turunkan pada cucuku," tukas Oma Ning lalu meninggalkan Bu Nisa seorang diri di ruang tamu.


"Puluhan tahun hidup sama dia, kayaknya baru kali ini aku menjawab ucapan dengan pertentangan, kenapa aku dikatain suka membantah? Dasar Nenek tua." Bu Nisa yang semula menjadi pribadi penurut dan pendiam akhirnya bersuara juga, ya meskipun suaranya tak di dengar oleh Oma Ning.


***


Cakra menghadap kertas dan laptop dengan malas, tangan kirinya ia gunakan untuk menopang dagunya sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk memainkan bolpoin yang seharusnya ia gunakan untuk bekerja.


Cakra terus kepikiran dengan pembahasan yang dibahas semalam. Di mana dua keluarga itu malah akan menikahkan dirinya dan Luna dalam waktu dekat. Mereka tak mau lagi menunggu Cakra dengan alasan apapun.


Satu tahun lagi, adalah waktu di mana mereka akan melangsungkan pernikahan. Belum ada tanggal dan bulan yang di tentukan, tapi satu tahun bukanlah waktu yang lama.


Tidak ada apapun di kepala Cakra selain memikirkan bagaimana caranya pernikahan itu tidak terlaksana. Kelicikan Luna benar-benar membawanya dalam masalah besar.


"Selamat pagi, Pak Cakra, boleh saya buka pintu?" teriak Baby dari luar.


"Hm."


"Minuman datang, kali ini saya tidak buatka kopi untuk Bapak. Saya buat minuman yang lain. Kopi yang berlebihan tidak baik untuk Bapak yang masa depannya masih panjang. Bapak harus tetap sehat di saat Bapak akan memiliki saya nantinya."

__ADS_1


"Berhenti menghalu, Clarissa. Kau memperlakukan aku seperti temanmu saja. Aku bukan temanmu, aku.... "


"Calon suamiku," potong Baby cepat.


Astaga, bisa aku minta tolong, Tuhan? Cabut nyawanya sekarang juga.


"Letakkan minuman itu ke meja dan pergilah."


"Bapak tahu nggak bedanya Bapak sama PKI?"


"Nggak," jawab Cakra ketus.


"Kalau PKI komunis, kalau Bapak kok manis."


Tatapan maut seketika dilempar oleh Cakra. Bukan Baby namanya jika ia mundur teratur dengan tatapan itu. Sudah sering mendapat tatapan itu dari pertama kali ia menginjakkan kaki di lantai kantor membuatnya terbiasa dengan tatapan yang ia anggap sebagai tatapan cinta itu.


"Pergi sekarang, Cla. Kau dan aku harus bekerja, bukan? Kau, aku gaji untuk bekerja, bukan untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna ini. Pergi sekarang!"


"Aku tidak sudi jadi suamimu kau tahu!"


"Tapi barusan saya tidak mengatakan kalau saya ini calon istri Bapak. Saya hanya mengatakan sebagai calon istri yang baik saya akan nurut sama Bapak. Ya memang, kan suatu saat nanti saya akan menikah dan menjadi seorang istri, kan? Siapa yang mengatakan kalau  Bapak akan jadi suami saya?" tanya Baby dengan wajah berbinar karena merasa berhasil membuat Cakra salah tingkah.


Krik krik krik


Cakra merutuki diri sendiri dalam hati, bisa-bisanya ia terjebak dengan ucapannya sendiri. Wajahnya nampak memerah karena menahan malu dan salah tingkah dalam satu waktu. Sementara yang membuatnya seperti itu hanya diam menikmati wajah Cakra yang lain dari biasanya.


"Tunggu apa lagi? Keluar aku bilang!" ujar Cakra berkacak pinggang. "Menambah beban hidupku saja kau!" lirih Cakra.


"Iya, iya. Saya akan pergi, silakan menikmati teh hijau buatan Baby Clarisaa milik Tuan Cakra." Baby berlari ke luar ruangan setelah mengatakan itu.

__ADS_1


Cakra akhirnya bisa bernapas lega setelah kepergian Baby. Pintu kembali terdengar diketuk di saat dirinya baru saja meletakkan pantatnya di kursi.


"Masuk!"


"Selamat bekerja Pak, mudah-mudahan harimu menyenangkan," ujar Baby yang hanya menampakkan kepalanya di balik pintu.


Cakra tak menjawab, ia hanya menghela nafas panjang lalu kembali pada laptopnya. Ia tak mau gadis itu lebih lama di depannya agar tidak semakin mengganggunya.


Di detik berikutnya pintu kembali tertutup. Cakra bisa kembali fokus pada pekerjaannya yang sejak tadi tidak ia kerjakan. Namun, tidak lama kemudian pintu kembali diketuk.


"Carissa, kalau kau tidak kunjung mengerjakan pekerjaanmu, hari ini adalah hari terakhirmu di sini," teriak Cakra dengan geram.


"Ini saya, Pak. Bagaimana bisa Bapak mengira kalau saya ini Baby?"


Cakra seketika mendongak, ia sedikit tertegun dan tercengang ketika yang datang adalah Dandi. Lengkap sudah penderitaannya hari ini. Dandi pasti akan mengejek dan mengoloknya sepanjang hari.


"Iya, tadi aku kira kau adalah Clarissa, karena sejak tadi dia menggangguku," jawab Cakra sedikit salah tingkah.


"Kenapa saya merasa Bapak sekarang menikmati godaan dari Baby?"


"Menikmati kau bilang? Aku membiarkan dia keluar masuk ke ruangan ini, membuatkan minuman aku setiap pagi, bukan berarti aku menikmatinya Dandi. Kau tahu sendiri mulutnya itu bagaimana jika aku menolak apa yang dia inginkan. Apa saja yang keluar dari mulutnya dan apa saja yang dia lakukan itu menurutku sangat-sangat menggangguku kalau aku sampai menolaknya. Terakhir kali aku melakukan itu aku malah tidak sengaja mencium hidungnya. Itu kesalahan yang sangat fatal Dandi dan aku tidak mau hal-hal semacam itu terjadi lagi. Aku sangat muak dengan perhatian yang diberikan, gombalan yang dia lempar. Aku semakin stres dengan kehadiran dia."


"Pecat saja kalau begitu."


"Dia semakin ke sini tidak pernah membuat kesalahan. Mana mungkin aku pecat dia tanpa alasan. Mana bisa aku melibatkan permasalahan pribadi ke pekerjaan. Pekerjaan dia selama ini bagus-bagus aja, progres pekerjaannya yang dihasilkan juga bagus."


"Ya sudah nikmati saja kalau begitu."


"Aku sedang menikmati penderitaan yang tidak ada habisnya. Aku di rumah dibuat menderita oleh Oma dan di sini dibuat menderita oleh Clarissa. Ke mana aku harus pergi?"

__ADS_1


Cakra tidak tahan memendam masalahnya sendirian jika sudah bertemu dengan Dandi. Pria itu sudah terbiasa dengan telinga dan juga saran dari Dandi yang sebenarnya lebih dewasa darinya dari segi usia dan pemikiran.


"Ada apa lagi, Pak?"


__ADS_2